Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on May 6, 2018 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 013. Pendidikan Karakter? Islam Jawabannya!

Buletin Teman Surga 013. Pendidikan Karakter? Islam Jawabannya!

buletin teman surga-013 pendidikan karakterMenjelang peringatan Hari Pendidikan Nasional 02 Mei kemarin, sempat beredar poster acara nobar yang bakal diadain oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Poster ini jadi viral di dunia maya lantaran bukan sembarang film yang mau diputar, tapi film keluaran terbaru berkisah keseharian pelajar dengan konfliknya seputar cinta. Kamu pasti nggak asing dengan salah satu film ini. Dilan 1990!

Pihak kemendikbud menjelaskan, film “Dilan” masih mempunyai relevansi dengan momentum Hardiknas. Hal senada ditegaskan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Pak Muhajir Effendi. Ia memastikan film itu mengandung muatan positif bagi pendidikan karakter siswa. Serius?

Bukannya menuai dukungan, rencana pemutaran film Dilan justru memancing kontra dari berbagai pihak sebelum akhirnya tak jadi ditayangkan. Ketua Umum IGI (Ikatan Guru Indonesia) Muhammad Ramli Rahim mengatakan, ada alasan kuat mengapa film Dilan tak layak diputar dalam peringatan Hardiknas. “Ada hal yang sangat tidak mendidik di dalamnya, adegan saat Dilan berkelahi dengan guru, membentak dan memukulnya bahkan memburunya hingga terbirit-birit,” lanjutnya. Catat! 

Krisis Pendidikan Karakter

Idealnya sebuah sistem pendidikan, tak sekedar mampu mentransfer ilmu dengan baik pada anak didik. Namun juga bisa membentuk karakter berakhlak mulia pada siswa. Ini yang tengah dikejar oleh pemerintah demi menguatkan pendidikan karakter di sekolah. Lantaran dari hari ke hari, perilaku remaja khususnya pelajar bikin prihatin.

Tengok aja pasca pelaksanaan Ujian Nasional kemarin, banyak kejadian pelajar yang berpesta merayakan pasca ujian selesai. Dari mulai corat-coret seragam sekolah, pesta miras, hingga tawuran. Perilaku tak terpuji ini menunjukkan kalo para pelajar negeri kita tengah mengalami krisis pendidikan karakter. Ngenes!

Kericuhan terjadi di saat perayaan hari kelulusan di sejumlah wilayah di Kabupaten Pati. Setidaknya, ada 3 titik kericuhan ditangani polisi. Ketiganya melibatkan oknum berseragam siswa. Sejumlah korban luka dilarikan ke rumah sakit. (news.detik.com, Kamis 03 Mei 2018)

Keempat orang oknum pelajar yang kedapatan sedang merayakan kelulusan dengan minum-minuman keras jenis tuak, pada Kamis (03/05/2018) sore, diamankan anggota Polres Bojonegoro. Keempat pelajar tersebut diamankan petugas saat minum-minum di sebuah warung yang berlokasi di Desa Ngampel Kecamatan Kapas Kabupaten Bojonegoro. (https://planet.merdeka.com, 4 Mei 2018)

Konvoi siswa-siswi usai pengumuman kelulusan siswa-siswi SMA/SMK se-Bali yang diumumkan pada Kamis, 3 Mei 2018, mengakibatkan beberapa kecelakaan. Setidaknya ada tiga orang dirawat di Instalasi Gawat Darurat RS Bali Mandara karena mengalami patah tulang akibat kecelakaan itu. (liputan6.com, 04 Mei 2018)

Selain euforia pasca pengumuman kelulusan, degradasi moral para pelajar juga kerap menjadi headline media massa. Tingkat sadisme dan seks bebas di kalangan remaja Indonesia kian memprihatinkan. Ind Police Watch (IPW) mendata, sepanjang Januari 2018 bayi yang dibuang di Indonesia sebanyak 54 bayi. Pelaku umumnya wanita muda berusia antara 15 hingga 21 tahun. (hidayatullah.com, Rabu (31/01/2018). Ngeri!

‘Pendidikan Karakter’ dalam Islam

Istilah pendidikan karakter sebenarnya nggak dikenal dalam sistem pendidikan Islam. Eit, bukannya Islam nggak peduli dengan perbaikan sikap mental dan karakter anak didiknya. Tapi justru, dari awal sistem pendidikan Islam diterapkan oleh negara, pendidikan karakter udah jadi bagian di dalamnya. Nggak ada pemisahan antara pola pendidikan yang fokus pada kegiatan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pendidikan karakter untuk membentuk pribadi berakhlak mulia. Keduanya sudah satu paket.

Dalam Islam, pendidikan bertujuan untuk membentuk manusia yang memiliki: (1) Kepribadian Islam; (2) Menguasai pemikiran Islam dengan handal; (3) Menguasai ilmu-ilmu terapan (pengetahuan, ilmu, dan teknologi/PITEK); (4) Memiliki ketrampilan yang tepat guna dan berdaya guna.

Keliatan kan, Islam menempatkan pembentukan karakter pelajar yang berkepribadian Islam sebagai langkah pertama dan utama. Pendidikan karakter ini harus dilakukan pada semua jenjang pendidikan yang sesuai dengan proporsinya melalui berbagai pendekatan. Salah satu di antaranya adalah dengan menyampaikan pemikiran Islam kepada para siswa. Pada tingkat TK-SD materi kepribadian Islam yang diberikan adalah materi dasar karena mereka berada pada jenjang usia menuju baligh. Artinya, mereka lebih banyak diberikan materi yang bersifat pengenalan keimanan.

Barulah setelah mencapai usia baligh, yaitu SMP, SMU, dan PT materi yang diberikan bersifat lanjutan (pembentukan, peningkatan, dan pematangan). Hal ini dimaksudkan untuk memelihara sekaligus meningkatkan keimanan serta keterikatannya dengan syariat islam. Indikatornya adalah bahwa anak didik dengan kesadaran yang dimilikinya telah berhasil melaksanakan seluruh kewajiban dan mampu menghindari segala tindak kemaksiatan kepada Allah Swt.

Kurikulum pendidikan Islam dibangun berlandaskan akidah sehingga setiap pelajaran dan metodologinya disusun selaras dengan asas itu. Konsekuensinya, waktu pelajaran untuk memahami tsaqâfah Islam dan nilai-nilai yang terdapat di dalamnya mendapat porsi yang besar, tentu saja harus disesuaikan dengan waktu bagi ilmu-ilmu lainnya. Ilmu-ilmu terapan diajarkan sesuai dengan tingkat kebutuhan dan tidak terikat dengan jenjang pendidikan tertentu (formal).

Di tingkat perguruan tinggi (PT), kebudayaan asing dapat disampaikan secara utuh. Misalnya, materi tentang ideologi sosialisme-komunisme atau kapitalisme-sekularisme dapat disampaikan kepada kaum Muslim setelah mereka memahami Islam secara utuh. Materi ideologi selain Islam dan konsepsi-konsepsi lainnya disampaikan bukan bertujuan untuk dilaksanakan, melainkan untuk dijelaskan cacat-celanya dan ketidaksesuaiannya dengan fitrah manusia.

Secara struktural, kurikulum pendidikan Islam dijabarkan dalam tiga komponen materi pendidikan utama, yang sekaligus menjadi karakteristiknya, yaitu: (1) pembentukan kepribadian Islami); (2) penguasaan tsaqâfah Islam; (3) penguasaan ilmu kehidupan (PITEK, keahlian, dan ketrampilan). Ini lho, konsep pendidikan karakter yang jauh-jauh hari sudah dipakai dalam Islam. 

Pelajar Islam, Berkarakter dan Berprestasi

Jika saat ini negara begitu merindukan lahirnya para pelajar berkatakter, sistem pendidikan Islam bakal penuhi. Pelajar berkarakter, tak hanya piawai dalam urusan ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi juga dibekali sikap mental generasi berprestasi. Berikut beberapa prinsip yang melekat pada pelajar berkarakter produk sistem pendidikan Islam.

Pertama, mental berkontribusi. Dia harus punya prinsip yang mendorongnya berprestasi bukan semata karna piala atau penghargaan tingkat dunia. Tapi untuk berbagi manfaat pada masyarakat. Sikap mental ini penting dimiliki oleh setiap pelajar. Biar mereka belajar nggak sekedar mengejar nilai akademis. Tapi juga terpacu untuk mengasah keterampilan sehingga menghasilkan karya yang berguna untuk membantu manusia. Inilah sebaik-baiknya manusia.

Diriwayatkan dari Jabir berkata,

Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Kedua, keep learn. Siswa berkarakter nggak pernah merasa cukup dengan ilmu yang udah diperolehnya. Belajar terus dan terus belajar. Bukan tanpa istirahat ya. Cuman lebih banyak mengisi waktu luangnya dengan hal-hal yang bermanfaat. Belajar juga bukan berarti hanya duduk di kelas, dengerin guru ngoceh. Tapi juga belajar secara mandiri dengan membaca buku di perpustakaan atau di rumah. Dia juga tak sungkan untuk mendatangi orang-orang pintar yang jadi rujukannya. Biar bisa diskusi dan menyerap berbagai ilmu yang dibagi. Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi.

Ketiga, sabar jalanin proses. Pepatah bilang, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Kaya gitu deh yang namanya belajar. Untuk dapetin hasil maksimal, kita dituntut untuk berani berkorban waktu, pikiran, tenaga, harta, atau kepentingan pribadi. Nggak semua pelajar sanggup jalanin proses itu dengan sabar. Makanya hanya mereka yang konsisten dan serius bakal sampe di garis finish dengan segudang prestasi yang membanggakan.

Imam Syafi’i rahimahullah mengingatkan,

“Tidak mungkin menuntut ilmu orang yang pembosan, merasa puas jiwanya kemudian ia menjadi beruntung, akan tetapi ia harus menuntut ilmu dengan menahan diri, merasakan kesempitan hidup dan berkhidmat untuk ilmu, maka ia akan beruntung.”

Keempat, berdakwah. Kewajiban berdakwah nggak pandang usia atau status pendidikan. Selama dia muslim dan udah baligh, wajib saling mengingatkan satu sama lain. Tak terkecuali pelajar. Aktivitas dakwah sebagai bagian dari pendidikan karakter, akan menjaga pelajar agar keep in touch dengan aturan Islam. Nggak lupa diri dan meminimalisir sikap egois bin individualis. Sehingga ilmunya, bisa diamalkan untuk mendukung kebangkitan Islam dan kaum Muslimin.

Sahabat, ngeliat potret pendidikan dalam negeri yang masih berkutat dalam program penguatan pendidikan karakter sepertinya banyak yang harus dibenahi. Kalo negara kita tetap bertahan dengan aturan demokrasi sekuler kaya sekarang untuk ngatur rakyatnya, maka bibit-bibit pelajar berkarakter makin sulit ditemui. Lantaran kurikulum pendidikan sekuler menggiring siswa untuk menjadi pelajar instant yang berorientasi pada prestasi hasil belajar. Bukan proses pembelajarannya. Dan masalah terbesar yang menjerumuskan para pelajar pada perilaku amoral, yang notabene tak berkarakter justru akibat gaya hidup sekuler yang melingkupi keseharian mereka.

Jadi, kalo pemerintah kita pengen meningkatkan mutu pendidikan, bisa bercermin pada sistem pendidikan Islam. Lebih bagus lagi kalo pemerintah nggak cuman ngaca, tapi pake sistem pendidikan Islam untuk melahirkan para pelajar berkarakter dan berprestasi. Saatnya keluar dari jeratan pendidikan kapitalis sekuler dan beralih pada sistem pendidikan Islam.

Saat ini, cara terbaik untuk melahirkan para pelajar berkarakter, khususnya pelajar muslim adalah dengan mengenalkan mereka pada Islam lebih dalam. Tak sekedar mengenal ajaran agamanya sebatas ibadah ritual semata, tapi menjadikan syariah Islam sebagai aturan hidup dalam keseharian. Karena itu, mari gencarkan acara pengajian di lingkungan sekolah sebagai bagian dari program penguatan pendidikan karakter. Siswa dan siswi didorong untuk aktif ngaji, bukan ditakut-takuti. #YukNgaji! []

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *