Pages Menu
Categories Menu

Posted on Oct 8, 2018 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 032. Ujian Oh Ujian

Buletin Teman Surga 032. Ujian Oh Ujian

Buletin Teman Surga-032. oh ujianInnalillaahi wa inna ilaihi roji’un. Temans, Pertiwi kembali bersedih. Tepat hari Jum’at 28 September 2018 Provinsi Sulawesi Tengah tepatnya Kota Donggala diguncang gempa berkekuatan 7,4 skala richter, disusul gelombang tsunami yang menyapu hampir seluruh rumah dan bangunan di Kota Palu. Belum usai, tanah yang mengalami likuifaksi dimana tanah menggembur dan mencair sehingga menelan bangunan dan semua yang ada di atasnya. Peristiwa yang memakan ribuan korban meninggal dunia ini tentu mengejutkan kita semua setelah beberapa waktu lalu Lombok diguncang gempa bumi. Akibat peristiwa ini Kota Palu seolah menjadi kota mati, sampai saat ini pencarian korban tewas masih terus dilakukan begitupun evakuasi terhadap korban selamat.

Keprihatinan tentu tidaklah cukup untuk menghadapi bencana alam ini. Bantuan dari semua pihak tentu sangat dinanti oleh para korban baik itu berupa materi dan moril termasuk pendampingan pasca bencana, karena sangat bisa jadi di antara mereka ada yang mengalami trauma. Trauma karna menyaksikan peristiwa yang amat dahsyat atau trauma kesedihan mendalam karna kehilangan segala yang dimiliki termasuk sanak keluarga yang dicintai.

Tentu ngga ada seorang pun yang mau mengalami ini, namun ada Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu.

“Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki”. TQS.  Hud: 107.

Dan setiap apa yang terjadi, Allah SWT pasti menginginkan agar kita sebagai hambaNya mencari hikmah.

“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”. TQS. Al Baqarah: 269

 KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Antara Remedial dan Ujian Naik Kelas

Buat kamu para student, selama kamu belum dinyatakan lulus tentu belajar dan ujian sudah jadi “kudapan” yang mau ngga mau harus dijadikan favorit. Aneh rasanya jika ada seorang yang mengaku pelajar tapi anti belajar, walhasil ketika ujian tiba bingung harus mengisi atau menjawab apa, karna ternyata kapasitas memori di otak masih full alias jarang diisi. Kalaupun terisi dan ter-save as paling hal-hal yang unfaedah seperti lirik lagu, alur cerita film atau drama korea, atau kebiasaan dan kesukaan dari artis idola. Haduhh, yang kaya gini jangan penuh-penuhin otak kamu deh.. segera delete abis itu refresh atau format ulang. Sayang banget punya mesin pintar dan canggih alias otak tapi ngga digunakan dan dimanfaatkan dengan benar. Komputer pentium secanggih apapun juga kalah hebat sama otak kamu. So, use it or you will lose it.

Kembali ke belajar, remedial dan ujian naik kelas. Kamu pernah remed? Karna nilai ulangan kamu kurang akhirnya kamu harus terima kalo nama kamu disebutin untuk remed atau perbaikan. Banyak faktor kenapa kamu bisa diremed, bisa karna emang ngga belajar, atau pas ngerjain ulangan lagi kurang sehat atau bahkan bisa jadi kamu sudah belajar dengan baik trus kondisi badan juga fit tapi ternyata malah ikutan diremed juga. Kalo yang terakhir bisa buktiin kalo belajar itu adalah bagian dari usaha sedangkan hasil itu Allah yang tentukan. Man proposes God disposes. Eits, tapi bukan berarti kamu melipat tangan dan menopang dagu tanpa berusaha, ingat Temans apapun yang kita lakukan bernilai di mata Allah selama yang kita lakukan benar. Misal, meski diremed tapi pas ulangan kita jujur ngerjain sendiri itu yang justu nilainya gede banget di hadapan Allah dibanding nilainya gede di mata guru tapi hasil nyontek, kalo yang ini udah pasti nilainya NOL besar di hadapan Allah. Ayo, pilih mana?? Yupp… Teman Surga kaya kamu pasti pilih dapet nilai bagus, dapet pahala kebaikan dari Allah karna jujur ngerjainnya trus dibanggain sama ortu deh karna punya anak yang sholih udah gitu smart lagi.

Ujian Cinta Hakiki          

Friends, sejatinya saat kita remed banyak kebaikan yang kita dapat selain perbaikan nilai, kita juga jadi bisa belajar dan bisa lebih memahami pelajaran, bisa belajar ikhlas karna meski usaha yang kita lakukan sudah baik dan benar tapi tetap diremed, bisa jadi juga karna Allah yang mau menguji siapa tahu kalo kita dikasih nilai bagus kita malah jadi sombong dan membanggakan diri yang akhirnya gagal dapetin nilai pahala dari Allah. Kembali semua yang terjadi pasti ada hikmahnya. Sama seperti ujian kehidupan yang Allah berikan tidak mungkin kalau tidak ada maksud dan tujuan. Ada ujian kehidupan yang ringan ada juga yang berat. Kaya kamu lagi ulangan tengah semester sama ujian kenaikan kelas atau bahkan ujian kelulusan tentu beda kan bobot soal ujiannya. Intinya Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’aha, Allah tidak akan membebani seseorang di luar batas kemampuannya. QS. Al Baqarah: 286

Seperti apa yang menimpa saudara-saudara kita saat ini di Kota Palu, Donggala dan sekitarnya. Bagi korban meninggal dunia kita doakan semoga Allah ampuni kesalahannya dan husnul khotimah, buat yang masih hidup atau selamat tentu suatu kesyukuran karna bagaimanapun itu artinya Allah masih memberi kesempatan. Kesempatan memperbaiki hidup dengan tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan dan kesempatan agar semakin menambah amal kebaikan. Sedikit merefleksi atas apa yang terjadi di Sulawesi Tengah, gempa bumi yang begitu dahsyat ternyata bukanlah semata karna kehendak alam, bisa jadi kita (manusia) dengan sengaja atau tidak melakukan kerusakan di bumi ini.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. TQS. Ar Rum: 41.

Kerusakan bukan hanya soal kita ngerusak alam misalnya bakar hutan, buang sampah ke kali (sungai), tapi kerusakan pun bisa karna kemaksiatan yang dilakukan manusia dengan melakukan apa yang Allah larang dan benci misalnya pacaran, pergaulan bebas, perilaku LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) dan kemaksiatan lainnya.

Suatu hari di Madinah terjadi gempa bumi. Rasulullaah SAW lalu meletakkan kedua tangannya di atas tanah seraya berkata “Tenanglah.. belum datang saatnya bagimu”, lalu Nabi menoleh ke arah para sahabat dan berkata, “sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian, maka jawablah (buatlah Allah ridho kepada kalian). Umar bin Khattab RA mengingat kejadian itu dan ketika terjadi gempa bumi, Ia berkata kepada penduduk Madinah, “Wahai manusia, apa ini? Alangkah cepatnya, apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi”. Umar pun mengingatkan kaum muslimin agar menjauhi maksiat dan segera kembali kepada Allah. Ibnu Qayyim al Jauziyyah rahimahullloh berkata “Allah SWT mengizinkan untuknya maksudnya bumi kadang-kadang untuk bernafas, lalu muncullah gempa besar padanya dari situlah timbul rasa takut, taubat, berhenti dari kemaksiatan, merendahkan diri kepadaNya dan penyesalan pada diri hamba-hambaNya, sebagaimana yang dikatakan ulama salaf (terdahulu) ketika terjadi gempa bumi, sesungguhnya Rabb kalian menginginkan agar kalian bertaubat”.

Seperti halnya remedial, ujian kehidupan yang kita alami adalah agar kita evaluasi kesalahan yang kita lakukan untuk selanjutnya kita perbaiki dengan tidak mengulangi kesalahan tersebut dan menggantinya dengan melakukan amal sholih. Yang harus selalu kita ingat nih ya TemanS, selama masih ada yang menegur kita itu artinya kita ini masih disayang. Coba aja kalo kita misal ngga disiplin di sekolah trus ngga ada yang negur, pasti kita akan terbiasa dengan ketidakdisplinan yang pada akhirnya membuat hidup kita berantakan plus masa depan jadi suram. Hiii… ngga mau dong kaan?

“Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kesulitan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. TQS. An Nisa: 111

Satali tiga uang, saat Allah menegur kita, memperingatkan kita mungkin melalui kesedihan, kehilangan, atau mungkin diberikan rasa sakit, itu artinya Allah sayang banget sama kita, Allah ngga pengen kita terus menerus berada dalam kesalahan yang tentu akan merugikan diri sendiri.

“Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridho maka ia akan meraih ridho Allah. Barangsiapa yang tidak suka maka Allah pun akan murka” (HR. Ibnu Majah). Intinya, saat Allah tegur harapannya yang ditegur bukan hanya menoleh tapi juga kembali dan mendekat kepada Allah bukan malah berpaling lari menjauh dari peringatan Allah. “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. TQS. Thaha: 124               

So, for youbrothers and sisters.. jangan pernah mengaku diri seorang pelajar dari sebuah sekolah kalo kita ngga mau diuji sampai kita naik kelas dan berhasil lulus dengan predikat istimewa. Jangan mengaku diri seorang mukmin kalo kita belum diuji “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?..”. TQS. Al Ankabut: 2. Percaya deh, tidak ada yang ingin Allah berikan melalui ujian selain bertambahnya kebaikan dan menaikan derajat kita, ibaratnya naik kelas. Nah nanti pas kelulusan di akhir masa kehidupan baru deh dapet predikat bertaqwa setelah perhitungan amal selama di dunia. Ujian itu tanda cinta buat ngebuktiin kalo cintanya kepada Allah bukan cinta gombal tapi cinta hakiki, yang dibuktikan dengan melakukan amal sholih.[]

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *