Pages Menu
Categories Menu

Posted on Aug 30, 2019 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 077. Menggenggam Asa Orang Tua

Buletin Teman Surga 077. Menggenggam Asa Orang Tua

buletin teman surga 077. menggenggam asa orang tuaSatu kata untuk wanita yang melahirkanmu? Ibu, Umi, Mamah, Ambu, Emak, apapun kamu memanggilnya rasanya satu kata kurang untuk melukiskan sosok wanita yang begitu hebat ini. Selama kurang lebih sembilan bulan kita berada dalam dekapan rahimnya, menyatu dalam tubuhnya, begitupun sayangnya yang sudah mulai tumbuh sedari kita baru menjadi nutfah.

Coba deh kamu tanya bagaimana dulu kamu dikandung dan dilahirkan. Pasti setiap dari kita punya cerita yang berbeda dan itu akan menjadi kenangan tersendiri, intinya kita akan paham betapa luar biasa pengorbanan dan kasih sayang seorang ibu.

Semua orang tua terlebih seorang ibu pasti selalu mendoakan yang terbaik untuk anaknya bahkan sebelum anaknya dilahirkan ke dunia. Mengharapkan kelak anaknya menjadi anak yang sholih/sholihah, sukses dan berbakti kepada orang tua. Ibu adalah orang pertama yang bersedih jika anaknya menangis, orang yang pertama cemas dan khawatir ketika anaknya sakit atau belum pulang sekolah dari jadwal biasanya, orang yang pertama kali bahagia saat anaknya meraih cita-citanya dan menjadi orang yang berhasil.

Meski omelan, cerewet Ibu bikin kamu ngga suka tapi percaya deh itu adalah wujud perhatian dan kepedulian Ibu untuk kita. Kalau kitanya manut nurut, hormat kayanya ngga bakalan deh Ibu cape-cape ngomelin kita atau cerewetin kita.

Cuma ya itulah, remaja zaman now yang sudah lebih banyak kepengaruhan apa yang dilihat (ditonton) dan apa yang dilihat walhasil kadang atau sering kali kalau dikasih tahu ortu atau Ibu malah balik “ngegas”.

Seperti yang baru-baru ini viral terjadi dimana seorang anak laki-laki yang kesal karna tidak diberi uang sepuluh ribu rupiah, tega memukul bahkan menendang kepala wanita tua yang telah melahirkan dan membesarkannya terlebih sang Ibu sedang sakit kala itu. Ibarat air susu dibalas air tuba, pengorbanan dan kasih sayang orang tua malah dibalas dengan kelakuan tak terpuji yang bukan saja menyakiti hati tapi juga fisik.

Tak lama video ini terupload dan viral, Polsek Tegalsari, Surabaya langsung memanggil dan memeriksa pelaku yang melakukan tindak kekerasan kepada Ibunya. Namun, kasus kekerasan tersebut kemudian diselesaikan dengan cara mediasi karna sang Ibu tidak tega jika harus melihat anaknya ditahan. Itulah seorang Ibu sebagaimanapun anaknya nakal bahkan menyakitkan hati tetap saja kasih sayang Ibu jauh lebih besar. Semoga kejadian dan perlakuan buruk kepada orang tua ngga akan pernah terulang lagi ya friends.

Jasa Ibumu

Masih ingat dulu, di zaman jahiliyah anak perempuan dikubur hidup-hidup? Karna bagi mereka memiliki anak perempuan itu adalah aib yang memalukan.

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu”. (TQS. An Nahl: 58-59).

Namun, ketika Rasul diutus dan mengemban Islam budaya jahiliyah ini lambat laun hilang dan mengubah kedudukan wanita menjadi sosok yang dimuliakan memiliki harkat, derajat dan martabat. Kebayang ngga sih  guys, kalau kebiasaan membunuh atau mengubur anak perempuan hidup-hidup ngga dihentikan niscaya ngga akan lahir orang-orang hebat, cerdas, sholih/sholihah, salah satunya seperti kamu.

Islam hadir memang untuk memberi rahmat bagi seluruh alam. Membawa manusia dari kehidupan yang tidak beradab menuju ke peradaban yang mulia. Termasuk memuliakan seorang wanita yang kelak akan menjadi seorang Ibu dari generasi pemimpin hebat di masa datang. Meski kesusahan demi kesusahan dialami seorang Ibu, Ia akan rela karna itu adalah fitrah. Hanya ridho Allah yang dituju, sehingga di dalam firmanNya Allah SWT menegaskan dan memerintahkan kita untuk berbakti, berbuat baik kepada orang tua.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (TQS. Luqman: 14)

Dari Abu Hurairah ra, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah saw dan berkata, “Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?” Nabi saw menjawab, “Ibumu!” Dan orang tersebut kembali bertanya, “Kemudian siapa lagi?” Nabi saw menjawab, “Ibumu!” Dan orang tersebut kembali bertanya, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ibumu!”. Orang tersebut bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Nabi saw menjawab, “Kemudian ayahmu”. (HR. Bukhari).

Iman Al Qurthubi menjelaskan hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang Ibu harus tiga kali lipat besarnya. Karna seorang Ibu telah mengalami kesulitan saat masih hamil, lalu melahirkan dan menyusui serta merawatnya.

Can you imagine? Saat hamil, seorang Ibu kepayahan dari mulai mual yang ringan sampai makan ini salah makan itu muntah, seluruh badan pegal karna beratmu di perut Ibu semakin bertambah. Mau tidur enak dan nyaman? Rasanya sulit didapat.

Masa mendekati dan tiba saatnya melahirkan, mau tahu rasa sakitnya? Sakitnya itu seperti 20 tulang patah bersamaan. Jika badan manusia hanya mampu menanggung rasa sakit hingga 45 Del, namun saat Ibu yang akan melahirkan akan merasakan sakit hingga 57 Del.

Tak berakhir sampai di situ, Sang Ibu yang baru saja berjuang antara hidup dan mati saat melahirkan buah hati kesayangannya, harus “memaksa” diri untuk kembali kuat dan sehat demi menyusui anaknya ditambah tubuh mungil kamu yang masih sangat bergantung pada Ibumu.

Kamu dan Asa Ibumu

Perjuangan dan pengorbanan seorang Ibu begitu luar biasa, rasanya membalas setetes air susunya yang telah menjadi darah daging kita pun ngga akan bisa. Dari Abu Burdah, ia melihat Ibnu Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar ka’bah sambil menggendong Ibunya di punggungnya. Orang itu bersenandung, “Sesungguhnya diriku adalah tunggangan Ibu yang sangat patuh”. Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari. 0rang itu lalu berkata, “Wahai Ibnu Umar apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Belum, walaupun setarik nafas yang ia keluarkan ketika melahirkan”. Beliau lalu thawaf dan shalat dua raka’at pada maqam Ibrahim lalu berkata, “Wahai Ibnu Abi Musa (Abu Burdah), sesungguhnya setiap dua raka’at (pada maqam Ibrahim) akan menghapuskan berbagai dosa yang diperbuat sesudahnya”. (dikeluarkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod).

Lihatlah bagaimana generasi salaf begitu memuliakan Ibunya. Ali bin al-Husain tak ingin makan satu meja dengan ibundanya. Alasannya? Ia takut bila merebut menu yang diinginkan ibunya. Ada lagi Usamah yang pernah memanjat pohon kurma, lalu mengupasnya dan menyuapi ibunya. Mengapa ia melakukan hal itu? Ia menjawab, “Ibuku memintanya. Apa pun yang ia minta dan saya mampu, pasti saya penuhi.”

Begitulah perhatian salaf terhadap ibu mereka. Aisyah bahkan pernah bertutur, ada dua nama yang ia nilai paling berbakti kepada sosok ibu, yaitu Usman bin Affan dan Haritsah bin an-Nu’man. Nama yang pertama tak pernah menunda-nunda perintah ibundanya. Sedangkan yang kedua, rajin membasuh kepala sang ibu, menyuapinya, dan tidak banyak bertanya saat ibundanya memerintahkan suatu hal.

See, jangankan membalas satu tarikan nafas saat Ibu melahirkan apalagi semua jerih dan payah yang telah Ibu korbankan untuk kita sampai tumbuh remaja seperti sekarang ini. Lalu, jika begitu adanya masihkah kita menjadi anak yang membantah apalagi durhaka terhadapnya? Astaghfirullah, Please, don’t ever do that!!.

Rasulullah saw bersabda, “Maukah aku kabarkan kepada kalian mengenai dosa-dosa besar yang paling besar? Beliau bertanya ini 3 kali. Para sahabat mengatakan, “tentu wahai Rasulullah”. Nabi bersabda, “syirik kepada Allah dan durhaka kepada orang tua” (HR. Bukhari-Muslim).

Oleh karna itu, berbuat baiklah kepadanya jangan membuatnya bersedih apalagi sakit hatinya, segera minta maaf atas kesalahan yang pernah kita perbuat baik disengaja ataupun ngga. Mintalah doa karna doanya seorang Ibu itu mujarab alias maqbul. Ngga percaya?

Kisah dari seorang Imam Masjidil Haram sekaligus hafidz qur’an yang memiliki suara yang sangat menyentuh hati siapa saja yang mendengarnya, Ia-lah Syeikh Abdurrahman Assudais. Singkat cerita pada saat Imam Assudais kecil pernah melakukan hal yang membuat Ibunya kesal dan marah, betapa tidak Assudais kecil menaburkan pasir ke dalam hidangan kambing yang disiapkan untuk menyambut tamu. Seketika melihat hal tersebut, Ibu Assudais berkata kepada anaknya “Pergilah, semoga Allah menjadikanmu Imam Masjidil Haram”. Dan doa dari Assudais kecil kini terbukti, anaknya kini telah menjadi Imam Masjidil Haram, Imam Assudais. Maa sya Allah.

So, kalau kamu pengen jadi orang sukses dunia dan akhirat jangan pernah lupa untuk selalu meminta doa kepada orang tuamu karna Rasulullah saw bersabda,

“Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi (kemakbulannya), yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang didzalimi”. (HR. Abu Daud).

For you, Teman Surga yang sholih dan sholihah. Muliakanlah orang tuamu, berbuatlah baik kepadanya, jadilah anak yang membanggakan’ bukan saja karna dengan memberikan prestasi terbaikmu di sekolah namun lebih dari itu jadilah anak yang sholih dan sholihah, berakhlak mulia.

Sungguh tak ada yang lebih berharga selain memiliki anak yang sholih, bukankah setiap orang tua pasti selalu menginginkan kelak anaknya menjadi sholih/sholihah, berbakti? Karna amalan yang tak akan terputus salah satunya adalah doa anak yang sholih. Dan tak ada yang lebih menyejukkan mata orang tua selain melihat anak-anaknya menjadi pribadi yang cerdas, santun dan senantiasa memuliakan orang tuanya. Jika, sudah begini ridho Allah akan senantiasa bersamamu karna orang tuamu ridho atas apa yang kamu lakukan terhadapnya.[]

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *