Pages Menu
Categories Menu

Posted on May 1, 2019 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 061. My School Is My Second Home

Buletin Teman Surga 061. My School Is My Second Home

buletin teman surga 061. my school my second homeKalo ngeliat judul di atas, bukan lantas kalo di rumah kita ada pembantu rumah tangga lalu kita jadikan teman kita sebagai pengganti pembantu rumah tangga. Nggak, nggak kayak gitu maksud dari judul buletin kita kali ini. Judul di atas, ngasih pengertian bahwa fungsi sekolah seenggaknya kayak rumah, di dalamnya ada pendidikan, pengasuhan, dan/atau pembinaan. Jadi kalo di rumah kita punya orang tua, maka di sekolah, para guru kita itulah orang tua kita. Kalo di sekolah kita punya teman, maka teman-teman kita itu ibaratnya saudara adik kakak kita di rumah.

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Hormati Gurumu, Sayangi Teman

Gaes, pasti kamu pernah dengar syair lagu ini:

Oh, ibu dan ayah, selamat pagi

Kupergi sekolah sampai kan nanti

 

Ibu dan ayah:

Selamat belajar nak penuh semangat

Rajinlah selalu tentu kau dapat

Hormati gurumu sayangi teman

Itulah tandanya kau murid budiman

 

Yupz itu lagu yang kita nyanyikan saat kita masih di TK. Oiya, kita minta man-teman pembaca nginget lagu itu, bukan kita mau ngajak koor nyanyi, tapi coba kita perhatikan penggalan syair lagu itu. Di situ ada perintah atau ajakan dari orang  tua, agar kita menghormati guru dan menyanyangi teman. Lalu disebut di situ, itulah tandanya murid budiman.

Nah, bukan berarti nama guru kita namanya pak Budiman. Budiman itu sebagai sebuah idiom untuk menyebut orang yang memperhatikan budi pekerti. Sebab mengormati guru dan menyayangi teman emang termasuk budi pekerti yang luhur. Dan naasnya hari ini budi pekerti alias adab, utamanya menghormati guru itu menjadi suatu yang langka. Masih inget kan dengan kasus guru Ahmad Budi Cahyono di Sampang, Madura yang tewas, di tangan muridnya? Nah, kasus ekstrim itu menjadi tamparan keras dunia pendidikan kita, gaes.

Guru memang nggak gila hormat, tapi sebagai murid menghormati guru adalah kewajiban, bagian dari adab. Bahkan kalo soal adab kepada guru, Islam nggak kurang-kurang memperingatkan hal itu. Sebab, selain itu bentuk penghormatan kita kepada guru, tersebab adab itulah timbul keberkahan dari ilmu yang kita pelajari dari guru-guru kita. Bisa jadi kesuksesan yang hari ini kita rasakan, adalah salah satu dari ridhonya guru kita atas ilmu yang ia berikan. Demikian pula sebaliknya. Kalo kita gagal dalam belajar, pekerjaan, prestasi dan lainnya, bisa jadi karena buah dari rasa nggak hormat kita pada guru.

Kayak kita udah sebutkan tadi, guru adalah orang tua kita di sekolah, dan sekolah adalah rumah kedua kita. Jadi hormat alias beradab kepada orang tua, pun harusnya dilakukan juga pada guru kita. Pada masa generasi tabi’in, ada seorang ulama (cendekiawan) yang sangat luas dan mendalam keilmuannya. Sampai-sampai oleh para ulama lainnya digelari “Rabi’atur Ra’yi” (logika musim semi). Gelar untuk menggambarkan betapa jenius ulama ini. Praktis, Rabi’atur Ra’yi menjadi tujuan utama para penuntut ilmu untuk belajar. Tidak terkecuali Malik bin Anas. Seorang remaja yang kelak akan dikenal sebagai Imam Malik Rahimahullah, peletak dasar Madzhab Maliki.

Ada satu fragmen yang menarik ketika Imam Malik hendak pergi belajar ke gurunya. Diceritakan “Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.’ Ibuku berkata,‘Kemarilah!, Pakailah pakaian ilmu!’ Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah (guru Imam Malik, pen)! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’.” (‘Audatul Hijaab 2/207, Muhammad Ahmad Al-Muqaddam, Dar Ibnul Jauzi, Kairo,)

Karena saking urgentnya adab itu, Syaikh Ibnu Mubarak, seorang ulama yang sangat shalih, berkata, “Thalabtul adab tsalatsuna sanah wa thalabtul ‘ilm ‘isyrina sanah” (Aku belajar adab 30 tahun lamanya, sedang aku belajar ilmu hanya 20 tahun lamanya).

Hormat Guru, Sayangi Muridmu

Rasulullah Saw berpesan: “Tidak termasuk umatku orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti hak ulama.” (HR. Ahmad)

Hadits di atas juga bisa berlaku umum, menghormati atau menyayangi teman juga masuk bagian itu. Nah, sebagai timbal balik, sesuai tekstual hadist di atas bahwa yang muda menghormati alias beradab kepada yang tua, maka yang tua (guru) menyayangi yang muda (muridnya).

Semoga buletin ini juga dibaca oleh para guru, atau man-teman yang pembaca boleh koq ngasihkan buletin teman surga ini kepada gurunya. Karena guru adalah sebagai ganti orang tua kita ketika di sekolah, maka tugas guru nggak hanya cuman sebatas menyampaikan materi pembelajaran, tapi sampe pada proses pengawasan akan perubahan sikap muridnya. Sehingga sebagai guru, kita juga harus menyayangi anak didik kita. Memberikan pengajaran dan pendidikan dilandasi kasih sayang  dan diniatkan ibadah.

Ada pepatah yang masih kita inget bener bunyinya “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”.  Pepatah itu seakan mau ngasih tahu kepada kita kalo fungsi guru itu salah satunya ngasih teladan kepada muridnya. Makanya penting bagi seorang guru memperhatikan perilakunya, biar muridnya nggak asal copas perilaku gurunya. Sekali lagi, guru adalah orang tua dari murid-muridnya di sekolah.

Jadi, kalo ada pepatah “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”, kira-kira kalo gurunya suka bergoyang manja tanpa rasa malu di Tik-Tok, nah jangan salah kalo murid-muridnya nirunya lebih ekstrim dari itu. Kalo gurunya suka main pukul kepada murid-muridnya, maka muridnya bisa jadi mempraktikan hal serupa kepada teman-temanya. Kalo guru misalnya happy aja merokok di sekolah, maka jangan salah jika muridnya yang badung dikasih tahu jangan ngerokok, orang ada contoh dari gurunya.

Karena sekolah bukan cuman bertugas ngisi otak para siswa, tetapi juga menghiasi diri mereka dengan sikap yang anggun dan perilaku yang menawan. Dalam bahasa para guru disebut dengan tiga aspek penilaian, aspek kognitif (intelektualitas), aspek afektif (moralitas), dan aspek psikomotorik (aktualitas). Nah, sebagai murid kita hormati guru, tapi sebagai seorang guru kita juga harus menyayangi murid kita, salah satunya dengan ngasih teladan yang baik buat anak didiknya. Itu namanya impas.  Catet!

Lingkungan Juga Sekolah Kita

Ada satu tempat belajar bagi kita para anak (remaja) di luar ruang formal sekolah, yakni lingkungan. Yes, lingkungan pergaulan, baik di sekitar rumah maupun di tempat yang lain, kalo boleh diibaratkan, juga seperti layaknya sekolah bagi remaja. Karena di lingkungan itulah, dia belajar, dia menyerap, dia memahami, lalu bertingkah laku. Intinya seseorang bersikap sangat tergantung kepada pemahamannya, sementara pemahaman seseorang itu dipengaruhi dari komponen-komponen ketika dia berpikir. Salah satu komponen seseorang memahami sesuatu atau berpikir adalah berupa maklumat tsabiqoh alias informasi yang masuk ke otaknya.

Asupan informasi yang masuk ke otak para remaja, nggak cuman dari rumah, tapi juga dari sekolah, dan yang bisa jadi lebih banyak adalah dari lingkungan. Dari informasi-informasi itulah dia olah, lalu dikaitkan dengan fakta yang dia juga serap dari keseharian pergaulannya. Jadi kalo remaja mendapati informasi yang salah tentang gaya gaul misalnya, lalu didapati fakta di sekitarnya, gaya gaul anak remaja seumurannya yang rusak, maka hasil perilaku si remaja tadi adalah hasil olah pikir antara fakta dan informasi yang dicerap melalui inderanya.

Kalo informasi dan fakta yang dia olah, lalu disimpulkan menjadi perilaku selalu seperti itu, maka menjadilah sebuah pola, yang bernama pola sikap. Jika itu dalam bentuk pemahaman atau pemikiran, dan berlangsung terus menerus menjadilah yang disebut pola pikir. Kalo pola pikir dan pola sikap, dibangun dengan pondasi yang salah, jadilah membentuk sebuah kepribadian (syakhsiyah) yang salah. Inilah yang disinyalir oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya:

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”.  (HR Muslim, Ibnu Majah, Ahmad, Baihaqi)

Hati yang dimaksud di hadits tersebut dalam bahasa arab adalah Qolbun. Menurut beberapa ulama, qolbun itu dalam bentuk fisik bukan hati yang bermakna jantung, akan tetapi qolbu bimakna pemikiran. Jadi, yang dimaksud Rasulullah dalam hadits tersebut, bahwa Allah melihat pemikiran (pola pikir), dan amal (pola sikap).

Nah, kembali ke soal sekolahan atau pendikan tadi. Jadi, lingkungan pergaulan juga sangat berpengaruh, lingkungan pergaulan juga ibarat sekolahan, di sana kita belajar, mendapat informasi, lalu akhirnya membentuk perilaku kita. Nggak salah, jika Rasulullah SAW mengingatkan kita tentang teman gaul kita:

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, segala hal yang melingkupi teman-teman remaja, bisa menjadi sarana bagi dirinya dalam membentuk kepribadiannya. Mulai dari rumah, sekolah, dan lingkungan pergaulannya.

Benteng Terakhir, Negara!

Kalo seorang remaja dibentuk kepribadiannya dari rumah, sekolah, dan lingkunganya, maka yang tak kalah pentingnya yang bisa bertindak menerapkan kebijakan alias aturan bagi pendidikan, adalah para pengambil kebijakan. Mulai dari dinas, menteri, hingga kepala negara merupakan wakil dari negara untuk mengayomi dan melayani warga negaranya, dengan melalui penerapan peraturannya.

Oleh karenanya, nggak berlebihan kalo kita berharap remaja-remaja kita menjadi baik, shalih-shalihah, maka tentu nggak bisa dilepaskaitkan dengan peran negara yang baik. Bukan hanya baik dalam melayani, tapi aturannya juga harus baik (Islam), terlebih perilaku para perilaku penyelenggara negara juga harus baik. Kalo istilah kerennya sih, good and clean government.  Itu harapan sekaligus tantangan, dan nggak ada yang sanggup menjawab tantangan itu, kecuali Islam. Karena Islam dan aturannya dalam catatan sejarahnya pernah diterapkan dalam sebuah negara dalam rentang waktu 13 Abad. Sungguh rentang waktu, yang belum bisa ditandingi oleh sistem negara model apapun.

Sebagai closing statetement, coba ayo sama-sama kita pikirkan ayat 49-50 dari surat Al Maidah berikut, yang merupakan perintah untuk beraturan hanya dengan aturan dari Allah:

”Dan hendaklah kamu berhukum dengan apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memperdayaimu atas sebagian yang Allah turunkan kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang Allah turunkan) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka karena dosa-dosa mereka. Dan sungguh kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan siapakah yang lebih baik dari Allah (dalam menetapkan hukum)  bagi orang-orang yang yakin”.  (QS Al Maidah 49-50)[]

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *