Pages Menu
Categories Menu

Posted on Nov 20, 2018 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 038. Dicari: Generasi Qur’ani!

Buletin Teman Surga 038. Dicari: Generasi Qur’ani!

Buletin Teman Surga-038. generasi quraniAjang pencarian bakat tengah merajalela di layarkaca. Dari orang dewasa, remaja, hingga anak-anak berlomba-lomba ikut audisi. Siapa tahu kepilih dan masuk babak eliminasi, workshop, atau spektakuler. Kan lumayan, bisa nongol di layar kaca saban hari. Apalagi kalo anak-anak yang jadi peserta kompetisi. Lucu, Imut, dan ngegemesin. Ini yang dicari produsen televisi untuk naekin rating biar para pemasang iklan kepancing.  Dan pastinya kebanjiran fulus. Cring..cring..!

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

 Sedari Kecil Berlomba Jadi Idola

“Mau lihat tingkah polos mereka, mau lihat kelucuan mereka, saksikan….,” Bunyi iklan pencarian bakat anak-anak di sebuah stasiun televisi ini cukup menarik perhatian pemirsa. Anak-anak dengan segala tingkah polosnya saat menjadi peserta disorot dari berbagai sudut pandang. Sejak saat audisi, tampil menggemaskan di depan juri, hingga performance di babak eliminasi dan spektakuler. Nggak ketinggalan adegan drama saat sang anak nggak lolos audisi atau tereliminasi.

Sedari kecil adik-adik zaman now banyak yang didorong oleh orangtuanya ikut ajang pencarian bakat. Katanya sih, sebagai media penyaluran bakat. Ngasih pengalaman baru untuk nunjukin kemampuan apa yang dikuasainya, ngerasain deg-degan saat berkompetisi, hingga belajar bersikap ketika menang atau kalah.

Niat awalnya sih sang ortu pengen ngeliat anaknya tampil dihadapan juri. Aktualisasi diri. Polos. Nervous. Setelah lolos audisi hingga tembus babak grand final, jadi kepikiran deh kalo anaknya bisa jadi idola baru. Apalagi selama berlangsungnya kompetisi, media terus-terusan menampilkan keseharian peserta dari berbagai sisi. Terutama bagian yang menguras emosi. Otomatis saking seringnya nongol di layar kaca, peserta ajang pencarian bakat makin dikenal masyarakat. Kalo udah gitu, pintu popularitas makin terbuka luas.  Tahu sendiri kan, gimana rasanya kalo bisa jadi populer. Hmm….ortunya pun kecipratan tajir. Aktualisasi berujung komersialisasi. Ya gitu deh.

Ujung-ujungnya, adik-adik yang lucu bin imut alumni ajang pencarian bakat banyak yang jadi bintang iklan, artis sinetron, bintang tamu talkshow, panggilan manggung, dan sederet kegiatan yang banyak mengisi pundi-pundi rupiahnya. Kehidupannya naik level. Tadinya hanya ngeliat artis idolanya hidup mewah, perlahan diri dan keluarganya bisa ikut mencicipi hidup dengan harta berlimpah. Sepertinya kebahagiaan hidup sudah dalam genggaman tangan.

Padahal, dibalik popularitas banyak tekanan hidup yang bisa merampas kebahagiaan masa kecilnya. Jadwal manggung dan panggilan tampil yang padat, bisa menyita waktu sekolahnya. Tak ada lagi waktu bermain tanpa sorotan kamera dengan teman-teman sebaya. Usia anak-anak yang seharusnya banyak digunakan untuk bermain dan belajar, malah banyak yang jadi jadi tulang punggung ekonomi keluarga. Ngenes!

Dalam Islam, anak-anak adalah investasi bagi orangtuanya dan umat di masa depan. Bagi ayah bunda, anak yang soleh akan menjadi penyelamat bagi keduanya di akhirat. Bagi umat, anak yang soleh akan menjaga agar umat Islam tetap mulia dengan aktifitas dakwah dan kontribusi keilmuannya. Namun, mungkinkah anak-anak soleh generasi qur’ani dambaan umat ini bisa lahir dari ajang pencarian bakat?

Bercermin Pada Generasi Sahabat

Bila kita bicara tentang membangun generasi, maka harusnya kita mengambil contoh dari generasi terbaik yang pernah ada,yaitu generasi sahabat Rasulullah. Bagaimana mereka mengisi masa kecilnya sehingga menjadi generasi terbaik teladan sepanjang masa.

“Ya Ghulam, maukah kau mendengar beberapa kalimat yang sangat berguna?” tanya Rasulullah suatu ketika pada seorang pemuda kecil. “Jagalah (ajaran-ajaran) Allah, niscaya kamu akan mendapatkan-Nya selalu menjagamu. Jagalah (larangan-larangan) Allah, maka kamu akan mendapati-Nya selalu dekat di hadapanmu.”

Pemuda beruntung itu adalah Abdullah bin Abbas. Ibnu Abbas, begitu ia biasa dipanggil. Hidup  dengan Rasulullah sejak kecil membuatnya tumbuh menjadi seorang lelaki berkepribadian luar biasa.

Suatu ketika, benaknya dipenuhi rasa ingin tahu yang besar tentang bagaimana cara Rasulullah shalat. Malam itu, ia sengaja menginap di rumah bibinya, Maimunah binti Al-Harits, istri Rasulullah.

Sepanjang malam ia berjaga, sampai terdengar olehnya Rasulullah bangun untuk menunaikan shalat. Ia segera mengambil air untuk bekal wudhu Rasulullah. Di tengah malam buta itu, betapa terkejutnya Rasulullah menemukan Abdullah bin Abbas masih terjaga dan menyediakan air wudhu untuknya.

Rasa bangga dan kagum menyatu dalam dada Rasulullah. Beliau menghampiri Ibnu Abbas, dan dengan lembut dielusnya kepala bocah belia itu. “Ya Allah, berikan dia keahlian dalam agama-Mu, dan ajarilah ia tafsir kitab-Mu.” Demikian doa Rasulullah.

Abdullah bin Abbas lahir tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah. Saat Rasulullah wafat, ia masih sangat belia, 13 tahun umurnya. Ibnu Abbas benar-benar merasa kehilangan. Sosok yang menjadi panutannya, kini telah tiada. Walau demikian, ia tak mau berlama-lama tenggelam dalam kedukaan. Ibnu Abbas segera bangkit dari kedukaan. Maka ia pun mulai melakukan perburuan ilmu.

Didatanginya para sahabat senior. Ia bertanya pada mereka tentang apa saja yang perlu ditimbanya. Ia ketuk satu pintu dan berpindah ke pintu lain, dari rumah-rumah para sahabat Rasulullah. Tak jarang ia harus tidur di depan rumah mereka, karena para sahabat tengah istirahat. Namun betapa terkejutnya mereka begitu melihat Ibnu Abbas tidur di depan pintu rumah.

“Wahai keponakan Rasulullah, kenapa tidak kami saja yang menemuimu?” kata para sahabat yang menemukan Ibnu Abbas di depan rumah mereka.

“Tidak, akulah yang mesti mendatangi anda,” jawabnya.

Demikianlah kehidupan Ibnu Abbas, hingga kelak ia benar-benar menjadi seorang pemuda dengan ilmu dan pengetahuan yang tinggi. Karena tingginya dan tak berimbang dengan usianya, ada yang bertanya tentangnya. “Bagaimana anda mendapatkan ilmu ini, wahai Ibnu Abbas?”

“Dengan lidah dan gemar bertanya, dengan akal yang suka berpikir,” demikian jawabnya.

Selain teladan Ibnu Abbas, sebagai orang tua, kita bisa bercermin pada al-Ghumaisha , ibu Anas bin Malik. Usia Anas masih sangat muda, ketika ibunya al-Ghumaisha mentalqinnya dengan dua kalimat syahadat. Ibunya mengisi hatinya yang bersih dengan kecintaaan kepada Nabi Muhammad bin Abdullah. Maka di benak Anas pun mulai tumbuh rasa cinta kepada Rasul sekalipun dia belum pernah bersua dengan Nabi yang mulia tersebut.

Tidak lama setelah Rasulullah saw tinggal di Madinah setelah berhijrah dari Mekkah, al-Ghumaisha binti Milhan, datang kepada beliau dengan disertai Anak anak laki-lakinya. Ia bermaksud menitipkan Anas bin Malik kecil agar berbakti pada Rasulullah.  Anas bin Malik atau Unais (Anak kecil) hidup di samping Nabi dan berada di bawah bimbingan beliau sampai Nabi berpulang ke ar-Rafiq al-A’la yaitu selama kurang lebih 10 tahun.

Anas bin Malik hidup setelah Rasulullah saw wafat selama delapan puluh tahun lebih. Selama itu Anas mengisi dada umat dengan ilmu Rasulullah saw yang agung dan menumbuhkan akal pikiran mereka dengan fikih kenabian.

Temans, dari kisah Ibnu Abbas dan Anas bin Malik, kita bisa ngeliat bagaimana Rasulullah saw dan para Sahabat membentuk generasi qurani. Sebagai orang tua, pendidikan agama jadi prioritasnya. Bukan mengasah bakat biar bisa ikut audisi dan jadi idola baru. Ayah bunda jadi teladan bagi buah hatinya. Kesholehan mereka  akan berbuah bakti anak sepanjang masa.

Sebagai remaja, belajar ilmu agama adalah aktifitas utama kita. Tak cukup dengan pelajaran agama di sekolah, buru ilmu pada forum pengajian. Luangkan waktu untuk mendatangi guru, tilawah quran, dan baca buku bermutu. Yuk!

 

Jadi Bagian Generasi Qurani

Generasi Qur’ani adalah generasi yang menjiwai dan mengamalkan Al-Qur’an.  Seperti para sahabat Rasul yang kuat aqidahnya, benar ibadahnya, dan bagus akhlaknya. Apakah kita bisa seperti mereka? Bisa! Sayid Qutub dalam kitab Ma’alim fit Thariq (Petunjuk Jalan) telah memberikan jawabannya.

Pertama, mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai Rujukan utama dalam beramal. Istilah kerennya, sebagai “Way of Life” (Pedoman hidup). Para sahabat adalah “Al-Qur’an yang berjalan” karena senantiasa menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya. Jika Al-Qur’an melarang mereka, segera mereka tinggalkan sebaliknya jika Al-Qur’an memerintahkan mereka, segera mereka melaksanakan. Tanpai tapi tanpa nanti.

Kedua, mereka mempelajari Al-Qur’an untuk menerima perintah Allah. Para Sahabat tilawah Al-Qur’an bukan sekedar untuk membaca, menambah pengetahuan, atau menikmati keindahan sasteranya. Mereka membaca Al-Qur’an untuk menerima perintah dan larangan tentang semua urusan pribadi, keluarga, masyarakat dan negara.

Allah swt berfirman, “Barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thoha: 123-124)

Ketiga, mereka masuk Islam kemudian meninggalkan semua perbuatan-perbuatan jahiliyah yang bertentangan dengan Islam.

Para sahabat setelah mereka menerima Islam sebagai dien mereka, Muhammad sebagai Rasul-Nya, Allah sebagai Rabnya, mereka segera meninggalkan kebiasaan jahiliyah yang bertentangan dengan Islam tanpa ragu-ragu lagi.

Umar bin Khattab pernah tertawa kemudian menangis, kemudian ditanya apa sebabnya kemudian beliau menjelaskan aku tertawa karena teringat masa jahiliyah duhulu ketika membuat patung sebagai tuhan dari makanan, aku bawa kemana-mana namun ketika aku kelaparan di tengah hutan tuhan patung itu aku makan. Lalu aku menangis karena aku teringat aku pernah menguburkan anakku, wanita hidup-hidup ketika masa jahiliyah karena aku merasa malu memiliki anak wanita.

Nah temans,menjadi generasi qurani tak cukup dengan pakai gantungan kunci bertuliskan ‘Back to Quran’ di tas sekolah kita. Tak hanya pakai kaos dakwah bertuliskan cinta Rasulullah. Tapi tunjukkan dengan menjadikan aturan Islam sebagai standar perbuatan kita. Tunduk bin patuh dengan perintah dan larangan dalam Al-Quran dan Sunnah. Menjadikan Rasulullah saw dan para sahabatnya sebagai teladan.

Generasi qur’ani anti pacaran, jaga pergaulan dengan lawan jenis, dan nggak alergi ikut pengajian. Generasi qur’ani tak berlomba-lomba ikut audisi pencarian bakat, tapi pantang menyerah mengejar ridho Illahi sebagai tanda taat. Generasi qur’ani nggak latah ikut tahun baruan tapi aktif di majlis ta’lim dan forum pengajian. Generasi qur’ani pantang egois bin individualis, tapi peduli dengan masalah lingkungan sekitar dan urusan umat. Generasi qur’ani itu kamu. Iya kamu. Siap? Berangkaaat..![]

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *