Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Apr 16, 2019 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 059. Stop Nge-Bully Ayo Ngaji!

Buletin Teman Surga 059. Stop Nge-Bully Ayo Ngaji!

buletin teman surga 059. stop ngebully ayo ngajiKasus penganiayaan yang menimpa salah seorang siswi SMP di Pontianak yang berinisial A masih menjadi buah bibir di kalangan netizen. Selebgram, youtuber, artis, aktivis, tokoh perempuan, para elite, pejabat daerah dan nasional hingga Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun angkat bicara terkait kasus ini. Bahkan sejumlah publik figur sampai membatalkan jadwalnya demi datang ke Kota Khatulistiwa untuk menjenguk korban yang hingga Kamis (11/4/2019), masih dalam perawatan di RS ProMEDIKA Pontianak. Apa yang terjadi pada korban tersebut sampai melahirkan tagar yang jadi trending topik?

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Darurat Bullying Pelajar

Awalnya, korban dan pelaku terlibat aksi saling sindir via linimasa sosial media dengan pelaku. Berniat ingin menyelesaikan masalah, pertemuan pelaku dan korban berujung penganiayaan secara fisik. Kasus ini menjadi viral lantaran netizen begitu mudah terbawa opini liar yang beredar di dunia maya.

Terlepas dari hoax dan fakta seputar kasus ini kita patut prihatin dengan kekerasan pelajar yang sudah lintas gender. Nggak cuman anak cowok aja yang sering kedapatan berkelahi keroyokan, tawuran, hingga open fight satu lawan satu ala gladiator. Tapi juga pelajar putri ikut-ikutan melampiaskan kemarahannya dengan bullying hingga penganiayaan yang memakan korban. Dan kasus yang terjadi di Pontianak ini bukan yang pertama terjadi di ngeri ini. Ngeri!

Sebelumnya juga sudah banyak kasus bulying yang menimpa dan dilakukan oleh sesama pelajar putri yang terekam oleh media. Meski nggak sampai viral dan mengundang tokoh publik untuk ikut ngasih pernyataan sikap, tapi cukup bikin potret dunia pendidikan kita makin buram.

Pernah ada seorang siswi berinisal WN (14) yang dikeroyok oleh dua remaja putri, LS (16) dan YA (15) di Modernland, Cikokol, Jumat 9 Maret 2018. Dalam aksinya, kedua pelaku memukuli korban menggunakan tangan kosong. Peristiwa itu juga diabadikan dalam video dan tersebar di media sosial. Kedua pelaku kemudian dijerat Pasal 80 ayat 3 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jumlah kasus pendidikan di KPAI per tanggal 30 Mei 2018 berjumlah 161 kasus, dari jumlah tersebut terungkap data anak korban kasus kekerasan dan bullying mencapai 22,4% dan anak pelaku kekerasan dan bullying mencapai 25,5%,” kata Komisioner KPAI, Retno Listyarti dalam keterangannya, Minggu (22/7/18).

Retno menjelaskan berdasarkan pengakuan korban, bully dilakukan secara langsung saat di sekolah dan kerap dilanjutkan di dunia maya yang kerap dikenal dengan istilah cyberbully.

Perilaku bullying gak bisa dipandang sebelah mata. Lantaran akibat bullying bisa bikin korban depresi hingga bunuh diri. Seperti yang terjadi pada Elfa Lestari, siswi Kelas X SMAN 1 Bangkinang yang nekat bunuh diri dengan terjun ke Sungai Kampar tahun 2017 silam. Elfa menjadi korban bully oleh teman-teman sekolahnya. Salah satu kata-kata ejekannya yaitu ‘Jangan mau berteman sama Elfa karena ayah Elfa gila keluarga ndak beres ayahnya kerja angkut barang di pasar’.

Tingginya kasus bullying di Indonesia secara tidak langsung juga mempengaruhi kualitas belajar para siswa. Fakta menyebutkan, lebih dari 160.000 anak membolos setiap harinya untuk menghindari bullying. Lalu, hampir 10% siswa memutuskan untuk keluar sekolah atau pindah sekolah dengan alasan serupa. Selain kualitas belajar yang menurun, bullying juga menimbulkan dampak psikologis.

Bullying, Why?

Maraknya kasus bullying yang dilakukan pelajar, menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat. Ada apa dengan mental pelajar? Begitu mudahnya mereka mengekspresikan kekecewaan, rasa marah, hingga kebencian dengan perilaku yang menyakiti orang lain.  Setidaknya ada tiga pemicu perilaku bullying yang merajalela.

Pertama, minimnya edukasi dalam proses pencarian jati diri. Ahli kriminologi dari Universitas Diponegoro, Semarang, Nur Rochaeti, mencoba mengungkap latar belakang kasus pengeroyokan terhadap Audrey. Frustrasi disebutnya sebagai salah satu sumber utama timbulnya kenakalan remaja.

Frustasi karena tidak terpenuhinya empat kebutuhan pokok (four wishes) remaja. Adanya kebutuhan untuk memperoleh rasa aman; kebutuhan untuk memperoleh pengalaman baru sebagai usaha untuk memenuhi dorongan ingin tahu, petualangan, dan sensasi; kebutuhan untuk ditanggapi sebagai pemenuhan dorongan cinta dan persahabatan; dan kebutuhan untuk memperoleh pengakuan yang berupa status atau prestise. Perasaan frustrasi akan mendorongnya terutama sekali untuk melakukan perbuatan agresif.

Kedua, dampak sosial media. Psikolog klinis Dr. M.M. Nilam Widyarini, M.Si menyatakan media sosial perlahan mengalami pergeseran fungsi. Keberanian orang untuk mem-bully dan nyinyir karena tidak terjadinya komunikasi secara tatap muka. Komunikasi melalui Internet memungkinkan terjadi deindividualisasi, kondisi ketika identitas seseorang tidak mudah dikenali karena memakai nama samaran.

Tak heran kalau media sosial dimanfaatkan para pelaku bullying sebagai pabrik kebencian. Inilah yang akhirnya membuat orang jauh lebih berani, frontal, galak, dan senang menghujat ketika berada di media sosial.

Ketiga, kekurangan kasih sayang dalam keluarga. Anak-anak yang jarang dipeluk, dicium, dan diperhatikan orangtuanya akan mengalami kondisi skin hunger (kelaparan kasih sayang). Keadaan ini membuat anak sulit membayangkan rasanya cinta, kasih sayang, dan berempati pada orang lain. Ruang batin anak-anak seperti ini kering dan malah hanya diisi dengan kesedihan bahkan dendam. Mereka sedih karena tak bisa merasakan kasih sayang seperti anak-anak lain, dan juga merasa dendam pada siapa saja yang ia anggap melukai hatinya.

Kasih sayang itu amat bermanfaat bukan saja mengisi ruang batin anak, tapi juga sekaligus sebagai kendali dan rem agresifitas seorang anak. Kecukupan kasih sayang pada seorang anak membuat ia tak mudah melampiaskan amarah apalagi menyakiti orang lain, karena ia bisa khawatir hal itu juga menimpa dirinya.

Keempat,  Pembiaran oleh sistem. Ya, hampir setiap ada kekerasan bahkan berakibat kematian yang dilakukan pelajar selalu ada excuse, pemakluman dan pengecualian. Pelaku tidak dipenjara, tapi diberikan perlakuan khusus yakni dianggap sebagai anak-anak. Minim efek jera. Sehingga memungkinkan remaja lainnya berbuat hal yang sama.

Terakhir, maraknya bullying oleh siswa di tanah air, juga cerminan arah dan pola pendidikan nasional masih bermasalah dan sistem sosial masyarakat yang kacau. Pendidikan nasional gagal membentuk karakter siswa berakhlak mulia, apalagi relijius. Ini semua karena sekulerisme menjadi pijakan bangsa ini termasuk dalam dunia pendidikan. Pelajaran agama minim dan sebatas teori, bukan untuk membentuk karakter yang berakhlak luhur.

Kasus bulying seperti mata rantai yang terus terjadi setiap tahun. Pelaku bullying biasanya pernah jadi korban, sehingga ada ‘dendam kesumat’ yang kebawa hingga dewasa. Kalo nggak segera diputus, mata rantai bullying terus lestari dan bisa mengancam generasi muda.

Stop Bullying, Ayo Ngaji!

Dalam Islam, bullying sangat dilarang karena menyakiti orang lain secara fisik dan mental. Baik bullying dalam bentuk verbal berupa ejekan yang merendahkan, perbuatan yang melukai fisik, atau celaan di dunia maya. Allah swt berfirman:

“Hai orang – orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula suka sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang zalim”. (QS. Al-Hujarat [49]: 11)

Dari ayat di atas sudah sangat jelas bahwa kita semua itu memiliki derajat yang sama di hadapan Allah SWT. Sehingga nggak ada alasan bagi kita untuk merendahkan, melecehkan, menghina, atau apapun bentuknya hanya karena teman kita difable, cacat secara fisik, keturunan tertentu atau beda warna kulit dan bahasa.

Rasulullah saw juga menegaskan agar keberadaan kita nggak bikin orang lain tersakiti oleh lisan dan tangan kita.

Muslim adalah orang yang menyelamatkan semua orang muslim dari lisan dan tangannya. Dan Muhajir adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah”. (HR. Bukhari)

Apalagi kepada sesama muslim, kita dipersaudarakan oleh akidah yang mulia. Rasulullah saw mengingatkan,

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, ia tidak boleh menganiayanya, menelantarkannya, mendustakannya dan menghinanya. Taqwa itu bersumber di sini (Beliau mengisyaratkan dengan tangan kearah dadanya tiga kali). Cukuplah seorang itu dianggap jahat bila ia senang menghina saudaranya sesama muslim. Setiap muslim itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya atas muslim yang lainnya”. (HR. Muslim)

Kalo udah jelas-jelas Islam ngelarang bully, tentu seorang muslim nggak akan jadi pelakunya. Kalo kenyataannya banyak remaja muslim yang doyan nge-bully, berarti pemahaman agamanya harus diperkuat. Ini tanggung jawab bersama mulai dari orang tua, keluarga, sekolah, dan juga negara.

Untuk memperkuat pemahaman agama pada diri remaja saat ini tak bisa hanya mengandalkan mata pelajaran agama di sekolah. Keterbatasan waktu dan cakupan materinya, belum mampu melahirkan remaja muslim beraklak mulia. Sehingga harus ada kegiatan tambahan bagi siswa dan siswi untuk mengenal Islam lebih dalam. Tak sekedar belajar lebih jauh tentang ibadah, tapi juga pengokohan akidah. Benteng yang bisa menjaga mereka dari godaan perilaku bullying.

Bagi remaja, pentingnya mengenal Islam lebih dalam juga bagian dari edukasi yang membimbing mereka dalam proses pencarian jati diri. Islam akan mendampingi mereka menemukan arti kebahagiaan hidup. Sehingga mereka tak salah arah dalam upayanya memenuhi kebutuhan akan persahabatan, pengakuan, eksistensi, prestasi, prestise, cinta, maupun petualangan dalam kesehariannya. Kalo udah begini, tak ada lagi remaja yang frustasi. Dan perilaku bullying pun bisa dikurangi.

Kita nggak pernah berharap kasus bullying terulang lagi. Kita selaku pelajar, berperan besar untuk menghentikan budaya kekerasan di kalangan pelajar. Perilaku agresif remaja lebih banyak didorong oleh faktor internal alias dalam diri. Karena itu, pendidikan agama sebagai pondasi remaja muslim mesti diperkuat. Mesti dibarengi dengan kajian yang lebih intensif untuk semua pelajar. Agar keimanannya terjaga, akidahnya kokoh, dan sikap mentalnya juara. Stop nge-bully, ayo ngaji![]

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *