Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on May 28, 2019 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 065. Kejar Lailatul Qadar

Buletin Teman Surga 065. Kejar Lailatul Qadar

buletin teman surga 065. kejar lailatul qadarBaru saja ramai terdengar dendang lagu Ramadhan tiba, Ramadhan tiba, marhaban Yaa Ramadhan. Tapi sekarang tak terasa kita sudah ada di fase ketiga di bulan Ramadhan yang mulia ini. Bagi yang menyambut Ramadhan dengan gembira tentu perasaan sedih akan menyelimuti hati saat tahu bahwa sang tamu istimewa akan segera pergi. Menahannya agar tidak pergi tentu tidaklah mungkin karna waktu terus berputar. Namun, kita masih bisa membersamai dan memanfaatkan keberadaanya dengan sebaik-baiknya di sepertiga akhir bulan Ramadhan ini.

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Ramadhan Berakhir? What next?

Pemandangan yang sepertinya masih serupa di setiap tahunnya dapat kita lihat. Semakin hari puasa berlalu ternyata membuat shaf shalat di mesjid semakin maju alias lebih sedikit jama’ahnya. Bukannya bertambah khusyuk beribadah malah lebih padat ngadain bubar atau buka bareng, lebih  sibuk pergi ke mall pilah-pilih apa yang akan dipakai saat lebaran dari kepala sampai kaki. Apalagi tawaran diskon menarik yang bisa bikin kalap belanja.

Sebenarnya boleh dan sah-sah saja kita mengekspresikan kesyukuran dan kebahagiaan pada saat Idul Fitri nanti dengan menggunakan pakaian yang serba baru. Karna sesungguhnya Allah SWT itu indah dan mencintai keindahan. Tapi, itu bukanlah satu keharusan yang mutlak karna jika tidak ada baju barunya masih ada baju lama yang masih layak dipakai dan menutup aurat.

Kemenangan hakiki bukanlah berada pada pakaian baru yang kita kenakan tapi bagaimana kita reborn menjadi manusia fitrah yang bertaqwa. Ya, fitrahnya manusia semestinya adalah tunduk dan taat (menghamba) kepada Allah SWT Sang Pencipta.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (TQS.  Ar Ruum : 30).

Dengan ketundukan inilah akan menjadikan seseorang bertaqwa yang senantiasa melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, karena mengharap pahala dari Allah Ta’ala dan rasa takut terhadap adzab Allah.

Bagi yang puasanya adalah puasa orang awam, tidak aneh rasanya jika dalam mengisi hari-hari di bulan puasa ini sama dengan yang kebanyakan orang lakukan. Pun ke mesjid untuk sholat tarawih hanya getol di awal-awal hari saja karna ikut euforia datangnya Ramadhan, selanjutnya sholat tarawih pun berganti dengan agenda buka bareng temen dari SD sampai SMA belum lagi buka bareng sama temen-temen komunitas. Qur’an dibaca secukupnya karna ngga punya target dan ngga bertekad untuk mengkhatam-kannya. Apalagi untuk mengejar lailatul qodar di sepuluh malam terakhir, ibarat kata baterai karna ngga rajin nge-charge walhasil jadi low-bat.

Akhirnya di akhir-akhir puasa biasanya sudah agak males, dari mulai sahur yang mau-mau ngga-ngga. Lebih banyak tidurnya dibanding ibadahnya. Ngisi waktu dengan main games, yang harusnya semakin rajin ke mesjid ditambah i-tikaf malah lebih semangat kalau sudah ngerancang acara buka bareng teman-teman padahal isinya makan doang, yang banyak ketawa-ketiwinya trus ditutup dengan foto selfi next upload. Saking heboh dan serunya bukber ngga jarang juga tuh bukber berubah menjadi makbar alias maksiat bareng. Misal, ninggalin sholat magrib karna keasyikannya jadi lupa waktu. Belum lagi ada interaksi yang ngga halal dengan teman lawan jenis. Haduhh.. jangan sampai ini terjadi ya guys. ”

Sungguh rugi luar biasa jika di Ramadhan yang mulia ini kita ngga mendapatkan “apa-apa”. Bahkan Rasulullah saw sudah mengingatkan

“Dan celakalah seseorang yang mendapatkan bulan Ramadhan, kemudian melewatinya sebelum dosa-dosanya diampuni”. (HR. At Tirmidzi).

Nah lho.. sampai Rasul bilang celaka, bagaimana tidak bulan mulia ini adalah saat di mana ampunan Allah turun bagi siapa saja yang bertaubat dan memohon ampun dari segala dosa-dosanya.

Dosa sebesar dan sebanyak apapun akan Allah ampuni sampai bersih seperti bayi yang baru lahir yang tidak membawa dosa satu pun.

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (TQS. Az Zumar : 53-54).

So, that’s why kita harus perbanyak istighfar dan memperbanyak amal sholih terlebih di penghujung bulan Ramadhan ini.

1 Malam 1000 Bulan

Inilah salah satu yang menjadi keistimewaan bulan Ramadhan, yaitu malam mulia (Lailatul Qadr). Dan Allah mengabadikan malam mulia ini dalam Qur’an Surat Al Qadr.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”.

Malam yang spesial ini dirahasiakan Allah kapan terjadinya, hanya bagi yang bersungguh-sungguhlah yang bisa mendapatkannya. Allah hanya memberi clue (petunjuk) bahwa malam itu ada di malam ganjil di 10 malam terakhir.

Rasulullah saw bersabda “Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan” (HR. Bukhari).

Oleh karnanya, di 10 malam terakhir ini disunnahkan untuk beri’tikaf di mesjid. Yaitu berdiam diri di mesjid dalam rangka mendapatkan ridha Allah SWT dengan bermuhasabah diri dan qiyamul lail dengan memperbanyak ibadah seperi membaca Al Qur’an atau sholat-sholat sunnah.

Betapa beruntungnya bagi yang mendapatkan lailatul qadr ini. Jika dapat hadiah atau THR dari om tante atau nenek dan kakek saja sudah bahagia apalagi mendapati malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Bayangin aja, pahala yang didapatkan saat kita melaksanakan amal sholih di malam itu  pahalanya lebih baik dari kita melaksanakan ibadah selama 1000 bulan penuh. Maa sya Allah. Secara kita ngga pernah tahu sampai kapan umur kita di dunia ini. Mendapatkan malam mulia ini tentu sangat-sangat berharga luar biasa. Allah Ta’ala melalui Rasulullah saw memberi tahu tanda kemunculan lailatul qadr ini.

Hadits Ubadah bin Ash Shamit radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Lailatul Qadr (terjadi) pada sepuluh malam terakhir, barangsiapa yang menghidupkan malam-malam itu karena berharap keutamaannya maka sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang, dan malam itu adalah pada malam ganjil, ke dua puluh sembilan, dua puluh tujuh, dua puluh lima, dua puluh tiga atau malam terakhir di bulan Ramadhan”,

dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda pula,

“Sesungguhnya tanda Lailatul Qadr adalah malam cerah, terang, seolah-olah ada bulan, malam yang tenang dan tentram, tidak dingin dan tidak pula panas, pada malam itu tidak dihalalkan dilemparnya bintang, sampai pagi harinya, dan sesungguhnya tanda Lailatul Qadr adalah matahari di pagi harinya terbit dengan indah, tidak bersinar kuat, seperti bulan purnama, dan tidak pula dihalalkan bagi setan untuk keluar bersama matahari pagi itu”.

Seperti halnya teman-teman memilih smartphone atau gadget pasti menginginkan yang memiliki kecanggihan atau kehebatan dibanding dengan gadget lainnya. Tentu juga pasti akan mengejar dan meraih malam yang 1000 kali lebih baik dari malam-malam lainnya.

Refleksi Lailatul Qadar

Ramadhan sudah di penghujung waktu. Bergiat ibadah di sisa hari yang hanya terhitung jari ini tentu harus kita utamakan. Jika kita refleksikan dari lailatul qadar ini banyak yang bisa kita ambil ibrah dan hikmahnya terutama bagi kaum milenials seperti kamu.

Pertama, bahwa pada saat lailatul qadar ini Allah SWT menurunkan Al Qur’an Karim secara sempurna. Inna anzalnaahu fii lailatil qadr, Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan”. (TQS. Al Qadr : 1).

Ibnu ‘Abbas dan selainnya mengatakan, “Allah menurunkan Al Qur’an secara utuh sekaligus dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah yang ada di langit dunia. Kemudian Allah menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah saw tersebut secara terpisah sesuai dengan kejadian-kejadian yang terjadi selama 23 tahun.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 403).

So, Al Qur’an sebagai pedoman hidup manusia sudah turun dengan sempurna. Remaja muslim milenial yang keren itu yang bangga hidup bersama Al Qur’an dari mulai membacanya, memahaminya hingga mengamalkan isi Al-Qur’an yang merupakan perintah Allah SWT. Biarlah ramadhan kali ini menjadi awal bagi kita untuk memperdalam apa saja yang terkandung di dalam Al Qur’aan yang mulia ini. Terlebih di akhir zaman sekarang ini, pemuda yang menggenggam dan memperjuangkan Al Qur’anlah yang menjadi harapan bagi bangkitnya Peradaban Mulia yaitu Peradaban Islam.

Kedua, saat malaikat-malaikat turun di malam mulia ini merefleksikan bahwa keberkahan akan didapatkan ketika kita menyempurnakan ketundukan kepada Allah SWT, hidup dengan aturanNya yang sempurna. Ramadhan adalah tempat untuk kita melatih diri menjadi pribadi yang senantiasa dekat dengan Allah SWT, tunduk dan terikat dengan aturan Allah misal bagi yang akhwat yang belum berhijab di Ramadhan kali ini berniat dan bertekad untuk istiqomah untuk menutup aurat. Semoga di akhir perjalanan Ramadhan ini kita bisa menjadi pemenang, menjadi insan bertaqwa. Aamiin.[]

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *