Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Dec 10, 2018 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 041. Say No to “Maksiat”

Buletin Teman Surga 041. Say No to “Maksiat”

Buletin Teman Surga-041. say no to maksiatHuman Immunodeficiency Virus alias HIV masih menjadi momok menakutkan bagi manusia. Apalagi sampe sekarang, belon ketemu obat yang jitu untuk menaklukkan virus yang pertama kali dikenali pada tahun 1980 ini. HIV menyerang sel darah putih yang mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh sehingga mudah terinfeksi berbagai macam penyakit yang tak kunjung sembuh. Kondisi inilah yang dikenal sebagai Acquired Immune Deficiency Syndrome alias AIDS. Ngeri!

Sepak terjang HIV seolah tak terbendung. Epidemi AIDS telah menyebar dengan sangat cepat. Berdasarkan data dari UNAIDS, terdapat 36,9 juta masyarakat berbagai negara hidup bersama HIV dan AIDS pada 2017. Dari total penderita yang ada, 1,8 juta di antaranya adalah anak-anak berusia di bawah 15 tahun. Selebihnya adalah orang dewasa, sejumlah 35,1 juta penderita. Dan jumlah kematian yang disebabkan oleh AIDS sebanyak 940.000 kasus di seluruh dunia. (Kompas.com – 01/12/2018)

Di Indonesia sendiri, jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan Juni 2018 sebanyak 301.959 jiwa dan paling banyak ditemukan di kelompok umur 25-49 tahun dan 20-24 tahun. Jika dikelompokkan berdasarkan latar belakangnya, penderita HIV/AIDS datang dari kalangan pekerja seks komersial (5,3 persen), homoseksual (25,8 persen), pengguna narkoba suntik (28,76 persen), transgender (24,8 persen), dan mereka yang ada di tahanan (2,6 persen).

Dari data di atas, ternyata penyebaran HIV tumbuh subur dalam gaya hidup seks bebas dan penggunaan narkoba suntik yang kian ’banyak’ peminatnya, terutama di kalangan remaja. Hat-hati! 

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Gaul Bebas Kebablasan

Pada Mei 2011, survey yang dilakukan lembaga internasional DKT bekerja sama dengan Sutra and Fiesta Condoms mengungkap, remaja tak lepas dari seks bebas. Buktinya, 462 responden berusia 15 sampai 25 tahun semua mengaku pernah berhubungan seksual. Semua, 100 persen! Dan, mayoritas mereka melakukannya pertama kali saat usia 19 tahun. Survey dilakukan di Jakarta, Surabaya, Bandung, Bali, dan Yogyakarta (Republika.co.id, 12/12/2011).

Data tahun 2012 juga nggak kalah menariknya. Menteri Komunikasi dan Informasi, Tifatul Sembiring kepada Radar Bogor (Grup JPNN) menuturkan, berdasarkan riset pornografi di 12 kota besar Indonesia terhadap 4.500 siswa-siswi SMP, ditemukan sebanyak 97,2 persen dari mereka pernah membuka situs porno. “Bahkan, data tersebut juga menyebutkan 62,1 persen siswi SMP pernah berzina dan 22 persen siswi SMU pernah melakukan aborsi,” ujarnya. (jpnn.com, 16/6/2012)

Sebuah survei yang dilakukan oleh Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dan Kementrian Kesehatan, (Kemenkes) pada Oktober 2013 memaparkan bahwa sekitar 62,7% remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seks di luar nikah.  20% dari 94.270  perempuan yang mengalami hamil di luar nikah juga berasal dari kelompok usia remaja dan  21%  diantaranya pernah melakukan aborsi.Lalu pada kasus terinfeksi HIV dalam rentang 3 bulan sebanyak 10.203 kasus, 30% penderitanya berusia remaja. Astagfirullah.

Selain HIV dan penyakit menular seksual (PMS), perilaku seks bebas juga rawan akan tekanan psikis. Kebanyakan remaja cuman pengen enaknya aja yang sesaat, tapi nggak mau dengan anaknya. Cowoknya nggak mau tanggung jawab, yang ceweknya juga malu kalo ketahuan hamil duluan. Solusinya, aborsi alias pengguguran kandungan. Kalo ceweknya nggak mau aborsi, cowoknya bisa kalap dan tega ngabisin pacarnya. Malah nggak sedikit yang ’tabrak lari’. Kalo udah ditinggalin pacar, ceweknya bisa depresi karena menanggung aib seorang diri. Kepalang tanggung, nggak sedikit diantara mereka yang akhirnya terjerumus dalam dunia prostitusi karena ngerasa udah nggak suci lagi. Na’udzubillah.

Temans, kalo kita masih sayang sama diri sendiri, sama orang-orang yang kita sayangi, sama masa depan kita di akherat, dan nggak pengen disamain dengan hewan, jangan coba-coba mencicipi gaya hidup seks bebas dengan segala keturunannya. Termasuk nggak pacaran sebelum merit. Lantaran, berpacaran cuman menjerat kita dalam lingkaran syahwat yang nggak ada abis-abisnya. Lebih bagus lagi kalo kita juga jauh-jauh dari media porno yang bisa membakar syahwat dan meng-KO akal sehat. So, kalo udah jelas banget dampak buruk dan dosanya, tentu wajar dong kalo kita harus berani bilang, say no to free sex! Betul? 

Narkoba Biang Bencana

Hingga saat ini, sepak terjang narkoba yang menjerat remaja semakin menggila. Dan parahnya nggak pandang usia. Apalagi narkoba semakin mudah diperoleh dengan harga terjangkau bagi kantong pelajar. Bayangin aja, cuman seharga pulsa goceng kita bisa dapetin 1 strip narkoba yang isinya 12 tablet. Ditambah lagi, para pengedar narkoba dengan senang hati ngasih gratisan demi menjerat mangsanya.

Walhasil, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat dari 87 juta populasi anak di Indonesia, sebanyak 5,9 juta di antaranya menjadi pecandu narkoba. Mereka jadi pecandu narkotika karena terpengaruh dari orang-orang terdekat.

“Dari total 87 juta anak maksimal 18 tahun, tercatat ada 5,9 juta yang tercatat sebagai pecundu,” kata Komisioner Bidang Kesehatan KPAI, Sitti Hikmawatty dalam konferensi pers di Gedung KPAI, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (6/3/2018).

Lantaran udah kecanduan, nggak sedikit remaja yang menghalalkan segala cara demi menikmati narkoba. Dari tindakan kriminal sampe melacurkan diri. Belum lagi perasaan nggak puas, memaksa penggunanya untuk berpetualang mencari kenikmatan sesaat dari berbagai jenis narkoba. Awalnya, cuman minum pil BK atau megadon, terus ngisep cimeng (ganja), menghirup bubuk morfin, hingga nyuntik heroin yang dicairkan ke dalam urat nadi. Makin lama, bukannya puas malah makin nyandu. Persis kaya minum air laut. Semakin diminum, justru semakin haus!

Secara psikis, pecandu narkoba cenderung menutup diri dari lingkungan dan selalu dihantui rasa takut. Takut ketauan dan takut nggak bisa make lagi. Ini yang menghancurkan hidup pecandu. Secara fisik, narkoba bikin badan kurus kering, mata sayu, gak napsu makan, apalagi olahraga. Rasanya, tubuh kita nagih pengen diisi narkoba terus. Dan kalo udah sakaw, sakitnya nggak ketulungan. Nyawa serasa digantung. Hidup segan mati tak mau. Belon lagi penularan penyakit lewat penggunaan jarum suntik bareng-bareng. Rawan banget kena hepatitis C, Hepatitis B, Sipilis, Malaria, atau HIV. Semuanya bisa berujung pada kematian. Mau?

Temans, menjauhi narkoba bukan hanya musuhan sama pil koplo, ekstasi, ganja, putaw, dan sanak kerabatnya. Tapi juga menjaga diri dari lingkungan yang bisa menyeret kita dalam jeratan narkoba. Seperti tren clubbing dalam dunia gemerlap (dugem) yang bisa mengenalkan kita sama narkoba. Awalnya cuman kenalan, terus penasaran, lalu ikut nyoba yang gratisan, akhirnya jadi ketagihan. Makanya, jangan coba-coba pake narkoba yang jelas-jelas dosa dan bikin hidup kamu sengsara. Oke?! 

Berani Katakan, TIDAK!

Bilang ’nggak’, emang tak semudah yang dibayangin. Pastinya kita udah pernah berada pada situasi yang sulit bagi kita untuk berkata tidak. Padahal kita tahu resiko yang bakal ditanggung kalo jawab iya. Tapi ya itu, suka ada pertimbangan yang amat sangat mempengaruhi perasaan kita. Walhasil, mulut lebih manut sama perasaan dibanding akal sehat kita. Gawat tuh!

Emang, menginjak usia remaja, pertimbangan teman sebaya sering kali jadi prioritas dibanding yang lain. Kondisi inilah yang sering dikenal sebagai peer pressure alias tekanan teman sebaya yang kecenderungannya memaksa. Nggak papa sih kalo pemaksaannya terhadap hal yang positif kaya ’terpaksa’ ikut ngaji, menutup aurat, dan menjaga pergaulan. Parahnya, peer pressure lebih sering mengarah pada perilaku negatif. Mulai dari bolos sekolah, tawuran, pacaran, seks bebas, nge-drugs, merokok, nenggak botol, bullying sama teman, sampe tindakan kriminal. Semuanya adalah maksiat kepada Allah.

Peer pressure sering berlindung di balik alasan demi solidaritas teman. Remaja seolah nggak punya pilihan untuk menolak kalo pengen tetep diakui dan diterima sama temannya. Itu berarti, remaja lebih takut dijauhin oleh teman-temannya dibanding mikirin kebaikan untuk dirinya sendiri.

Punya teman itu emang penting dan perlu. Tapi kalo ada unsur pemaksaan untuk berbuat maksiat atas nama solidaritas, itu tanda pertemanan yang nggak sehat. Dalam kondisi itu, kamu harus berani berkata tidak. Menolak ajakan teman bukan berarti memutuskan persahabatan. Justru menunjukkan rasa sayang dan kepedulian kita biar teman nggak makin terjerumus. Inget, kita nggak selamanya muda. Ada masa tua yang harus kita songsong. Dan kita pun nggak selamanya hidup. Ada saatnya kita mesti rela meninggalkan dunia. Apa jadinya masa depan kita, kalo di usia muda terhanyut budaya hedonis yang ngejar kesenangan semata?

Untuk keluar dari peer pressure, kita mesti punya prinsip hidup untuk menilai ajakan teman. Pastinya prinsip yang dipake juga mesti bener. Biar sikap yang kita ambil juga bener. Nah, kalo mencari prinsip hidup yang bener, tentu aja Islam jawabannya. Karena hanya prinsip hidup Islam yang mampu menjaga perilaku kita tetep beretika dan menumbuhkan keberanian pada diri kita untuk berkata tidak dari peer pressure yang ngajak maksiat. Hasilnya, kita lebih berhati-hati dalam bersikap. Allah swt berfirman: 

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isrâ [17]: 36).

Temans, prinsip hidup Islam akan tumbuh dalam diri kita kalo kita mau mengenal Islam. Mengenal Islam bukan hanya tahu cara shalat, puasa, zakat, atau ibadah haji. Yang nggak kalah pentingnya, mengenal Islam sebagai aturan hidup yang akan menyelamatkan kita dunia akhirat. Punya prinsip hidup Islam bikin kita jadi lebih pede dalam bergaul. kita nggak gampang tergoda oleh tren budaya sekuler yang membidik remaja. Malah kita berani speak up, ngingetin teman-teman biar lolos dari jeratan budaya sekuler yang merusak masa mudanya. Yup, saatnya kita berani teriakkan: say no to drugs, free sex, liberalism, hedonism, capitalism. Say no to “maksiat”. And say yes to Islam as way of life!

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *