Pages Menu
Categories Menu

Posted on Dec 3, 2018 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 040. Jadilah Generasi Pemegang Bara Islam

Buletin Teman Surga 040. Jadilah Generasi Pemegang Bara Islam

Buletin Teman Surga-040. generasi pembelaGaes, kamu ngerasa nggak sih kalo seakan-akan Islam ditakuti oleh sebagian orang? Terutama di negeri kita tercinta ini, kalo umat Islam sudah kumpul dengan jumlah gede, seolah-olah jadi ancaman pihak lain. Umat Islam identik dengan wajah garang, sebutan teroris, radikal, dan karenanya orang atau umat lain disuruh berhati-hati, mewaspadai Islam. Duh… duh, piye iki? Ini pasti hanya bentukan opini, ini pasti rekayasa menyesatkan tentang Islam, sehingga framing semacam itu kudu diluruskan, biar generasi kita, teman-teman remaja, nggak alergi bin takut terhadap agamanya sendiri.

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Jangan Mudah Terprovokasi

Jika ada yang mengatakan Islam atau umatnya radikal, maka kudu dibenerin dulu pemahaman kita tentang radikal itu sejatinya kayak apa. Jangan mudah terprovokasi kalo umat Islam itu radikal, maka malah justru menimbulkan saling curiga sesama muslim. Jangan mudah termakan opini tentang Islam itu radikal, sebelum kita ngeh kalo radikal itu memang dibutuhkan atau nggak oleh umat Islam. Jangan karena hanya nggak pengin dituduh radikal, malahan yang terjadi kita menjadi barisan penyela Islam. Wah, kalo sudah seperti itu namanya, ter-lam-pau itu gaes.

Radikal, secara istilah dalam kamus besar bahasa Indonesia, artinya adalah mendasar (sampai ke hal yang prinsip). Nah, menengok secara istilah maka kalo Islam itu dikatakan radikal, memang seharusnya begitulah Islam, yakni mendasar, mengakar, fundamental, prinsipil atau bahasa sejenisnya. Sebab Islam itu kan memiliki yang namanya akidah. Akidah berasal dari kata al-‘aqdu (الْعَقْدُ) yang berarti ikatan, at-tautsiiqu (التَّوْثِيْقُ) yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu (اْلإِحْكَامُ) yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquw-wah (الرَّبْطُ بِقُوَّةٍ) yang berarti mengikat dengan kuat. Nah, dari sisi akidah saja, kita diajarkan untuk mendasar bangets, hal yang kokoh banget. Masa iya, ketika seorang muslim mau memegang teguh Islamnya, kemudian nggak mau disebut radikal?

Iya, memang istilah radikal saat sekarang ini menjadi semacam labeling yang nggak mengenakan. Karena istilah radidkal ini lebih didekatkan dengan yang bikin ricuh, yang berdemo bikin kerusakan, yang ngebom sana-sini. Kalo radikal yang ditunjukkan atau didekatkan dengan hal-hal kayak gitu, itu jelas kita juga nggak setuju, dan Islam nggak ngajarin kayak begitu. Jelas bangets hal seperti itu bukan radikal dalam arti yang sebenarnya. Makanya, sekali lagi, jangan mudah terprovokasi dengan opini yang berkembang saat ini.

Islam juga mengenal yang namanya syariat. Sementara syariat itu kan perwujudan dari akidah tadi, yang mana syariat Islam ini komplit. Mengatur perilaku manusia antara hubungan manusia dengan Allah yang disebut syariat tentang ibadah. Ada juga syariat yang mengatur manusia dengan dirinya sendiri, yang tercantum dalam hukum-hukum akhlak, seperti berpakaian, makanan, dll. Trus, Islam juga memiliki syariat tentang hubungan manusia dengan manusia yang lain, baik dengan muslim maupun non muslim, yang termaktub dalam hukum-hukum muamalah, termasuk di dalamnya aturan atau sistem berpolitik, pendidikan, ekonomi, dll ada disini.

Nah, terhadap syariat-syariat tersebut, perintah Allah kan jelas banget dalam al-Qur’an.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208).

Kalo seorang muslim, pengin ngejalanin syariatnya yang lengkap dan mulia tersebut, lalu disebut radikal yang lebih ke konotasi negative, maka itu jelas salah bin tuduhan yang jahat banget. Seseorang ketika dia menyatakan diri sebagai muslim dengan kalimat syahadatnya, auto konsekuen untuk terikat dengan syariat Islam. Itu hal yang mendasar banget, hal yang memang seharusnya kaum muslim kudu begitu. Kalo seperti itu diartikan radikal, dalam arti mendasar, itu benar. Tapi kalo sudah diframing untuk didekatkan dengan hal-hal yang sifatnya merusak, negative, maka apa yang kamu lakukan itu jahat, hehee..

Nahyi Munkar Itu Bukan Kriminal

TemanS, ketika seseorang menjadi muslim, setelah bersyahadat dan terikat serta menjalankan syariat, berikutnya adalah mendakwahkan Islam. Amar ma’ruf nahyi munkar Itu juga kewajiban bagi setiap muslim.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim)

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung(QS : Ali Imran, 104)

Dan masih banyak dalil lain yang berisi perintah amar maruf nahyi munkar. Sekali lagi, hal itu merupakan pelaksanaan dari syariat berdakwah. Nah, aneh kalo ada yang mencap radikal dalam pengertian negative ketika umat muslim mau berdakwah amar maruf nahyi munkar. Amar ma’ruf alias memerintahkan, mencontohkan, menyarankan kepada kebaikan (ma’ruf) itu jelas yang baik dan benar. Tapi kadangkala yang diidentikan dengan hal yang buruk ketika mau melakukan nahyi munkar alias mencegah kemungkaran. Kayaknya kalo yang bagian ini, nggak semua orang rela untuk melakukan, dan nggak semua orang mudah dicegah untuk nggak ngelakuin kemungkaran.

Memang seakan-akan ada perbedaan antara amar ma’ruf (menyuruh yang baik) dengan nahyi munkar (mencegah yang buruk). Padahal kedua-duanya jalan berbarengan, nggak boleh ditinggalin salah satunya. Hanya saja, memang saat ini yang kelihatan diidentikan dengan kejahatan, dan seakan-akan sebuah kriminal, kalo seorang muslim melakukan nahyi munkar. Padahal antara baik dan buruk kalo dalam pandangan Islam, kayak dua sisi keping mata uang.

Misal, kalo kita menyuruh atau mengajak seorang muslim untuk ngerjain ibadah sholat wajib, itu baik, masuknya ke amar ma’uf. Nah, ketika kita mencegah seorang muslim untuk tidak sholat wajib, serta agar dia tidak mengajak, menularkan ke muslim yang lain untuk sama-sama nggak ngerjain kewajiban sholat, maka aktivitas pencegahan semacam itu masuk kategori nahyi munkar. Jadi, jangan dan nggak boleh dipisah-dipisahin antara amar makruf dengan nahyi munkar, itu satu paket.

Trus, ketika seorang muslim melaksanakan perintah nahyi munkar itu bukan kejahatan, bukan kriminal. Kalo ada yang gerah, ketika kemaksiatan, kemunkarannya dicegah, maka kemungkinannya, dia pelindung dari kemaksiatan tersebut, atau malahan dia pelaku kemaksiatannya, yang masih enggan untuk ninggalin kemaksiatan tersebut. Mencegah kemungkaran pacaran misalnya, biar pacaran nggak jadi life style nya anak-anak muda ketika bergaul dengan lawan jenis, maka itu bagian dari dakwah. Aktivitas kayak gitu, nggak boleh dicap sebagai kejahatan, apalagi disebut intoleran. Justru amal dakwah itu adalah aktivitas mulia, aktivitas para nabi.

Tujuan Mereka Sebut Kita Radikal

Gaes, dari sini kira-kira man-teman bisa menerka nggak, apa kira-kira tujuan dari beberapa pihak yang menuduh kita ini radikal, sehingga Islam itu seakan-akan sebuah ancaman? Ada yang tahu nggak apa tujuan mereka ngelakuin hal kayak gitu?

Nih tujuannya … “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS At-Taubat9:32).

Yupz, apa yang mereka lakuin dengan tuduhan-tudahan keji itu semuanya bermuara pada pemadaman cahaya Islam. Mereka nggak rela kalo Islam tetap bercahaya, mereka nggak suka kalo Islam itu kembali Berjaya. Mereka penginnya, generasi-generasi Islam itu jadi generasi yang letoy, nggak peduli dengan Islam, generasi yang ngikut peradaban Barat yang cenderung merusak.

Kita ngomong, eh.. nulis begini bukan tanpa bukti. Ini bukan juga provokasi, karena buktinya sudah terpapar dengan jelas. Kalo Islam dikerdilkan, nggak boleh bicara yang radikal, nggak boleh ngelakuin amar makruf nahyi munkar, maka sudah pasti, generasi muslimnya jadi generasi penganut akidah dan syariat selain Islam. Jelas sekali tujuannya ke situ, dan ini super duper bahaya buat Islam dan generasinya. Karena kalo Islam dicegah dari aktivitas amar makruf nahyi munkar, dan ketika berbicara amar makruf nahyi munkar dicap radikalis, maka sebagian besar isi Al-Qur’an dan Hadist akan tidak terjalankan.

Kalo mereka berhasil menuduhkan radikalis ke generasi muslim, maka nanti bakal muncul sikap defensive apologetic. Nah apa defensive apologetic? Ya, sikap dimana sekan-akan dia menghindari dari tuduhan tersebut, lalu membela dan menempatkan diri seperti yang diinginkan yang menuduhkan. Riilnya kayak gini, kalo generasi muslim kita dituduh “jangan fanatik-fanatik banget deh”, lalu sikap defensive nya “Ah gue mah nggak fanatik, gue orangnya moderat”. Contoh lain yang ekstrim, ketika ada yang menuduh “Kamu teroris ya?”, maka sikap defensivenya “Nggak gue pluralis”.

Nah, sikap seperti itu berbahaya banget man-teman, karena nanti seakan-akan Islam itu dikotak-kotak menjadi Islam teroris vs moderat, islam fundamentalis vs pluralis, islam fanatic vs islam biasa-biasa aja, dan sebagainya. Kalo penggiringan opini jahat kaum yang benci Islam itu berhasil, maka yang terjadi muncullah generasi Islam yang nggak lagi cinta Islam, sebaliknya generasi yang nggak ngeh atau malah benci syariat Islam.

Misalnya ketika ada tuduhan bahwa syariat Islam berupa jihad itu sebagai tindakan teroris, radikalis, dan generasi muslim ayo aja ketika dituduh begitu, maka berikutnya generasi muslim, takut sendiri dengan syariat tentang jihad, atau malah anti dengan jihad. Ini kan parah ?! Padahal, jihad adalah bagian dari syariat Islam.

Memegang Bara Islam

So gaes, Islam berikut syariat-syariatnya ini membawa kedamaian bukan ancaman. Bukan berarti ketika membawa kedamaian, lalu dibelokkan opininya bahwa Islam itu moderat, Islam itu toleran dengan kemungkaran. Nggak begitu juga. Makanya nih gaes, sebagai generasi muslim kita memang kudu banyak-banyak nyari ilmu, biar nggak mudah dibelokkan oleh opini-opini yang menyesatkan. Ilmu itulah yang bakal jadi benteng, ketika ada serangan-serangan dari orang-orang yang hendak memadamkan cahaya Allah tadi. Makanya jangan males, yang rajin ngajinya. #YukNgaji

Then, ilmu dan ngaji juga yang jadi salah satu faktor bisa bikin kita istiqomah di dalam Islam. Di jaman kiwari seperti sekarang ini, serangan-serangan itu makin kuat, kalo kita nggak siapin bentengnya, bakal jebol juga pertahanan Islam kita.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda, “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi).

Jadi, istilahnya sedia payung sebelum hujan, persiapkan benteng sebelum musuh datang menyerang. Maka saat itulah, istiqomah akan mudah kita dapatkan. Biarlah kita menjadi generasi para pemegang bara Islam, asalkan balasannya surga. Allahu Akbar! []

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *