Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Jun 26, 2019 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 068. Frustasi, Owh No…!

Buletin Teman Surga 068. Frustasi, Owh No…!

buletin teman surga 068. Frustasi Oh NoLagi Viral, seenggaknya ketika tulisan ini dibuat, ada kasus percobaan bunuh diri yang mau dilakuin sama seorang cowok yang coba terjun dari jembatan tol Lempuyangan, Yogjakarta. Berita dan videonya viral, di sosial media. Selidik punya selidik, alasan dia mau bunuh diri, karena frustasi, depresi diputusin pacarnya. Duh, duh…. Sepele banget hidup loe!

Gaes, tanpa bermaksud meremehkan masalah mereka yang sedang frustasi hingga hendak atau sudah bunuh diri, di sini di buletin ini kayaknya memang perlu dibahas kasus bunuh diri ini. Sebab, nggak sedikit kasus bunuh diri ini dilakukan oleh para remaja atau pelajar yang frustasi. Bahkan satu bulan yang lalu, di situs liputan6.com diberitakan ada seorang remaja di Malaysia bunuh diri, gegara dia bikin polling di Instagram. Anehnya polling yang dia bikin, minta pendapat atau choice ke netizen, apakah dia masih perlu  hidup (Life) atau mati (Dead). Parahnya, mungkin karena netizen atau followernya kebanyakan orang alay dan suka galau, akhirnya hasil pollingnya malah ngasih saran dia untuk Dead. Walah, ckckck… edan tenan iki!

Nah, karena kita empati dan peduli pada nasib remaja, maka masalah ini perlu kita bahas, agar teman-teman remaja pada ngeh nih, kira-kira apa saja sih penyebab yang bisa atau gampang bikin stress, kenapa orang bisa stess lalu bunuh diri, dan yang lebih penting adalah gimana caranya biar kita terhindar dari upaya atau perilaku yang bisa mengarah ke bunuh diri. Yowis, gak usah lama-lama, cekidot aja dah buletin kesayanganmu ini.

Menelusuri Akar Masalah

Kalo kita baca berita-berita tentang kasus bunuh diri, penyebabnya bisa beragam. Ada yang karena putus cinta, ditingal nikah sama mantan. Ada yang bunuh diri karena stress sudah kuliah jauh-jauh ke luar negeri, begitu pulang ke Indo, nggak dapat pekerjaan. Tapi ada juga yang coba bunuh diri, karena masalah sepele dua pele, karena nggak punya gadget yang bagus kayak teman-temannya. Ada juga yang bunuh diri sekeluarga, gegara nggak sanggup ngelanjutin hidup. Dan penyebab-penyebab yang lain.

Dari sekian kasus tersebut, kira-kira kita bisa mengasumsikan, apa penyebab utama alias akar masalahnya koq bisa sampe mereka bunuh diri? Sebelum ngejawab, pertanyaan itu, ada baiknya coba kita uraikan dulu, unsur-unsur dari kasus bunuh diri. Jadi, secara global, kalo boleh disusun, unsur-unsur dari kasus ini, adalah yang (1) Manusia (individu) itu sendiri beserta segala potensi pemikirannya; (2) Masalah atau problem hidup manusia; dan (3) Interaksi sosial manusia dengan lingkungan sekitarnya, termasuk peraturan atau hukum yang berlaku di masyarakat. Coba, kita urai satu per satu, lalu nanti kita kaitkan antar ketiganya.

Pertama, manusia diciptakan oleh Allah sebagai mahluk ciptaan terbaik, tertuang dalam Al- Qur’an di Surah At-Tin ayat 4 “ Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Di ayat lain, lebih gamblang lagi

“Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan”. (Q.S Al Isra’: 70)

Dari penciptaan yang sempurna tersebut beserta segala potensi hidupnya, maka kesempurnaan manusia sebagai makhluk Allah SWT tidak dilihat dari segi fisik (kecantikan ataupun ketampanan seseorang), tapi sempurna di mata Allah SWT adalah siapa yang paling bertaqwa di antara mereka semua. Allah berfirman dalam (Q.S Al-Hujurat : 13)

Jadi, dari unsur yang pertama (manusia), kata kunci yang bisa kita catat adalah keyword “takwa”. Mau seganteng atau sejelek apapun, mau sekaya atau semiskin apapun, mau setinggi atau serendah apapun pendidikannya, tetap standar bakunya untuk mengukur baik-buruknya seseorang adalah ketakwaannya kepada Allah.

Kedua, unsur berupa masalah atau problem hidup manusia. Ini jelas unsur yang penting dan pasti ada, pada kasus bunuh diri. Setiap orang yang hendak atau udah bunuh diri, pasti karena memiliki masalah, yang tadi sudah disebutkan macam-macam sebab masalahnya. Tapi yang kudu kita pahami bareng-bareng bahwa, bukan ada atau enggak adanya masalah di kehidupan yang manusia yang jadi pangkal persoalan. Sebab, manusia dan masalah itu kayak dua sisi keping mata uang, di manapun manusia hidup, selama dia masih hidup, pasti akan ketemu dengan yang namanya masalah.

Kalo bukan di situ pangkal persoalannya, lalu di mana pangkal persoalan dari masalah hidup manusia? Sekali lagi, yang jadi persoalan bukan ada atau tidaknya masalah, melainkan cara pandang seseorang itu terhadap masalah yang dia hadapi. Bisa jadi masalahnya sama, tapi karena berbeda cara memandang masalah, maka akhirnya berbeda cara menyikapi masalah tersebut. Masalahnya yang dihadapi misalnya, masalah sepele nggak punya gadget yang bagus dan terbaru, lalu gengsi dan minder dengan teman-teman gaulnya. Tapi dengan cara pandang yang benar dan berbeda, ada orang yang biasa-biasa aja, meskipun gadgetnya nggak sebagus punya temannya, atau bukan gadget yang terbaru. Pun dengan contoh masalah-masalah yang lain.Nah, pertanyaan penting berikutnya, lalu apa unsur yang bisa menyusun cara pandang seseorang terhadap persoalan hidup? Melalu kajian yang mendalam Syekh Taqyiuddin An-Nabhani menjelaskan bahwa unsur yang mempengaruhi cara pandang seseorang (view of life) adalah pemahaman seseorang tersebut. Sementara yang bisa menyusun pemahaman seseorang tergantung pada asupan informasi (maklumat) dan tsaqofah Islam yang masuk ke dalam benaknya yang diproses melalui proses berfikir.

Jadi, kalo selama ini seseorang asupan informasi dan tsaqofahnya bukan dari pemikiran-pemikiran islami, pantas saja jika cara pandang dia terhadap hidup (view of life) menjadi salah. Kalo cara pandangnya sudah salah, akibat berikutnya berupa aktivitas atau tindakan yang diambil pun jadi salah. Sehingga dari unsur yang kedua (masalah) ini, kita bisa tarik kata kuncinya berupa “pemahaman”. Pemahamanlah yang membuat seseorang berbeda ketika menyikapi problematika kehidupan. Kalo cara pandangnya terhadap persoalan salah alias nggak islami, maka bunuh diri biasanya menjadi salah satu jalan bagi mereka untuk mengakhiri masalah.

Ketiga, interaksi sosial manusia dengan lingkungannya. Ini unsur yang juga nggak bisa dilepaskaitkan dengan problematika manusia. Sebab manusia hidup nggak bisa sendiri, karena karakter manusia yang serba lemah, serba kurang, maka manusia membutuhkan yang lain. Untuk itulah, kemudian manusia berinteraksi dengan manusia lain. Dari interaksi yang kontinyu, maka di masyarakat kita akan mengenal aturan, hukum, pranata sosial.

Nah, kalo selama interaksi yang mengatur antar manusia menggunakan aturan yang tidak islami, pantas aja kalo interaksinya nggak syar’i. Salah satu penyebab seseorang depresi, stress, atau merasa minder, kayak dicontohkan karena nggak punya gadget tadi, adalah berupa interaksi, atau pergaulan. Kalo cara atau aturan gaul, dan teman-teman gaulnya nggak mendukung seorang remaja bertakwa, nggak menukung seorang remaja untuk memiliki pemahaman yang islami, maka masalah bunuh dari masih bisa jadi ancaman bagi remaja.

Lebih lengkapnya, kalo ketiga unsur itu digabungkan, penjelasannya gini. Jadi, kalo seseorang individu manusia tidak menyadari potensi dirinya diciptakan sebagai mahluk terbaik, lalu dia salah dalam menghadapi problematika kehidupan, ditambah lagi lingkungan sekitarnya mendukung untuk tetap berada di jalan yang salah, maka dia akan mudah sekali stress, yang salah satu ujugnya bisa berupa bunuh diri.

Cara Elegan Ngadepin Ujian

Seperti sudah diungkap di atas, bahwa manusia nggak bisa lepas dari yang namanya masalah. Nah, adakalanya masalah itu jadi ujian bagi manusia. Kaidah atau rumusnya masih sama, yakni “kalo salah dalam memandang masalah (ujian), maka salah mengambil sikap”. Yes, karena itulah kita kudu tahu gimana cara ngadepin masalah/ujian dalam hidup kita.

Bisa dikatakan, ujian yang dihadapi manusia yang dikasih oleh Allah, bisa berlevel tingkatannya. Ada yang diuji dengan masalah yang ringan, ada yang diujian dengan ujian yang sangat berat, seperti yang dialami oleh para Nabi terdahulu. Dari beragam dan berlevelnya ujian manusia, maka beginilah cara pandang yang benar terhadap masalah:

Pertama, memandang masalah merupakan bentuk kasih sayang Allah swt yang berupa ujian dan peringatan. Al-Quran menegaskan hal ini dalam surat al-Anbiya ayat 35:

“Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”

Kedua, menganggap masalah merupakan cara Allah swt untuk meningkatkan derajat dan status kita sebagai hamba. Al-Quran surat al-Insyiqaq ayat 6 menegaskan:

“Hai manusia, sesungguhnya kamu sudah bekerja untuk Tuhanmu dengan sungguh-sungguh, maka kamu (kelak) akan menemuinya.”

Ketiga, mempercayai bahwa Allah swt memberian masalah sesuai dengan kadar kemampuan kita. Allah swt Maha Adil yang tidak akan membebani hambaNya di luar batasnya. Cara pandang seperti ini akan membuat kita selalu optimis dalam menjalani hidup dan menghadapi masalah. Ketika kita telah yakin, maka kita tinggal mencari jalan keluarnya. Al-Quran mengingatkan dalam surat al-Baqarah ayat 45:

“Dan mohonlah pertolongan Allah dengan sabar dan salat, dan sesungguhnya hal itu sangat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.”

Keempat, meyakini bahwa di mana ada kesulitan di situ pasti ada kemudahan, sebagaimana firman Allah swt dalam Q.S al-Insyirah: 6,

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada emudahan.”

Yuk Kita Renungkan!

Sahabat Ibnu Mas’ud pernah menceritakan penjelasan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang karakter manusia

 

Nabi Muhammad saw pernah membuat bangun segi empat, lalu beliau membuat garis lurus di tengahnya yang menembus bangun segi empat itu. Kemudian beliau membuat garis kecil-kecil menyamping di antara garis tengah itu. Lalu beliau bersabda,

“Ini manusia. Dan ini ajalnya, mengelilinginya. Dan garis yang menembus bangun ini adalah obsesinya. Sementara garis kecil-kecil ini adalah rintangan hidup. Jika dia berhasil mengatasi rintangan pertama, dia akan tersangkut rintangan kedua. Jika dia berhasil lolos rintangan kedua, dia tersangkut rintangan berikutnya.” (HR. Bukhari).

Dari hadits dan gambar di atas, kita bisa pahami bahwa problematika manusia akan selalu ada, ketika selesai satu problem, akan menghadang di depannya problem yang lain. Maka nggak perlu dan nggak usah stress. Justru yang kita perlukan sekarang, jika kita sudah tahu dan paham bahwa masalah akan datang pada setiap kesempatan, di situlah kita butuh bekal menghadapi masalah tadi. Dan di atas tadi sudah diuraikan panjang bin lebar, kalo kita musti memperbanyak asupan pemahaman berupa informasi dan tsaqofah Islam yang benar, biar kita nggak mudah stress dalam menghadapi masalah.

Al akhir, sebagai bahan renungan coba perhatikan hadits Rasulullah saw berikut ini:

“Perhatikanlah orang yang lebih rendah keadaannya dari pada kalian, dan jangan perhatikan orang yang lebih sukses dibandingkan kalian. Karena ini cara paling efektif, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah bagi kalian.” (HR. Ahmad, Turmudzi, dan Ibn Majah)

Jadi, dari hadits tersebut kesimpulan kita masih sama, bahwa bukan banyak atau beratnya masalah yang kita hadapi yang bikin kita galau bin stress, tapi cara menghadapi masalah dengan bekal tsaqofah Islam yang benar, yang membuat kita tetap enjoy ketika diuji dengan masalah, makanya #yukngaji biar nggak mudah stress, dan nggak gampang bunuh diri. []

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *