Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Oct 24, 2018 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 034. Hebatnya Kedokteran dalam Islam

Buletin Teman Surga 034. Hebatnya Kedokteran dalam Islam

Buletin Teman Surga-034. hebatnya kedokteran dalam islamPengen jadi dokter…!

Biasanya itu jawaban kebanyakan anak-anak mungkin termasuk kamu dulu kalau ditanya udah gede pengen jadi apa? Sosok seorang dokter begitu menjadi idola, berseragam putih bersih, ramah dan suka menolong. Meski terkadang pada kenyataannya sewaktu kita kecil sakit dan dibawa ke dokter tetep aja ada drama nangis karna takut disuntik.

Sebenernya anak kecil itu kan polos ya, ibaratnya belum ada maklumat (informasi) kalau disuntik itu sakit, walaupun emang ada sakit sedikit kaya digigit semut. Tapi yang bikin anak-anak takut disuntik karna sering ditakut-takutin, misal kalau nakal nanti disuntik lho.. jadilah jangankan lihat wujud suntikan dibilang mau ke dokter aja udah kaya mau ketemu drakulesti.

Oiya, ngomong-ngomong dokter tanggal 24 Oktober diperingati sebagai Hari Dokter Nasional yang identik dengan Hari Ikatan Dokter Indonesia (IDI). IDI adalah nama terakhir yang dikukuhkan sebagai nama perkumpulan para dokter Indonesia. Sebelumnya organisasi ini bernama Vereniging van lndische Artsen tahun 1911, dengan tokohnya adalah dr. J.A.Kayadu yang menjabat sebagai ketua dari perkumpulan ini.

Pada tahun 1926 perkumpulan ini berubah nama menjadi Vereniging van lndonesische Geneeskundige atau disingkat VIG. Tahun 1943 dalam masa pendudukan Jepang, VIG dibubarkan dan diganti menjadi Jawa izi Hooko-Kai. Yah, ngga aneh ya TemanS kalo tiga nama sebelumnya berbau Belanda dan Jepang karna dua negara tersebut pernah lama bercokol di Nusantara ini.

Ok, ngga berpanjang-panjang lagi di edisi Teman Surga kali ini kita akan bahas tentang dunia kedokteran. Siapa tahu diantara kamu-kamu ada yang punya cita-cita jadi seorang dokter sholih dan sholihah. Cakeeepp. Kalaupun ngga ini bakal bikin khasanah sejarah Islam kamu bertambah. So, let’s check it out.

 KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Be Sholih Doctor, Be The Best Doctor

Kata dokter berasal dari bahasa belanda yang penulisannya sama persis. Dokter dengan keilmuannya berupaya sebaik mungkin untuk menyelamatkan, menyembuhkan dan mengobati siapa saja yang membutuhkan (dalam kondisi sakit).

For your information nih, jenjang yang harus kalian lewati kalo mau jadi seorang dokter. Pertama bagi teman-teman yang ingin menjadi seorang dokter biasanya sudah diarahkan dengan masuk jurusan IPA. Setelah itu kuliah kedokteran kurang lebih 4 tahun, mahasiswa dibekali ilmu kedokteran dasar seperti anatomi, fisiologi, biokimia, dan sebagainya.

Setelah itu dilanjut dengan istilah magang di rumah sakit selama kurang lebih 2 tahun, kamu akan digelari sebagai dokter muda atau dikenal juga dengan istilah co-assisten atau Coass. Nah, saat kamu jadi Coass baru boleh memeriksa pasien tentu aja masih dibawah supervisi dari tenaga medis. Selesai magang, kamu harus melewati ujian kompetensi yah semacam UN-lah. Baru setelah lulus, kamu akan disumpah (eits.. bukan sumpah serapah apalagi sumpah pocong yah) tapi kamu akan mengikuti sumpah dokter yang itu artinya kamu resmi dipanggil Bu Dokter atau Pak Dokter.

Akhirnyaa.. eh, ini belum akhir meski kamu sudah resmi jadi dokter tahap selanjutnya adalah kamu harus melewati tahap internship selama 1 tahun, program pematangan yang mirip seperti magang dimana kamu akan ditempatkan di rumah sakit selama 8 bulan dan di puskesmas selama 4 bulan. Dan internship ini menjadi syarat supaya kamu dapat Surat Tanda Registrasi (STR) yaitu surat yang mengakui kamu adalah dokter yang terdaftar di Indonesia.

Kalo sudah semua terlewati, boleh deh kamu buka praktek. Gimana? Jenjang yang panjang bukan? Tapi, kalau cita-cita mulia ini sudah terpatri In sya Allah kamu bisa melewatinya. Kenapa harus sebegitunya, yaa… karna profesi dokter gimana juga berkaitan dengan tubuh dan nyawa seseorang.

Menjadi seorang dokter bukan hanya dituntut profesionalisme dalam menangani pasien, tapi lebih dari itu seorang dokter harus bisa memberikan energi positif kepada pasien dengan mengajak pasien untuk bersabar dan banyak beristighfar karna ujian sakit yang Allah berikan bisa menggugurkan dosa.

“Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti akan dihapuskan kesalahannya sebagaimana pohon yang mengugurkan daun-daunnya” (HR. Bukhari).

Dan bisa jadi juga dengan sakit pula-lah Allah menginginkan agar hambaNya mendekat padaNya.

Selain itu dokter pun harus bisa menyemangati pasien agar memperbanyak do’a karna bagaimanapun seorang dokter tetaplah manusia yang hanya bisa berusaha semaksimal mungkin, namun yang memberikan kesembuhan dan kesehatan tetaplah Allah SWT Yang Maha Menyembuhkan.

Selain itu, seorang dokter juga harus senantiasa melibatkan Allah dan bertawakal kepada Allah dalam segala aktifitasnya. Saat memeriksa pasien, menulis resep obat, akan dan sedang operasi bahkan ketika selesai menjalankan tugasnya sekali pun. Tentu aja seorang dokter juga harus menjaga ibadahnya. Maa sya Allah.. sudahlah tugasnya mulia, ramah terhadap pasien, sholih/sholihah pula. Kecee banget deh.

Dunia Kedokteran Masa Kejayaan Islam

TemanS, sehat dan sakit dalam pandangan Islam bisa jadi sama-sama menjadi ujian. Kok bisa? Waktu kita diberi sehat, sebenarnya Allah menguji kita apakah kita bisa menjaga nikmat yang satu ini ngga. Karna terkadang bahkan seringnya kita lalai dengan melakukan sesuatu yang malah menghilangkan nikmat sehat ini.

“Ada dua kenikmatan yang sering terlupakan oleh banyak orang yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang” (HR. Bukhari).

Begitupun sakit juga adalah ujian, apakah kita sabar saat ditimpa penyakit atau malah marah-marah? Apakah saat kita sakit membuat kita semakin dekat dengan Allah atau malah saat kita sakit malah membenci takdir sakit yang Allah berikan?

“Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula. Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya. Barangsiapa yang ridho (menerimanya) maka Allah akan meridhoinya dan barangsiapa yang murka (menerimanya) maka Allah murka kepadanya”. (HR. At Tirmidzi)

Kesehatan dalam Islam merupakan kebutuhan asasi setiap warga negara yang harus dijamin oleh Negara. Baik itu pasien yang kaya maupun yang miskin, yang arab atau non arab. Terus, ngga ada tuh pemisahan kelas-kelas perawatan pasien seperti sekarang ini, di mana semakin mahal kelas maka semakin baik fasilitasnya. Kalau Islam memberikan semuanya yang terbaik tak terkecuali. Kalaupun ada pemisahan hanya memisahkan pasien laki-laki dan pasien perempuan.

Oleh karenanya, negara wajib menyediakan fasilitas dan pelayanan kesehatan gratis dan terbaik tentunya, berikut dengan tenaga medis yang berkualitas, profesional dan tentunya bertaqwa kepada Allah. Emang bisa? Dapat fasilitas dan pelayanan kesehatan terbaik dan gratis? Yes, jangankan gratis, pasien yang benar-benar sembuh akan diberi pakaian ganti yang baru dan diberi sejumlah uang yang mencukupinya sampai ia mampu kembali bekerja.

Our beloved Rasulullah saw sangat memberi perhatian besar terhadap masalah kesehatan. Dimana Nabi Muhammad saw pernah didatangi 8 orang dari Urainah yang hendak bergabung menjadi warga negara Daulah Islam di Madinah. Saat itu, kedelapan orang tersebut dalam keadaan sakit. Rasulullah saw lantas meminta mereka dirawat sampai sehat dan pulih kembali.

Dan ketika Rasul dihadiahi seorang dokter oleh Muqauqis (Raja Mesir) beliau meminta dokter tersebut segera memberikan pengobatan kepada seluruh warga Madinah secara gratis. Islam menjadi pioner dalam memperkenalkan rumah sakit berstandar tinggi.

Pada awal kejayaan Islam tepatnya pada masa kepemimpinan Harun Ar Rasyid (786 M – 809 M) telah dibangun rumah sakit Baghdad. Sampai abad ke 13 telah tersebar rumah sakit-rumah sakit disepanjang Jazirah Arab hinggake Cordova, Spanyol.

Untuk pertama kalinya nih, Islam menerapkan pencatatan penyakit pasien atau yang lebih dikenal dengan istilah rekam medis. Dokter dan perawat yang memenuhi kualifikasi saja yang diperbolehkan bekerja di rumah sakit. Khalifah Al Mughtadir pada masa Abbasiyah memerintahkan dokter Istana, Sinan Ibn Thabil untuk menyeleksi 860 dokter yang ada di Baghdad. Abu Osman Sa’id Ibnu Yaqub menyeleksi dokter-dokter di Damaskus, Mekkah dan Madinah.

Tokoh-tokoh Inspiratif dibidang Kedokteran Muslim

Kebanyakan orang sekarang  mengagumi dan percaya banget pada keahlian dokter-dokter yang berasal dari negera-negara Barat. Padahal, Islam dengan segala kegemilangannya banyak melahirkan para ilmuwan yang justru menjadi panutan di dunia barat bahkan sampai saat ini. Khususnya ilmuwan yang bergelut di dunia kesehatan, ada nama Ibnu Sina (Avicena) yang menjadi Bapak Kedokteran. Beliau digelari Medicorum Principal alias Raja Diraja Dokter oleh kedokteran Eropa Klasik. Ibnu Sina menulis banyak buku tentang kedokteran seperti al-Qanun fi at Tibb (Prinsip-prinsip Kedokteran).

Tokoh selanjutnya adalah Abul Qasim az Zahrawi al Qurtubi (Abulcasis). Beliau adalah ahli bedah dan dokter gigi muslim berkebangsaan Spanyol pada masa Pemerintahan Abdurrahman III.

Next, Ibnu Rusyd (Averoes) merupakan perintis ilmu jaringan tubuh (histologi). Karyanya berjudul al-Kulliyat fi at-Tibb (Kedokteran Umum). Dalam buku ini dijelaskan bahwa seseorang tidak akan terjangkit penyakit cacar dua kali, Ia juga menjelaskan fungsi retina.

Buat kamu sisters, ada juga lho tokoh Muslimah yang menjadi dokter. Diantaranya, Ukhtu al-Hufaid bin Zuhur dan putrinya yang menjadi dokter wanita yang bekerja di Istana Khalifah al Mansur, Andalusia. Berikutnya ada nama Zainab seorang ahli penyakit mata dan ilmu bedah pada masa Bani Umayyah.

For the last, sejarah kegemilangan Islam termasuk dalam bidang kedokteran menunjukan bahwa Islam sebagai agama sekaligus sebagai sistem kehidupan yang sempurna, mampu memberikan kesejahteraan bagi seluruh warga negaranya. Sehingga dari sini terciptalah sebuah peradaban yang agung dan mulia. Makanya, yuk ngaji biar makin melek tentang kehebatan Islam.[]

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *