Buletin Teman Surga 039. Muliakan Gurumu

0
69
Buletin Teman Surga-039. muliakan guru

Buletin Teman Surga-039. muliakan guruPernah dengar kan slogan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa? Siapa lagi kalau bukan cikgu alias guru. Yes… sedari kita sekolah Te-Ka, sampe sekarang pastinya banyak banget guru yang begitu luar biasa mengajari kita tentang ilmu pengetahuan bahkan juga ikut mendidik kita agar menjadi anak yang bukan saja berprestasi tapi juga berbudi baik. So, that’s why guru adalah orang tua kita di sekolah karna perannya yang juga mendidik kita.

Jadi, kalo ada guru yang menegur, bersikap tegas sama kita supaya kita disiplin itu sih wajar. Iya ngga temans? Kebayang ngga tuh, kalau guru ngga mendidik kita untuk disiplin, mau jadi apa coba kita nanti setelah lulus. Sedangkan salah satu  modal sukses meraih cita-cita adalah disiplin. So, kamu mau sukses dunia wal akhiroh? Ayoo… terusin bacanya.

Guruku sayang, Guruku Malang

Sosok guru tak ubahnya bagaikan pembawa cahaya, karna pada hakikatnya ilmu adalah cahaya (al ilmu nuur). Mungkin sembari kita membaca buletin ini memori kita kembali ke masa dimana saat kita sekolah pertama kali entah itu saat Taman Kanak-Kanak atau Sekolah Dasar. Guru-guru kita pada saat itu luar biasa sabar mengajari kita membaca, menulis, bahkan membesarkan hati kita dengan sapaannya yang lembut bahwa kita adalah anak yang pintar.

Memanglah guru adalah profesi yang mulia dimana mereka tak segan untuk membagi ilmunya kepada semua muridnya tak terkecuali, mereka ngga pernah tuh berpikir kalau ilmunya dibagikan maka ilmu mereka akan berkurang. Seorang guru bisa mencetak banyak profesi seperti dokter, arsitek, polisi dan lain-lain tapi seorang dokter, arsitek atau polisi belum tentu bisa jadi seorang guru. itulah unik dan kerennya seorang guru.

Satu lagi, seorang guru ngga akan pernah punya perasaan iri ketika melihat anak didiknya menjadi seorang yang berhasil atau sukses yang ada mereka malah bangga meski kita tahu “balasan” atas jasanya yang luarbiasa rasanya belum sebanding. Bisa jadi inilah yang akhirnya mereka dikatakan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Tapiiii… bukan berarti tanpa tanda jasa trus guru-guru kita boleh diperlakukan semena-mena ya!! Don’t ever do that ya friends!! Seperti yang baru-baru ini viral di media sosial nih, beberapa pelajar yang terlihat berlaku tidak sopan terhadap gurunya dengan mendorong ditambah dengan mengoloknya. Hal ini tentu tidak patut dilakukan seorang murid kepada gurunya meski kabar menyebutkan mereka melakukan itu dengan alasan bercanda. Kalau kaya gitu sih, becanda yang kelewatan bin kebablasan.

Fakta memprihatinkan lainnya dari dunia pendidikan kita bagaimana seorang siswa ada yang berani melukai gurunya bahkan ada yang memenjarakan gurunya hanya karena tidak terima saat ditegur. Sontak saja banyak yang akhirnya memberi perhatian khusus kepada guru tersebut betapa seorang guru yang berjasa harus menerima balasan jeruji penjara. Tentu teguran atau bahkan marahnya guru sekalipun yang tentu berada pada koridor yang dibenarkan adalah dalam rangka mendisiplinkan anak didiknya. Ingat sobat, teguran guru kita saat ini bisa jadi kunci keberhasilan kita di masa depan. Bayangkan jika perbuatan yang tidak baik masih terus kita lakukan karna tidak ada yang menegur, maka kita akan menjadi sosok yang tidak baik di masa yang akan datang.

Come on friends, bisa jadi guru-guru kita masih belum tersejahterakan dalam kehidupannya tapi apakah itu membuat mereka berhenti dari tugasnya? Tidak. Mereka malah terus bersemangat untuk mencerdaskan anak bangsa agar negeri ini bisa dibangun oleh putra dan putri negerinya sendiri. Stop untuk melabeli guru-guru kita dengan label yang tidak baik misalnya guru “killer” karna dipandang galak oleh kita padahal coba deh renungi ngga mungkin ada guru yang ngga ada sebab musabab trus marah-marah. Stop bully guru dengan label apa pun, mulailah untuk menghormati dan memuliakannya.

Rasulullah saw bersabda “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti (hak) orang yang berilmu” (HR. Ahmad).

 

Guru : Digugu dan Ditiru

Pernah dengar peribahasa Guru kencing berdiri, murid kencing berlari? Pasti sering dengar ya..  peribahasa itu bermakna bahwa seorang murid biasanya mencontoh gurunya. Oleh karnanya, seorang guru harus bisa menjadi sosok yang digugu dan ditiru.

Yang pertama, guru harus bisa digugu dimana perkataannya harus dijadikan panutan. Itu kenapa seorang guru harus punya kewibawaan, ilmu serta wawasan yang mumpuni. Karena apapun yang dikatakan seorang guru akan dianggap benar oleh murid-muridnya. Coba aja kamu perhatikan ketika adikmu yang masih TK atau SD, mereka sering bilang “kata bu guru begini bukan begitu, atau “kata bu guru yang ini bukan yang itu” maka sang anak biasanya akan lebih manut dengan gurunya. Yang kedua, guru harus bisa ditiru baik apa yang diucapkannya berupa ilmu pengetahuan dan budi pekertinya. Intinya kepribadian guru akan ditiru oleh sang murid.

For your information nih, dalam Islam goals atau tujuan dari pendidikan adalah mendidik muridnya agar menguasai ilmu pengetahuan, sains dan skill (keterampilan) lainnya yang berguna di dalam kehidupan, Tidak cukup hanya itu, pendidikan Islam pun harus mempu membentuk muridnya agar berkepribadian mulia (Islam) dimana mereka senantiasa menyandarkan apa dipikirkan dan apa yang akan dilakukan sesuai dengan perntah Allah.

Jadi, kalau ada guru matematika, guru sejarah atau guru yang lainnya mengajarkan kita tentang akhlak yang mulia, mendidik kita dengan tuntunan agama, mengingatkan kita untuk sholat, bahkan menutup aurat itu merupakan suatu kewajaran bahkan kewajiban, karna pada hakikatnya semua guru itu adalah guru agama. Ingat TemanS, menjadi cerdas aja ngga cukup. Agar lebih keren dan disayang orang tua terlebih oleh Allah. Jadilah pelajar yang SMART with Islam yaitu pelajar sholih/sholihah yang cerdas. Kalau udah kaya gini, in sya Allah sukses dunia dan akhirat bisa didapat.

Gimana, sudah kebayang betapa tugas guru begitu mulia? Para guru yang mendedikasikan dirinya untuk mencerdaskan generasi, maka bisa dibayangkan entah berapa banyak ilmu dan amal jariyah yang didapatkan seorang guru karna ilmunya yang bermanfaat telah dibagikan kepada murid-muridnya. So, orang tua kita sudah mengamanahkan dan mempercayakan kita dididik di sekolah sedari dini, let’s study yang betul.

 

Berkahi Ilmu Dengan Hormati Guru

Sebagai seorang penuntut ilmu kita wajib untuk mengikuti rambu-rambu alias adab-adab dalam menuntut ilmu salah satunya adab murid terhadap guru agar ilmu yang kita dapatkan menjadi berkah dan berfaedah.

Umar As-Sufyani Hafidzohulloh mengatakan “Jika seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya maka akan menimbulkan dampak yang buruk pula, hilangnya berkah dari ilmu yang didapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya atau tidak dapat menyebarkan ilmunya”.

Para ulama mazhab, Imam Ahmad, Imam Syafi’i, dan lainnya adalah murid-murid yang sangat menghormati dan memuliakan para gurunya. Jangankan berbuat gaduh saat belajar, Imam Syafi’i merasa segan meski hanya untuk minum air saat sedang belajar. Sedangkan Imam Malik saat hendak membuka lembaran bukunya, maka Ia melakukannya dengan sangat perlahan agar tidak berisik. Pantas saja mereka menjadi ‘orang besar”, itu karna memuliakan guru.  Maka ilmu mereka pun menjadi berkah dan nama mereka sampai saat ini dikenal dan ilmunya dijadikan rujukan dalam beramal. Kamu mau seperti mereka?? Let’s check and do it.

Pertama, adab duduk adalah dengan tidak membentangkan kaki dan tidak bersandar. Ini kl duduknya bukan di kursi ya guys.Ibnul Jamaah mengatakan “Seorang penuntut ilmu harus duduk rapi, tenang, tawadhu, mata tertuju kepada guru, tidak membentangkan kaki, tidak bersandar, tidak pula bersandar dengan tangannya, tidak tertawa dengan keras, tidak duduk di tempat yang lebih tinggi dan juga tidak membelakangi guru.”

Kedua, adab berbicara. Imam Abu Hanifah pun jika berada didepan Imam Malik, Ia layaknya seorang anak di hadapan ayahnya. Para sahabat adalah murid bagi Rasulullah saw dan mereka tidak pernah beradab buruk, tidak pernah memotong ucapan atau mengeraskan suara di hadapan Rasulullah saw. Bahkan orang sekaliber Umar Bin Khattab yang terkenal keras wataknya tidak pernah menarik suaranya di hadapan Rosul sampai beliau kesulitan mendengar suara Umar saat berbicara.

“Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah saw duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satupun dari kami yang berbicara” (HR. Bukhari).

Ketiga, Adab bertanya. Bisa jadi apa yang diajarkan oleh guru ada yang belum kita pahami sehingga kita bertanya kepadanya.

Allah swt berfirman, “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS. An Nahl: 43).

Dengan bertanya maka akan terobati kebodohan, hilang kebingungan, serta mendapat ilmu. Para ulama telah menjelaskan tentang adab bertanya ini. Mereka mengajarkan bahwa pertanyaan harus disampaikan dengan tenang, penuh kelembutan, jelas, singkat dan padat, juga tidak menanyakan pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya.

Keempat, Adab mendengarkan pelajaran. Diriwayatkan Yahya bin Yahya Al Laitsi tak beranjak dari tempat duduknya saat para kawannya keluar melihat rombongan gajah yang lewat di tengah pelajaran, Yahya mengetahui tujuannya duduk di sebuah majelis adalah mendengarkan apa yang dibicarakan gurunya bukan yang lain. Maa sya Allah. How about us? Hhmm.. kayanya ada temen kita ngobrol, kita malah ikutan asik ngobrol padahal guru sedang menjelaskan pelajaran. Mulai sekarang ubah kebiasaan ini yah.

Kelima, Mendoakan guru-guru. Banyak dari kalangan salaf berkata, “Tidaklah aku mengerjakan sholat kecuali aku pasti mendoakan kedua orang tuaku dan guru guruku semuanya.”

Keenam,  guru juga manusia. Meski tugasnya mulia, bisa jadi ada kekurangan atau kesalahan yang guru lakukan namun tentu ngga tiba-tiba kita jadi berlaku tidak hormat pada mereka apalagi mencari-cari kesalahan guru.

Para ulama salaf senantiasa berdoa “Ya Allah tutupilah aib guruku dariku, dan janganlah kau hilangkan keberkahan ilmunya dariku.” Adab dalam menegur mereka pun perlu diperhatikan mulai dari cara yang sopan dan lembut saat menegur dan tidak menegurnya di depan orang banyak.

The last but not least, meneladani guru. Merupakan suatu keharusan seorang penuntut ilmu mengambil ilmu serta akhlak yang baik dari gurunya.

Ibnu Utsaimin berkata, “Jika gurumu itu sangat baik akhlaknya, jadikanlah dia qudwah atau contoh untukmu dalam berakhlak. Namun bila keadaan malah sebaliknya, maka jangan jadikan akhlak buruknya sebagai contoh untukmu, karena seorang guru dijadikan contoh dalam akhlak yang baik, bukan akhlak buruknya, karena tujuan seorang penuntut ilmu duduk di majelis seorang guru adalah mengambil ilmunya kemudian akhlaknya.”

Oke temanS, semoga kita menjadi orang yang bisa memuliakan para cikgu.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here