Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Aug 7, 2018 in Buletin Teman Surga, Headline | 2 comments

Buletin Teman Surga 023. Siapa Pahlawan Favoritmu?

Buletin Teman Surga-023. pahlawanMasuk bulan Agustus, suasana perayaan kemerdekaan di negeri ini mulai kerasa. Apalagi ngeliat para pedagang bendera dengan beragam pernak-pernik bendera yang bukalapak di pinggir jalan, makin kebayang aja semangat perjuangannya. Bukan perjuangan mereka yang memanjat pohon pinang yang dilumuri oli demi meraih banyak hadiah di puncaknya. Bukan juga perjuangan bapak-bapak yang main bola pakai daster lengkap dengan gincu dan blush on di wajahnya. Bukan itu.

Tapi semangat perjuangan para pahlawan yang mengorbankan jiwa raga untuk meraih dan mempertahankan kemerdekaan. Semangat pantang menyerah melawan penjajah yang tak lekang oleh waktu. Tanpa kegigihan mereka, bisa jadi saat ini negeri kita belum merdeka. 

Pahlawan Fiktif Semakin Massif

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani. Kalo generasi milenial sekarang ditanya ‘siapa sosok pahlawan yang kamu kagumi?’ Sepertinya kebanyakan langsung menyebutkan tokoh-tokoh superhero yang lagi pada nge-hits di layar lebar. Dari mulai yang ukuran kecil seperti Ant-Man and the Wasp atau super besar seperti The Incredible Hulk.

Nggak heran sih. Tayangan pahlawan fiktif secara masif diproduksi para produser film Eropa. Mereka berlomba-lomba mengangkat tokoh-tokoh komik besutan Marvel Comics atau DC Comics ke layar lebar. Dua penerbit buku Amerika ini yang mendominasi figur-figur para pahlawan di benak generasi milenial.

Siapa yang nggak kenal karakter-karakter komik populer seperti Captain America, Spider-Man, Iron Man, Hulk, Thor, Black Widow, Doctor Strange, Daredevil, Wolverine dan Ant-Man. Mereka semua adalah karakter komik superhero ciptaan Marvel Comics.

Nggak ketinggalan jagoan lainnya seperti Superman, Batman, Wonder Woman, Green Lantern, Flash, Swamp Thing, Aquaman, Hawkman,  Supergirl, atau Cyborg. Kalo jagoan-jagoan ini diciptakan oleh DC Comics, Inc.

Boleh aja kamu kagum pada tokoh-tokoh komik populer di atas. Tapi ingat, para superhero itu semua adalah fiktif alias tidak nyata dan nggak ada di dunia. Itu artinya, segala kehebatan dan aksi-aksi heroik mereka hanya rekaan semata. Apalagi kalo diangkat ke layar lebar, banyak dibantu kecanggihan teknologi Computer Generated Imagery alias CGI yang menghasilkan spesial efek yang menakjubkan. Jadi, jangan dibawa serius kepahlawanan mereka.  Cuman film kok.

Untuk itu, kita yang bisa membedakan dunia imajinasi dan dunia nyata, jangan keliru memposisikan sosok pahlawan. Bukan para tokoh komik itu yang jadi teladan. Tapi para pahlawan yang bener-bener berjuang untuk meraih dan mempertahankan negeri kita. Atau para tokoh-tokoh Islam yang berjuang menyebarkan dakwah Islam hingga ke seluruh dunia. Itu baru pahlawan.

 

Para Ulama, Bebaskan Negeri

Tak hanya menjadi agama mayoritas di negeri kita, Islam juga mengambil peran penting dalam kemerdekaan negeri ini. Banyak pejuang kemerdekaan yang berstatus sebagai ulama dan dikenal sebagai tokoh pahlawan nasional. Sayangnya, hanya gelar kedua saja yang lebih populer dan dikenalkan dalam pelajaran sejarah. Peran mereka sebagai pengemban dakwah, jarang disinggung. Padahal sebagian besar mereka merupakan para santri bahkan kyai. Mereka ini yang patut kita teladani. 

Pangeran Diponegoro (1785 – 1855)

Sang panglima perang Diponegoro yang ternama ini merupakan seorang kyai ternama di daerah tempat tinggalnya, Tegalrejo. Ia yang lahir sebagai putra keraton Yogyakarta ini memilih menghindari politik dan menjadi penasihat agama di tengah masyarakat.

Bagi Pangeran Diponegoro, perang melawan penjajah Belanda merupakan sebuah jihad. Pahlawan nasional yang memiliki nama asli Bendara Raden Mas Antarwirya tersebut pernah menyatakan bahwa perlawanannya terhadap penjajah adalah perang sabil, yakni perlawanan menghadapi kaum kafir. Karena itu, terjadilah Perang Diponegoro yang juga dikenal dengan sebutan Perang Jawa yang berlangsung selama lima tahun (1825-1830) .

Cut Nyak Dien (1848 – 1908)

“Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid,” demikian ucapan Cut Nyak Dien kepada putrinya, saat Teuku Umar, suami yang juga pahlawan nasional meninggal dunia. Bersama sang suami dan rakyat Aceh, Cut Nyak Dien berjihad mengusir Belanda dari Serambi Makkah.

Cut Nyak Dien merupakan wanita aceh yang mendapat pendidikan agama yang baik dari keluarganya. Tak hanya dikenal sebagai bangsawan, keluarga Cut Nyak Dien juga dikenal sebagai keluarga ulama yang disegani. 

Tuanku Imam Bonjol (1772 – 1864)

Nama aslinya Muhammad Shahab, merupakan seorang ulama Minangkabau kelahiran Bonjol, Sumatera Barat. Bersorban dan berjenggot lebat cukuplah menggambarkan kharismatik pemimpin Perang Paderi ini. Gelarnya sebagai imam pun tak dapat dipungkiri bahwa beliau merupakan seorang ulama besar. Siapa sangka sang ulama justru mengambil peran besar di kancah peperangan melawan penjajah di Perang Padri pada tahun 1803-1838 yang sangat bersejarah itu.

Selain ketiga pahlawan nasional di atas, masih banyak pejuang dari kalangan ulama yang aktif dalam perlawanan terhadap penjajah di negeri khatulistiwa. Sebut saja Bung Tomo (1920 – 1981), sang pemimpin pertempuran Surabaya 10 November 1945. Atau KH. Ahmad Dahlan (1868 – 1923) pendiri Muhammadiyah dan KH. Hasyim Asy’ari (1871 – 1947) pendiri Nadhatul Ulama.

Coba deh baca masing-masing kisah inspiratif para pejuang di atas. Kita akan menemukan banyak sekali hikmah dan pelajaran kehidupan yang berlimpah. Semoga menginspirasi kita-kita yang berjiwa muda untuk lebih menghargai waktu dan kesempatan menimba ilmu. Sehingga kelak jadi orang-orang yang bermanfaat. Seperti mereka. 

Para Pahlawan Penyebaran Islam

Belum lengkap rasanya kalo kita bicara sosok pahlawan tanpa menyertakan tokoh-tokoh pejuang yang telah menorehkan tinta emas dalam sejarah ketinggian peradaban Islam. Berikut beberapa di antaranya.

Muhammad al-Fatih (1432 – 1481)

Ia memegang kekuasaan Utsmani pada tahun 855 H/1451 M dan berhasil menaklukkan Konstantinopel pada tahun 857 H/1453 M. Ia memegang kekuasaan selama 30 tahun.

Selain digelari dengan al-Fatih, ia juga disebut dengan Kaisar Romawi, karena mewarisi kerajaan Romawi Bizantium. Ia juga dikenal dengan Tuan Dua Benua dan Dua Lautan, karena menguasai Anatolia dan Balkan serta merajai Laut Aegea dan Laut Hitam. 

Thariq bin Ziyad (670 – 720)

Pada tanggal 28 Ramadhan 92 H/ 710 M, Thariq memimpin pasukan berkekuatan 12.000 bertempur melawan 100.000 pasukan kerajaan Gothia yang berlangsung dengan sengit di kota Kadiz. Thariq berhasil membunuh Raja Roderic dan tentara Islam berhasil merebut kota Asybilia.

Thariq melanjutkan perjuangannya dengan menakluka Cordoba, Malaga, Granada dan Ibu Kota Spanyol, Toledo. Thariq tercatat sebagai panglima yang pertama kali membuka jalan dakwah di Eropa dengan penaklukan bumi Andalusia ini. Namanya diabadikan sebagai nama selat Jabal Thariq (Giblartar). 

Khalid bin Walid (585 – 642)

Masuk Islam atas ajakan saudaranya, dan berjuang sejak zaman Rasulullah Saw, hingga kepemimpinan Abu bakar dan Umar bin khatab. Dalam perang Mu’tah kepemimpinannya mengalahkan lawan yang berjumlah 200 ribu, dengan 3.000 orang pasukan Muslim. Dari sinilah ia dikenal dengan sebutan ”Pedang Allah”. Ia dikenal karena keberanian dan strategi perang yang hebat. 

Masih banyak tokoh-tokoh Islam baik di era sahabat atau sesudahnya yang layak digelari pahlawan dalam penyebaran Islam hingga ke seluruh penjuru dunia. Merekalah yang layak kita kagumi dan teladani. Aksi heroiknya nyata demi meraih ridho-Nya.

Meneladani Para Pahlawan

Sosok pahlawan bagi kita adalah role model alias teladan dalam membentuk sikap dan karakter yang terpuji. Diantaranya:

Pertama, Menolak segala bentuk kezhaliman. Seorang pahlawan paling gelisah kalo berdiam diri terhadap kezhaliman. Apalagi kalo itu terjadi di depan mata. Di negeri sendiri. Bawaannya pengen menunjukkan sikap penolakannya dengan tegas. Seperti diingatkan Rasulullah saw dalam sabdanya. Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata,

“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim)

Kedua, Aktif berdakwah di tengah masyarakat. Seorang pahlawan nggak egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Sebaliknya, dia aktif bergaul di tengah masyarakat untuk mendidik mereka agar terbuka wawasannya. Biar nggak gampang dikadalin oleh para penjajah melalui budaya dan pemikiran Barat yang menyesatkan.

Ketiga, Bergerak menjadi agen perubahan. Seorang pahlawan pantang berpangku tangan menunggu perubahan itu datang. Apalagi kalo kondisi masyarakat kian terpuruk. Kemaksiatan merajalela. Kezhaliman terjadi di mana-mana. Dia aktif memimpin masyarakat menjemput perubahan ke arah yang lebih baik dengan melawan segala bentuk kezhaliman yang dilakukan oleh penjajah. Allah swt mengingatkan,

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS.ar-Ra’d:11).

Keempat, Berjuang ikhlas karena Allah swt. Bukan popularitas yang dicari oleh para pahlawan dalam memperjuangkan idealismenya untuk bangsa, negara dan agama. Dorongan iman dan takwa yang jadi prioritas utama. Sehingga tak masalah jika gelar pahlawan nasional tak mereka dapatkan. Bahkan banyak para pahlawan yang tak dikenal oleh para penduduk bumi tapi namanya dikenal penduduk langit.

Beberapa sikap mental di atas yang bisa kita teladani dari kiprah para pejuang. Sebagai generasi muda, kelak kita yang akan ambil bagian dalam perjuangan demi mempertahankan kedaulatan ibu pertiwi dan menopang kebangkitan Islam.

Emang saat ini negeri kita sudah merdeka secara fisik. Nggak ada lagi penjajahan militer. Tapi secara ekonomi, politik, sosial dan budaya, keliatannya negeri kita masih terjajah. Sumber daya alam banyak dikuasai oleh asing. Kebijakan politik ditekan oleh lembaga keuangan dunia sebagai konsekuensi utang luar negeri yang terus meningkat. Budaya barat yang notabene sekuler alias jauh dari aturan agama dalam keseharian, gencar menyebar yang berakibat fatal di tengah masyarakat. Seperti gaya hidup seks bebas, atau pornografi dan pornoaksi yang mengepung remaja.

Sebagai bentuk kecintaan penghargaan kita pada para pahlawan, mari tanamkan semangat perjuangan dalam diri kita, untuk membebaskan bangsa dan negara dari segala bentuk penjajahan. Awali dengan mengenal Islam lebih dalam demi menguatkan pondasi keimanan yang akan menopang langkah-langkah kita dalam berdakwah. Yuk ngaji!

2 Comments

  1. Assalamualaikum. afwan, bgmn cra berlangganan buletin ini? ana d luwuk banggai sulawesi tengah. mhn pnjlsanx

    • sila join channel telegramnya ya

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *