Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Apr 3, 2019 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 057. Ajaran Islam Bukan Prasmanan

Buletin Teman Surga 057. Ajaran Islam Bukan Prasmanan

buletin teman surga 057. ajaran islam bukan prasmananPrasmanan? Pasti yang kebayang makanan kan? Hehee. Judul di atas jelas bukan asal ngecap karena kita memang nggak lagi bicarain makanan, nggak juga asal jeplak, tapi kalo kita mau jujur di sekitar kita, nggak sedikit yang ngambil ajaran-ajaran Islam kayak ngambil makanan di sajian prasmanan. Mulai dari urusan individu, masyarakat sampe urusan yang lebih gede dari itu, urusan ngatur negara misalnya.

Nggak sedikit teman-teman kita kalo disuruh sholat sih kayaknya nggak berat-berat amat, tapi giliran disuruh ninggalin pacaran, nah itu yang agak berat. Kalo disuruh belajar sih, kayaknya nggak begitu berat, walaupun kadar belajarnya ya segitu-gitunya aja, tapi kalo diminta nggak nyontek waktu ujian yang mana nyontek waktu ujian jelas nggak boleh dalam ajaran Islam, nah itu habits yang kadang agak susah disuruh ninggalin.

Urusannya dengan masyarakat juga kurang lebih kayak gitu.  Sudah jadi maklum di masyarakat apalagi yang sudah jadi ‘kebiasaan umum’, misalnya kalo ada acara manten alias walimah ya umumnya sih campur baur antara tamu pria dan wanita. Ketika ada upaya untuk mengembalikan ajaran Islam berupa terpisahnya kehidupan laki-perempuan, wa bil khusus di acara nikahan, maka nggak sedikit yang keberatan. Mulai dari pengantinnya sendiri, keluarga, sampe ke masyarakatnya.

Padahal nih dalam urusan pemisahan jamaah laki-wanita, di dalam jamaah sholat di masjid itu sudah biasa kita laksanakan, tapi giliran diterapkan pemisahan itu di pernikahan, koq banyak jadi masalah. Ada yang bilang aneh-lah, nggak kayak biasa lumrahnya-lah, entar nggak enak dibilang sama tetangga-lah, dan sebagainya. Akhirnya ajaran Islam tentang hal tersebut, nggak sedikit yang emoh untuk menerapkannya.

Trus, dalam urusan bernegara apakah nggak ada gejala untuk ngambil Islam layaknya makanan prasmanan? Heumm… heummm. Heuumm… heum heum…, kenapa jadi nyany nisa sabyan, hehehe…. Jawabanya, ada. Kita mau ngasih conto, tapi ini contohnya benar-benar riil terjadi ya, bukan mengada-ada, dan bukan sengaja diadain, dan jangan dianggap buletin ini memprovokasi yang engak-enggak. Catet itu ya, biar man-teman juga ngeh, bahwa emang ada bukti nyata yang ngambil Islam ‘semau gue’, alias asal gue seneng, sementara ajaran yang lain ditinggalin dalam urusan negara.

Contoh nyatanya dalam urusan politik. Duh… berat sebenarnya ngasih contoh ini, tapi ini terjadi di panggung politik kita, nyata ada di dunia dan rame di sosmed, dan anak-anak muda milenial juga ikut berkomentar tentangnya. Kita nggak bisa menghindar dari bukti-bukti nyata itu. Apalagi menjelang hajatan pemilihan, fenomena ngambil Islam kayak prasmanan itu terjadi. Jadi, ada sebagian orang dalam urusan berpolitik kalo demi keuntungan kelompoknya, simbol-simbol Islam diambil, tapi giliran ketika disodorkan ajaran Islam bahwa Islam ngatur tentang politik, eh mereka bilang jangan bawa-bawa Islam dalam politik deh, nanti dulu deh pembahasan kayak gitu, atau malah muncul tuduhan sebaliknya, kalo Islam kamu itu radikal, Islam garis keras, dan sebagainya. Duh cilaka tenan!

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Islam Bukan Sekularisme

Nah, apa yang sudah dipaparkan di atas itu fakta loh ya, dan memang Islam ini kan ajaran yang sudah sempurna mengatur hidup manusia, sebagaimana Allah sampaikan dalam firman-Nya:

“Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agama bagimu….” (QS.Al Maidah 3)

“Dan siapa yang mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Ali Imran: 85)

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasu-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir) merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (QS al-Nisa’ 150-151).

Karena telah sempurna itu, sikap kita dalam mengambil ajaran Islam nggak boleh setengah-setengah, ngambil ajaran yang kita suka, yang bisa kita terapkan, yang nggak menimbulkan ‘pertentangan’ di masyarakat. Sikap kaya gitu jelas, ditentang oleh Al-Qur’an:

“Apakah kamu beriman kepada sebagian dari Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia. ” (QS. Al-Baqarah :85).

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang beriman dan tidak pula perempuan yang beriman, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS. Al Ahzab: 36)

Jadi gaes, Islam itu memang bertentangan dengan sekularisme. Tahu kan apa itu ajaran sekularisme? Berasal dari kata sekular dan isme, kamus besar bahasa Indonesia mendefinisikan, sekularisme/se·ku·la·ris·me/ /sékularisme/ n paham atau pandangan yang berpendirian bahwa moralitas tidak perlu didasarkan pada ajaran agama.

Sekularisme secara definisi, adalah doktrin yang menolak campur tangan nilai-nilai keagamaan dalam urusan manusia, alias urusan manusia harus bebas dari agama atau dengan kata lain agama nggak boleh mengintervensi urusan manusia. Segala tata-cara kehidupan antar manusia jadi hak manusia untuk mengaturnya, Tuhan nggak boleh mengintervensinya. Ringkasnya, sekularisme adalah pemikiran yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama itu hanya urusan ibadah aja, terkait dengan bagaimana beribadah kepada sang Pencipta. Sementara untuk urusan kehidupan, maka agama nggak boleh ikut campur.

Dari sisi sejarah munculnya sekularisme sebenarnya merupakan bentuk mosi tidak percaya masyarakat Eropa kepada para pendeta saat itu (abad 15an). Di mana kongkalikong antara kaum agamawan dan penguasa beberapa abad lamanya menenggelamkan dunia Barat ke dalam periode yang kita kenal sebagai the dark age. Ilmu pengetahuan yang menopang majunya sebuah peradaban malah dimusuhi. Ketika ada penemuan baru yang dianggap bertentangan dengan sabda dari kekuasaan, dianggap sebagai sebuah pelanggaran yang harus ditebus dengan nyawa. Sebagaimana yang dialami Copernicus yang menyatakan teori heliosentrisnya yang notabene bertentangan dengan teori pemegang kekuasaan yang mengemukan teori geosentris. Pertentangan berabad-abad itu sampe akhirnya, muncul pertentangan dari kaum filosof, ilmuwan, yang selanjutnya muncul “two swords” alias jalan tengah. Dari sisi ruh (spiritual) boleh dikuasai kaum rohaniawan, sementara dari sisi materi  (keduniaan) dikuasai/diperintah, diatur oleh kaum ilmuwan.

Sehingga dari segi teori, sejarah dan praktiknya, sekularisme itu secara watak alias tabiatnya bertentangan 180 derajat dengan Islam. Islam justru sebaliknya, mengajarkan umatnya untuk secara kaffah masuk kedalamnya, nggak boleh setengah-setengah.

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia merupakan musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 208)

 

Serta Al-Qur’an sendiri, sebagai salah satu syariat hukum bagi kaum muslimin, sudah lengkap menjelaskan segala sesuatu:

“Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Quran) sebagai penjelas segala sesuatu.” (QS An-Nahl: 89)

Juga firman-Nya (yang artinya), “Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab (Al-Quran).” (QS Al-An’am: 38)

Jadi, Islam bukan dan nggak boleh dijadikan ajaran layaknya makanan prasmanan, kita ambil yang kita suka, kita tolak alias emoh kita terapkan karena nggak sesuai dengan ‘selera’ masyarakat. Padahal segala sesuatu perbuatan kita, telah ada aturan hukumnya dan diatur oleh Islam, sehingga problematika hidup kita, kudu mau diatur dengan Islam, nggak boleh ada rasa berat menerapkannya.

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS An-Nisa’: 65)

“Ucapan seorang mukmin yang apabila mereka diseru kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka hanya, ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS An-Nur: 51)

Jangan Nurutin Nafsu

Salah satu alasan kenapa seseorang agak suka berat kalo disuruh ninggalin yang dilarang Allah, dan ngelakuin yang telah diperintah Allah, karena sejatinya mereka menuruti hawa nafsunya dan hawa nafsu orang-orang di sekitarnya. Ketika diminta ngelakuin sholat mungkin nggak berat, tapi kalo sholatnya sudah ketepatan dengan main game PUBG misalnya, nah ketahuan mana yang lebih didahuluin. Kalo sudah dengar adzan, tapi masih main PUBG, lalu sholatnya mepet di akhir waktu, nah itu tanda-tanda banyak ngikutin hawa nafsu.

Demikian juga, misalnya kalo ada sebagian muslimah masih sulit disuruh pake jilbab dengan alasan nanti dan pake tapi. Alasan seperti “Nanti aja, aku siapin teman-teman aku dulu, biar mereka nggak kaget,” atau “tapi nanti teman-temanku menjauh aku gimana?” dan alasan serupa lainnya, itu berarti tandanya masih ngikutin hawa nafsu.

Jadi, bagi yang masih suka milih-milih ajaran atau syariat Islam untuk diterapkan, karena mengikuti hawa nafsu, coba perhatikan firman Allah berikut ini:

“Sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang dirahmati Rabb-ku.” (QS Yusuf: 53)

“Maka pernahkan kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya?” (QS Al-Jatsiyyah: 23)

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (QS Al-Mukminun: 71)

Padahal sikap membenci syariat (ajaran) Islam, meskipun sebagian, termasuk pembatal Islam. Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah berkata dalam Nawaqidh Al-Islam,

“(Pembatal Islam) kelima: siapa yang membenci sesuatu dari apa yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meski ia kerjakan, maka ia kafir.” Pernyataan ini disimpulkan dari firman Allah, “Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang Allah turunkan lalu Allah menghapus seluruh amal-amal mereka.” (QS Muhammad: 9)”

Wallahu’alam bi showab []

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *