Pages Menu
Categories Menu

Posted on Jan 7, 2019 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 045. Apa Kabar Raportmu?

Buletin Teman Surga 045. Apa Kabar Raportmu?

Buletin teman surga-045. raportKalo ditanyai raport, kira-kira ada yang senyum kecut nggak? Ada yang malu-maluin kucing, eh malu-malu kucing? Tapi yang jelas, kita yakin kalo nilai raport man-teman pembaca setia Teman Surga ngga ada yang kebakaran. Iya kan? Kalo ada, cepet-cepet panggil pemadam kebakaran, hehe…

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Penilaian Manusia Penting Nggak Sih?

Kali aja ada yang ngeles, “Ah penilaian manusia mah nggak penting, yang penting penilaian Allah”, Ngeles begitu itu tanda nggak mampu, hehee… Iya soalnya kalo emang nilai dari manusia nggak penting, ya nggak mungkin ada sekolah, ada guru, ada raport. Raport sejenis kumpulan evaluasi prestasi, tingkah laku, perilaku kita selama 1 semester, kurang lebih 6 bulan. Kalo rapor dinilai nggak penting ya nggak mungkin sampai ada penghargaan bagi yang berprestasi.

Dalam beberapa hal memang ada penilian manusia nggak lebih penting dibandingkan dengan penilaian dari Allah. Kayak contoh ibadah sholat kita, tentu saja niat kita ibadah adalah karena Allah maka penilaian benar-salahnya, sah atau tidaknya sholat kita pake standarnya dari Allah, yang sudah dituntutkan bagi kita di Qur’an dan hadits. Nah, dengan berbekal standar dari Allah tersebut manusia bisa ngasih penilaian udah bener belum sholatnya, udah sesuai syarat dan rukun belum sholatnya, dan lain sebagainya.

Jadi, boleh nggak manusia ngasih penilaian? Boleh bangets. Jangan terkecoh dengan kata-kata mba-mba youtuber yang lagi kacau pikirannya, yang ngoceh kalo manusia (orang Islam) nggak bisa ngasih nilai salah atau bener terhadap orang lain. Jangan karena modal ketenaran, orang bisa sembarangan dianut omongannya. Kudu ada standar atau rujukkannya, yakni kembai ke Qur’an, Hadits untuk mengatakan sesuatu itu baik-buru, benar-salah.

Kalo kita sebagai muslim mengatakan alias menilai orang yang selain Islam disebut kafir, karena memang Qur’an mengatakan begitu (QS At Taubah: 30-31, QS Al-Maidah : 17, QS.Al Bayyinah: 6). Nah, kita berkata atau menyampaikan penilaian seperti itu, nggak bisa dicap sebagai menghina orang lain. Itu adalah hasil justifikasi al-Qur’an yang mana al-Qur’an merupakan pedoman hidup seorang muslim. Jadi wajar bin boleh dong, kalo kita pake standar Qur’an untuk menilai sesuatu itu baik-buruk, benar-salah.

Oke kembali ke persoalan rapor tadi ya, gaes. Jadi raport itu memang semata-mata menilai aktivitas yang sifatnya duniawi. Raport sebagai bentuk evaluasi belajar, sehingga kalo dikatakan penilaian raport itu nggak penting atau nggak perlu, maka kita nggak bisa ngevaluasi belajar kita sudah baik atau belum, sudah sesuai standar atau belum.

Itulah kenapa rapor bisa jadi unsur penilaian kita bisa naik kelas atau nggak. Karena emang evaluasi itu dibutuhkan bagi aktivitas yang memerlukan proses. Selama proses belajar kita satu semester atau satu tahun itulah yang menjadi acuan penilaian atau evalusi, kita layak atau nggak untuk dapat nilai bagus, sehingga bisa naik kelas, dan sebagainya. Jadi, jangan sampe masih ada yang menyepelekan penilaian manusia, dengan dalih yang penting penilian dari Allah. Nggak, nggak boleh gitu. Penilaian dari Allah itu memang penting, tapi penilaian dari manusia (raport) dibutuhkan untuk yang sifatnya mengevaluasi proses pembelajaran kita di sekolah.

Rapormu Banyak Merahnya?

Masih musim nggak sih angka merah di raport? Hehe… kayak buah-buahan aja pake musim segala. Sepertinya sudah nggak ada ya, nilai rapor merah alias kebakaran, kecuali emang kamunya kelewat bandel. Disebut nilai merah, biasanya karena nilainya 5 ke bawah, atau kalo dalam bentuk huruf nilainya banyakan D.

Tapi kalo sampe ada yang nilainya merah, emang saatnya kamu evaluasi. Jangan karena mentang-mentang nggak suka sama pelajarannya, atau nggak suka sama gurunya, lantas dibiarin nilainya merah. “Peduli amat, yang penting mah pelajaran lain nggak merah”, jangan sampe punya pikiran kayak gitu. Karena itu tandanya kita menyepelekan pelajaran atau penilaian dan akhirnya kita malas belajar. Kalo di masa masih sekolah saja sudah malas belajar, maka jangan nyesel kalo nanti kita tua jadi nggak ngerti. Iya serius, penyesalan-penyesalan kita sekarang atau hari ini, kalo kita mau jujur, itu karena banyaknya kesalahan kita di masa lalu.

Ketika kita sekarang SMA misalnya, nggak suka pelajaran matematika, itu bukan karena tiba-tiba saja kita tidak suka. Tapi dimulai dari kita SD, trus SMP, eh ternyata berlanjut sampe kita SMA. Jangan-jangan nanti kuliah, atau bahkan kelak kalo punya anak, kita bakal menanamkan “dendam” ketidaksukaan  matematika kepada anak kita. Makanya hati-hati yang hari ini masih menyepelekan belajar, trus mengacuhkan penilaian rapor yang dapat nilai merah, itu ngaruh lho di masa depan kita kelak.

Kata petuah Imam Ali ra bahwa “Balas dendam terbaik adalah dengan menjadikan kita lebih baik”. Jadi, jangan sampe kesalahan-kesalahan di masa lalu, terulang tanpa kita pernah evaluasi, yang berujungnya pada penyesalan. Nah, kita nggak pernah tahu langkah kita itu sudah baik atau belum, kalo terkait dengan pelajaran sekolah ada nilai merahnya, itu menjadi warning agar kita hati-hati dalam proses belajar kita.

Apalagi kalo item atau unsur penilaian yang dapat nilai merah itu terkait dengan perilaku kita, itu harus lebih hati-hati lagi. Misalnya, di item penilaian budi pekerti, sopan santun, akhlak, ini adalah item yang penting dan jangan sampe dapat nilai merah. Kalo sampe ada yang dapat nilai merah di item tersebut, berarti memang ada yang error di pemahaman dan perilaku kita. Ini harus cepet-cepet dievaluasi. Kalo sudah dievaluasi, harus segera diperbaiki. Sebab kalo nggak segera dievaluasi, maka akan jadi habits alias kebiasaan yang mendarah daging, sampe kita dewasa, bahkan tua.

Meskipun kebanyakan orang lebh fokusnya kalo lihat raport yang dilihat adalah nilai mata pelajaran, sementara yang non pelajaran, cenderung dipandang sebelah mata. Padahal salah satu kita tujuan sekolah agar akhlak dan budi pekerti kita menjadi baik. Kalo sekolah hanya memproduksi orang-orang pinter, tapi nggak peduli dengan perilaku anak didik, maka berarti ada yang salah pada sekolah tersebut. Demikian pula orang tua, yang fokus melihat rapot anaknya dari sisi kepandainnya, tapi abai terhadap perbaikan nilai-nilai spiritual si anak, maka anaknya hanya akan jadi orang pinter tapi minus nilai spiritualnya. Jangan sampe kayak gitu ya, gaes.

Hisablah Dirimu Sebelum Dihisab

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allôh dan hendaklah setiap jiwa melihat apa yang sudah dia kerjakan untuk esok hari, dan bertaqwalah kepada Allôh, sesungguhnya Allôh mengetahui apa yang kalian kerjakan” (QS. Al Hasyr 46)

Pelajaran penting dari evaluasi rapor sekolah kita, bahwa kita memang perlu mengevaluasi langkah, perilaku, perbuatan, amal kita selama hari kemarin, bahkan selama kita di dunia, untuk persiapan hari yaumul hisab kelak. Kalo pun memang nggak ada manusia yang menilai sholat kita misalnya, maka kita tetap harus peduli dengan sholat kita, wudhu kita, puasa kita, doa kita, dzikir kita, dan sebagainya sudahkah itu benar sesuai tuntunan Qur’an-Hadits ataukah tidak? Itu sebagai bahan evaluasi.

Kalo perlu kita buat semacam daily activity untuk aktivitas ibadah sunnah apalagi yang wajib. Misalnya kita bikin target dan nilai sendiri, hari ini mau berapa lembar membaca al-qur’anya, trus dijaga jangan sampai besok, jumlah lembarannya berkurang dari hari ini. Demikian juga, kita mau target berapa rakaat qiyamul lail kita hari ini, dan tercapai nggak target yang sudah kita buat tersebut, trus dievaluasi kira-kira sebab nggak nyampenya target kenapa? Dan besok harus sampai pada target yang sudah kita tentukan. Begitu seterusnya, untuk hal-hal yang wajib ataupun sunah.

Umar ra pernah mengucapkan kata-katanya yang sangat terkenal: “Haasibu anfusakum qabla antuhasabu” (Hisablah dirimu sebelum kelak engkau dihisab). Begitu pentingnya kita melakukan muhasabah secara berkala, karena segala perkataan dan perbuatan kita dicatat dengan cermat oleh malaikat Raqib dan Atid dan akan dimintakan pertanggung jawabannya kelak di hadapan Allah, baik besar maupun kecil.

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Al Qaf 18)

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah:7-8)

Nah, evaluasilah atau hisablah diri kita masing-masing meskipun mungkin tidak ada manusia yang mengevaluasi. Jadikanlah hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini. Serta kelak di yaumul hisab, kita termasuk salah satu pemuda-pemudi yang berhak dapat naungan dari Allah SWT.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi, An-Nasai, Al Baihaqi)

Semoga di yaumul hisab kelak, kita bukan termasuk orang yang bangkrut. Bangkrut dalam artian, timbangan amal kebaikan kita kalah berat dengan timbangan amal keburukan. Karena, ternyata amal saleh yang dilakukan terlalu sedikit untuk menebus dosa-dosa kita yang banyak sehingga kita harus menebusnya di neraka. Nadzubillah min dzalik.

So, mulai hari ini jangan sepelekan raportmu. Jangan abaikan nilai raportmu. Teruslah berevaluasi, baik urusan dunia, terlebih-lebih urusan akhirat. Jangan putus asa memperbaiki diri. Ganbate kudase, gaes. Man Jada Wajadda. Barang siapa bersungguh-sunguh dia akan berhasil. Allahu Akbar! []

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *