Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Aug 1, 2018 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 022. Zonasi Jangan Bikin Hibernasi

Buletin Teman Surga 022. Zonasi Jangan Bikin Hibernasi

Buletin Teman Surga-022. zonasi pendidikanBeberapa waktu lalu dunia medsos dihebohkan oleh aksi remaja bernama Bowo Alpenliebe yang viral dengan tik tok-nya dan Nurrani yang viral karna “syantik”-nya. Bowo dan Nurrani effects pun menjangkiti para remaja yang krisis identitas. Ngga beres di situ, jagat instagram pun ramai oleh aksi challenge yang wush.. bagai ditiup angin tornado ngga berapa lama challenge itu pun viral di Indonesia. Aksi yang dinamakan kiki challenge atau in my feelings challenge ini pertama kali dipopulerkan oleh kreator asal Amerika Serikat. Aksi ini dilakukan oleh seseorang yang keluar dari mobil lalu berjoget beriringan dengan mobil yang sedang melaju perlahan mengikuti irama lagu.

Namun, aksi yang kebanyakan dilakukan di jalan raya ini tak sedikit yang malah mengundang bahaya seperti kecelakaan. Hadoohh.. kalo yang beginian aja cepet banget viral dan ditirunya. Padahal, kalo diliat ngga ada faedahnya juga. Yaahh.. alasan mereka sih katanya buat seru seruan. Come on guys, ngga semua juga yang lagi viral langsung kamu tiru mentah-mentah, apalagi kalo diliat gerakan yang ditiru kaum perempuan ini memperlihatkan lekuk tubuhnya. Aurat sist.. aurat…

Zonasi yang Membatasi

Kenapa yah, sesuatu yang sebenarnya gak guna bahkan lebay lebih cepat hits dan viralnya dibanding sesuatu yang kasih inspirasi positif? Segitu darurat-kah krisis identitas generasi muda di negeri ini? Dan se-instan itukah cara berpikir mereka? Di kala remaja lain harus bertarung nyawa hanya untuk sekedar menimba ilmu, melintasi jembatan gantung yang sudah roboh bahkan harus berjuang menyebrangi sungai yang terkadang deras. Tapi itu semua tak menyurutkan semangat mereka untuk menerangi kehidupan masa depanya dari kondisi mereka yang masih papa. Inilah potret yang tak seimbang, akibat pemerintah yang transaksional, di mana rakyat dan pemimpin bertransaksi layaknya penjual dan pembeli. What the maksud? Gini loh TemanS, for your information, di dalam Islam Pemimpin itu wajib mengurusi urusan umat dengan baik sesuai tuntunan dari Allah. Melayani segala kebutuhan hidup seluruh masyarakatnya dengan memberikan yang terbaik. And you know what, Negara ngga hanya memenuhi kebutuhan mendasar berupa sandang, pangan, papan aja loh tapi kesehatan termasuk pendidikan juga menjadi hal mendasar yang wajib Negara fasilitasi tanpa perlu kompensasi apapun dari rakyatnya alias free. Koq bisa free? Duit dari mana negara pasti pajaknya guede ya??

Eitss… it’s big wrong friends, justru beda sama negara kapitalis yang jadiin pajak sebagai sumber pendapatan utamanya kalo dalam Islam pendapatan utama negara dari pengelolaan sumber daya alam. Makanya Islam ngga nge-bolehin tuh siapapun memiliki sumber daya alam secara pribadi. Ngga kayak sekarang yah, tambang minyak dan gas, batu bara, emas, sumber mata air, gunung, laut dan SDA lainnya malah dimiliki dan dikuasa perorangan, sebagian besarnya dimiliki asing. So, that’s why hanya untuk sekedar menyambung hidup saja kita harus bayar (mahal). Apalagi buat sekolah, buat makan aja sulit. Ngga berlebihan dund kalo kita bilang negeri ini masih punya PR besar untuk mensejahterakan rakyatnya termasuk memberikan pendidikan terbaik dan berkualitas.

Ups, jadi ngomongin pendidikan gini nih. Hhmm,, ngga apa-apa lah yaa.. secara yang lagi baca buletin keren ini pasti kamu-kamu yang lagi nikmatin “bangku sekolahan” kan? Yah kalo pun ngga, siapapun anda pasti anda adalah orang yang peduli terhadap generasi. Ya kan, ya kaaan??. By the way, ngomongin pendidikan meski sekarang bukan hari pendidikan. Sepertinya Negeri ini belum punya sistem pendidikan yang ajeg (tetap}. Ganti menteri ganti pula sistemnya. Berubah terus mencari konsep pendidikan yang ideal, karna perubahan demi perubahan belum juga berbanding lurus dengan hasil yang diharapkan. Gimana nih, kamu kamu yang jadi objek pendidikan ngerasain gak? Mungkin karna ini juga yah banyak lahir generasi galau hehehe..

Oiya TemanS, tau gak kalo sekarang ini dunia pendidikan lagi ramai dengan pro dan kontra dari kebijakan yang diterapkan Pemerintah melalui Menteri Pendidikan Bpk. Muhajir Effendi? Kebijakan tersebut menetapkan sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) walaupun hal ini sudah diwacanakan dan diterapkan dari dua tahun lalu. Menurutnya kebijakan ini diambil Pemerintah dalam rangka peningkatan mutu dan akses pendidikan bagi semua kalangan. Wait..wait.. kayanya masih ada yang mengernyitkan dahi nih… belum paham apa itu sistem zonasi. Jadi gini lho.. Teman Surga yang sholih dan sholihah.  Kalau sebelumnya penerimaan siswa baru berdasarkan Nilai UN, dan ini katanya menimbulkan ketidakmerataan pendidikan di mana murid-murid pintar bertumpuk di satu sekolah unggulan makanya muncul deh sekolah favorit dan sekolah biasa (ngga favorit). Nah.. dari sini akhirnya Pemerintah men-zonasi siswa yang mendaftar menjadi siswa atau peserta didik baru dengan melihat jarak terdekat antara sekolah dengan tempat tinggal siswa tersebut.

Ayooo… menurut TemanS-TemanS gimana nih dengan sistem zonasi yang diterapkan Pemerintah ini? Di satu sisi maksud Pemerintah ingin mewujudkan pendidikan yang berkeadilan namun masih ada yang bersuara bahwa cara ini ngga adil. Ngga adilnya? Ya..itu, siapa sih yang ngga mau bersekolah di sekolah yang unggulan apalagi kalo dia juga berprestasi tapi ternyata siswa ini terpaksa harus bersekolah di sekolah yang biasa dengan fasilitas yang masih minim hanya karna di dekat rumahnya ngga ada sekolah yang terkategori unggulan. Dan, berkebalikan jika ada siswa yang biasa aja dalam akademiknya bahkan cenderung bersekolah hanya untuk formalitas doang, bahkan keinginan punya prestasi juga ngga tapi hanya karna rumahnya berdekatan dengan zona sekolah yang unggulan maka dia bisa melenggang mulus masuk sekolah tersebut. Hal ini yang pada akhirnya banyak orang tua dan siswa menjadi resah dan gelisah menunggu di sini.. eh, kok jadi malah nyanyi hehe.. tapi beneran resah loh, gimana orang tua ngga resah kalo anaknya sampe ada yang mau bunuh diri karna ngga diterima di sekolah favorit yang dia inginkan. Waduh..waduhh.. don’t try this ya TemanS.. yah, mungkin Pemerintah melalui Departemen Pendidikan perlu mengevaluasi sistem ini selain akhirnya banyak muncul juga kecurangan-kecurangan yang tetap saja terjadi. Apalagi sampe memunculkan pikiran yang keliru dari para siswa, “ngapain belajar dan dapet nilai bagus kalo akhirnya masuk sekolah yang bukan unggulan”. Cup..cup..cup.. jangan punya pikiran gitu yaa TemanS.

Hmm.. seandainya sebagai anak bangsa boleh bersuara nih, kalo maksud hati Pak Menteri menghilangkan stigma sekolah favorit (unggulan) dan sekolah biasa biar membaur anak-anak yang pinter sama yang biasa-biasa aja. Gimana kalau Pemerintah membangun terlebih dulu sekolah negeri dengan kurikulum dan guru (pendididk) yang berkualitas plus fasilitas teratas dan tentunya gratisss? Hhmm.. sampe sini mungkin Pemerintah agak tarik nafas dulu deh, secara konsep demi konsep yang diberlakukan masih belum jua menemukan kurikulum ideal nan berkualitas buktinya masih lebih banyak generasi yang krisis identitas lho pak dibanding yang smart dan beridentitas. Kalaupun mungkin sebenarnya ngga sedikit remaja yang berkualitas tapi mereka ngga lebih di-viralkan dibandingkan sama yang alay-alay. Hyks.. sedihnyaa..

Wajib Belajar itu Karna Allah

Ok, let’s take a breath friends.. bicara soal pendidikan input dan output. Islam sebagai agama sekaligus sistem kehidupan yang paripurna, memiliki konsep dan sistem pendidikan yang numero uno di dunia lho friends terbukti banyak terlahir generasi emas yaitu para ilmuwan yang memberikan banyak sumbangsih bagi kemajuan dunia. Dari mulai kurikulumnya yang bukan hanya melahirkan generasi smart tapi juga memiliki identitas khas sebagai seorang muslim. Dengan kurikulum Islam ini dijamin deh ngga bakalan lahir generasi alay, generasi galau, generasi pembebek. Trus untuk urusan fasilitas dan infrastruktur ngga usah tanya pasti dikasih yang terbaik, tercanggih dan termutakhir. Pokoknya bikin kita-kita semangat untuk menuntut ilmu. Gimana TemanS mau aja apa mau pake bingits? Dan pendidikan ideal seperti ini hanya bisa kita dapatkan dengan cara menerapkan sistem kehidupan yang ideal dan paripurna apalagi kalo bukan sistem yang diturunkan oleh Yang Maha Segala-galanya, Allah Ta’ala. Karna kalo hanya pendidikannya saja Islam sedang tata pergaulannya Sekuler-Liberal tetep aja akan susah melahirkan generasi cemerlang, generasi Smart with Islam.

Ok fine, kalo untuk pendidikan (Islam) yang kita idam-idamkan masih harus terus kita perjuangkan. Sekarang buat kamu kamu yang mau ngga mau manut sama sistem zonasi ini jangan sampe kamu ter”hibernasi” apalagi bikin kamu shut down.. tetap semangat belajar karna gimana juga menuntut ilmu itu W.A.J.I.B. Dan kalau pada akhirnya kamu harus bersekolah di sekolah yang bukan jadi harapan kamu (sekolah unggulan) yang harus kamu ingat adalah bahwa bisa jadi ada hikmah baik yang akan kamu dapatkan misal dapet sahabat yang bisa bawa kamu ke surga, atau mempermudah kamu untuk dapetin hidayah hijrah menjadi the trully muslim/muslimah. So, di manapun kamu belajar jadikan ridho Allah sebagai hal utama yang kamu kejar, setiap ilmu bermanfaat yang kamu dapatkan membawa kamu menjadi manusia yang lebih bertaqwa, dan jadikan prestasi yang kamu raih sebagai wasilah bukan hanya untuk membanggakan orang tua tapi juga menjadi syi’ar bahwa menjadi seorang remaja muslim juga bisa berprestasi bahkan bukan saja bisa tapi HARUS. Karna Remaja muslim yang keren itu yang berprestasi bukan yang bersensasi. HAMASAH!! []

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *