Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Jun 20, 2019 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 067. Holiday Challenge

Buletin Teman Surga 067. Holiday Challenge

buletin teman surga 067. holiday challengeLibur Idul Fitri yang beriringan dengan momen kenaikan kelas atau kelulusan membuat para pelajar mendapatkan waktu libur yang lebih banyak. Saat libur lebaran bagi Teman’s Surga yang mudik ke kampung halaman orang tua tentu menjadi hal yang dinanti karena kerinduan akan kehangatan dan keseruan berkumpul dengan sanak saudara sudah begitu menggebu, meski tak bisa dipungkiri untuk tahun ini biaya transportasi baik darat, laut dan udara semakin melangit.

Namun hal itu tidak menjadi halangan karena Allah SWT memerintahkan kita untuk menjalin dan menyambung tali silahturahmi dengan keluarga. “… Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (TQS. An Nisa: 1).

Rasulullaah SAW pun bersabda dalam banyak haditsnya tentang keutamaan silahturahmi. Dari Abu Ayyub Al Anshori, Rasul SAW pernah ditanya tentang amalan yang dapat memasukkan ke dalam surga, lantas Rasul menjawab, “Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR. Bukhari).

Luar biasa ya TemanS keutamaan bersilahturahmi ini hingga menjadikan amalan ini salah satu yang bisa membawa kita ke SurgaNya. Bersyukurlah jika kita masih memiliki dan dikelilingi sanak saudara maka jalinlah selalu tanpa harus menunggu momen Idul Fitri. Jangan sampai remaja-remaja kece seperti kamu cuek dan ngga kenal dengan saudara sendiri.

Ok back to holiday, karna momen liburan ini sepertinya masih berlanjut untuk beberapa waktu, kira-kira akan diisi apa lagi yaa liburan Teman’s Surga kali ini?

 

Berakit-rakit Dahulu Berenang-renang ke Tepian?

Setelah melewati proses belajar sepanjang satu semester dan menghadapi ujian biasanya para pelajar diberikan waktu libur (tidak adanya proses belajar di sekolah). Mungkin sebagian besar pelajar kita merasa libur adalah saatnya bebas dari segala beban belajar yang dirasa berat. I’m feel free!! Pikirnya. Yes, bebas dari segala tugas. Saatnya melakukan semua hal yang ngga bisa dilakukan saat sekolah. Misalnya, tidur sampai puas, bangun siang, maenin hape, kalaupun keluar rumah kongkow sama temen dari mulai nonton bioskop atau kulineran ke tempat makan kekinian yang instagramable. Hhmm.. seharusnya ngga segininya juga sih guys.

Pertama, meski belajar itu sangat bisa jadi melelahkan dan membutuhkan pengorbanan namun jika semua ditujukan hanya karena Allah maka Allah akan membalas peluhnya para penuntut ilmu dengan banyak kebaikan baik di dunia maupun kelak di akhirat.

Kedua, betul bahwa manusia secara fitrah membutuhkan waktu untuk rehat atau beristirahat karna manusia bukanlah robot. Bahkan Allah ciptakan malam dan siang adalah untuk keseimbangan agar kita ngga seharian penuh belajar terus-terusan atau ibadah terus-terusan tapi Allah berikan waktu bagi manusia untuk rehat (beristirahat).

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?” Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya”. (TQS. Al Qashash : 71-73).

Nah, waktu libur sekolah yang diberikan sejatinya jangan sampai membuat kita justru jadi lalai beribadah atau lebih banyak melakukan hal-hal mubah yang melenakan. Seperti yang disebutkan sebelumnya. Mubah adalah syariat terhadap suatu perbuatan yang dimana jika kita melakukannya tidak berdosa namun tak mendapat pahala juga.

Oleh karenanya, untuk perbuatan-perbuatan mubah kita harus lebih mempertimbangkan apakah yang kita lakukan lebih banyak manfaat atau mudharatnya. Atau malah jangan sampai yang tadinya perbuatan mubah ternyata membawa kepada keharaman misalnya yang awalnya tidur itu hukumnya mubah, karna saking malasnya untuk bangun sampai melalaikan sholat yang wajib. Contoh lainnya, menonton yang hukumnya mubah atau boleh-boleh saja namun perlu diperhatikan ya guys film apa yang ditonton apalagi kalau nontonnya di bioskop bisa terjadi ihtilath atau campur baur antara laki-laki dan perempuan dan ini hukumnya haram lho yaa friends.

Namun, bisa juga lho.. aktifitas mubah yang akhirnya bisa mendatangkan nilai kebaikan dan pahala. Misal nih, saat kita liburan ke suatu tempat bukan saja sekedar melepas penat namun kita bisa memperhatikan alam ciptaan Allah yang begitu indah sehingga darinya keimanan kepada Allah semakin terpatri kuat. “Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa”. (TQS. Yunus: 6). Dan dari hasil tafakur alam ini, akan menjadikan kita sebagai hamba yang semakin taqwa, karna di antara ciptaanNya kita hanyalah bagian terkecil yang lemah, serba kurang dan bergantung kepada Allah. Jadi, liburan ngga sekedar seru-seruan aja, seneng-seneng doang.

Jangan sampai kita terjebak dalam konsep barat yang memaknai happy itu sekedar kepuasan material dan jasadiyah saja. Jadi wajar aja meski sudah mengeluarkan materi yang banyak tapi ngga worth it, masih aja ngerasa ngga puas atau ngerasa masih belum dapetin happy yang seutuhnya, happy yang hanya berdimensi duniawi. Banyak dalil yang menyebutkan betapa kesenangan dunia adalah sesuatu yang menipu. Allah Ta’ala berfirman

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (TQS. Al Hadid : 20)

See, kesenangannya saja menipu bahkan dunianya saja diibaratkan bagaikan bangkai. Sahabat yang mulia, Jabir bin Abdullah, mengabarkan bahwa Rasulullah pernah melewati sebuah pasar hingga kemudian banyak orang yang mengelilinginya. Sesaat kemudian beliau melihat bangkai anak kambing yang cacat telinganya. Rasulullah mengambil dan memegang telinga kambing itu seraya bersabda, ”Siapa di antara kalian yang mau memiliki anak kambing ini dengan harga satu dirham.” Para sahabat menjawab, ”Kami tidak mau anak kambing itu menjadi milik kami walau dengan harga murah, lagi pula apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini?” Kemudian Rasulullah berkata lagi, ”Apakah kalian suka anak kambing ini menjadi milik kalian?” Mereka menjawab, ”Demi Allah, seandainya anak kambing ini hidup, maka ia cacat telinganya. Apalagi dalam keadaan mati.” Mendengar pernyataan mereka, Nabi bersabda, ”Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada bangkai anak kambing ini untuk kalian.” (HR. Muslim).

Jadi, meskipun liburan keliling dunia sekali pun pasti tetap saja ada yang kurang dan kosong selama konsep kebahagiaannya menggunakan rumus sekuler yang hanya mampu memberikan kebahagiaan jasadi duniawi.

Liburan ala Teman Surga

Cuma Islam yang punya formula canggih yang bisa ngatur liburan yang more beautiful more meaningful. BerIslam ngga melulu soal ibadah tapi dalam Islam semua hal bisa bernilai ibadah selama diniatkan karna Allah dan caranya sesuai tuntunan syariat Islam. Cakeep. Bahkan termasuk liburan yang bisa bernilai ibadah selain bisa me-refresh jiwa dan hati kita kalau sudah begini bahagia haqiqi bisa dengan mudah kita dapatkan. Bahagia yang bukan hanya jasadi duniawi tapi bahagia yang bisa mengisi “ruang kosong” meski ngga harus bayar mahal dengan berkeliling dunia.

Imam An Nawawi mengatakan: “Rehatkan jiwa kalian dari rutinitas dengan melakukan yang dibolehkan”. Sedangkan Ali ra berkata: “Rehatkan hati kalian, karena hati juga merasa bosan sebagaimana jiwa kalian merasa capek dan bosan”.

So, Islam adalah agama yang seimbang dan tidak memberatkan diri. Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya agama ini mudah. Tiada orang yang memberatkan diri dalam urusan agama, kecuali ia akan dikalahkan. Maka mudahkanlah, mendekatlah, bergembiralah dan gunakan sebaik mungkin waktu pagi, waktu sore, dan sebagian waktu malam kalian untuk memperbanyak kebaikan”. (HR. Bukhari)

Liburan adalah saatnya di mana seseorang rehat sejenak dari berbagai rutinitas keseharian, namun tetap berfadah dan bernilai ibadah. Misal nih, di liburan kali ini kamu mau belajar berkuda dan memanah. Seru kan tuh, kalau remaja lain mager sama aktifitas fisik macam ini kamu justru tertantang buat bisa naklukin kuda dan panah yang ngga semua remaja bisa. Serunya dapet, challenge-nya dapet, pahala sunnahnya dapet jugaa. Dalam salah satu hadits shahih yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, Nabi pernah bersabda: “ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah”.

Intinya ada saatnya kita ibadah shalat, puasa dan lain-lain, ada saatnya kita belajar, ada saatnya kita pun untuk berlibur atau rihlah. Dengan catatan semua itu dilakukan dalam koridor syariat Islam dan Allah ridho. So, siap menerima tantangan mengisi liburan yang menyenangkan sekaligus berfaedah?[]

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *