Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Jun 13, 2019 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 066. Siap Mudik ke Kampung Akhirat?

Buletin Teman Surga 066. Siap Mudik ke Kampung Akhirat?

buletin teman surga 066. siap mudik ke kampung akhiratDi negeri Ibu Pertiwi, lebaran identik dengan fenomena mudik alias pulang kampung. Udah jadi budaya yang berurat akar sampai tujuh turunan lho. Setiap menjelang hari raya, para pemudik alias mudikers berbondong-bondong memadati terminal angkutan umum, stasiun, dan mungkin ada juga yang ke Bandara. Lengkap dengan barang bawaannya dari tas besar, kardus oleh-oleh, nggak ketinggalan gadget, powerbank, dan kuota full. Biar mudiknya kekinian.

Selain pakai angkutan umum, mudikers juga terlihat memadati jalan aspal. Terutama yang pakai motor dengan modifikasi seadanya biar bisa ngangkut anak istri dan barang bawaannya yang bejibun. Kreatif tanpa batas. Jarak ratusan kilometer pun dijabanin. Yang penting bisa nyampe ke kampung halaman pas lebaran. Bertemu sanak keluarga dan melepas rindu pada orang tua tercinta.

Oiya melalui media ini, tim TemanSurga menyampaikan selamat ‘Idul Fitri ya, mohon maaf lahir dan batin. Semoga semua amal ibadah kita di bulan Ramadhan kemarin dicatat sebagai amal sholeh, dan menjadikan kita sebagai hambaNya yang bertaqwa, aamiin. 

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Ngapain Pulang Kampung?

Pasti udah pada tahu ya gimana rasanya selama perjalanan mudik ke kampung halaman. Atau mungkin juga termasuk yang sudah ngalamin serunya mudik menjelang lebaran. Sepanjang perjalanan darat kita bakal disuguhi oleh asap-asap knalpot menyesakkan pernafasan. Kemacetan bak ular yang lama terurai di jalan utama maupun jalan alternatif. Ke sana ke sini, mentok. Pasrah.

Jalan tol yang konon kabarnya bebas hambatan, ternyat saat mudik jadi mitos berkepanjangan. Kedisiplinan pengguna jalan menjadi barang langka. Agar tepat sampai tujuan, taat rambu urusan bekalangan. Ngingetin mudikers agar tertib lalu lintas ibarat ngajarin anak PAUD flash mob. Capek deh!

Kadang terpikir, pertanyaan serius untuk apa bela-belain mudik ke kampung halaman?

Padahal ketidaknyamanannya banyak dikeluhkan netizen yang membanjiri sosial media. Tapi ya gitu, justru jadi pengalaman unik dan terulang setiap tahunnya. Dan hasilnya, jawaban yang kita peroleh, biasanya nggak jauh dari tiga berikut.

Pertama, silaturahmi. Dalam Islam, silaturahmi terutama saat lebaran bukan sekedar bersalaman atau malah jadi ajang pamer kepunyaan. Tapi buah dari ketakwaan sesuai anjuran Rasulullah saw.

Siapa yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturrahmi niscaya umurnya akan diperpanjang dan hartanya akan diperbanyak serta keluarganya akan mencintainya.” (HR. Bukhari)

Dari Abu Ayyub Al Anshori, Rasulullah saw pernah ditanya tentang amalan yang dapat memasukkan ke dalam surga, lantas Rasul menjawab, “Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR. Bukhari)

Terlebih lagi, silaturahmi juga akan memperpanjang usia dan membuka pintu rezeki kita. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata “Siapa yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturrahmi niscaya umurnya akan diperpanjang dan hartanya akan diperbanyak serta keluarganya akan mencintainya.” (HR. Bukhari)

Kedua, ziarah. Agenda ziarah kubur santer dilakukan pasca lebaran. Apalagi saat pulang kampung. Ziarah ke makam kakek, nenek, sanak atau kerabat atau mungkin orang tua. Semata-mata ngikutin ajaran Rasulullah saw agar kita selalu ingat akan akhirat dan kematian sebagai sebuah kepastian.

Lakukanlah ziarah kubur karena hal itu lebih mengingatkan kalian pada akhirat (kematian).(HR. Muslim).

Ziarah kubur juga ngasih kebaikan bagi mayit seorang muslim/muslimah yang diziarahi. Lantaran kita yang berziarah diperintahkan untuk mengucapkan salam kepada mayit, mendo’akannya, dan memohonkan ampun untuknya. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Nabi pernah keluar ke Baqi’, lalu beliau mendo’akan mereka. Maka ‘Aisyah menanyakan hal tersebut kepada beliau. Lalu beliau menjawab: “Sesungguhnya aku diperintahkan untuk mendo’akan mereka”[HR. Ahmad]

Ketiga, berbagi rezeki. Saat mudik, biasanya mudikers nggak cuman bawa badan doang. Kebanyakan bawa buah tangan untuk keluarga dan kerabat di kampung halaman. Tak sedikit yang udah nyiapin dana lebih lantaran dapat THR untuk berbagi rezeki. Meski tak banyak, yang penting bisa berbagi kebahagiaan dan kebanjiran doa dari sanak saudara. Berkah hartanya.

Temans, apapun tujuan kita pulang kampung, semoga tetap penuh keberkahan ya. Jauh-jauh dari sifat riya atau ujub bin takabur. Kebahagiaan bertemu sanak keluarga, semoga menjadi amal sholeh yang membuka pintu rezeki dan kebaikan sebanyak mungkin. 

Pulang Kampung Sebenarnya

Kalo ngeliat orang-orang pada mudik, jadi inget ama diri sendiri. Sebagai hamba Allah, kita semua pasti bakal pulang kampung ke tempat yang abadi. Bukan ke desa atau udik, tapi ke kampung akhirat. Karena kehidupan dunia hanya sementara.

Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini adalah kesenangan sementara. Dan sesungguhya akhirat itu adalah negeri tempat kembali(QS. AL-Mu’min [40]: 39).

Banyak dari kita yang lupa atau nggak peduli dengan tempat kembalinya kelak. Pulang ke kampung akhirat tak sedikitpun tersirat dalam benak. Sehingga ngotot mengejar kesenangan dunia dengan menghalakan segala cara. Nggak peduli halal haram, yang penting bisa nikmati hidup dan berfoya-foya.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. al-Hadid [57]: 20)

Orang yang tergila dengan dunia, lupa akan akhirat, gambarannya seperti yang disampaikan oleh Yahya bin Mu’adz Ar-Razi, “Dunia adalah khamarnya setan. Siapa yang mabuk, barulah tersadarkan diri ketika kematian (yang gelap) itu datang. Nantinya ia akan menyesal bersama dengan orang-orang yang merugi.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 381)

Padahal Rasulullah saw mengingatkan kita  ketika ditanya tentang kehidupan dunia. “Apa peduliku dengan dunia? Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan seperti musafir yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu musafir tersebut meninggalkannya.” [HR. Tirmidzi]

Makanya, jangan sampai kita lupa dengan kampung akhirat. Tempat kembali yang abadi. Apalagi mudik ke kampung akhirat gak kenal waktu, usia, atau status sosial. Bisa kapan aja nggak mesti tunggu lebaran tiba. Bisa siapa saja nggak harus yang berlimpah harta atau tua renta. Tak ada notifikasi, meski gadget kita paling canggih sedunia. Saat ajal menjemput, perjalanan menuju kampung akhirat dimulai. Bersiaplah!

 

Bekal Apa Yang Sudah Kita Siapkan?

Sebelum pulang ke kampung halaman, mudikers jauh-jauh hari sudah mempersiapkan bekalnya. Tahu sendiri, biaya perjalanan pastinya ada kenaikan. Belum lagi oleh-oleh dan berbagi rezeki dengan sanak kerabat. Makanya nggak heran kalo mudikers kerja keras banting tulang demi momen mudik tahunan.

Nah, yang mudik ke kampung halaman aja nyiapin bekalnya bejibun, padahal cuman beberapa hari sebelum balik lagi ke kota. Bagaimana dengan bekal kita untuk pulang ke kampung akhirat? Seberapa banyak bekal yang kita siapkan? Bekal apa saja yang harus kita siapkan?

Rasulullah saw  mengingatkan, “Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya di kubur. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta, dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan yang tetap bersamanya di kubur adalah amalnya.”[HR. Bukhari Muslim]

Sebagaimana Luqmanul Hakim pernah memberikan wejangan kepada anaknya tentang perumpamaan dunia ini, ia berkata pada anaknya: “Wahai anakku! Ketahuilah bahwa sesungguhnya dunia ini merupakan lautan yang dalam dan luas, maka hendaklah engkau isi perahumu dengan ketakwaan kepada Allah Swt., dan di dalamnya diisi dengan keimanan kepada Allah Swt., sedangkan layarnya diisi dengan tawakkal kepada Allah Swt. Mudah-mudahan kamu selamat, namun saya tidak melihat kamu selamat.”

Allah swt juga menegaskan dalam firman-Nya. “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 197)

Udah jelas ya, bekal yang kita bawa mudik ke kampung akhirat bukan harta kekayaan, sanak kerabat, jumlah follower, subscriber, atau status sosial. Tapi amal sholeh yang lahir dari ketakwaan. Untuk itu, kita mesti jadi remaja cerdas.

Ibnu Umar meriwayatkan: “Kami bersepuluh datang kepada Nabi saw, ketika seorang Anshar berdiri dan bertanya ‘Wahai Nabi Allah swt, siapakah manusia yang paling cerdas dan paling mulia?’ Maka Rasulullah saw menjawab ‘Mereka yang paling banyak mengingat mati dan paling banyak mempersiapkan kematian. Merekalah orang yang paling cerdas. Mereka akan pergi dengan membawa kehormatan dunia dan kemuliaan akhirat” (HR. Ibnu Majah)

Remaja cerdas akan terbiasa untuk berpikir baik-buruknya dalam kacamata Islam sebelum berbuat. Nggak asal ngikut. Dia belajar untuk menjadikan dunia sebagai ladang pahala. Bukan ladang cari kesenangan yang melenakan. Dia berlatih untuk menundukkan hawa nafsu di bawah kendali aturan hidup Islam. Dia bukan remaja bermental bedug yang baru bersuara setelah dipukul. Tapi akan berusaha untuk ngasih nilai lebih dalam hidup dengan berdakwah dan menyampaikan kebenaran Islam untuk kebaikan dirinya dan umat. Remaja cerdas bukan turunan Fir’aun yang bertaubat ketika ajal telah mendekat. Karena dia tahu, hidupnya bisa berakhir kapan aja.

Rasul saw bersabda: “Jika kalian bangun di pagi hari, janganlah mengharap akan (hidup) sampai sore; dan jika berada di waktu sore jangan berharap akan (hidup) sampai besok pagi. Pergunakan masa sehatmu untuk (mempersiapkan) masa sakit, dan masa hidup untuk (menyiapkan bekal) kematian, seakan-akan kalian tidak tahu nama kalian besok pagi.”(HR.Bukhari)

Temans, kita pasti bisa jadi remaja cerdas. Asalkan mau mengenal Islam lebih dalam yang bisa bikin kita jadi lebih pede untuk jalanin hidup di dunia juga kehidupan kedua di akhirat. Siap mudik ke kampung akhirat? Siapa takut![]

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *