Buletin Teman Surga 043. Ibumu, Ibumu, dan Ibumu

0
49
Buletin Teman Surga-043. Ibumu

Buletin Teman Surga-043. IbumuIbu, bunda, mom, mamah, ummi atau panggilan apapun namanya, yang pasti ibu adalah sosok yang sangat mulia dan kudu kita muliakan. Bukan berarti bapak yang juga sebagai orang tua kita, nggak mulia. Beliau tetap harus kita muliakan juga, bahkan al-qur’an menyebut keduanya secara bersamaan. Walaupun di beberapa dalil menyebutkan bahwa ibu menempati posisi sangat mulia. Kenapa ibu begitu menduduki posisi sangat mulia? Karena dari segi posisi dan peran emang ibu porsinya banyak. Seenggaknya ibu kita mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama hamil, kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Makanya kita sebagai anaknya, durhaka banget kalo sampe kita nggak memuliakan ibu kita.

Muliakan Kedua Orang Tuamu

Prioritasnya tetap kedua orang tua, yakni bapak dan ibu, nggak boleh pilih kasih, keduanya sama-sama mulia dan kudu bin wajib kita muliakan, sebagaimana firman Allah SWT:

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKu-lah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)

Hormatnya kita kepada orang tua kita itu bukan tanpa alasan. Sebab atau alasannya sudah disebutkan dalam sebut hadits:

“Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata, “Ridha Allah tergantung ridha orang tua dan murka Allah tergantung murka orang tua.“ (al hadits)

Bahkan doa mereka makbul lho…

“Ada tiga do’a yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak diragukan tentang do’a ini: (1) do’a kedua orang tua terhadap anaknya, (2) do’a musafir (orang yang sedang dalam perjalanan), (3) do’a orang yang dizhalimi.” (HR. Al-Bukhari)

Nah, kira-kira cara apa saja yang kita bisa lakukan untuk menghormati kedua orang tua kita? Walaupun nggak bisa kita sebutin semua, setidaknya apa yang kita tulis di sini bisa mewakili niat baik kita buat memuliakan orang tua kita. Cara yang bisa kita tempuh, untuk menghormati Beliaunya,

Pertama, buatlah mereka senang alias bahagia dengan tertawa

Seseorang datang kepada Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Aku akan berbai’at kepadamu untuk berhijrah, dan aku tinggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis.” Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa-i, Al-Baihaqi, dan Al-Hakim)

Kedua, sudah pasti cara menghormati kedua orang tua adalah mendoakannya. Jelas bahwa doa anak akan menjadi kebahagiaan untuk orang tuanya ya sobat, sebab itu wajib untuk selalu mendoakan kebaikan untuk orang tua.

“Robbirhamhuma kamaa rabbayaani shagiiro” (Wahai Rabb-ku kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil). (QS. Al-Isra : 24).

Ketiga, jangan sampai kita mencela atau memanggil nama orang tua teman kita dengan maksud untuk candaan, karena itu akan berbalik kepada kita.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Termasuk dosa besar adalah seseorang mencela kedua orang tuanya dengan cara dia mencela bapaknya orang lain, maka orang tersebut balas mencela bapaknya. Dia mencela ibu seseorang, maka orang tersebut balas mencela ibunya.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Keempat, jangan membantah kalo disuruh kedua orang tua, walaupun hanya dengan bilang “ah” aja.

Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah perkataan yang baik” (QS. Al-Isra : 23).

Kelima, nafkahi mereka terutama anak laki-laki ke orang tuanya, apalagi kalo mereka sudah tua tidak mampu lagi bekerja atau menghasilkan uang:

“Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka infakkan. Jawablah, “Harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu bapakmu, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebajikan yang kamu perbuat sesungguhnya Allah maha mengetahui” (QS. Al-Baqarah 215)

Keenam, tetap menghormati mereka meskipun mungkin kita berbeda keyakinan dengan orang tua kita:

“Dan jika kedua memaksamu mempersekutukan sesuatu dengan Aku yang tidak ada pengetahuanmu tentang Aku maka janganlah kamu mengikuti kedua dan pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik dan ikuti jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu maka Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS.Luqman : 15).

Ketujuh, jangan jadikan orang tua kita sebagai pembantu alias pengasuh anak-anak kita, padahal seharusnya kita yang kudu merawat mereka ketika mereka sudah tua.

“Sungguh hina, sungguh hina, kemudian sungguh hina, orang yang mendapatkan salah seorang atau kedua orangtuanya lanjut usia di sisinya (semasa hidupnya), namun ia (orangtuanya) tidak memasukkannya ke Surga.” (HR: Ahmad).

Nah, itu beberapa cara memuliakan kedua orang tua kita, yang salahsatu di antaranya adalah ibu kita yang sudah mengandung, menyusui, dan mengasuh serta mengurusi keperluan kita saat kita masih kecil. Ketika kita udah gede, tingkah lakunya jangan kayak bayi gede. Dikit-dikit ibu, baju kita suruh ibu yang nyuci, setrika, kaos kaki hilang minta ibu nyariin, pekerjaan sekolah nyuruh ibu yang ngerjaian. Kalo begitu terus, kapan kita dewasanya, kita akan jadi bayi terus sampe kita besar, bahkan jadi anak mami walaupun sudah berkeluarga. Duh, jangan sampe deh ya.

Ibu Memang Istimewa

Setelah secara umum di atas tadi disebutkan kalo kita diminta memuliakan kedua orang tua, lalu berikutnya ada posisi tertentu ibu kita dapat kedudukan istimewa, bahkan sampe disebut 3 kali. Seperti disebutkan dalam sebuah hadits:

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan, “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. ….. realitasnya  karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu, dan seorang ayah tidak memilikinya. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi X : 239).

Kisah yang sangat familiar diriwayatkan Imam Muslim, yakni kisah Juraij, sampai didoakan jelek oleh ibunya gegara si Juraij lebih mengutamakan sholat (sunnah) daripada panggilan ibunya. Imam An Nawawi dalam Syarah Muslim mengatakan: “Para ulama mengatakan: ‘ini dalil bahwa yang benar adalah memenuhi panggilan ibu, karena Juraij sedang melakukan shalat sunnah. Terus melanjutkan shalat hukumnya sunnah, tidak wajib. Sedangkan menjawab panggilan ibu dan berbuat baik padanya itu wajib, dan mendurhakainya itu haram’”.

Rasulullah SAW telah bersabda,” Wajib memenuhi panggilan ibu dari pada sholat sunah,” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Hadits berikut juga cukup fenomenal, karena menunjukkan betapa mulianya seorang ibu, bahkan surga saja berada di bawah telapk kakinya.

“Dari Mu’awiyah bin Jahimah as-Sulami bahwa ayahnya Jahimah as-Sulami datang kepada Nabi Muhammad dan berkata: Wahai Rasulullah! Aku ingin ikut dalam peperangan (berjihad di jalan Allah  dan aku datang untuk meminta pendapatmu.” Maka Rasulullah bersabda, “Apakah kamu mempunyai ibu?” Dia menjawab, “Ya.” Rasulullah  bersabda, “Tetaplah bersamanya! Karena sesungguhnya surga ada di bawah kedua kakinya.” (Imam an-Nasa’i, al-Hakim, dan ath-Thabrani)

Anak Shalih Hasil Didikan Ibu

Selain nama-nama ibu yang udah disebutkan dalam al-Quran,  seperti ibunda nabi Musa,  ibunda Nabi Isa, dan lain sebagainya,  ada banyak ibu-ibu shalihah yang pernah tercatat oleh tinta sejarah, darinya lahir anak-anak shalih. Nah,  karena salking banyaknya, yang kita cantumkan di sini ibu-ibunya para ulama dan pejuang aja,  tanpa menafikan para ibu-ibu shalihah yang lain.

Pertama: Ibu Sufyan ats-Tsaury

Beliau adalah tokoh besar generasi tabi’ at-tabi’in. Ia seorang fakih yang disebut dengan amirul mukminin fil hadits (pemimpin umat Islam dalam hadits Nabi). Di balik ulama besar generasi ketiga ini, ada seorang ibu yang shalihah. Ibu yang mendidik dan menginfakkan waktu untuk membimbingnya. Beliau merasa bimbang jika menuntut ilmu, maka butuh modal dan bekal. Jika mencari modal dan bekal maka tidak bisa fokus belajar. Karena ilmu itu mudah pergi dan menghilang.

Datanglah pertolongan Allah melalui ibunya. Ibunya berkata, “Wahai Sufyan anakku, belajarlah..aku yang akan menanggumu dengan usaha memintalku”. Ibunya menyemangati, menasihati, dan mewasiatinya agar semangat menggapai pengetahuan. Di antara ucapan ibunya adalah “Anakku, jika engkau menulis 10 huruf, lihatlah! Apakah Kau jumpai dalam dirimu bertambah rasa takutmu (kepada Allah), kelemah-lembutanmu, dan ketenanganmu? Jika tidak kau dapati hal itu, ketahuilah ilmu yang kau catat berakibat buruk bagimu. Ia tidak bermanfaat untukmu”.

Kedua: Ibu Imam Malik bin Anas

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Uwais, “Aku mendengar pamanku, Malik bin Anas, bercerita, ‘Dulu, sewaktu aku kecil, ibuku biasa memakaikanku pakaian dan mengenakan imamah (sejenis sorban yang diikatkan di kepala) untukku. Kemudian ia mengantarkanku kepada Rabi’ah bin Abi Abdirrahman. Ibuku mengatakan, ‘Anakku, datanglah ke majelisnya Rabi’ah. Pelajari akhlak dan adabnya sebelum engkau mempelajari hadits dan fikih darinya’.”

Ketiga: Ibu Imam asy-Syafi’i

Ayah Imam asy-Syafi’i wafat dalam usia muda. Ibunyalah yang membesarkan, mendidik, dan memperhatikannya hingga kemudian Muhammad bin Idris asy-Syafi’i menjadi seorang imam besar. Ibunya membawa Muhammad kecil hijrah dari Gaza menuju Mekah.

Imam asy-Sayfi’i bercerita tentang masa kecilnya, “Aku adalah seorang anak yatim. Ibukulah yang mengasuhku. Namun ia tidak memiliki biaya untuk pendidikanku… …aku menghafal Alquran saat berusia 7 tahun. Dan menghafal (kitab) al-Muwaththa saat berusia 10 tahun. Setelah menyempurnakan hafalan Alquranku, aku masuk ke masjid, duduk di majelisnya para ulama. Ku hafalkan hadits atau suatu permasalahan. Keadaan kami di masyarakat berbeda, aku tidak memiliki uang untuk membeli kertas. Aku pun menjadikan tulang sebagai tempat menulis”.

Keempat: Ibu Imam al-Bukhari

Imam al-Bukhari tumbuh besar sebagai seorang yatim. Ibunyalah yang mengasuhnya. Ibunya mendidiknya dengan pendidikan yang terbaik. Mengurus keperluannya, mendoakannya, dan memotivasinya untuk belajar dan berbuat baik.

Saat berusia 16 tahun, ibunya mengajak Imam al-Bukhari bersafar ke Mekah. Kemudian meninggalkan putranya di negeri haram tersebut. Tujuannya agar sang anak dapat menimba ilmu dari para ualma Mekah. Dari hasil bimbingan dan perhatian ibunya, jadilah Imam al-Bukhari seperti yang kita kenal saat ini. Seorang ulama yang gurunya pernah mengatakan, “Tidak ada orang yang lebih hebat darinya (dalam ilmu hadits)”.

Kelima: Ibu Sultan Muhammad al-Fatih

Setelah shalat subuh, Ibu Sultan Muhammad al-Fatih mengajarinya tentang geografi, garis batas wilayah Konstantinopel. Ia berkata, “Engkau –wahai Muhammad- akan membebaskan wilayah ini. Namamu adalah Muhammad sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ. Muhammad kecil pun bertanya, “Bagaimana aku bisa membebaskan wilayah sebesar itu wahai ibu?” “Dengan Alquran, kekuatan, persenjataan, dan mencintai manusia”, jawab sang ibu penuh hikmat.

Itulah ibu Muhammad al-Fatih, mendidik anaknya di waktu berkah pagi hari. Dia tidak membiarkan anaknya terbiasa dengan tidur di waktu pagi. Ia lakukan sesuatu yang menarik perhatian sang anak. Memotivasinya dengan sesuatu yang besar dengan dasar agama dan kasih sayang, bukan spirit penjajahan.

So, gaes. Kita paparkan penggalan kisah di atas agar kita senantiasa jangan meremahkan peran ibu kita sekecil apapun itu.  Orang tua kita,  terutama ibu sumber ilmu,  sumber keberkahan.  Taati mereka selagi mereka taat sama Allah.  Hormati beliau bagaimanapun kondisi ilmu dan keimanan mereka. Semoga kelak kita bisa sesurga dengan bapak dan ibu kita.  Aamiin []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here