Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Jan 20, 2019 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 047. Remaja Dirindu Surga

Buletin Teman Surga 047. Remaja Dirindu Surga

buletin teman surga-047. remaja dirindu surgaBe different. Itulah prinsip yang dipegang remaja biar eksis dalam pergaulan diantara teman sebaya. Harus beda. Dari mulai potongan rambut hingga potongan kuku. Dari mulai gaya bahasa sampai gaya busana. Nggak ketinggalan, casing hape dan casing wajah juga mesti beda. Pokoknya nggak sama.

Tapi ya namanya penampilan, dibedain gimanapun biasanya nggak bertahan lama. Apalagi remaja penganut banci trendi, gampang berubah ngikutin tren. Nggak konsisten. Temennya keranjingan budaya korea, ikut-ikutan dandan ala wanita korea pakai skinny jeans padahal betisnya bak talas Bogor. Niatnya skinny, malah menyiksa kaki. Hadeuh…!

 KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Dilema Remaja Muslim Milenial

Gaya hidup remaja emang nggak ada matinya. Setiap hari ada aja trend kekinian yang meramaikan lini masa sosial media. Dari mulai penampilan, gaya bicara, tren fashion, hingga makanan juga nggak mau ketinggalan. Kalo nggak bisa ngikutin tren, bisa ketinggalan jaman. Endingnya, tersisih dari pergaulan.

Wajar kalo remaja muslim sering ngalami kegalauan dalam urusan pergaulan. Di satu sisi, nggak mau ketinggalan tren yang lagi ngehit demi menjaga persahabatan. Namun di sisi lain, ogah juga bergaya hidup sekuler ala barat yang jauh dari aturan agama. Serba salah. Bimbang. Pilih ridho manusia atau ridho Sang Pencipta?

Di sekolah, nggak ada lagi tuh yang namanya jaga jarak dengan lawan jenis. Yang ada, laki perempuan gaul bebas tanpa batas. Benih-benih cinta dibiarkan tumbuh liar. Berangkat sekolah bareng, ngerjain tugas bareng, nongkrong bareng, hang out bareng, sampe tidur juga bareng. Gaswat!

Kalo ada yang berani jaga jarak dalam bergaul, seringnya dianggap sok suci, sok alim, atau nggak solider. Meski kedengerannya sepele, julukan ini lumayan dalem dan bikin minder lho. Akhirnya melahirkan dilema. Antara gaul bebas dan gaul islam.

Nggak heran kalo banyak remaja muslim yang rela menggadaikan idealismenya biar dianggap gaul dan diterima oleh temen-temennya. Mereka cari jalan aman biar tetep cocok dengan tuntutan jaman. Biasanya dalam urusan gaya hidup dan penampilan yang paling banyak menyita perhatian. Dari sini lahirlah perilaku pacaran islami atau tren kerudung gaul. Keliatannya kekinian padahal mah sama dengan malpraktik nilai-nilai Islam. Niatnya ikhlas biar dapet ridho Allah swt tapi caranya nggak ngikutin sepeti yang dicontohkan Rasul saw.

Walhasil, jadi kaya bunglon dah pake gonta-ganti warna kulit biar cocok ama lingkungannya. Bunglon nggak akan ditanya di akherat kenapa gonta-ganti warna, lah kita pastinya bakal ditanya Allah swt kenapa nggak berani konsisten dengan nilai-nilai Islam. Siap?

Menggenggam Bara Api, Berani?

Perbedaan waktu dan budaya sering dijadikan alasan biar bisa lolos dari ketatnya aturan Islam. Jamannya Rasul saw dan jamannya kita kan keadaannya sangat jauh berbeda tuh. Dulu transportasi cuman ngandelin onta. Kini, macam-macam angkot dengan berbagai trayek siap mengantarkan kita. Dulu, nggak ada koran, majalah, atau televisi. Kini, berbagai media massa mengenalkan kita pada budaya luar yang dikasih label modern. So, penerapan aturan Islam yang komplit hanya cocok di jaman Rasul. Hari gini, aturan Islam kayanya lebih pas disesuaikan dengan situasi kondisi yang lebih modern. Gitu katanya.

Waktu emang nggak bisa kita cegah untuk terus berlalu. Jaman pun bakal terus berganti tanpa bisa kita batasi. Yang perlu disadari, perubahan keadaan dari waktu ke waktu itu cuman terjadi pada bentuk sarana dan prasarana sekitar kita aja. Sementara kebutuhan hidup manusia nggak ada yang berubah. Begitu juga dengan aturan Islam yang diturunkan untuk mengatur tata cara manusia dalam memenuhi kebutuhannya. Tetep sama.

Pada masa Rasul manusia kudu makan, sekarang pun sama. Yang berbeda, apa yang dimakannya. Islam mengharamkan daging babi untuk dikonsumsi. Kini, meski daging babi udah disterilkan dari kandungan cacing pita yang menjijikkan atau dikemas dalam bentuk nugget atau kornet, tetep aja jatuhnya haram

Dulu manusia melestarikan jenisnya dengan pernikahan. Untuk itu, Islam mengharamkan perzinahan untuk menjaga garis keturunan dan berpacaran yang mendekati perzinahan. Kini, meski seks bebas kian dianggap lumrah dengan alasan suka sama suka dan pasangannya mau bertanggung jawab, tetep aja judulnya zina yang dilaknat dunia akhirat.

Dulu, Islam mewajibkan berpakaian kudu sempurna biar aurat tertutup rapat. Kini, walau udah jadi tren pakaian yang irit bahan, tetep aja mengumbar aurat itu melanggar aturan.

Sialnya, saking merajalelanya kemaksiatan di tengah masyarakat, perilaku yang bener malah jadi gunjingan. Remaja nggak berpacaran, dianggap punya kelainan disangka penyuka sesama jenis. Remaji berhijab rapi, dianggap cari sensasi biar cakep kalo lagi selfie. Pelajar jujur saat ujian, temannya bilang sok pinter. Pemuda aktif berdakwah dan ngingetin orang, dituduh teroris.

Bukan cuman tuduhan atau cap negatif yang diterima remaja remaji yang konsisten pegang aturan Islam dalam keseharian. Tapi ada juga yang dinyinyirin di sosial media, dimusuhin teman sebaya, dicap anak durhaka, sampai yang dapat masalah dengan nilai pelajaran di sekolahnya.

Untuk itu, dituntut kesabaran super ekstra untuk tetap istiqomah. Seperti diingatkan Rasulullah saw dalam sabdanya, “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260).

Pastinya panas banget. Perih. Tangan bisa melepuh. Tapi jangan khawatir, kesabaran menggenggam bara api itu Allah kasih ganjaran setimpal. Unlimited pahala dan surga sebaik-baiknya tempat kembali.

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.(QS. Az Zumar: 10).

Sebagaimana disebut dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, Al Auza’i menyatakan bahwa pahala mereka tak bisa ditimbang dan tak bisa ditakar. Saking banyaknya. Berani menggenggam bara api?

Istiqomah, Penuh Berkah!

Seorang shahabat bernama Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqofi pernah berkata pada Rasulullah saw. “Wahai Rasulullah! Katakanlah kepadaku satu perkara yang dapat aku jadikan pegangan.” Beliau bersabda:

“Katakan, ‘Aku beriman kepada Allah’, kemudian beristiqomalah.” (HR. Muslim)

Dalam bahasa arab, Istiqomah adalah anonim dari thughyan (penyeimbang atau melampaui batas). Ia bisa berarti berdiri tegak di suatu tempat tanpa pernah bergeser. Karena akar kata istiqomah dari kata “qooma” yang berarti berdiri. Maka secara etimologi, istiqomah berarti tegak lurus. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, istiqomah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen.

Rasulullah saw. ngasih kabar gembira bagi kita-kita yang selalu bersabar dan tetep istiqomah. Sabda beliau:

“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang memerlukan kesabaran. Kesabaran pada masa-masa itu bagaikan memegang bara api. Bagi orang yang mengerjakan suatu amalan pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan semisal amalan itu. Ada yang berkata,’Hai Rasululah, apakah itu pahala lima puluh di antara mereka?” Rasululah saw. menjawab,”Bahkan lima puluh orang di antara kalian (para shahabat).” (HR Abu Dawud, dengan sanad hasan)

Allah swt bakal ngejamin kebaikan bagi yang istiqomah. Sehingga tak ada alasan bagi kita untuk takut dan bersedih hati. Seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Robb kami ialah Allah” kemudian mereka beristiqomah (meneguhkan pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (QS. Fushshilat [41]: 30).

Teman, sikap istiqomah adalah produk dari keimanan yang ada dalam diri kita. Makanya, untuk memelihara sikap istiqomah kita juga perlu memupuk keimanan kita. caranya?

Pertama, banyak berpikir. Para sahabat, generasi awal kaum Muslimin yang berhasil dididik Rasulullah saw. mengaitkan aktivitas berpikir dengan keimanan. Mereka menjelaskan bahwa, “Cahaya dan sinar iman adalah banyak berpikir” (Kitab ad-Durrul Mantsur, Jilid II, hlm. 409). Semakin kita banyak berpikir tentang kebesaran Allah swt dan mengkaji Islam lebih dalam, lambat laun cahaya keimanan kita akan semakin bersinar. Makanya ikut ngaji.

Kedua, perbanyak ibadah dan jauhi maksiat. Rasul pernah bilang, “iman itu kadang bertambah dan kadang berkurang”. Rasul juga bilang, “iman bertambah dengan taat, dan iman bekurang dengan maksiat”. Makanya kita kudu getol beribadah, baik yang sunah apalagi yang wajib. Dan jangan lupa, jauhi pelaku maksiat juga tempat maksiat. Biar kita nggak kebawa-bawa sesat.

Ketiga, bergaul dengan orang-orang alim. Perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh teman dekatnya. Makanya, sering-sering deh ngumpul dengan teman yang bisa mengajak kita untuk tetap taat dan mengingatkan kita agar jauh dari maksiat. Dengan begitu, tanki semangat kita untuk istiqomah selalu terisi penuh.

Keempat, banggalah menjadi bagian dari kelompok al-ghuroba (orang-orang yang terasing) yang dirindu surga. Siapakah al-ghuroba itu?

“Siapakah orang-orang yang terasing itu ya Rasulullah ? “Orang-orang yang selalu memperbaiki (amar ma’rur dan nahi munkar) di saat manusia dalam keadaan rusak”, jawab Rasulullah   (HR. Thabrani)

Ekspresi kebanggaannya dengan istiqomah dalam dakwah. Kosisten menyampaikan kebenaran, mengajak pada kebaikan, dan mencegah kemungkaran. Catat!

Temans, emang bukan perkara mudah istiqomah jalankan syariah ketika lingkungan sekitar kita jauh dari nilai-nilai islam. Nggak gampang juga konsisten berdakwah saat teman-teman sebaya terjangkiti virus individualis yang cuman mikirin diri sendiri. Tapi semuanya terasa indah saat Allah selalu menaungi gerak langkah kita. Nggak khawatir hidup nelangsa, karena Allah yang Maha Kuasa senantiasa melindungi kita. Yakin deh, Allah swt pasti akan mengganti setiap pengorbanan kita dengan kebaikan di dunia dan akhirat. Bukan cuman untuk kita, tapi juga untuk keluarga, teman, dan orang-orang yang kita sayangi. So, mau jadi remaja dirindu surga? Kuncinya, istiqomah! Yuk! []

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *