Buletin Teman Surga 011. Lulus, What’s Next?

0
48
buletin teman surga -011 lulus whats next

buletin teman surga -011 lulus whats nextPertanyaan ‘setelah lulus, ngapain?’ itu pertanyaan masa depan. Jadi, kalo ada yang cuek terhadap pertanyaan tersebut, lebih-lebih yang cuek terhadap jawaban dari pertanyaan itu, kayaknya bisa dipastikan dia orangnya cuek terhadap masa depan. Minimal masa depannya sendiri, apalagi masa depan generasinya. Semoga itu bukan kamu ya sob, para pembaca setia buletin teman surga?!

Jangan Merugi, Sob

Seharusnya sih pertanyaan “lulus, what’s next?’ ini diajukan jauh-jauh hari sebelum kita lulus, kalo bisa mah dari awal kita sekolah. Kenapa? Biar kita terarah kita sekolah mau ngapain. Jadi semacam guide buat kita, agar kita nggak asal-asalan selama sekolah, bahkan kalo bisa ngarahin kita mau ngambil jurusan apa. Kebayang kan kalo selama kita sekolah nggak ada tujuannya alias tujuannya nggak jelas, maka bisa dipastiin sekolahnya atau belajarnya juga nggak bakal terarah, asal-asalan, males-malesan. Ini bukan vonis lho ya, tapi faktanya yang terjadi selama ini begitu, hayo ngaku?!

Sewaktu kita kecil seumuran anak TK, seringkali ditanya kan “mau jadi apa nanti kalo udah gede?”, masih inget nggak jawaban kita saat itu, pengin jadi apa? Kalo masih ada yang inget, kira-kira berubah nggak ketika kita sekarang udah SMP or SMA? Atau jangan-jangan kita nggak ada bayangan mau jadi apa selepas lulusan? Wah sayang bangets atuh ya, kita udah segede sekarang tapi belum punya cita-cita pengin jadi apa, alias setelah lulus mau ngapain.

Kalo yang lulusan SMP, paling nggak pikiranya ngelanjutin sekolah ke SMA atau SMK. Kayaknya sedikit yang berpikir langsung kerja selepas SMP. Tapi kalo yang SMA, nah pasti kegalauannya tingkat dewa nih, ketika diajukan pertanyaan ‘setelah lulus, mau ngapain?’. Kalo coba diulik sih, jawaban dari pertanyaan itu, seenggaknya ada 3 alternatif. Pertama, pengin kuliah. Kedua, langsung kerja or bisnis. Ketiga, pengin kuliah sambil kerja/bisnis. Nggak ada yang kepikiran untuk jadi pengangguran kan? Hehe… walaupun pada faktanya ada yang setelah lulus jadi pengangguran.

Lumayan lah, kalo ada yang bisa ngajawab pertanyaan ‘lulus, what’s next?’ dengan 3 jawaban alternative diatas, seenggaknya dia sudah punya planning buat masa depannya. Jangan sampe ada yang ngasih jawaban kayak semisal “kagak tahu, hidup gue ngikutin arus aja kemana air mengalir, disitu ada gue”. Lah, parah bingits nih kalo ada yang ngasih jawaban kayak gitu. Berarti dia selama ini ngejalanin hidupnya emang kayak gitu, ckckck….

Padahal hidup kita sebagai seorang mahluk alias hamba Allah dan sekaligus sebagai muslim sudah ada tujuannya. Udah pada tahu kan apa tujuan kita diciptakan oleh Allah? Iyes… untuk beribadah kepada Allah. (QS Ad-Dzariyat 56)

Nah, kalo tujuan hidup kita adalah ibadah kepada Allah, itu artinya setiap jejak langkah sangat berarti, waktu yang kita miliki sangat berharga. Akan sangat rugi kalo kita nggak memperhatikan waktu, Imam Syafi’i Rahimullah berkata “Waktu ibarat pedang, jika engkau tidak menebasnya maka ialah yang menebasmu.”

Karena waktu itu ibarat pedang, dianya bisa menghunus habis keseharian kita. Kalo misal saja, seharian kita habiskan waktu buat main PS, abis itu ngoprek gadget kita, nggak kerasa tetiba udah hilang waktu sehari. Dan ketika sudah hilang waktu itu kita nggak bisa kembalikan lagi. Waktu sehari yang sangat berharga, hilang menguap begitu aja dengan aktivitas yang nggak ada guna dan manfaatnya, buat masa depan kita. Menyedihkan sekali kan?

Coba perhatikan riwayat hidupnya Imam Asy-Syafi’i muda, beliau bisa hafal Al-Qur’an di usia yang sangat belia, menjadi mufti ketika anak-anak seumuranya masih suka merengek minta uang jajan kepada ortunya. Semua itu nggak mungkin dilakukan jika bukan karena sangat menghargai waktu. Sampe-sampe di ayat al-Qur’an beberapa surat bersumpah demi waktu, salah satunya QS. Al-Ashr. Allah bersumpah dengan ‘ashr, bahwa, “Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kedaan merugi, kecuali jika ia beriman dan beramal  saleh….”.

Jadi, manusia benar-benar berada dalam khusr (kerugian). Kata khusr mempunyai banyak arti, antara lain rugi, sesat, celaka, lemah, dan sebagainya yang semuanya mengarah kepada makna-makna negatif yang tidak disenangi oleh siapa pun. Kata khusr pada ayat di atas  berbentuk  indefinitif (nakirah), karena ia menggunakan tanwin, sehingga dibaca  khusr(in), dan bentuk indefinitif, atau bunyi in yang ada pada kata tersebut  berarti harus dipahami  sebagai kerugian, kesesatan, atau kecelakaan besar. Kerugiaan dalam hal apa? Tentu saja rugi dalam salah memenej waktu.

Masa atau waktu adalah modal utama manusia. Jika tidak diisi dengan kegiatan, waktu akan berlalu  begitu saja. Ketika waktu berlalu begitu saja, jangankan keuntungan diperoleh, modal pun telah hilang. Maka waktu harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Kalo nggak diisi, yang bersangkutan sendiri yang akan merugi. Bahkan jika diisi dengan hal-hal yang negatif, manusia tetap  diliputi oleh kerugian.

Dari sini ditemukan keterkaitanya dengan hadis Nabi  Saw. yang  memperingatkan  manusia  agar  mempergunakan waktu  dan mengaturnya sebaik mungkin, karena sebagaimana sabda Nabi Saw

“Ada dua kenikmatan yang banyak dilupakan oleh manusia, yaitu nikmat sehat dan waktu luang”. (Muttafaqun ‘alaih).

Nah, yang merasa masih muda biasanya suka bangets menyepelekan waktu, dengan dalih ‘mumpung masih muda, dinikmati sepuas mungkin’, atau ada yang pernah dengar semboyan lawas ‘muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga’, wkwkwk… itu pasti yang ngomong lagi ngimpi. Terlebih kalo yang bilang begitu generasi muslim, wah udah pasti rusaklah masa depan dia bahkan masa depan negerinya.

So once again, mulai sekarang perhatikan waktu dan mulai berpikir serius kira-kira mau ngapain setelah lulus. Bukan hanya tentang diri kita, tapi juga masa depan kaum muslimin.

Yuk Peduli Masa Depan

Kenyataan remaja kita sekarang, nggak banyak yang sudah memikirkan jauh kedepan hidupnya mau ngapain. Kebanyakan remaja sekarang hanya berpikir hari ini. Sementara hari esok, entar dulu deh atau malah ‘i dont know’. Ketika remaja hanya berpikir ‘hari ini’ dan mengabaikan ‘hari esok’ maka dia konsen melakukan apa saja untuk hari ini.

Nah, kaitannya dengan ilmu dan masa belajar kita di sekolah, maka pertanyaan ‘lulus, what’s next’, jangan disepelekan. Itu artinya, di masa-masa yang akan datang meskipun misalnya kita nggak di sekolah lagi, maka menuntut ilmu tetap harus kita lakukan. Semangat thalabul ilmi tetap harus menyala dan membara, baik ilmu yang sifatnya duniawi terlebih ilmu agama.

Kenapa? Karena yakin atau nggak yakin, sadar atau nggak sadar, masa depan itu milik umat Islam, jadi kalo kita nggak menyiapkan diri dari sekarang, esok hari ketika Islam menemui kejayaannya kembali, kita saat itu hanya ada kemungkinan. Pertama, meratapi diri karena merugi nggak menyiapkan buat masa depan, atau kedua kita malah justru di barisan yang nggak penghalang Islam kembali tegak.

Kembali ke soal menuntut ilmu dan belajar tadi, jika menurutmu ilmu itu penting bagi masa depanmu dan juga buat masa depan Islam, maka yuk segera berubah, berbenah untuk menggeluti dengan serius ilmu itu. Misalnya, kamu nggak suka pelajaran Fisika, Kimia dan Matematika, tapi cobalah berpikir betapa pentingnya ilmu itu, kalo kita ternyata pengin menjadi ahli nuklir, dan ternyata ahli nuklir itu sangat dibutuhkan kaum muslimin di masa mendatang. Bahkan menuntut ilmu seperti itu bisa menjadi hukumnya fardhu kifayah bagi kaum muslimin, ketika tidak ada atau tidak banyak kaum muslimin yang menguasai ilmu itu.

Masa Depan Milik Islam

Apa bukti kalo masa depan adalah milik kaum muslimin?

“Musa berkata kepada kaumnya, ‘Minta tolonglah kalian kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al A’raf 128).

Ayat ini menunjukkan bahwa kemenangan akan diberikan kepada hamba-hambaNya yang bertakwa. Maksudnya adalah Islam dan umatnya. Dan ini pasti terjadi cepat atau lambat, sebab Allah nggak pernah mengingkari janji. Allah berfirman:

“innallaaha laa yukhliful mii’aad” (sesungguhnya Allah tidak pernah menyalahi janji). (QS Ali Imran 9).

Lebih jelasnya lagi, Allah sampaikan

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.” (QS. An Nur 55)

Rasulullah saw. juga memberikan bisyarat ini. Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Allah telah mengumpulkan untukku dunia, maka aku menyaksikannya dari ujung timur dan barat, dan kerajaan umatku akan melampaui timur dan barat seperti yang dikumpulkan untukku, dan aku diberi dua kekayaan (emas dan perak atau kekayaan dua kerajaan Romawi dan Persia) (HR. Muslim no. 5144). Dalam hadits yang lain Rasulullah saw. bersabda: “berilah kabar gembira kepada umatku dengan kemenangan, ketenangan di negerinya, pertolongan Allah, dan kemulyaan agamanya, siapa yang menjadikan amal akhiratnya untuk dunia, maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa di akhirat” (HR. Imam Ahmad).

Dan ketika kemenangan atau masa depan itu tiba, maka siapapun takkan bisa menghentikannya. Allah berfirman:

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS. At-Taubah 33).

So sobat semua, cobalah berpikir bukan hanya untuk hari ini, tapi juga buat masa depan. Berpikir bukan hanya buat diri kita sendiri, tapi juga masa depan kaum muslimin. Yuk berubah, tinggalkan kemalasan, tinggalkan keluh kesah, saatnya bangkit, kaum muslimin membutuhkan peran kita sebagai pemuda.

Yuk jangan berpangku tangan, jangan putus asa hanya gara-gara nggak bisa kuliah misalnya, karena masa depan bukan ditentukan dari situ, melainkan dari niat kita memperbaiki diri, dan menyalakan tiada henti semangat untuk berubah jadi lebih baik dengan menuntut ilmu. Menentukan masa depan kita adalah pilihan kita, memikirkan jawaban dari pertanyaan ‘mau ngapain setelah lulus’ artinya kita ikut memikirkan masa depan kita, dan masa depan kaum muslimin. Takbir! Allahu Akbar! []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here