Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Jun 4, 2018 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 017. Semangat Ramadhan Tak Ada Matinya!

Buletin Teman Surga 017. Semangat Ramadhan Tak Ada Matinya!

buletin teman surga-017. semangat ramadhanBahagia atau Berduka? Dua rasa ini kerap menghinggapi perasaan umat Islam menjelang berakhirnya bulan suci Ramadhan. Kita nggak tahu ya, gimana perasaan kamu ditinggalin bulan berkah ini. Nggak lama lagi lho. Sudah masuk 10 hari terakhir. Bisa jadi ada yang bahagia lantaran bakal ketemu lebaran. Ada juga yang bersedih karena belum tentu bakal ketemu Ramadhan lagi tahun depan.

Kalo perasaan para shahabat Rasulullah sudah ketahuan. Ketika mereka memasuki detik-detik akhir penghujung Ramadhan, air mata mereka menetes. Hati mereka sedih.

Rasul juga mengingatkan kita, “Sekiranya umatku mengetahui kebajikan-kebajikan yang dikandung bulan Ramadhan, niscaya umatku mengharapkan Ramadhan terus ada “sepanjang tahun” (HR. Abu Ya’la, ath-Thabrani, dan ad-Dailami).

Gimana dengan perasaan kamu, bahagia atau berduka? 

Ramadhan Yang Ngangenin

Ini bukan bohongan lho. Kalo bulan Ramadhan selalu dikangenin kehadirannya. Karena di bulan ini kita punya kesempatan guede banget untuk mendongkrak tabungan pahala kita. Sekedar ngingetin, Coba simak cuplikan khotbah Rasulullah SAW tentang berbagai keutamaan bulan Ramadhan yang diriwayatkan Imam Ali R.A.

“Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah yang membawa berkah, rahmat, dan maghfirah, bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama, malam-malam di bulan Ramadhan adalah malam-malam yang paling utama, jam demi jamnya adalah jam yang paling utama.

“Lalu Amirulmukminin Ali bin Abi Thalib berdiri dan berkata: ‘Ya Rasulullah, amal apa yang paling utama di bulan ini.’ Rasul yang mulia menjawab, ‘Ya Abul Hasan, amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah SWT

“Inilah bulan yang ketika engkau diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Pada bulan ini napasmu menjadi tasbih, tidurmu menjadi ibadah, amal-amalmu diterima, dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah, Rab-mu dengan hati yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan saum dan membaca kitab-Nya. Sungguh celakalah orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah pada bulan yang agung ini.

“Siapa yang melakukan salat sunat di bulan Ramadhan, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barang siapa yang melakukan salat fardu, baginya ganjaran seperti 70 salat fardu di bulan yang lain.

“Barang siapa yang memperbanyak salawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barang siapa yang pada bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama dengan mengkhatamkan Al-Quran di bulan-bulan yang lain.”

Bener kan apa yang kita bilang. Banyak banget amal kebaikan yang berbuah pahala berlipat di bulan Ramadhan. Makanya sayang kalo kita cuman bengang-bengong nunggu bedug magrib dipukul. Meskipun tidurnya orang puasa berpahala, tetep aja masih lebih baik ikut kajian Islam, tilawah qur’an, atau menebar infak di jalanan. Jadi, jangan biarkan ramadhan cuman berakhir di pelaminan, eh tempat tidur. Rugi!

Keistimewaan bulan Ramadhan kerasa banget suasananya yang ngangenin. Di layar kaca, dari sahur sampe sahur lagi tak lepas dari nuansa religi yang menguatkan keimanan. Saban hari kita bisa simak tausiyah singkat dari para ulama populer menjelang berbuka. Kisah inspiratif khulafa’ur rasyidin dan animasi shahabat bisa memotivasi kita untuk lebih taat. Nggak ketinggalan, dokumenter tempat-tempat bersejarah kebudayaan Islam bikin kita makin mengenal ketinggian peradaban Islam.

Aroma religi di bulan Ramadhan juga tercium dalam rangkaian kegiatan rohani yang digelar sekolah, organisasi, atau di tempat kerja. Liburan Ramadhan dan waktu KBM yang dipersingkat banyak dimanfaatkan pihak sekolah untuk ngadain acara-acara islami yang full edukasi. Ada bazaar buku-buku Islam, pesantren kilat, atau berbagai kajian Islam yang mengupas tema-tema aktual dan menarik. Gencarnya kegiatan Islam semakin ngasih nilai lebih pada bulan mulia ini.

Kalo ngeliat berbagai keutamaan dan keseharian yang kita lewati selama Ramadhan, pastinya nggak rela kita berpisah dengan bulan berkah. Namun, waktu akan terus berganti setiap hari. Berlalunya Ramadhan nggak bisa kita tahan. Mendingan kita siapkan diri menghadapi tantangan pasca Ramadhan. Siap? 

Tantangan Pasca Ramadhan

Setelah Ramadhan berakhir, nuansa religi perlahan hilang ditelan bumi. Kehidupan sekuler kembali bergeliat dalam segala situasi dan kondisi. Tak ada lagi tausiyah penyejuk hati  yang jor-joran menemani kita setiap hari. Tak ada lagi kebersamaan dalam shalat tarawih yang selalu dinanti. Tak ada lagi acara berburu takjil menjelang berbuka setiap hari.

Udah nggak usah baperan. Kita harus terima kenyataan kalo nuansa ketaatan kala Ramadhan pasti tergantikan. Untuk itu, keistiqomahan kita akan diuji hasil penguatan pondasi keimanan selama Ramadhan.

Dalam berpakaian, aurat kembali diumbar tanpa sungkan. Menutup aurat tak lagi jadi keutamaan. Ketika hijab sekedar formalitas ramadhan, tak ragu mereka tanggalkan. Berganti baju mini super seksi, full press body, yang menggoda iman. Kita harus berani menundukkan pandangan dan mengalihkan perhatian meski tak ada pahala puasa yang dipertaruhkan. Karena ini bagian dari kewajiban.

Dalam pergaulan, cewek cowok kembali bebas berinteraksi. Tak ada batas yang selama ini mereka jaga selama berpuasa. Budaya pacaran terus merajalela. Meski bilangnya cuman temenan, para aktifis pacaran tapi tak sungkan mengumbar kemesraan. Padahal selama Ramadhan, mereka sudah jaga jarak mati-matian. Biar pahala puasanya aman. Kita juga berharap mereka insyaf dan berani memutuskan untuk mengakhiri hubungan. Tapi kenyataannya, banyak yang nggak tahan dan lagi-lagi terjerumus dalam jurang kemaksiatan. Tugas kita untuk selalu mengingatkan.

Kalo ngotot dengan ketaatan, predikat pejabat alias pemuda jaman batu siap dikalungkan di leher kita. Konsisten dengan ketaatan dianggap ketinggalan jaman. Nggak heran kalo banyak remaja muslim yang rela menggadaikan idealismenya biar dianggap gaul dan diterima oleh kawan-kawan.

Sahabat, selain tekad yang kuat saat menghadapi tantangan pasca ramadahan kayanya perasaan juga kudu dijinakkan deh biar ketaatan yang kita bangun tetep terjaga. Bukan apa-apa. Soalnya perasaan sering ditunggangi hawa nafsu. Rasanya terkucil kalo kudu jaga jarak dalam pergaulan dengan lawan jenis. Rasanya sayang kalo waktu kita lebih banyak dipake untuk ngaji atau dakwah dibanding ngerjain tugas sekolah. Makanya rasul mengingatkan kita dalam sabdanya: 

“Tidaklah beriman salah seorang diantara kamu sebelum memperturutkan hawa nafsunya kepada apa yang aku bawa ini.” (HR. Imam Nawawi)

 

Kunci Istiqomah Pasca Ramadhan

Seorang Sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, ajarilah aku dari Islam ini suatu ucapan yang mana aku tidak perlu lagi bertanya tentang hal itu kepada orang lain setelah engkau.”

Beliau menjawab, “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian beristiqamahlah!” (HR Ahmad).

Secara bahasa, istiqamah itu artinya menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) tanpa berpaling ke kiri maupun ke kanan. Istiqamah mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan kepada Allah SWT, lahir dan batin; meninggalkan semua bentuk larangan-Nya.

Rasulullah saw. ngasih kabar gembira bagi kita-kita yang selalu bersabar dan tetep istiqomah. Sabda beliau:

“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang memerlukan kesabaran. Kesabaran pada masa-masa itu bagaikan memegang bara api. Bagi orang yang mengerjakan suatu amalan pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan semisal amalan itu. Ada yang berkata,’Hai Rasululah, apakah itu pahala lima puluh di antara mereka?” Rasululah saw. menjawab,”Bahkan lima puluh orang di antara kalian (para shahabat).” (HR Abu Dawud, dengan sanad hasan)

Allah swt bakal ngejamin kebaikan bagi yang berani istiqomah. Seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Robb kami ialah Allah” kemudian mereka beristiqomah (meneguhkan pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (QS. Fushshilat [41]: 30).

Lantas, bagaimana caranya agar kita tetap istiqomah dalam ketaatan pasca Ramadhan?

Pertama, banyak berpikir. Para sahabat, generasi awal kaum Muslimin yang berhasil dididik Rasulullah saw. mengaitkan aktivitas berpikir dengan keimanan. Mereka menjelaskan bahwa, “Cahaya dan sinar iman adalah banyak berpikir” (Kitab ad-Durrul Mantsur, Jilid II, hlm. 409). Semakin kita banyak berpikir tentang kebesaran Allah swt dan mengkaji Islam lebih dalam, lambat laun cahaya keimanan kita akan semakin bersinar. Makanya ikut ngaji.

Kedua, perbanyak ibadah dan jauhi maksiat. Rasul pernah bilang, “iman itu kadang bertambah dan kadang berkurang”. Rasul juga bilang, “iman bertambah dengan taat, dan iman bekurang dengan maksiat”. Makanya kita kudu getol beribadah, baik yang sunat apalagi yang wajib. Dan jangan lupa, jauhi pelaku maksiat juga tempat maksiat. Biar kita nggak kebawa-bawa sesat.

Ketiga, bergaul dengan orang-orang alim. Perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh teman dekatnya. Makanya, sering-sering deh ngumpul dengan teman yang bisa mengajak kita untuk tetap taat dan mengingatkan kita agar jauh dari maksiat. Dengan begitu, tanki semangat kita untuk istiqomah selalu terisi penuh.

Keempat: Banyak menjalankan amal-amal yang sunnah—seperti shalat malam, shaum sunnah, dll—selain tentu konsisten dalam menjalankan berbagai kewajiban. Di bulan syawal, jangan lupa untuk berpuasa sunnah 6 hari untuk melengkapi shaum Ramadhan kita.

Dari Abu Ayyub Al Anshori, Rosululloh bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Romadhon kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.”(HR. Muslim no. 1164).

Kelima: Membaca kisah-kisah orang shalih terdahulu sehingga bisa dijadikan teladan dalam beristiqamah.

Keenam: Memperbanyak doa kepada Allah SWT agar diberi keistiqamahan. Allah SWT memuji orang-orang yang beriman yang selalu berdoa kepada-Nya untuk meminta keteguhan iman ketika menghadapi ujian. Doa yang paling sering Nabi saw. panjatkan adalah:

يا مقلب القلوب، ثبت قلبي على دينك.

(Duhai Zat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” (HR at-Tirmidzi).

Emang nggak mudah menjaga semangat Ramadhan setiap bulan. Istiqomah menjadikan ridho Allah swt di atas pertimbangan materi, kepentingan keluarga, atau solidaritas teman. Tapi percaya deh, Allah swt pasti akan mengganti setiap pengorbanan kita dengan kebaikan dunia akhirat. Meski Ramadhan sudah berlalu, ketaatan selalu bersemayam dalam kalbu. Karena semangat Ramadhan,nggak ada matinya! []

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *