Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Dec 31, 2018 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 044. #2019MakinSholih

Buletin Teman Surga 044. #2019MakinSholih

Buletin teman surga -044. 2019#2019. Jauh sebelum tahun 2019 tiba, banyak orang ramai-ramai bikin hastag 2019 plus dengan tagline-nya. Ada yang #2019 Ganti Status, Naik Haji Bareng Keluarga, Masuk Perguruan Tinggi Negeri, Hapal Qur’an 30 juz dan tagline-tagline lainnya. Kalau kamu apa tagline-nya?

Selama itu baik bisa jadi harapan dan do’a di tahun depan. Kita manusia, tentu menginginkan sesuatu yang baik bahkan terbaik bagi diri kita. Punya harapan dan cita-cita itu penting, apalagi kalau cita-cita itu baik dan akan memberikan banyak manfaat.

“Khoirunnaas anfa’uhum linnaas, sebaik-baik manusia adalah meberikan manfaat bagi manusia“ (HR. Ahmad).

Misalnya, kamu pandai matematika sedangkan temanmu kesulitan untuk memahami rumus matematika, maka kamu ingin menjadi sebaik-baiknya manusia kamu ngga akan pelit tuh untuk berbagi ilmu. Eits.. dengan catatan berbagi ilmunya saat belajar yaa bukan pada saat ulangan atau ujian. Atau kamu menguasai ilmu membaca al-qur’an dengan tartil dan indah, sedangkan temanmu ingin bisa membaca al-qur’an maka tanpa berpikir panjang kamu akan membantu temanmu untuk bisa membaca al-qur’an.

“Khoirukum man ta’allama al qur’an wa‘allamahu, sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari).

Selama kemanfaatan itu terus diamalkan maka sepanjang itu pulalah pahala kebaikan mengalir untuk kamu bahkan ketika kamu sudah tiada atau meninggal, inilah yang disebut sebagai amal jariyah. So, jadilah remaja milenial yang terdepan dalam beramal sholih bukan malah beramal salah. Contohnya, ikut-ikutan heboh ngerayain pergantian tahun. Malah ada yang udah dari jauh-jauh hari merencanakan acara tahun baruan. Nunggu jam 00.00 trus bareng-breng tiup terompet, bakar petasan dan kembang api. Udah gitu doang. Buat seseruan. Seru jangan asal seru, pikirin dulu itu semua berfaedah ngga? Dan yang terpenting sebagai seorang remaja muslim boleh ngga kita ikut-ikutan ngerayain tahun baruan?

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Jangan Asal, Kenali Dulu Asalnya

Yes, jangan karna ikutan tahun baruan dengan alasan cuma seseruan ternyata apa yang kita lakukan malah fatal. Kenapa bisa fatal? Karna bisa menggadaikan keimanan kita lho. Segitunya kah? Simak. Sejarah singkatnya, peringatan tahun baru sudah dimulai sejak 45 tahun SM (Sebelum Masehi) pada masa Kaisar Julius Caesar. Januari dipilih menjadi bulan pertama diantaranya karena dikaitkan dengan nama dewa Janus yaitu Dewa yang memiliki dua wajah satu menghadap ke (masa) depan dan satu lagi menghadap ke (masa) lalu atau ke belakang. Pada tahun 1582 M, Paus Gregorius XIII mengubah Perayaan Tahun Baru Umat Kristen dari tanggal 25 Maret menjadi 1 Januari. Kalender Gregorian yang kita kenal sebagai kalender Masehi dibuat berdasarkan kelahiran Yesus Kristus dalam keyakinan Kristen.  Seiring muncul dan berkembangnya agama Kristen, akhirnya perayaan ini diwajibkan oleh para pemimpin gereja sebagai suatu perayaan “suci” satu paket dengan hari Natal. Itulah mengapa ucapan Natal dan Tahun baru dijadikan satu (Merry Christmas and Happy New Year).

Perayaan tahun baru ini seolah bukan lagi milik umat kristiani, karna banyak orang dengan latar belakang agama apapun merayakannya termasuk umat Islam. Astaghfirulloh. Ya,, umat Islam yang ngga paham, mereka ikutan ngerayain dengan tanpa landasan syariat cuma karna banyak yang ngerayain ngerasa udah sah dijadiin legalitas untuk nge-follow apa yang bukan berasal dari ajaran Islam. Ditambah dengan dalih “Tapi kan, kita cuma meramaikan aja dengan tiup terompet, nyalain petasan sama kembang api doang ngga sampe iman sama Tuhan atau Dewa mereka”. Doang? Baca nih, terompet dan kebiasaan meniupnya adalah berasal dari kalangan kaum yahudi. Dari Abu ‘Umair bin Anas dari bibinya yang termasuk shahabiyah Anshor, “Nabi memikirkan bagaimana cara mengumpulkan orang untuk shalat berjamaah. Ada beberapa orang yang memberikan usulan. Yang pertama mengatakan, ‘Kibarkanlah bendera ketika waktu shalat tiba. Jika orang-orang melihat ada bendera yang berkibar maka mereka akan saling memberi tahukan tibanya waktu shalat. Namun Nabi tidak menyetujuinya. Orang kedua mengusulkan agar memakai terompet. Nabi pun tidak setuju, beliau bersabda, ‘Membunyikan terompet adalah perilaku orang-orang Yahudi.’ Orang ketiga mengusulkan agar memakai lonceng. Nabi berkomentar, ‘Itu adalah perilaku Nasrani.’ Setelah kejadian tersebut, Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi pulang dalam kondisi memikirkan agar yang dipikirkan Nabi. Dalam tidurnya, beliau diajari cara beradzan.” (HR. Abu Daud). Selain itu menyalakan kembang api, mengitari api unggun adalah kebiasaanya kaum majusi (penyembah api).

Tegas Rasulullah saw mengingatkan “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Menyerupai orang kafir (tasyabbuh bil kufar) ini terjadi dalam hal pakaian, penampilan dan kebiasaan (termasuk budaya dan pemikiran mereka tentang kehidupan). Analoginya gini, misal kamu iseng mengenakan pakaian seragam dokter dan bergaya layaknya seorang dokter, maka tentu orang lain akan menganggap kamu sebagai seorang dokter. Jadi, benarlah apa yang disampaikan oleh Rasulullah dalam hadits di atas kalau menyerupai suatu kaum maka bagian dari mereka. So, clear ya TemanS tahun baruan bukanlah ajaran Islam dan merayakannya hukumnya HARAM. Apalagi apa yang dilakukan gak faedah banget, tiup terompet, bakar petasan dan kembang api, belum lagi ditambah dengan aksi maksiat dari mabuk sampai free sex. Na’udzubillah. Allah SWT berfirman dalam QS. Al Furqon: 72 “…apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya”. Sekali lagi, ngga usah ikut-ikutan dengan alasan apapun. Taat itu lakukan apa yang harus dilakukan, dan meninggalkan apa yang harus ditinggalkan tanpa kata “doang” atau “tapi kan”.

Stop Maksiat, Let’s Taat!!

Teman Surga, yuk kita sejenak menarik nafas perenungan. Merefleksi diri terlebih dengan banyaknya peristiwa yang terjadi di bumi pertiwi ini. Dimana, mata kita diperlihatkan pada kedzaliman, kemiskinan, ketidakadilan, kemasiatan di mana-mana. Telinga kita diperdengarkan rontaan orang-orang yang tertindas namun suara mereka parau, tangisan para korban musibah bencana alam yang belakangan terjadi beruntun. Hati kita tersayat pilu oleh ulah generasi muda yang terjebak pergaulan bebas, perilaku LGBT, asyik dengan hal-hal yang tak berfaedah. Rasanya ini semua sudah sangat layak bahkan wajib untuk kita renungi, bermuhasabah dari musibah yang terjadi. Maha Benar Allah dengan kalam-Nya dalam surat Ar Ruum: 41

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Bukan bermaksud menyamakan Allah dengan manusia. Maha Suci Allah yang tak mungkin bisa disejajarkan dengan makhlukNya. Saat kita berbuat salah, tentu orang tua atau guru akan menegur kita agar kita tahu bahwa apa yang kita lakukan adalah salah dan akan merugikan diri kita bahkan mungkin orang lain, setelah itu kita memperbaikinya dengan tidak mengulangi kesalahan kita dengan begitu In sya Allah kita akan selamat. Tapi, kalo teguran, peringatan demi peringatan tetap membuat kita bergeming jangan salahkan jika kita dimarahi atau bahkan dihukum. Naahh.. gimana kalo kita bermaksiat kepada Allah? Ketika kita diperingatkan dengan ayat-ayatNya dan segera menyesali kesalahan atas kemaksiatan kepada Allah trus kita memperbaikinya, In sya Allah kita selamat. Tapi, jika ayat-ayat Allah tidak dijadikan penuntun dan petunjuk malah diperolok, maka Allah punya cara lain untuk menegur bahkan memberi peringatan kepada hambaNya. “Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia:

“Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat? Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan”. (TQS. Thaha: 123 – 126)

Sebaik-baik musibah adalah yang menghantarkan kita untuk lebih dekat dengan Allah, lebih taat kepada perintahNya. Dan seburuk-buruk nikmat adalah yang melalaikan kita dari mengingat Allah bahkan menjerumuskan pada kemaksiatan. Better late than never, kalo sekiranya ada yang pernah bertasyabuh bil kuffar, hidup bebas dengan mem-follow budaya dan aturan barat yang sesat segeralah bertaubat kepada Allah dengan tidak mengulanginya lagi, setelah itu langkahkan hati dan dirimu untuk berhijrah menjadi manusia yang sholih dan sholihah dengan mulai perdalam ilmu agama (Islam), mengamalkan serta mendakwahkannya. Allah swt berfirman :

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa” (TQS. Ali Imran : 133)

Waktu memang begitu cepat bergulir, masa begitu cepat berganti. Setahun dilalui bagai sepekan, hari berlalu bagai sekejap mata. Dan sayangnya, waktu yang pergi itu takkan kembali. Kerugian yang amat besarlah jika masa yang hilang tidak menjadikan kita sosok manusia yang semakin taat, semakin sholih atau sholihah. Teman Surga, tentu cita-cita tertinggi kita adalah berada di surgaNya maka selama nyawa masih dikandung badan mulailah, perbanyaklah, istiqomahlah dalam beramal sholih. Jangan sampai kita menyesal saat tiba masanya ruh atau nyawa kembali kepada pemilikNya (Allah SWT).

“Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin”. QS. Sajdah: 12.

So, take your time to hijrah and istiqomah. []

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *