Buletin Teman Surga 015. Fighting Ramadhan

0
108
buletin teman surga-015 fighting ramadhan

buletin teman surga-015 fighting ramadhanHayo ngaku siapa yang puasanya suka loyo-loyoan? Seharian mainin mobil legend? Ngakak nonton lawakan waktu sahur? Atau tidur-tiduran bae, tahu-tahu udah bedug magrib aja? Ada yang kayak gitu? Tentu nggak kayak gitu ya cara membunuh waktu ramadhan kamu. Jangan sampe kepikiran Ramadhan yang siangnya diwajibkan puasa, jadi beban buat kamu. Kalo sampe ada terbersit pikiran yang begitu, berarti memang bukan termasuk yang dipanggil oleh Allah untuk berpuasa, yakni orang-orang yang beriman. Nah, biar nggak gitu simak deh sampe kelar buletin teman surga edisi kali ini.

Puasa, Nggak Boleh Loyo bin Males

Salah satu perintah di bulan Ramadhan berupa disyariatkannya puasa, sebagaimana Allah sampaikan:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)

Arti puasa secara bahasa adalah menahan, salah satunya menahan makan dan minum dari fajar hingga magrib. Kita di Indonesia yang terbiasa makan sehari 3 x, berarti kalo puasa akan terkurangi jadi 2x sehari. Nah, seberapa pengaruhnya sih, kalo selama sebulan jatah makan kita dikurangi 1x sehari. Maksudnya pengaruh terhadap aktivitas kita sehari-hari.

Karena coba jujur, seperti disinggung di atas tadi, ada yang menjadikan puasa sebagai alasan untuk bermalas-malasan, karena memang asupan energi kita berkurang sekali dalam sehari. Padahal gaes, kalo dilihat dari segi kesehatan, terutama bicara asupan energi dengan dikuranginya jatah makan sekali dalam sehari, nggak ngaruh-ngaruh bangets. Kalo pun ada pengaruhnya itu karena memang perut kita terbiasa selama 11 bulan dalam setahun melakukan proses pencernaan 3x sehari.

Gaes, dalam keadaan tidak puasa pada umumnya setiap orang punya jadwal makan tiga kali sehari, makan pagi jam 7, makan siang jam 12, makan malam jam 7. Dengan kondisi seperti, usus tidak mempunyai kesempatan untuk istirahat, karena sistem pencernaan kita memerlukan waktu kurang lebih delapan jam untuk memproses makanan untuk dapat dipergunakan tubuh. Artinya kalo cuman dikurangi jatah makan siang saja, sebenarnya nggak masalah dari segi kerja usus.

Apalagi puasa alias shaum dinyatakan Rasulullah SAW sebagai Junnah (perisai). “……Puasa itu perisai”. (H.R Bukhari, Muslim). Menurut para pakar kesehatan dengan puasa, jumlah sel darah putih bertambah serta diblokirnya suplai makanan untuk bakteri, virus dan sel kanker yang bersarang pada tubuh. Menurut hasil penelitian di Universitas Osaka di Jepang tahun 1930 setelah memasuki hari ke-7 berpuasa, jumlah sel darah putih dalam darah orang yang berpuasa meningkat. Penambahan jumlah sel darah putih ini secara otomatis meningkatkan kekebalan tubuh.

Kalo bicara dari segi kalori, pada kondisi normal, sumber energi utama dalam tubuh adalah gula yang disimpan di hati dan otot. Kebutuhan kalori tiap-tiap orang berbeda, dari segi usia, intensitas pekerjaan, berat badan dll. Standar asupan kalori per hari berbeda-beda di tiap negara. Berdasarkan National Health Service di Inggris, laki-laki disarankan mengonsumsi 2500 kalori dan wanita 2000 kalori. Sedangkan FAO menyarankan orang dewasa rata-rata harus mengonsumsi minimal 1800 kalori per hari.

Nah selama puasa, simpanan gula ini digunakan untuk menghasilkan energi yang diperlukan tubuh. Setelah gula digunakan, lemak menjadi sumber energi berikutnya dan ini dapat mengurangi berat badan. Kalo sumber-sumber energi tersebut masih belum cukup, tubuh akan membakar protein otot untuk menghasilkan energi. Fase terakhir ini disebut dengan fase kelaparan. Artinya dari segi kecukupan kalori untuk energi, orang berpuasa nggak lemes-lemes amat, alias puasa itu bukan bentuk penyiksaan tubuh sampe bikin kelaparan, atau busung lapar.

Jadi, kalo selama puasa masih ada yang melingkar di atas kasur kayak ular malas, berarti memang dasarnya dia punya habits malas dan nggak paham akan istimewanya hari-hari di bulan Ramadhan. Maka yuk sebaliknya, kita kudu produktif selama bulan Ramadhan.

Ramadhan, Bulan Produktif

Yuk kita coba ulik perikehidupan Rasulullah, Sahabat beliau SAW di saat mengisi waktu-waktu Ramadhan. Tercatat di Bulan Ramadhan justru Rasulullah SAW dan sahabatnya melakukan peperangan. Wow, puasa yang mengurangi jatah makan tapi malah energinya kepake untuk perang, ini pasti amazing.

Sejarah mencatat perang Badar Al Kubra terjadi pada bulan Ramadhan tahun kedua Hijriyah. Peperangan ini dimenangi oleh Islam dan inilah kemenangan agung pertama pejuang-pejuang Islam menentang kemusyrikan dan kebatilan.

Kemudian ada perang Khandaq alias perang parit yang strateginya dibuat di  bulan Ramadhan. Peperangan ini dibuat oleh orang-orang Quraisy dari sisi luar kota dan Yahudi di dalam Madinah. Menghadapi hal tersebut, kaum muslimin harus berpikir sangat matang. Maka mereka membuat parit-parit agar menyulitkan pasukan gabungan tersebut. Perang ini sendiri berakhir dengan keteguhan Madinah. Para pasukan gabungan itu pulang dengan hampa.

Ada juga peristiwa pembebasan Kota Mekkah (Fathu Mekkah) terjadi di Bulan Ramadhan. Ya, ini adalah saat dimana Islam pada akhirnya menguasai Mekkah. Meskipun namanya penaklukkan, tapi dalam peristiwa ini tak ada satu pun darah yang tertumpah. Peristiwa ini terjadi di bulan Ramadhan pada tahun 8 hijriah.

Nah, heroiknya kaum muslimin di bulan Ramadhan seperti menjadi semangat sendiri dan menular ke generasi-generasi berikutnya. Seperti salah satunya peristiwa perang Ain Jalut. Perang Ain Jalut adalah perang besar yang terjadi pada 15 Ramadhan 658 Hijriyah atau 1260 Masehi antara orang-orang muslim Mamluk (sekarang Turki) dengan bangsa Shamanis Mongol. Dalam peperangan ini, tentara Islam meraih kemenangan.

Itulah bukti dari fighting-nya kaum muslimin yang terjadi selama Ramadhan. Sungguh, Rasul, para sahabat dan generasi terbaik kala itu, menjalani hari-hari yang berat. Nggak hanya harus menahan lapar karena berpuasa, tapi juga melakukan perang-perang yang pastinya sangat melelahkan.

Inilah Rahasia Fighting Ramadhan Rasulullah SAW

Satu saja sih sebenarnya rahasianya Rasulullah SAW dan juga sahabatnya ketika bisa melewati hari-hari Ramadhan dengan fighting spirit. Apa itu? The power of iman. Yes, kelihatannya sepele tapi justru iman itulah sumber kekuatan, motivasi maha dahsyat yang bisa mengalahkan motivasi apapun di dunia ini. Maka membangun iman dengan benar dan kuat itu menjadi keharusan agar iman kita tetap lurus, dan aplikasi dalam perbuatannya jadi benar (amal shalih).

Kalo kita asumsikan di dunia ini ada 3 kekuatan atau dorongan seseorang ketika melakukan perbuatan. Pertama, dorongan materi/fisikly. Kedua dorongan perasaan/emotionaly, dan yang ketiga baru dorongan iman/spiritualy. Coba kita uraikan dalam sebuah contoh dari masing-masing kekuatan tersebut, mana di antara ketiganya yang paling kuat dorongannya.

Misalnya, jika ada diantara teman-teman diiming-imingi uang sejuta untuk berpuasa sehari maka teman-teman mungkin ada yang berpuasa, tapi ketika ada tawaran dikasih 5 juta sehari untuk ninggalin puasa sehari saja, maka bisa jadi puasanya ditinggalin. Itu artinya, kekuatan materi sangat mudah goyah tergantung seberapa besar ‘tawaran materi’ yang diberikan.

Jika seandainya para sahabat memikirkan motivasi materi atau fisikly tentu saja kondisi riil kesiapan pasukan perang badar kalah dengan kesiapan pasukan kafir quraisy. Tapi nyatanya, keadaan materi atau fisik tidak menjadi motivasi utama para sahabat untuk ikut andil berperang di perang Badar. Jumlah pasukan kaum muslimin saat itu  sekitar 300 orang melawan musuh yang jumlahnya 1000. Belum lagi dari sisi persenjataan sudah pasti kalah. Tapi justru sejarah mencatat, kaum muslimin menang di perang Badar.

Motivasi kedua berupa emotionaly yang sifatnya maknawiyah. Motivasi ini lebih tinggi kekuatannya dibanding yang pertama. Contohnya banyak teman-teman kita rela untuk berjubel daftar idol-idolan demi sebuah ketenaran, meski ada uang juga di situ, tapi motivasi terkuatnya adalah rasa ingin terkenal. Biasanya juga kalo mereka ditanya, apa alasannya ikut audisi semacam itu, karena ingin membahagiakan orang tua atau keluarga. Nah, itu yang dimaksud motivasi emosional atau maknawiyah, bentuk fisiknya nggak ada tapi bisa dirasakan, ketenaran dan kebanggaan.

Apakah ketenaran yang dicari oleh Rasulullah dan sahabat? Jika seandainya para sahabat itu hanya sekedar mencari ketenaran dalam puasa dan perang, tentu mereka minta nama-nama mereka diukir di batu prasasti. Tapi faktanya, memang bukan ketenaran yang memotivasi para sahabat untuk berperang, melainkan ada kekuatan yang lebih dari itu yang membuat sahabat berperang, yakni kekuatan yang ketiga, berupa kekuatan iman, aqidah Islam.

Kekuatan iman inilah yang memotivasi para sahabat Bilal bin Rabbah untuk keukeuh mempertahankan keislamannya meskipun harus disiksa oleh tuannnya Umayah bin Khalaf. Kekuatan aqidahlah yang membuat sahabat Mushab bin Umair rela bersusah-susah hidupnya meninggalkan kemewahan dan sokongan harta dari keluarganya.

Kekuatan iman pulalah sejarah mencatat, pada perang Tabuk, Utsman bin Affan menyumbang 300 ekor unta. Kalo dikonversi ke rupiah Indonesia, sapi qurban kelas terbaik harganya tidak kurang dari Rp 15 juta. yang pasti, harga unta lebih mahal dibandingkan sapi. Jika harganya dipatok Rp 20 juta saja, maka nilai 300 ekor unta tadi sekitar Rp 6 miliar. Wow fantastis gaes…

Contoh lain. Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits yang menggambarkan saat-saat setelah turunnya ayat perintah menutup aurat yang pertama, yaitu Surat An-Nuur ayat 31: “Bahwasannya ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Ketika turun ayat ‘..dan hendaklah mereka menutupkan “khumur” –kain kerudung- nya ke dada mereka..’ maka para wanita segera mengambil kain sarung, kemudian merobek sisinya dan memakainya sebagai hijab.” (HR. Bukhari)

Well, kekuatan apa yang bisa menggerakan itu semua, kalo bukan kekuatan iman. Para sahabat adalah generasi terbaik sepanjang sejarah, karena mereka dididik langsung oleh Rasulullah SAW dalam membangun iman yang kokoh. Maka kalo pengin memiliki semangat apa saja, termasuk fighting Ramadhan, rahasianya sudah kita ketahui bersama, nggak ada yang lain kecuali memiliki iman yang lurus nan kokoh. Memiliki iman yang seperti itu hanya dengan fighting spirit juga dalam thalabul ‘ilmi alias ngaji. Gimana, siap ngaji? #YukNgaji []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here