Pages Menu
Categories Menu

Posted on May 24, 2019 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 064. Bangkit dengan Al-Qur’an, Why Not?

Buletin Teman Surga 064. Bangkit dengan Al-Qur’an, Why Not?

buletin teman surga 064. bangkit dengan alquranBulan Ramadhan udah sampe di setengahnya, itu artinya kita akan ketemu dengan apa yang biasa disebut Nuzulul Qur’an, alias waktu turunnya Al-Qur’an. Kebetulan banget, kalo mau dicocok-cocokin, tanggal 20 Mei di negeri kita ini disebut sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Jadi deh, akhirnya judul buletin kesayangan kita kali ini bakal ngebahas, bangkit dengan Al-Qur’an.

Yuk, duduk dan simak dengan seksama bahasan kita kali ini. Tapi inget, kalo baca buletin teman surga pas waktu siang hari, jangan sambil ngemil kuaci, hehe…eh, kecuali para akhwat yang lagi dapet, dan gak puasa, dipuas-puasin makan kuacinya, se-ember, wkwkw…

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Kayak Apa Sih Bangkit Itu?

Kenapa masalah bangkit atau kebangkitan kita perlu bahas? Analogi sederhananya gini gaes. Ibarat orang tidur, kalo kamu ngajak ngomong orang tidur, tentu aja nggak bakalan ada responnya. Mau se-ekpsresif apapun kamu menyampaikan bahasa pesan yang pengin kamu sampaikan ke orang tidur, bakalan percuma. Beda banget, kalo teman kamu itu sudah bangun, kesadarannya udah penuh, trus kamu ajakin ngomong, maka dengan kesadarannya, dia akan bereaksi. Entah itu dengan kata atau perbuatan, dengan anggukan atau gelengan, dan seterusnya.

Artinya, ketika kita ngomong tentang kebangkitan, tujuannya untuk membuat seseorang tersadar, lalu merespon atas kesadaran itu. Tapi nggak cukup segitu, sebab untuk membuat orang tersadar lalu bangun atau bangkit, maka konten alias isi obrolan kita tentang kesadaran kita itu menjadi penting. Kalo sekedar sadar lalu nggak terbangun dan bereaksi, maka bisa dipastikan ada yang salah pada konten obrolannya. Nah, lalu obrolan macam apa agar bikin orang itu bangkit?

Konten obrolan, harus ngajak seseorang itu berpikir, terutama berfikir tentang hakikat hidup dia di dunia ini. Atau setidaknya berfikir tentang keadaan dia saat ini, sampe dia sadar bahwa dirinya saat ini sedang tidak dalam kondisi terbaik, lalu dicari perbandingan pribadi-pribadi yang bisa dan lebih baik dari dirinya. Kongkritnya gini, gaes. Ajak dia berpikir fakta dan data, keadaan umat Islam saat ini secara umum, yang mengalami keterpurukan di berbagai segi, sampe dia mengangguk, tanda setuju dan nggak berani membantah. Lalu, bandingkan dengan apa yang disebut oleh bahasa Al-Qur’an dengan sebutan “Khairu Umat” (umat yang terbaik), yakni yang secara khusus generasi para sahabat.

Kenapa koq musti dibandingkan? Iya, musti dicarikan pembandingnya. Karena seseorang tidak akan menyadari atau memahami dirinya terpuruk, kalo nggak ada standar alias ukuran. Nggak sedikit kan, teman-teman kita, enjoy aja dengan keterpurukan mereka, karena mereka nggak sadar bahwa dirinya sedang terpuruk, dan padahal dirinya bisa tidak terpuruk alias bangkit menjadi khairu umat. Atau ada juga teman-teman kita, merasa dirinya baik-baik saja, nggak perlu bangkit, nggak juga terpuruk, ya udah jadi remaja biasa-biasa saja. Nah, sehingga kalo kita menghadirkan pembandingnya, kita bisa jadi punya kiblat, owh begitu tho, bangkit yang sejati itu?!

Bangkit dengan Al-Qur’an, Emang Bisa?

Kalo pertanyannya, sekedarar bisa or kagak, maka jawabannya, pasti BISA. Cuman, persoalan berikutnya yang justru lebih penting, adalah kita mau atau enggak bangkit dengan Al-Qur’an? Oke, untuk menjawab pertanyaan bisa atau enggak kita bangkit dengan Al-Qur’an, maka kita coba simak fragmen kebangkitan para sahabat saat itu ketika masih di Mekah, maupun para sahabat Anshor yang di Madinah. Sahabat atau kaum muslimin di Mekah yang baru masuk Islam saat itu, benar-benar bisa merasakan perbedaan alias perbandingan yang mencolok, antara sebelum datangnya Islam dan sesudah datangnya Islam.

Risalah Islam yang dibawa oleh Baginda Rasulullah SAW, saat itu benar-benar membalikan keadaan atau kebiasaan masyarakat pagan penyembah berhala di Mekah. Bukan hanya tentang sesembahan yang dilarang, tapi juga aturan tentang tata cara ibadah, bermuamalah, aturan makanan, sebagiannya diturunkan ketika Rasulullah SAW masih di Mekah. Praktis, saat itu bikin para pemuka Quraisy, kebangkaran jenggot dengan Risalah yang dibawah oleh Rasulullah, yang notabene sumbernya dari Al-Qur’an.

Dari sisi para sahabat sendiri, baik di antara asabiqunal awallun alias orang-orang yang masuk Islam duluan, maupun kaum muslimin secara umum, juga merasakan perubahan dirnya. Perubahan diri, yang dimaksud di sini, tentu aja kebangkitan diri. Ada Bilal bin Rabbah, yang hanya seorang budak, tapi berani menentang tuannya, untuk tetap mempertahankan aqidah Islam. Ada Yasir dan istrinya yang harus syahid, juga demi mempertahankan keislamannya. Ada Mushab bin Umair, yang rela harus bersusah-susah dalam kehidupannya, padahal dirinya berasal dari keluarga kaya, tapi itu semua harus ditinggalkan, karena keluarganya tidak lagi mensubsidi, gegara Mushab mengikuti agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW, meninggalkan agama nenek moyang orang Mekah saat itu. Dan masih banyak lagi, fragmen-fragmen kebangkitan para sahabat, utamanya setelah memeluk Islam, dan meninggalkan agama atau sesembahan lamanya.

Demikian pula, apa yang terjadi pada masyarakat Madinah, wa bil khusus suku Aus dan Khazraj. Sebelum Rasul hijrah, Bani Aus dan Khazraj telah bertempur puluhan tahun, bahkan pada Perang Bu’ats (lima tahun sebelum hijrah) semua pemimpin kedua pihak tewas (riwayat Bukhari). Di saat kondisi kayak gitu, Rasul bertemu dengan enam orang Khazraj dan Aus. Kepada mereka Rasul mengajak beriman dan membela dakwah dengan kekuatan. Mereka langsung setuju karena ingin sekali ada perdamaian dan butuh pemersatu masyarakat. Apalagi, kaum Yahudi telah mengancam menyerang mereka. (riwayat Ibnu Hisyam).

Diabadikanlah kisah persatuan dua kabilah atau kaum tersebut dalam Al-Qur’an, untuk ngasih pesan kepada kita bahwa berkat Al-Qur’an, bangsa yang dulunya suka berperang bisa bangkit dan bersatu.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang  yang bersaudara.” (QS Ali Imran:103)

Oke, itu argumentasi dari sisi pertanyaan, apakah kita BISA bangkit dengan Al-Qur’an? Berikutnya, ngejawab persoalan MAU atau tidak kita bangkit dengan Al-Qur’an? Sepertinya sudah sedikit bisa ketebak, kayaknya ketika ditanya mau atau enggak, jawabannya masih mikir-mikir dulu. Apalagi kalo sampe ada jawaban, nggak mau, maka berarti ada yang salah dari sisi keimannya kepada Al-Qur’an. Di sisi yang lain, dia masih ragu akan kebenaran Al-Qur’an. Allah sudah menegaskan bahwa kita nggak boleh ragu terhadap Al-Qur’an

“Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa….” (QS. Al Baqarah: 2)

Kalimat yang menunjukkan tidak ada keraguan yaitu kalimah لَا رَيْبَ ۛ kata لَا  dalam ayat tersebut, adalah la nafi’ah yang mempunyai arti tidak. Kata لَا dalam bahasa arab ada 2, yaitu la nafi’ah dan la nahiyah, la nahiyah berarti jangan, la nafi’ah berarti tidak. Kalo sudah nggak ragu terhadap Al-Qur’an, maka tinggal persoalan hawa nafsu kita mau tunduk atau nggak dengan Al-Qur’an. Di banyak ayat maupun hadits, Allah dan Rasul-Nya sudah menyingung kita agar kita jangan ngikutin hawa nafsu, baik dalam perkara iman maupun syariat.

“Hai Ahli Kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Mâidah: 77)

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga keinginannya mengikuti apa yang aku bawa.” (Hadits hasan shahîh dalam kitab al-Hujjah, dengan sanad shahih)

Al-Qur’an nggak hanya bicara masalah ketaatan individu, tapi juga masyarakat bahkan urusan negara. Pertanyannya masih sama, MAU atau tidak kita bangkit dengan Al-Qur’an? Kalo masih ragu-ragu, atau jawabannya masih pilih-pilih ayat atau syariat yang mau kita terapkan aja, itu artinya kita memilih Islam dan Al-Qur’an kayak milih makanan di prasmanan. Pembahasan Islam prasmanan, udah kita bahas di edisi sebelum ini. Jadi, ketika ada pertanyaan mau atau enggak bangkit dengan Al-Qur’an, jawabannya kudu tegas, MAU!

Bukan Sekedar Dilombakan

Nah, tinggal satu persoalan nih, kalo kita emang mau bangkit dengan Al-Qur’an, lalu gimana jalan atau caranya? Yes, ibarat sebuah tata tertib atau peraturan, maka Al-Qur’an hanya akan jadi tulisan atau pajangan, kalo nggak diterapkan dalam kehidupan. Dan hakekatnya Islam juga adalah penerapan. Nggak cuman teori, nggak cuman ngaku beriman, tapi juga kudu bisa membuktikan dengan amal shalih. Ada sekitar 59 ayat Al-Qur’an yang menerangkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla tidak memasukkan kaum mukminin ke surga dengan pengakuan iman semata, tetapi dengan rahmat dan taufiq-Nya kepada mereka berupa iman dan amal shalih. Salah satunya berikut:

“Barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun.” (QS. Al-Nisa’: 124)

Sekali lagi, kalo mau bangkit dengan Al-Qur’an, ya kudu menerapkan isi kandungan Al-Qur’an dalam aktivitas kita sehari-hari, baik sebagai individu, masyarakat maupun dalam bentuk negara. Nggak boleh pilih-pilih ayat yang cuman kita senangi aja, nggak boleh begitu. Apalagi Al-Qur’an cuman sekedar dilombakan, dicari bacaan terbaik atau sekedar d-ientertaining-kan dijadikan bahan hiburan, nggak boleh cuman begitu. Kudu lebih dari itu, yakni diterapkan dalam kehidupan.

Jadi penyikapan terhadap Al-Qur an yang benar, agar bisa membangkitkan itu, pertama harus diimani dulu, kemudian dibaca, lalu dipelajari atau dimaknai ayat-ayatnya, sembari menerapkan ayat-ayat yang sudah kita pelajari dan kita hafalkan tersebut. Sehingga, jangan sampe puas hanya berhenti di membaca, atau menghafalkan saja, apalagi bangga sekedar dilombakan. Tapi yang jauh lebih penting adalah menerapkannya. Jangan sampe, kita seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW berikut

Rasulullah SAW bersabda, “Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Al-Qur’an, bacaan kamu dibandingkan bacaan mereka sungguh tidak ada apa-apanya, demikian shalat dan puasa kamu dibandingkan shalat dan puasa mereka tidak ada apa-apanya. Mereka membaca Al-Qur’an dan mengiranya sebagai pembela mereka, padahal ia adalah hujjah yang menghancurkan alasan mereka. Shalat mereka tidak sampai ke tenggorokan, mereka lepas dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari busurnya.” (HR. Abu Dawud, Bukhari, Muslim)

Naudzubiilh min dzalik. []

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *