Pages Menu
Categories Menu

Posted on Jul 3, 2019 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 069. Cara Belajar Generasi Digital

Buletin Teman Surga 069. Cara Belajar Generasi Digital

buletin teman surga 069. cara belajar generasi digitalLibur telah tiba, libur telah tiba, hore!

Hehe, bagi anak-anak generasi tahun 90-an pasti tahu banget lagu di atas? Lagu itu dipopulerkan oleh penyanyi cilik perempuan. Memang, masa-masa libur sekolah itu biasanya paling ditunggu-tunggu oleh para siswa. Ibaratnya lepas semua beban yang ada di pundak setelah belajar, menghadapi ujian praktek, ulangan harian, dan ujian akhir sekolah. Bahkan, mungkin sudah ada yang punya rencana liburan mau dipakai ngapain aja. Kalau #TemanSurga sudah punya rencana belum?

Yang hobi naik gunung, mungkin sudah kepikiran mau gunung apa saja yang didaki. Yang hobi travelling, udah punya plan kota mana yang mau dikunjungi. Yang cuma kepengen tapi ngga punya duit alias sobat missqueen, paling ngga jauh-jauh rebahan aja di rumah wkwk. Tapi ke manapun dan di manapun kamu berada, generasi zaman now ngga akan pernah jauh dari yang namanya gadget. Betul ngga Bro?

Era informasi dan komunikasi sangat memudahkan kita dari semua hal. Kita bisa tahu apa yang terjadi di Amerika Serikat yang literally di bawah kaki kita sambil rebahan di kasur. Kita bisa ngobrol cas cis cus dengan orang Swedia keturunan Viking dibantu google translate dan aplikasi Whats App. Kita pun bisa mempelajari apapun dengan gadget seukuran 6 inchi yang tidak jarang sampai ke kamar mandi pun kita bawa. Welcome to digital age.

Perkembangan Teknologi Digital

Orang tua kita sering bercerita,

Dulu, mama belajar jalan kaki ke sekolah 5 kilometer. Belum ada buku tulis, adanya papan yang kita gunakan untuk belajar dan setelah ganti pelajaran langsung dihapus lagi. Ngga ada internet, kalau mau ke perpustakaan jalan kaki jauh itu pun bergantian baca bukunya,” ujarnya dengan tatapan memandang awan membayangkan masa lalu.

Memang, faktanya semisal itu pada zaman dulu. Jangankan internet, TV tabung hitam putih saja hanya dimiliki orang kaya atau balai desa sehingga kalau mau mendapatkan informasi kumpul semua ramai-ramai kayak nonton layar tancap.

Fast forward 30 years later, perkembangan teknologi begitu pesat. Ingat, perkembangan teknologi tidak mengikuti garis linear melainkan eksponensial. Dalam waktu singkat, kita memiliki handphone segede batu bata yang bisa buat mengganjal pintu. Muncul lagi flip phone yang hits banget dan hampir pasti ada di setiap sitcom Barat. Lalu muncul smartphone generasi awal yang mungil dan membuat kita terkejut terheran-heran kok bisa layar disentuh kayak warteg. Dan sampailah kita pada masa kini, di mana anak SD pakai kaos supreme dengan iPhone di tangan bukan lagi pemandangan langka.

Logikanya, perkembangan teknologi digital ini membuat pembelajaran dan pencerdasan masyarakat semakin meningkat, bukan? And that’s where you wrong, buddy. Generasi smartphone saat ini phone nya doang yang smart, sementara penggunanya belum tentu.

McKinley Shindel dalam tulisannya Misuse of Modern Technology memaparkan secara singkat bagaimana perkembangan teknologi, lebih spesifik penggunaan smartphone oleh anak muda, membuat sangat ketergantungan tanpa ada arahan yang jelas. Smartphone menggantikan hampir semua hal; jam, radio, kalkulator, TV, termasuk permainan. Lebih dari itu, semua informasi termasuk informasi negatif berpotensi mempengaruhi mereka melalui gadget tersebut.

Maka hari ini, banyak remaja-remaja dan pemuda yang mengekspresikan diri mereka lewat dunia digital dengan cara yang negatif bahkan cenderung maksiat. Viral challenge-challenge yang tidak bermanfaat seperti Kiki Challenge yang bahkan mencelakakan adalah satu dari sekian banyak penyalahgunaan teknologi.

Padahal, dengan perkembangan teknologi yang setiap hari semakin cepat seharusnya bisa dengan dimanfaatkan dengan baik termasuk perkembangan metodologi cara belajar. Dan ini berkaitan erat dengan mindset dan karakteristik remaja dan siswa kita saat ini.

Kisah Para Pendekar Ilmu

Mari kita flashback lebih jauh 12 abad yang lalu, di mana hidup seorang pemuda dengan berkah yang melimpah dari Allah, otak yang begitu cerdas dan mampu menghapal hadis begitu banyak, serta pemahaman agama yang membuatnya menuliskan jejak-jejak shahih Rasulullah dan para sahabat sehingga kita generasi akhir zaman ini bisa mengikuti suri tauladan yang dikasihi Allah tersebut. Pemuda itu bernama Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju’fiy Al Bukhari atau biasa disebut Imam Bukhari.

Hanya keridhoan Allah lah yang mendorong ia berjalan selama 16 tahun dari Bukhara menuju Bashrah, Mesir, Hijaz, Kufah, Baghdad, hingga sebagian Asia Barat, menempuh ribuan kilometer, bertemu 80.000 perawi, dan mengumpulkan satu juta hadis yang kemudian ia seleksi sebanyak 9.082 hadis yang kini kita kenal dengan nama Shahih Bukhari.

Tidak hanya Imam Bukhari, ada juga pemuda dari Khurasan yang merupakan keturunan kabilah Arab yang mahsyur. Ia digelari al-Hafizh, al-Mujawwid, al-Hujjah, ash-Shadiq, dan sederetan gelar lain yang menunjukkan keluruhan ilmu nya. Beliau bernama lengkap Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Ward bin Kusyadz al-Qusyairi an-Naisaburi atau biasa disebut Imam Muslim.

Ia memiliki 120 guru. Dari hasil pembelajarannya sekurangnya ada 18 kitab mashsyur yang hingga kini masih kita baca dan paper tak terhingga jumlahnya yang mungkin hilang ditelan zaman. Kitab Shahih-nya dipuji oleh ulama bahkan al-Hafizh Abu Ali an-Naisaburi mengatakan, “Tidak ada di kolong langit ini sebuah kitab dalam ilmu hadits yang lebih shahih dari kitabnya Muslim.” Dan sama hal nya dengan Imam Bukhari, ia menghabiskan 15 tahun dengan berjalan dari satu wilayah ke wilayah lain demi mendapatkan ilmu-ilmu yang mulia dalam naungan rahmat Ilahi.

Ada lagi pemuda yang lahir di kota Gaza, Palestina. Ayahnya merupakan keturunan dari Bani Muththalib. Nasabnya sampai pada Rasulullah bertemu di Abdul Manaf. Kitab-kitab nya tak terhitung jumlahnya. Kemampuan Bahasa dan sastra Arabnya mengagumkan sampai-sampai ia disebut Imamnya bahasa Arab. Beliau bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i al-Muththalibi al-Qurasyi atau biasa disebut Imam Syafi’i.

Ia menjadi salah satu imam mazhab fiqih yang hari ini di Indonesia paling banyak menganut, mazhab Syafi’i. Salah satu karangannya adalah “Ar-Risalah”, buku pertama tentang ushul fiqh dan kitab “Al Umm” yang berisi madzhab fiqhnya yang baru. Ia dikirim untuk belajar pada usia 13 tahun ke Madinah pada Imam Malik dan tak pernah berhenti belajar hingga Allah mencabut nyawanya di usia 52 tahun. Bahkan pada kondisi sakit wasir nya yang begitu parah ia tak pernah meninggalkan perjalanan demi belajar dan mengajar meski tak jarang darah mengalir pada pelana dan kakinya.

Kisah tiga pendekar ilmu di atas selayaknya menjadi panutan generasi remaja dan pemuda zaman now untuk senantiasa mencari ilmu. Terlebih, perkembangan teknologi yang ada hari ini seharusnya membuat kita lebih mudah lagi untuk belajar dimana distance and language barrier semakin tipis yang membuat kita praktis bisa mempelajari apapun hanya dengan memainkan jari jemari kita pada layar smartphone atau laptop kita.

Cara Belajar Generasi Digital

Telah disebutkan, #TemanSurga, bahwa perkembangan digital memudahkan kita untuk belajar di manapun dan kapanpun. Hari ini banyak sekali kanal-kanal yang bisa kita manfaatkan untuk belajar. Apa saja sih? Yuk cekidot!

  1. Channel Youtube Edukasi

Youtube adalah situs video sharing nomor satu di dunia dan situs nomor dua tertinggi di dunia setelah google.com (versi Alexa). Hampir 5 milyar video ditonton setiap hari dengan jumlah pengguna mencapai 1,3 milyar orang di seluruh dunia.

Setiap youtuber atau content creator mengupload video beragam, baik hiburan, informasi, maupun edukatif. Meskipun banyak (banget) konten-konten tak bermanfaat di Youtube yang harus kamu hindari, banyak juga loh channel yang edukatif dan bermanfaat.

Misalnya channel Mathantic dengan 1 juta subscriber yang rutin memproduksi konten pembelajaran tentang matematika dasar. Bagi kamu yang ingin mempelajari tentang wawasan dan budaya dunia, National Geographic juga memiliki channel dengan 11 juta subscriber dengan video baru hampir setiap hari nya.

  1. Aplikasi Smartphone

Apa saja aplikasi yang kamu install di gadget kamu? Jangan cuma free fire atau mobile legend yang ngehabisin memory, install juga dong aplikasi-aplikasi yang dapat menambah kemampuan akademik dan skill produktivitas kamu.

Misalnya buat kamu yang seneng belajar bahasa seperti Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin dan sebagainya, kamu bisa install DuoLinggo. Untuk kamu yang masih sekolah ada juga aplikasi bimbel online seperti Ruangguru. Untuk kamu yang ingin belajar lifestyle yang lebih sehat banyak aplikasi fitness dan resep makanan sehat bertebaran di Play Store untuk android atau App Store untuk IOS.

  1. Berlangganan e-Journal dan e-Paper

Buat para senior remaja; mahasiswa, peneliti, dosen, hari ini mendapatkan jurnal dan paper ilmiah semudah membalikkan telapak tangan. Banyak situs penyedia e-journal dan e-paper yang bisa diakses untuk bahan penelitian. Ada doaj.org yang memiliki database jutaan artikel dan paper ilmiah Open Access full text. Ada juga jurn.org dengan jutaan artikel dan paper ilmiah yang meliputi ilmu seni, kemanusiaan, sains, dan lain-lain. Namun tentu saja, harus memperhatikan kaidah-kaidah dalam mensitasi paper ilmiah orang dan jangan sampai jatuh pada plagiat.

Tentu saja, peranan teknologi dan dunia digital hanya bersifat membantu dan memudahkan kamu dalam belajar. Metode pembelajaran pun tetap harus terikat pada hukum syara karena di manapun dan aktivitas apapun yang kita lakukan, Islam harus selalu menjadi pegangan.[]

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *