Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Oct 1, 2018 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 031. Ayah Ibu Pemegang Tiket Surgaku

Buletin Teman Surga 031. Ayah Ibu Pemegang Tiket Surgaku

Buletin Teman Surga-031. ayah ibu pemegang tiket surgakuNamanya manusia, normalnya nggak ada yang awet muda. Seiring bertambahnya usia, pasti akan sampai pada usia lanjut. Dan dari tahun ke tahun, manusia yang memasuki usia lanjut terus bertambah. Populasi orang berusia di atas 65 tahun sedunia sekarang ada sekitar 617 juta orang.

Sementara di Indonesia, berdasarkan sensus penduduk pada tahun 2010, jumlah lanjut usia di Indonesia 18,1 juta jiwa (7,6 persen dari total penduduk). Lalu pada tahun 2014 jumlah lansia menjadi 18,781 juta jiwa dan diperkirakan pada tahun 2025 jumlahnya akan mencapai 36 juta jiwa.

Perhatian masyarakat dunia terhadap kaum lansia yang mengalami penurunan produktifitas dalam aktifitas sehari-hari, melahirkan penetapan Hari Lanjut Usia Internasional (International Day of Older Persons) dalam Sidang Umum PBB setiap 1 Oktober berdasarkan resolusi No. 45/106, tanggal 14 Desember 1990.

Temans, bisa jadi dari banyaknya lansia yang ada di Indonesia salah duanya adalah orang tua atau kakek nenek kita. Bagaimana perhatian kita selama ini pada mereka?

 KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Orang Tua Dan Barang Rongsokan

Ubasuteyama (Gunung Pembuangan Nenek) adalah cerita rakyat Jepang bedasarkan legenda tradisi membuang orang yang sudah tua di gunung. Kisahnya tentang anak laki-laki yang harus membuang ibunya yang sudah tua ke gunung untuk mengurangi jumlah mulut yang harus diberi makan.

Pada suatu hari, ada seorang pemuda yang berniat membuang ibunya ke hutan, karena si ibu telah lumpuh dan agak pikun. Si pemuda tampak bergegas menyusuri hutan sambil menggendong ibunya. Si ibu yang kelihatan tidak berdaya berusaha menggapai ranting pohon yang bisa diraihnya, lalu mematahkannya dan menaburkannya di sepanjang jalan yang mereka lalui.

Sesampai di dalam hutan yang sangat lebat, si anak menurunkan ibu tersebut dan mengucapkan kata perpisahan sambil berusaha menahan sedih karena ternyata dia tidak menyangka tega melakukan perbuatan ini terhadap ibunya.

Justru si Ibu sangat tegar… dalam senyumnya ia berkata “Anak ku, ibu sangat menyayangimu. Sejak kau kecil sampai dawasa, Ibu selalu merawatmu dengan segenap cintaku. Bahkan sampai hari ini, rasa sayangku tidak berkurang sedikit pun…tadi ibu sudah menandai sepanjang jalan yang kita lalui dengan ranting-ranting kayu. Ibu takut kau tersesat….ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai di rumah.”

Setelah mendengar kata-kata tersebut, si anak menangis dengan sangat keras, kemudian langsung memeluk ibunya dan kembali menggendongnya untuk membawa ibu pulang ke rumah. Pemuda tersebut akhirnya merawat ibu yang sangat mengasihinya sampai ibunya meninggal.

Legenda Ubasuteyama sudah tak berlaku lagi saat ini. Meski begitu,  pendangan negatif terhadap lansia masih sering kita temui. Di sebagian besar negara khususnya negara maju, lansia tidak lagi dianggap sebagai orang yang harus dihormati dan dihargai. Lansia cenderung dianggap menjadi beban hidup, pemboros uang dan menambah beban ekonomi keluarga yang menanggungnya.

Di Korea misalnya, orang percaya bahwa manusia diberi Tuhan jangka hidup selama 60 tahun. Orang yang hidup lebih lama berarti mengambil umur orang lain. Lansia yang hidup hingga usia 60 tahun ke atas akan dianggap sebagai orang yang mengambil jatah umur orang lain dan mereka akan cenderung diabaikan dan tidak lagi dihormati.

Di Amerika Serikat, usia tua adalah peranan yang tidak banyak diinginkan. Sebagian besar lansia di Amerika tinggal di panti-panti jompo dan jarang sekali mereka yang ikut pada anaknya. Hal ini disebabkan budaya Amerika sendiri yang mengharuskan anak yang usianya sudah menginjak 18 tahun untuk hidup mandiri dan bebas dari orangtua. Sehingga pada akhirnya anak tersebut merasa tidak bertanggung jawab terhadap orangtua mereka lagi. Ngeri!

Tradisi Ubasuteyama dan pengabaian anak terhadap orangtua mengingatkan kita terhadap barang rongsokan. Ya, namanya barang saat masih berfungsi kita jaga baik-baik. Kita rawat sepenuh hati. Seiring perjalanan waktu dan pemakaian, tuh barang mulai bermasalah. Sudah tak berfungsi. Akhirnya jadi barang rongsokan. Tempatnya di gudang atau halaman belakang. Boro-boro kita rawat. Kita tengok juga pas lagi ada tukang loak yang nyari untuk didaur ulang.

Apa bedanya sikap kita terhadap barang rongsokan dengan perilaku abai terhadap orang tua? Karena usianya yang lanjut, produktifitas menurun, sakit-sakitan, dan tak mandiri lagi, dianggap menjadi beban keluarga. Wajahnya yang keriput, rambutnya yang putih, giginya yang ompong, ingatannya melemah, pendengarannya yang berkurang, ngobrol gak nyambung, dianggap merusak pandangan mata kalo ada di tengah keluarga. Akhirnya, ada yang ‘mengasingkan’ orangtuanya di kamar belakang yang minim pengawasan, di ruangan sempit yang terpisah dari bangunan rumah utama, atau diungsikan ke panti jompo. Sedih. Seperti itukah perlakuan kita? 

Muliakan Orangtua dan Rawatlah Ia Hingga Akhir Hayat

Sebagai seorang muslim, penghormatan kita terhadap orang tua bukan semata karena tradisi atau belas kasihan. Bukan juga sebagai bentuk solidaritas hari lanjut usia sedunia. Tapi karena perintah Allah SWT. Agar bisa menimbun pahala dan mengurangi dosa. Sehingga dapat tiket masuk surga dan dijauhkan dari neraka. Itu aja. Nggak ada niatan yang lain.

Dari Abu Umamah yang meriwayatkan bahwa seorang laki-laki mendatangi Nabi saw dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah hak kedua orangtua atas anak-anaknya?” Maka Rasulullah saw menjawab: “Mereka adalah (jalanmu menuju) surga dan neraka.”

Rasulullah saw pernah mencela seseorang yang tidak dapat masuk surga karena tidak berbuat baik kepada orang tuanya.

Sungguh hina, sungguh hina, kemudian sungguh hina, orang yang mendapatkan salah seorang atau kedua orangtuanya lanjut usia di sisinya (semasa hidupnya), namun ia (orangtuanya) tidak memasukkannya ke Surga.(HR: Ahmad).

Secara gamblang Allah menyebutkan dalam firman-Nya bahwa kedudukan orangtua sangat mulia. Bahkan karena begitu mulianya, Allah langsung memandu umat Islam jangan sampai salah dalam bergaul untuk memuliakan orangtua, lebih-lebih di usia mereka yang sudah lanjut. Berkata “ah” saja kepada orangtua, Allah sangat melarangnya.

 “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”  (QS. Al- Isra’ [17]: 23 – 24).

Mujahid, salah seorang ahli tafsir al-Qur’an yang terkemuka dari generasi Tabi’in pernah menyatakan:

“Jika kedua orangtua telah berusia lanjut, sehingga mereka tidak bisa buang air kecil maupun buang air besar sendiri, maka janganlah merasa jijik atau mengatakan ucapan “ah” kepada mereka berdua. Namun buanglah air kencing dan kotorannya, sebagaimana yang pernah mereka lakukan ketika kia masih kecil.”

Diriwayatkan bahwa suatu kali, seorang bertanya kepada Sa’id bin al-Musayyab ra, ‘Aku paham seluruh ayat yang berkenaan dengan kewajiban berbuat baik dan bersikap hormat terhadap orangtua, kecuali penggalan kalimat yang berbunyi ‘rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua’. Sa’id menjawab, “Itu berarti bahwa engkau harus memperlakukan mereka sebagaimana seorang pelayan memperlakukan majikannya.”

Jasa orang tua merawat kita sewaktu kecil hingga dewasa lalu berkeluarga, nggak akan pernah terbayarkan oleh bakti kita pada mereka berdua. Karena itu, merawat orangtua apalagi yang sudah lanjut usia, jangan pake itung-itungan. Waktu, tenaga, harta, dan pikiran kita untuk berbuat baik pada keduanya akan menjadi investasi kebaikan bagi keluarga kita kelak. Rasulullah saw mengaitkannya dengan kebaikan anak-anak kita terhadap diri kita saat menjadi orang tua.

Abdullan bin Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda,

“Berbaktilah kepada orangtuamu, maka anak-anakmu (pun) akan berbakti kepadamu. Dan maafkanlah mereka, maka istri-istrimuu akan memaafkanmu”.

Terlebih lagi, Allah SWT akan menjamin bakti anak kepada orangtuanya dengan kemudahan yang bakal ia dapatkan saat kematiannya. Jabir meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda,

“Barangsiapa mendapati tiga perkara dalam dirinya, maka niscaya Allah akan memudahkan saat kematiannya dan memasukkannya ke surga, yaitu bersikap lemah lembut kepada kaum dhuafa, berbakti kepada orangtua, dan berbuat baik kepada hamba sahaya.” (HR. Tirmidzi)

Dalam Islam, nggak dikenal panti jompo. Karena Islam mengajarkan sungguh kerugian besar bila ada seorang Muslim yang menjumpai orangtuanya lanjut usia tetapi tidak merawatnya dengan tangannya sendiri, lebih mementingkan dirinya sendiri, mengkhawatirkan masa depannya sendiri, dan malah justru menitipkannya ke panti jompo, na’udzubillahi min dzalik.

Temans, tak ada alasan bagi kita untuk bersikap durhaka pada orangtua. Sebaliknya, kita wajib menempatkan mereka dalam kedudukan yang terhormat sehingga mereka merasa nyaman dan tentram berada di tengah anak-cucunya. Jika orangtua meminta bantuan, tanpa tapi tanpa nanti, sesegera mungkin dipenuhi. Jika ada perlakuannya yang menurut kita nggak menyenangkan, jangan diumbar di sosial media. Simpan dalam hati dan doakan yang terbaik untuk keduanya.

Bicaralah dengan lemah lembut pada keduanya. Jika ada perbedaan pendapat, nggak usah ngegas yang bisa bikin sakit hatinya. Tetap santun saat menjelaskan duduk pekaranya. Nggak pake bete saat menemaninya belanja. Tetap bahagia ketika diminta belanja keperluan sehari-hari. Tetap tersenyum saat dapat giliran beres-beres rumah. Berikan layanan terbaik bak pelayanan bintang lima untuk keduanya.

Dan kalo kamu sampai pada tulisan ini, coba temui mereka, berikan pelukan hangat dan ungkapkan rasa sayangmu. Kalo berjauhan, hubungi mereka, sampaikan rasa sayang dan rindumu. Bahagia mereka, bahagia kita. Ridho mereka, tiket kita ke surga.

So, tunggu apalagi, mari kita muliakan kedua orangtua kita. Niscaya surga akan berhias menanti dan menyambut kehadiran kita semua. Ayah Ibu, I Love You Full![]

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *