Pages Menu
Categories Menu

Posted on Mar 12, 2018 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 005. Yang Muda Yang Mulia

Buletin Teman Surga 005. Yang Muda Yang Mulia

Teman Surga-005 Yang muda yang muliaEksistensi dan remaja ibarat sosial media dan kuota. Tak terpisahkan dan kerap tercyduk selalu beriringan. Remaja tanpa sosial media, mati gaya. Begitu juga jika remaja tanpa eksistensi, mati suri. Nggak heran kalo remaja bela-belain ngerjain apa aja biar eksis. Diakui oleh lingkungan. Dirasakan kehadirannya oleh teman. Saat kumpul bareng tak dianggap angin lalu.

Biar Hidup Punya Arti

Wajar kali kalo setiap manusia nggak mau dianggap sebatas deretan angka, tapi pengen juga diperhitungkan. Apalagi remaja, masa pencarian jati diri memaksa dia untuk terus bergerak ke sana ke sini. Berburu eksistensi agar hidupnya punya arti. Beragam cara pun dilakukan dari yang happy sampai ngeri. Diantaranya,

Pertama, popularitas. Ini yang paling banyak digandrungi remaja. Jalan pintas meraih popularitas melalui ajang pencarian bakat selalu dipadati remaja en remaji yang ikut audisi nyanyi. Berkompetisi cari peruntungan, siapa tahu kepilih meski suara pas-pasan.

Kedua, hidup glamour. Remaja paling gampang kepincut dengan gaya hidup mewah. Apalagi di zaman serba materialis sekarang, penampilan fisik jadi ukuran status sosial. Dari mulai busana, alat komunikasi, transportasi, hingga makanan dan tempat ngumpul semua dilihat dari kacamata mewah bin glamour biar tetep eksis dalam pergaulan.

Remaja pada mupeng ngeliat idolanya pakai gadget terbaru, tampil menawan dalam balutan busana branded, asyik nongkrong di cafe sambil menikmati cemilan kekinian. Saking pengennya hidup mewah, ada remaja yang menghalalkan segala cara biar dapat banyak duit biar bisa ngikutin. Ada yang terjerumus dalam prostitusi online atau terjun dalam dunia kriminalitas. Ngeri!

Ketiga, menantang maut. Keterlibatan remaja dalam komunitas geng motor atau majang foto selfie ektrim di akun sosial medianya, sudah cukup memenuhi dahaga pencarian jati dirinya. Gaya hidup menantang maut yang mempertaruhkan nyali dilakonin biar keliatan berani demi meraih eksistensi. Seperti skip challenge yang sempat makan korban remaja. Hati-hati!

Sahabat, manusiawi kalo remaja pengen eksis sebagai wujud pencarian jati diri biar hidup punya arti. Tapi kalo remaja belum nyadar tujuan hidupnya yang benar, eksistensi jadi ajang trial and error. Coba-coba ngikutin arus tren remaja biar tetep bisa ngumpul bareng sahabat. Padahal hidupnya bisa berakhir setiap saat. Malaikat Ijroil bisa datang kapan aja ngecengin kita tanpa notifikasi. Tentunya bukan ngajak kenalan, tapi untuk menceraikan nyawa dari badan kita. Sudah siap?

Makanya, penting banget bagi kita untuk punya tujuan hidup yang benar. Jangan sampe tujuan hidup cuman jadi pelampiasan nafsu syahwat kita untuk menikmati dunia. Itung-itungan kita sebagai muslim, hidup bukan cuman di dunia tapi juga di akhirat. Jadi, tujuan hidup juga nggak seharusnya mentok di dunia aja. Kemewahan, popularitas, atau materi berlimpah yang sering dianggap tujuan hidup ideal nyatanya bisa melenakan kita akan kehidupan di akherat nanti. Ujung-ujungnya, hidup kita malah tak berarti. Jangan sampai deh!

Meneladani sahabat Rasul

Idealnya, seorang pemuda yang paham tujuan hidupnya yang benar, nyadar perannya di masa depan. Suatu saat nanti, tampuk kepemimpinan bangsa dan negara ada di tangan mereka. Pun kebangkitan umat Islam saat ini yang tengah terpuruk, ada di pundak mereka. Untuk itu, kita bisa bercermin pada generasi muda di jaman Rasulullah dan masa kejayaan Islam yang mulia di hadapan Allah dan manusia. Siapa mereka?

Pertama, Ali bin Abu Thalib ra. Beliau termasuk generasi pertama pemeluk Islam. Pada usia yang masih sangat belia, delapan tahun, beliau berani memeluk Islam atas keinginannya sendiri. Padahal ayahnya, Abu Thalib, masih tetap dalam keadaan kafir.

Ketika beliau ditanya, “Apakah engkau tidak minta izin dulu kepada Bapakmu untuk masuk Islam?”, maka beliau menjawab dengan tegas, “Allah tidak meminta izin kepada bapakku ketika Ia menciptakanku. Lantas, mengapa aku harus meminta izin kepada ayahku untuk menyembah-Nya?”

Beliau senantiasa mendampingi Rasulullah saw pada masa awal perjalanan dakwah di Madinah. Padahal saat itu, jumlah umat Islam masih sedikit dan tengah menghadapi permusuhan yang sengit dari orang Quraisy. Beliau juga termasuk sahabat yang berani meskipun usianya masih belia.

Kedua, Abdullah bin Mas’ud . Abdullah ra masuk Islam pada usia 14 tahun. Salah satu teladan pemuda yang kuat dan berani ‘menantang maut’. Suatu kali, para sahabat Rasulullah berkumpul di suatu sudut kota Mekkah, salah seorang diantara mereka berkata, “Demi Allah, orang-orang Quraisy belum pernah mendengar bacaan Al-Quran ini dengan bacaan yang keras. Siapa yang mau memperdengarkan di hadapan mereka?”

Lalu Abdullah bin Mas’ud -seorang yang bertubuh kecil dan lemah kedudukannya- menjawab, “Saya!” Rekan-rekannya menjawab, “Kami mengkhawatirkan keselamatanmu. Yang kami harapkan seseorang yang memiliki kekuatan yang sanggup melindunginya dari tindakan orang-orang itu. Ibnu Mas’ud pun menjawab, “Biarkan aku melakukannya. Allah yang akan melindungiku.”

Tak lama kemudian, Ibnu Mas’ud datang ke dekat Ka’bah di sekitar lokasi perkumpulan orang-orang Quraisy. Dia lalu dengan lantang membacakan ayat-ayat Al Qur’an. Ayat demi ayat dilantunkan Ibnu Ummi ‘Abd dengan indahnya. Sejenak, orang-orang Quraisy tertegun mendengar keindahan ucapan dan suaranya. Namun setelah itu, bertubi-tubi pukulan menimpa dirinya. Namun dia tetap membacakan ayat-ayat Al Qur’an. Ibnu Mas’ud menunjukkan keberanian dan pengorbanan untuk menyampaikan kebenaran pada musuh-musuh Allah.

Ibnu Mas’ud kembali kepada rekan-rekannya dalam kondisi berdarah akibat pukulan yang dia terima. Rekan-rekannya berkata, “Inilah yang kami takutkan terjadi pada dirimu.” Lalu Ibnu Mas’ud berkata, “Sungguh demi Allah, sekarang musuh-musuh Allah itu mudah saja bagiku. Kalau kalian mau, aku akan mengulanginya lagi esok hari.” Rekan-rekannya menjawab, “Cukup sudah, kamu telah memperdengarkan kepada mereka apa yang mereka benci.”

Selain Ali dan Abdullah, masih banyak contoh-contoh pemuda muslim lain yang nggak kalah hebatnya. Mush’ab bin Umair baru berusia 24 tahun ketika diutus Rasulullah saw. pergi ke Madinah untuk menyebarluaskan Islam. Usamah bin Zaid di usianya yang sweet seven teen , memimpin para sahabat senior seperti Abu Bakar dan Umar sebagai Amirul Jihad (komandan pasukan kaum Muslim menghadapi pasukan Romawi). Ja’far bin Abu Thalib yang berani berdiri di depan Raja Najasy dari Habsyah (Ethiopia) untuk mewakili dan membela Islam walau usianya baru 20 tahun. Imam Syafi’i, salah satu ulama terbesar berhasil menghafal al-Quran pada usia 7 tahun dan menjadi mujtahid pada usia 14 tahun.

Pokoknya banyak banget deh figur pemuda Islam yang bener-bener berdiri di garis depan kebangkitan Islam dan kaum Muslimin. Mereka teladan mulia yang wajib kita contoh. Catet ya! 

Muda Mulia Bersama Islam

Sahabat, eksistensi remaja muslim bukan karena dia populer, idola remaja, tampil dengan tren fashion kekinian, atau kecanggihan teknologi yang selalu menemani kesehariannya. Bukan pula karena jago tawuran, ikut geng motor, atau gila hormat dari adik kelasnya.

Eksistensi remaja muslim itu ketika Allah swt ridho dengan perilakunya. Ketika dia berani menyampaikan kebenaran tanpa sungkan kepada teman. Ketika dia aktif berkontribusi untuk kebangkitan umat. Ketika dia istiqomah dalam dakwah dan pakai aturan islam dalam kesehariannya. Karena itu, mari kita sama-sama jadikan diri kita sebagai ujung tombak kebangkitan umat. Muda mulia bersama Islam. Bagaimana caranya?

Pertama , menempa diri dengan tsaqofah Islam. Nggak usah alergi bin gengsi ikut pengajian. Galilah tsaqofah Islam sedalam mungkin. Sampai kita bener-bener yakin kalo Allah itu ada dan selalu mengawasi kita. Al-Quran itu perkataan Allah yang kudu kita jadiin pegangan dalam hidup. Dan Rasulullah saw. adalah panutan kita dalam berbuat.

Kedua mengaitkan perbuatan kita dengan kehidupan akhirat. Sebagai muslim, udah seharusnya kita selalu mikir imbalan yang bakal kita terima sebelum berbuat. Pahala atau siksa di akhirat. Walaupun rencana itu masih diperdebatkan dalam hati. Kesadaran hubungan kita dengan Allah Swt. dan akhirat ini yang bisa jadi perisai buat lindungi diri kita dari dosa sekaligus memicu kita mencari pahala.

Ketiga hidup dalam lingkungan yang baik. Salah satu upaya pencegahan biar kita nggak tergoda berbuat maksiat adalah hidup dalam lingkungan yang sehat dan steril dari godaan setan. Seperti dalam sebuah hadis:

“Perumpamaan teman pendamping yang shalih dan teman pendamping yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Dari penjual minyak wangi kalian bisa mendapatkan minyak wangi atau mencium bau harumnya; sedangkan dari tukang besi kalau tidak membakar pakaianmu, maka kalian akan mendapatkan bau busuk darinya.” (HR Bukhari Jilid 3 No. 314)

Keempat berdakwah kepada orang lain. Nggak cukup rasanya kalo kita menimba tsaqofah tapi cuma buat diri sendiri. Kebayang, nggak akan tersebar Islam kalo kita nggak ikut nyampein ke orang lain. Karena kita memeluk Islam pun karena ada orang yang nyampein ke kita, keluarga, atau nenek moyang kita. Betul apa bener?

Kelimangikut aturan Islam nggak kayak robot . Istiqomah dengan aturan Islam bukan berarti kita nggak boleh senang-senang. Sok aja. Karena Rasulullah pun dulu suka becanda dengan istrinya, berolahraga dengan sahabatnya, atau pake baju yang bagus dan rapi. Tapi tetep, semuanya kudu nyar’i . Dan kita kudu hati-hati biar nggak terlena dengan berbagai macam hiburan atau larut dalam kesenangan. Karena itu kerjaan orang kafir. Kita tentu, BEDA!

Nah, mumpung kita masih muda, jangan sia-siakan potensi yang kita punya. Ingat nasihat Imam Syafi’i,

“Demi Allah hakikat seorang pemuda adalah dengan ilmu dan taqwa; jika kedua hal itu tiada padanya maka tak bisa disebut pemuda”.

Manfaatkan waktu yang ada untuk belajar, berdakwah, berbuat baik kepada umat, dan berkarya sebelum masa muda hilang ditelan usia. Nggak ada kata terlambat buat jadi pemuda dambaan umat. Karena kamu, yang muda yang mulia calon penghuni surga. Mau?! []

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *