Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Jul 10, 2018 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 019. Back To School

Buletin Teman Surga 019. Back To School

Buletin Teman Surga 019. back to schoolSetelah libur kenaikan kelas ditambah libur lebaran, rasanya lama bangets ya nggak ngebau bangku sekolah, hehehe… Sudah ada yang kangen pengin ketemu teman-temannya? Atau masih ada yang ngerasa kurang liburan panjangnya? Wah, kalo masih ada yang merasa kurang liburannya, kayaknya keenakan banget ya liburan panjangnya?!

Yuk, balik maning ke sekolah, kembali lagi beraktivitas layaknya pelajar. Berjibaku dengan buku-buku pelajaran, sibuk mengerjakan PR yang dikerjakan di rumah, karena namanya PR –pekerjaan rumah-, bukan pekerjaan sekolah, jadi jangan dikerjakannya pas di sekolah ya.

Then, selamat buat kamu yang tahun ajaran ini, jadi siswa baru, baik di SMP maupun SMA. Buletin kesayanganmu ini, mau menemani hari-hari back to school. Yuk cekidot!

Back To School, Back To Mikir

Yupz, mikir alias berpikir adalah aktivitas ‘wajib’ manusia, wa bil khusus di sekolah, aktivitas mikir itu jadi lebih banyak porsinya. Mikirin pelajaran sekolah, mikir gimana pelajaran itu bisa jadi bekal hidup kita, mikir gimana supaya pelajaran-pelajaran, utamanya pelajaran yang sifatnya afektif untuk bisa kita praktikin di kehidupan sehari-hari.

Aktivitas berpikir hanya dimiliki oleh mahluk Allah bernama manusia, tidak dengan hewan maupun tumbuhan. Dengan aktivitas berpikir itulah, manusia jadi lebih mulia daripada hewan, meski sama-sama dalam kepala sebagian hewan ada yang namanya otak. Sawangsulna alias kebalikannya, ketika manusia nggak menggunakan dengan baik potensi berpikir, maka manusia sederajat atau bahkan lebih rendah dari hewan. Allah SWT sampaikan dalam firman-Nya:

“”Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”(QS. Al-A’raaf: 179)

Di banyak ayat dalam Al-Qur’an nggak sedikit sinonim yang mengajak manusia untuk berpikir atawa menggunakan akalnya. Seperti kata “َفَلَا تْعقِلُونَ‏ / أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ”

Itu artinya, berpikir nggak bisa dilepaskaitkan dengan aktivitas manusia. Nah, ketika kita di sekolah atau sedang sekolah, aktivitas berpikir ini menjadikan kita harusnya terlatih. Bukan berarti yang nggak sekolah, atau pas liburan, kita nggak berpikir, bukan begitu maksudnya. Tapi, sebagai manusia, wa bil khusus pelajar, aktivitas berpikir nggak boleh kita tinggalin.

Malas berpikir adalah ciri generasi instan, generasi yang maunya serba cepet, atawa cepet saji, kayak mie instan. Jangan mau jadi generasi seperti itu. Sebab itu bukan hanya merugikan diri sendiri, tapi juga merupakan tanda buruknya generasi suatu bangsa.

Tapi walaupun memang kudu terus berpikir, bukan berarti menjadikan akal segala-galanya, kemudian menuhankan sains, dan malah kufur terhadap ayat-ayat Allah. Seorang muslim, ketika diperintah oleh Allah untuk berpikir, justru digunakannya untuk berpikir tentang keberadaan Allah. Seorang muslim dengan akidahnya yang lurus, dengan aktivitas berpikir justru akan makin yakin bahwa Allah adalah Sang Khalik, satu-satunya yang layak disembah.

Manusia adalah mahluk, segala yang sifatnya mahluk memilliki kelemahanan, pun dengan yang namanya akal (baca: otak) manusia. Maka, nggak layak sama sekali, kita dikasih akal untuk berpikir sama Allah, lalu malah kufur terhadap Allah. Naudzubillah min dzalik!

Manage Your Time, Manage Your Future

Aktiitas penting kedua yang kudu jadi perhatian, saat kita sudah balik lagi ke sekolah adalah aktivitas memanfaatkan waktu. Ya, jadi sekali lagi tulisan ini semacam reminder aja, kalo selama ini sudah memanfaatkan waktunya dengan baik, maka semakin terpicu untuk lebih baik. Bukan berarti, di luar sekolah, di waktu liburan kita nggak memenej waktu kita. Tetap aja, di manapun kita berada kita tetap kudu memenej hari-hari kita dengan baik.

Ya, kebiasaan buruk alias bad habits kebanyakan kita adalah menelantarkan waktu, bahkan saking ekstrimnya bisa disebut ‘wasting time’, jadi waktu itu terbuang ibarat ngebuang sampah. Duuuuh, jangan sampe terulang seperti itu ya guys. Sebagai anak muda, yang masih berstatus pelajar, waktu ini kudu kita manfaatkan dengan baik. Kayak gimana sih memanfaatkan waktu dengan baik itu?

Pertama, kita kudu tahu, ngeh bin paham mana aktivitas yang wajib, sunnah, mubah, haram dan makruh. Artinya, untuk aktivitas yang hukumnya haram dan makruh sudah jelas, waktu kita nggak sama sekali kita pergunakan di sana. Untuk aktivitas yang hukumnya mubah, maka kita juga kudu buru-buru untuk ninggalin, apalagi kalo aktivitas mubah itu bisa melenakan atau malah mengabaikan yang wajib dan sunnah.

Misalnya, kamu rajin main aplikasi bodoh alias tik-tok yang jelas nggak ada manfaatnya, goyangin dua jari nggak jelas tujuannya, trus di-uplod di instagram. Itu jelas-jelas aktivitas wasting time, atau junk time yang nggak ada ngaruhnya buat masa depanmu. Padahal, masih banyak aktivitas wajib (fardhu) dan sunnah yang belum kita kerjakan. Kalo pun, sudah ngelakuin yang wajib dan sunnah, maka main tik-tok nggak perlu ada dalam daftar waktu kita.

Bener memang nggak sepenuhnya salah tik-tok, dia hanya produk teknologi. Sebelumnya sudah ada produk yang nggak kalah merampok waktu kita, sebut saja ‘mobil legend’. Dan bisa jadi kedepan bakal ada banyak aplikasi macam itu yang bisa mencuri waktu kita. Maka, kuncinya ada di kita yang memanfaatkan teknologi tersebut. Gadget kita itu terserah kita, mau kita install aplikasi apa terserah pilihan kita. Nah, jangan sampe kita install aplikasi-aplikasi yang nggak ngaruh buat masa depan kita.

Kedua, soal memenej waktu, cobalah mulai sekarang untuk berpikir tentang masa depan. Kalo man-teman sudah mulai semenjak sekarang berpikir tentang masa depan, itu artinya persiapannya akan lebih matang, dibandingkan oleh orang-orang tua kita dahulu.

Mikirin masa depan itu nggak melulu soal nanti mau nikah sama siapa, mau punya isteri kayak gimana. Bukan, kayak gitu. Tapi mikirin masa depan itu, seenggaknya ada dalam benak kita berpikir tentang “Gue mau jadi apa, di masa depan”. Setidaknya, kalo kita sudah berpikir kayak gitu, maka kita pasti hati-hati tuh, mengisi waktu atau hari-hari kita. Kita juga hati-hati bangets mau berteman dengan siapa. Trus, juga kita bakal berpikir, kira-kira bekal apa saja yang kudu kita persiapan untuk menuju masa depan tersebut.

Ya, semacam kita berpikir tentang cita-cita, tapi ini lebih dalam dari itu. Sebab kalo cita-cita, mungkin mentoknya kita kerja jadi apa, gajinya berapa, dan sebagainya. Tapi, kalo mikir masa depan ini maksudnya, bahwa jangan sampe masa depan kita kelak gak ada manfaatnya buat Islam dan umat. Yes, kita harus mulai berpikir ‘kontribusi apa yang bisa gue berikan untuk Islam’.

Coba sedikit renungkan, ketika kita yang di sini bisa senang-senang jejingkrakan, makan dengan lauk yang sedap, bisa main bola dengan gembira, tidur pun dengan pulas bahkan kadang terlelap nggak sempat bangun untuk qiyamul lail. Tapi, coba bayangkan dengan saudara kita di Palestina, yang seumuran dengan kita, apakah mereka bisa menikmati ‘fasilitas’ hidup layaknya kita? Enggak, teman-teman. Mereka, kadang tidur harus terganggu dengan desingan peluru, hampir tiap hari mereka harus melakukan perlawanan, meskipun hanya dengan batu melawan tentara-tentara Israel.

Bayangin, kira-kira masa depan mereka seperti apa, mereka aja kagak kebayang. Mungkin yang ada dalam benak mereka, hari ini mereka bisa makan, esok hari tetap harus melakukan perlawanan, kalo “beruntung” esok masih hidup, kalo nggak, berarti mereka telah syahid di jalan Allah. Allahu Akbar! Itulah remaja-remaja Palestina, lah remaja-remaji kita di sini?!

Well, jangan perburuk keadaan kaum muslimin, dengan kita tidak ikut memikirkan kontribusi apa yang kita bisa berikan buat masa depan Islam.

Upgrade Your Tsaqofah

Kemudian bagian berikutnya, yang juga harus jadi bahan pemikiran kita ketika sudah balik ke sekolah adalah menambah pundi-pundi tsaqofah Islam kita. Sebab, dengan sudah masuknya lagi kita ke sekolah itu artinya, digit usia kita nambah dong, nah mau nggak mau, tsaqofah Islam kita juga kudu nambah. Tsaqofah Islam kita itulah bekal kedewasaan kita. Jangan biarkan kedewasaan kita berlalu begitu saja, nggak kita barengin dengan tsaqofah Islam.

Setidaknya ada 2 alasan penting, kenapa bertambahnya usia kita, kudu kita barengin dengan nambahnya tsaqofah kita. Pertama, semakin dewasa kita itu artinya kita baligh, pada saat sudah baligh maka tentu saja, aktivitas yang kita lakukan sudah harus kita pertanggungjawabkan sendiri. Artinya, kita sudah mukallaf (orang yang terbebani hukum).

Kalo kita banyak ngelakuin hal salah (baca: dosa), di saat kita sudah baligh maka kelak di hadapan Allah akan kita pertanggungjawabkan. Oleh karenanya, dengan memperbanyak tsaqofah (pengetahuan dan pemahaman Islam), kita akan banyak tahu konsekuensi-konsekuensi hukum mana yang kita harus jauhi, mana perbuatan yang justru harus banyak dan segera kita kerjakan.

Nah, berbeda keadaanya kalo kita nggak memperbanyak tsaqofah, kita bisa jadi malah banyak ngelakuin hal salah, atau malah sering mengabaikan perkara yang harusnya wajib kita kerjakan sebagai muslim. Berdakwah misalnya, adalah aktivitas wajib yang selama ini nggak banyak kita kerjakan, gara-gara kita nggak tahu, kalo dakwah itu wajib, seperti wajibnya sholat, zakat, puasa ataupun haji.

Kedua, dengan kita memiliki banyak tsaqofah maka kita dengan sengaja telah membangun benteng diri kita dari hal-hal yang tidak bermanfaat, dari hal-hal yang merusak diri kita maupun merusak Islam. Ya, dengan memiliki tsaqofah yang cukup, kita tidak akan mudah terbawa arus, pergaulan yang nggak Islami misalnya. Sebaliknya, kita malah berani melawan arus, memberi contoh pergaulan yang syar’i kepada teman-teman kita.

Pun, ketika saat sekarang banyak pihak menuduh Islam sebagai sumber radikalisme, maka kalo kita memiliki tsaqofah yang mumpuni, akan bisa sikapi dengan benar, serangan tersebut, seraya menyampaikan opini yang lurus tentang Islam. Bayangin, kalo kita nggak banyak memiliki tsaqofah Islam, maka tentu saja kita mudah terombang-ambing arus opini, akan mudah mencaci saudara sendiri, hanya gegara gagal paham soal Islam.

Nah, makanya perlu bin penting, untuk segera mengupgrade tsaqofah Islam kita. Di sekolah, tentu saja nggak cukup untuk bisa mendapatkan luasnya tsaqofah Islam tersebut. Maka, mau nggak mau, kita kudu semangat menjadi pemburu kajian-kajian tsaqofah Islam itu di luar sekolah. Tidak usah takut atau ragu, selama yang disampaikan itu bersumber dari wahyu Allah, datangi dan ikuti majelis-majelis taklim tersebut.

Opini yang mengarahkan anak-anak muda untuk menjauhi rohis, menjauhi majelis-majelis taklim itu hanya opini yang menjadikan generasi muda jauh dari Islam, dan selanjutnya mereka akan mengisi dengan pemahaman-pemahaman, yang malah justru berbahaya dan bisa jadi bertentangan dengan Islam. So, yuk ngaji, jangan tunggu nanti, dan nggak pake kata ‘tapi’! []

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *