Pages Menu
Categories Menu

Posted on Nov 7, 2018 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 036. ‘Kami Kira Sudah Kiamat!?’

Buletin Teman Surga 036. ‘Kami Kira Sudah Kiamat!?’

Buletin Teman Surga-036. kiamatSatu bulan lebih udah berlalu, pasca gempa, tsunami dan likuifasi Kota Palu yang tadinya seperti kota mati kini berangsur pulih. Alhamdulillah, evakuasi, pendistribusian logistik, pembangunan tenda-tenda pengungsian, serta pemulihan fisik maupun mental sudah digerakkan baik oleh pemerintah maupun para relawan. Pertanyaan yang harus dijawab oleh semua orang, “Masih adakah masa depan untuk mereka?”

Tim relawan “Teman Surga” yang berada di Te Ka Pe menyempatkan untuk ngobrol dengan teman-teman remaja yang sebagian jadi korban gempa dan tsunami Palu. Tujuannya biar kita bisa ngambil hikmah, biar kita bisa ikut bangun semangat kembali pasca musibah. Yuk simak aja ulasannya sampe kelar ya ?!

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Sisa Pilu Musibah Palu

“Saat berkumpul bersama keluarga.” ucap Vena polos, siswi SMKS PGRI Palu, saat kami bertanya padanya momen apa yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Tapi momen kayak gitu udah nggak bisa dirasakan kembali sama Vena dan juga remaja-remaja lainnya di Palu, pasca musibah gempa Palu pada 28 September 2018 lalu. Ya, gempa, tsunami, dan likuifaksi yang melumpuhkan Palu, Donggala, dan Sigi menyisakan cerita dan kenangan yang mungkin akan selalu dikisahkan pada anak-cucu masyarakat Palu, khususnya bagi mereka para survivor musibah yang dahsyat ini.

Musibah ini menelan ribuan korban jiwa, meluluhlantakkan permukaan bumi, menghancurkan ribuan rumah, bangunan, sekolah, kampus, jalan, bahkan menenggelamkan kampung dan perumahan khususnya daerah Balaroa, Petobo, dan Jono Oge. “Bumi terbelah lalu tertutup lagi, kemudian tanah berputar seperti diblender. Kami kira ini sudah kiamat,” saksi salah seorang pemuda.

“Pada saat gempa itu, aku lagi siap-siap mau shalat. Tiba-tiba bumi bergetar. Aku tabuang-buang, terjatuh tak bisa bergerak. Yang parah adikku, dia lagi mandi pas kejadian, mau siap-siap magrib. Ada juga temanku itu di kos-an lagi main Mobile Legend, tabuang-buang juga,” kata Fadil, siswa Darul Iman, menceritakan masa gempa itu.

“Aku segera pulang. Nggak ketemu sama orang tua, semua udah mengungsi. Aku segera menuju tempat pengungsian. Harus hati-hati itu, salah sedikit bangunan roboh,” lanjutnya mengenang malam itu yang sangat mencekam. Fadil dan Vena adalah dua di antara ribuan remaja yang menjadi korban maupun dampak dari musibah gempa, tsunami, dan likuifaksi di Palu. Banyak di antara mereka yang di usia semuda ini kehilangan adik, kakak, teman, kerabat, bahkan orang tuanya pada kejadian tersebut.

Salah satunya Galang, yang videonya sempat viral di media sosial, dimana ia melihat dengan mata kepalanya sendiri ibunya tertelan bumi kemudian tertutup kembali, setelah itu menghilang dibawa tanah yang bergerak begitu dahsyat. Jangankan anak seusia dirinya, orang dewasa sekalipun banyak yang belum bisa lepas dari trauma yang mendalam kehilangan rumah, pekerjaan, anak, dan keluarganya.

Tentu, secara individual, nggak semua remaja dan masyarakat mengalami langsung musibah 28 September 2018 kemarin, terutama orang-orang yang jauh dari lokasi kejadian. Tapi luka ini tentu nggak hanya luka mereka yang terkena gempa, melainkan luka seluruh muslim, karena memang derita mereka tentu saja derita kita, sebagaimana sabda Rasulullah saw:

Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.(HR. Muslim)

Nextnya setelah kita empati dengan derita pilu saudara kita di Palu, kita juga kudu tergerak untuk membantu. Coba perhatikan, petikan hadits Rasulullah saw yang menyampaikan janji Allah bagi siapa aja yang mau untuk membantu dan meringankan beban muslim di dunia, maka Allah akan menolong dia di akhirat.

Dari Abu Hurairah  dia berkata: Rasulullah  bersabda: “Barang siapa yang membantu seorang Muslim (dalam) suatu kesusahan di dunia, maka Allah akan menolongnya dalam kesusahan pada Hari Kiamat. Dan barang siapa yang meringankan (beban) seorang Muslim yang sedang kesulitan, maka Allah akan meringankan (bebannya) di dunia dan akhirat.” (HR Muslim).”

Harta Boleh Hilang, Tapi Iman Jangan

Kalimat singkat, padat, dan menusuk jiwa itu terucap oleh Dani, siswa SMAN 3 Palu yang sampe sekarang masih tidur di tenda karena rumahnya rusak akibat gempa. Ia sendiri mengalami luka serius pada kakinya akibat terkena reruntuhan saat gempa meskipun kini berangsur membaik.

Kalimat itu nggak cuman sekedar jargon. Karena memang hanya iman-lah yang harusnya jadi sandaran pertama dan terakhir bagi seorang hamba Allah. Dengan iman, seseorang akan mampu untuk tetap bertahan dalam kondisi apapun. Ia akan selalu sabar dan tetap optimis walau tekanan dan ujian bertubi-tubi berdatang. Kekuatan yang akan dirasakan bagi orang yang betul-betul dalam keadaan terdesak.

Seperti kisah ajaib muadzin Masjid Terapung yang selamat dari terjangan tsunami, di mana imam dan hampir seluruh jamaah terbawa hanyut oleh air yang ganas, sementara dirinya, dengan izin Allah bisa selamat, konon katanya karena terus menerus mendawamkan kalimat tauhid, laa ilaahaillallah muhammadurrasulullah. Begitulah, apa yang dirasa nggak masuk akal dan mustahil bagi manusia yang bodoh ini, tapi kalo Allah berkendak, itu sangat mudah.

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.(QS Yaasiin 82)

Semangat teman-teman remaja untuk memulai “hidup kembali”, sangat terasa getarannya. Saat kami coba menanyakan kepada para siswa SMAN 4 Palu tentang kondisi yang mereka alami saat ini, apa jawab mereka? “Kami ingin bangkit dari keterpurukan ini, kak.” Betul, bahwa musibah telah menimpa mereka. Betul, kalo kondisi yang ada saat ini nggak se-ideal dan semudah seperti dulu lagi. Gempa, tsunami, dan likuifaksi adalah bagian dari keputusan Allah yang nggak mungkin bisa manusia halau. Tapi tetap terpuruk dalam kegalauan tentu saja bukan sikap baik seorang Muslim.

Kalo dibilang trauma, pasti trauma itu masih tersisa. Terbukti saat beberapa kali terjadi gempa kecil, refleks mereka berteriak dan berhamburan keluar sehingga sekolah harus memulangkan mereka, termasuk juga para gurunya. Tapi keinginan untuk bangkit nggak pernah padam dalam diri mereka. Keinginan untuk mengejar cita-cita di masa depan masih terus mereka kejar. Ada Amrul yang bercita-cita pengin jadi arsitek. Ada Ina yang bercita-cita mau jadi dokter hewan. Ada Yusri yang cita-citanya mau jadi tentara. Dan masih banyak lagi lainnya yang nggak putus asa terus menatap masa depan.

Tapi, nggak semua remaja seperti para siswa SMAN 4 Palu. Berbeda dengan Husnul, remaja berusia 17 tahun yang kini tinggal di tenda kompleks pengungsian Masjid Agung Darussalam. Ia dan beberapa teman remaja yang mengaku udah malas lagi untuk sekolah, dan bingung apa yang dia mau lakukan buat di masa depannya. Kejadian luar biasa ini udah memupuskan sebagian harapan mereka.

Untuk Husnul dan teman-temannya yang semisal, nggak boleh dibiarkan begitu saja dan harus segera dibangkitkan semangatnya melalui mental recovery yang berkala. Doain ya tim relawan “Teman Surga” bersama tim mental recovery bisa membangkitkan semangat mereka kembali.

Mereka Inspirasi Kita

Tentu saja, apapun tujuan maupun cita-cita mereka, ngga boleh melupakan the ultimate quest sebagai seorang manusia di dunia ini, yaitu sebagai seorang hamba Allah yang berupaya meraih ridho dan surgaNya kelak di akhirat. Bagi mereka yang bersabar dalam menerima cobaan, maka Allah akan hapuskan dosa-dosanya dan memberikan kabar gembira berupa jannah yang luasnya seluas langit dan bumi.

…Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka.(QS al-Hajj 34-35)

Remaja-remaja Palu yang kuat adalah inspirasi bagi remaja siapapun kita dan  di manapun kita berada. Di kondisi yang demikian pelik, tak surut keinginan mereka untuk bangkit. Bahkan, sebagian siswa siap menjadi inisiator kebangkitan di sekolahnya masing-masing. Takbir! Allahu Akbar!

Mereka berkomitmen untuk terus berupaya menguatkan dirinya, untuk kemudian ditularkan semangatnya pada ratusan temannya. Alhamdulillah, mereka nggak berpikir egois dan individualistis, justru bertekad untuk merangkul dan mengajak temannya yang mungkin sampai saat ini masih trauma berat, agar selanjutnya bangkit kembali. Mereka turun di tengah teman-temannya, menjadi pelopor kebaikan yang akan menduplikasi diri sehingga tersebar ke seluruh siswa di kota Palu dan harapannya juga di tempat lain.

Untuk itu, pembinaan yang mereka butuhkan haruslah pembinaan yang luar biasa, yang mampu memberikan energi untuk membangkitkan generasi muda dan umat. Nggak lain nggak bukan berupa pembinaan yang akan merubah pola pikir maupun perilaku para remaja agar sesuai dengan keridhoan Alah SWT, perilaku Islami.

Mengapa harus Islam? Karena Islam adalah syariat yang Allah SWT turunkan dengan jaminan keselamatan dunia dan akhirat dalam mengatur hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan manusia lain, dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Islam lah yang mengangkat seseorang dari kondisi jahiliyah menjadi mulia. Dengan Islam seorang manusia akan bangkit secara hakiki, bukan bangkit yang semu.

Ketika para remaja inisiator kebangkitan Palu ini terbina dengan Islam, mereka tidak hanya memiliki motivasi dunia melainkan juga motivasi akhirat.

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?(QS Fussilat 33)

Terakhir, Fadil memberikan pesan buat seluruh  #TemanSurga di manapun kalian berada. “Pesan saya buat para remaja adalah bahwa ini peringatan dan teguran dari Allah SWT. Selagi ada kesempatan, yuk kita tobat dari kesalahan-kesalahan yang kita lakukan selama ini. Kita masih diselamatkan oleh Allah SWT, karena itu jangan sia-siakan kesempatan.” Subhanallah, wa Allahu Akbar! []

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *