Buletin Teman Surga 025. Ismail Jaman Now

0
18
Buletin Teman Surga-025. ismail zaman now

Buletin Teman Surga-025. ismail zaman nowBuat yang punya nama ‘Ismail’ boleh bangga di bulan dzulhijah ini, karena namanya banyak disebut-sebut, hehe.. Tentu man-teman sudah bisa menebak kan, siapa Ismail yang mau kita bahas pada kesempatan kali ini? Yupz, Ismail bin Ibrahim alaihi salam, seorang Nabi keturunan dari Nabi Ibrahim AS.

Kalo soal cerita or kisah dari Nabi Ismail, kayaknya man-teman udah sering banget dengerinnya. Di sekolah, di majelis taklim, atau mungkin ngeliat di youtube sudah banyak dibahas kisah dari Nabi Ismail AS. Tapi dari sekian banyak yang udah diceritain itu, kira-kira kita bisa ngambil petikan kisahnya atau belum? Jangan-jangan bak cerita dongeng pengantar tidur aja, cerita tentang Nabi Ismail AS menguap begitu aja, seiring terlelapnya kita tidur. Duhh!

Kalo kayak di atas kejadiannya, maka wajar bin lumrah jika akhirnya kisah keteladanan Nabi Ismail nggak membekas dalam kehidupan kita. Padahal kisahnya, bisa kita terapkan dalam kehidupan, meskipun di jaman now sekalipun, baik secara langsung maupun nggak langsung. Nggak percaya? Makanya simak buletin asyik ini hingga tuntas pembahasannya. Are u ready?

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Ismail Jaman Now: #1 Melek Tsaqofah

Kalo man-teman menyimak kisah Nabi Ismail AS yang paling kita inget adalah kisah disembelihnya beliau oleh Nabi Ibrahim AS. Peristiwa itulah yang menjadi dasar adanya qurban. Walaupun sebenarnya kebiasaan berqurban itu sendiri sudah terjadi di masa jahiliyah. Maksudnya masa sebelum Nabi Ibrahim dan Ismail diutus sudah terjadi ‘tradisi’ qurban, bahkan juga dikisahkan pada kisah Nabi Adam, di mana kedua putranya Qobil dan Khabil, juga mempersembahkan qurban.

Nah, di jamannya Nabi Ismail AS yang berbeda kurun waktunya dengan Nabi Adam AS, pun pada jaman itu sudah ada kebiasaan berqurban. Tapi qurban saat itu lebih mengarah kepada kesyirikan, yaitu mengurbankan manusia sebagai persembahan bagi ‘penjaga’ sungai Nil yang tidak pernah banjir maupun surut airnya. Persembahan biasanya seorang gadis yang tercantik di masyarakat itu yang ditenggelamkan ke dalam sunga Nil. Orang tua gadis qurban merasa bangga bahwa mereka bisa mempersembahkan putrinya untuk dijadikan qurban. Maka ayat-ayat diturunkan kepada Nabi Ibrahim untuk meluruskan masalah ini, di samping kesyirikan-kesyirikan yang lain.

Tentang ibadah berhaji juga sudah terjadi di masa Nabi Ibrahim, pelakunya ya orang-orang musyrik saat itu. Karena pelakunya mereka, maka praktiknya sangat jauh dari praktik haji yang disyariatkan kepada umat Islam di masa Nabiullah Muhammad SAW. Konon, ritual ibadah haji orang-orang musyrik, dilakukan dengan telanjang melakukan thawaf mengelilingi ka’bah. Nah, biar kamu melek tsaqofah, simak aja ya penjelasannya. Ini penting gaes, biar kamu juga nggak salah paham yang berakibat muncul paham yang salah soal ini.

Jadi gini. Syariat seperti qurban, haji, bahkan puasa dan sholat sudah dikerjakan oleh umat-umat sebelum kita, dengan praktik-praktik yang menyimpang. Salah satunya seperti sudah dijelaskan di atas, tentang qurban dan haji. Makanya yang pertama, kudu dipahami bahwa datangnya para Nabi dan Rasul di sebuah kaum sebenernya mau menghapuskan atau meluruskan praktik yang menyimpang tadi. Kemudian yang kedua, bahwa syariat umat-umat terdahulu tidak seluruhnya berlaku atau dipraktikan oleh kita sebagai muslim, kalo memang tidak ada dalilnya.

Contohnya, ketika Allah SWT befirman: “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu (QS. al Baqarah: 183). Jika al Qur’an atau Sunnah yang sahih mengisahkan suatu hukum yang telah disyariatkan pada umat yang dahulu melaui para Rasul, kemudian nash tersebut diwajibkan kepada kita sebagaimana diwajibkan kepada mereka, maka tidak diragukan lagi bahwa syariat ditujukan juga kepada kita. Contohnya syariat puasa tadi. Adapun detailnya, syarat, rukun sahnya puasa tentu berbeda dan harus kita pelajari lebih dalam lagi, agar berbeda atau menyeleisih ritual puasa orang-orang sebelum kita.

Contoh yang lain, tentang syariat ibadah sholat. Bangsa Arab jahiliyah pun mengenal shalat, namun seperti yang disebutkan dalam firman Allah, teknis ritualnya sudah mengalami pergeseran total dari yang seharusnya. Tinggal berbentuk siulan dan tepuk tangan. Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu. (QS. Al-Anfal: 35)

“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur`ân. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh ahlinya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya” (QS. Maryam: 54-55)

Jadi gaes, biar kamu nggak bingung dan makin mantab bahwa memang tiap-tiap umat itu Allah kasih syariat yang berbeda, dan wa bil khusus kita umat muslim, syariat adalah apa yang telah ditunjukkan oleh Al-Quran dan Hadits. Allah SWT berfirman:

“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. ….” (Qs. Al-ma’idah, 48)

Ismail Jaman Now: #2 Iman, Taat dan Ikhlas

Nabi Ismail adalah putra dari Nabi Ibrahim yang termasuk salah satu dalam ulul azmi. Julukan ulul azmi ini dikategorikan oleh para ulama, karena sifat-sifat mulia yang dimiliki oleh para Nabi yang masuk dalam kategorinya, sudah terbukti. Salah satu sifat mulia yang dimiliki nabi ulul azmi adalah sabar sekaligus ikhlas. Dan sifat itu sudah dibuktikan pada diri Nabi Ismail maupun ayahndanya Nabi Ibrahim AS.

“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang soleh. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.  Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; in syaa Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS Ash Shaaffat : 99-102)

Ayat di atas, sekaligus adalah kisah dimana kesabaran Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim benar-benar teruji. Sabar adalah buah, tentu sebagai buah, pasti ada pohon dan akarnya. Seseorang tidak akan mudah sabar ketika menerima ujian, kalo dia bukan orang yang terbiasa taat, itulah pohonnya. Buahnya yang lain adalah ikhlas. Sementara seorang yang mudah sekali untuk taat, karena dia memiliki akar yang kuat. Lalu apa akarnya? Akarnya adalah iman yang kokoh.

Iman kokoh yang dimiliki Nabi Ismail tercermin dari kata-katanya Ia menjawab: “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; in syaa Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS Ash Shaaffat : 102). Nggak mungkin kalo bukan orang yang memiliki iman yang kokoh, mampu mengatakan seperti itu, di saat dirinya dihadapkan pada maut, karena hendak disembelih.

Ismail Jaman Now: #3 Konsisten dan Komitmen

Sifat atau karakter yang juga musti jadi teladan anak-anak muda jaman now seperti kita adalah komitmen. Inilah, karakter yang bisa dibilang sulit dicari di jaman now. Konsisten atau komitmen itu bahasa mudahnya adalah nyatunya antara kata dan perbuatan, alias kebalikan dari kata munafik. Banyak dalil menegaskan kepada kita agar ninggalin sifat-sifat orang munafik, salah satunya hadis yang sudah sering kita dengar

“Tanda orang munafik ada tiga; jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, jika dipercaya ia berkhianat.” (HR al-Bukhari no. 33; Muslim, no. 59, dari hadits Abu Hurairah).

Makanya gaes, jangan suka bikin janji ini dan itu, tapi kalo kita nggak punya komitmen untuk menepati. Bukan berarti nggak boleh bikin janji. Bukan seperti itu maksudnya. Maksudnya adalah milikilah sikap komtmen dulu sebelum bikin janji. Jangan sekali mudah bikin janji, tapi mudah juga untuk tidak menepatinya. Dalam sebuah syair diilustrasikan: Kapan saja seorang yang merdeka berkata kepada orang yang memiliki keperluan “baiklah”, niscaya akan menyelesaikannya. Orang merdeka menjamin janjinya (Zâdul-Masîr, 3:135 dan Jâmi’ul-Bayân 11:107). Jadi, orang yang punya komitmen, pasti akan menepat janjinya. Jika dilandasi keimanan yang kokoh, maka dia akan takut jika tidak amanah, tidak menepati janjinya, karena itu akan ada hubungannya dengan amal hisab (perhitungan amal) di yaumul akhir kelak.

Nah, momen saat Nabi Ismail ditanyai bapaknya, untuk dimintai pertimbangan menyembelih dirinya, karena ada perintah dari Allah, maka jawaban Nabi Ismail “in syaa Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Kalimat itu menjadi tanda dan bukti kesabaran, yang ditunjukkan dengan menyerahkan lehernya untuk disembelih oleh bapaknya. Jadi, Nabi Ismail tidak hanya sekedar berkata “saya sabar”, tapi beliau buktikan kesabarannya dengan menyediakan dirinya untuk disembelih. Itulah komitmen.

Hari ini, kita bisa ngeliat betapa banyak orang nggak menepati janji. Pernah nggak man-teman bikin janji dengan temen, janjinya jam berapa, datangnya jam berapa? Lebih parahnya, kalo dia merasa enteng aja, ngelakuin hal kayak gitu berulang-ulang, seakan-akan itu bukan dosa. Hati-hati lho man-teman, jangan sampai kita mewarisi salah satu sifat orang munafik, yaitu tidak menepati janji atau amanah. Nadzubillah min dzalik!

Adakah Ismail Jaman Now?

Sifat atau karakter yang udah diuraikan di atas, sebagai gambaran aja begitulah seharusnya Ismail atau anak-anak muda jaman now. Tentu masih banyak dan perlu kita dalami lagi karakter di atas, karena ruang yang kecil, maka nggak kita bahas detil sifat-sifat Ismail di atas. Tapi tentunya dengan sebuah keyakinan bahwa sifat atau karakter di atas bisa kita praktikan pada diri kita masin-masing.

Kalo ada pertanyaan “mungkinkah karakter-karakter Ismail itu bisa terwujud saat ini?”, maka jawaban optimisnya adalah “sangat mungkin”. Kenapa? Karena sifat-sifat itu sudah pernah terwujud pada manusia-manusia sebelum kita. Jika pada orang lain bisa, maka tentu saja kita yang juga manusia, pasti akan bisa mewujudkannya. Hanya tinggal kita mau atau kagak, memiliki sifat-sifat di atas.

Mungkin teman-teman remaja bukan nggak mau, nggak pengin memiliki karakater itu, tapi lebih kepada ketidakpercayaan diri, nggak yakin bisa memiliki atau mewujudkan karakter itu pada dirinya. Kalo itu masalahnya, maka kembali kepada soal komitmen dan keyakinan diri. Ini masalah tauhid, masalah keimanannya kepada Allah yang lemah. Sebab kalo keimanannya kuat bin kokoh, nggak bakal mudah goyah dan siap berkomitmen.

Keimanan yang kokoh itulah yang membuat dia yakin bahwa perbuatan yang dia lakukan, karakter mulia-mulia yang dia miliki itu akan membuahkan kemuliaan di dunia dan juga pahala kebaikan di akhirat. Karena memang Allah nggak pernah tidur, menyaksikan dan nggak pernah absen menilai hamba-hamba-Nya.

So, tancapkan keyakinan bahwa ketika kita memiliki karakter-karakter mulia Ismail jaman now di atas, Allah akan ganjar juga dengan kemuliaan. Takbir! Allahu Akbar!!!

“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan sebesar zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Al-Zalzalah 7-8)

 

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here