Pages Menu
Categories Menu

Posted on May 8, 2019 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 062. Welcome Ramadhan

Buletin Teman Surga 062. Welcome Ramadhan

buletin teman surga 062. welcome ramadhanAlhamdulillah yang dinanti tlah kembali menemui insan yang merindu. Ya, merindu bulan Ramadhan yang agung. Bisa jadi kita sedang menjalankan ibadah shaum Ramadhan saat buletin ini ada di genggaman tangan TemanSurga. Kesyukuran adalah hal pertama yang harus kita panjatkan karna Allah Ta’ala menyampaikan umur kita untuk bisa kembali berpuasa dan meraih banyak pahala dan ampunan di bulan mulia ini. Banyak hal yang menjadi ciri bahwa kita sudah dekat atau sedang berada di bulan puasa ini. Dari mulai ber-seliweran-nya iklan sirup di tv, semakin banyaknya penjaja makanan menjelang berbuka puasa sampai maraknya acara program televisi yang mendadak religi. Eits.. apa itu menjadi barometer baku bahwa seperti itulah bulan puasa? Atau hal ini hanya terjadi di negeri berflower saja? Cuuzz.. lanjut baca.

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Wajibnya puasa Ramadhan bagi setiap muslim pastinya sudah diketahui bahkan dalilnya banyak yang menghapalnya. Gimana ngga hapal, setiap ada pesantren kilat ramadhan di sekolah ayat ini pasti sering dibacakan. Ya, Qur’an surat Al Baqarah 183 menjadi dalil diwajibkannya puasa ramadhan bagi orang-orang yang beriman. Hhmm.. sebenarnya siapa saja bisa berpuasa namun hanya landasan iman-lah yang menjadi pembeda nilai dari ibadah ini.

Meski Allah SWT telah mewajibkan, tapi ada saja yang tetap santai ngga berpuasa malah makan dan minum seenaknya. Bagi seorang yang berstatus muslim tapi tidak menjalankan ibadah puasa tentu perlu direkonstruksi keimanannya. Orang yang kaya gini perlu “disadarkan” bahwa kita ini hidup di dunia bersandar hanya kepada Allah sebagai Pencipta dan Pengatur. Dan Sang Pencipta mengatur agar kita berpuasa penuh selama sebulan sebagai bukti ketaatan kita kepadaNya.

Oiya, ternyata puasa itu bukan cuma menahan makan dan minum lho TemanS, menurut Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin puasa memiliki tiga tingkat.

Pertama, puasanya orang awam (orang kebanyakan) yaitu menahan makan, minum, dan menjaga kemaluan dari godaan syahwat. Just it. Maksudnya puasa sih puasa  cuma sayang dari puasanya cuma dapat lapar dan haus aja. Karna meski tubuhnya berpuasa dari makan dan minum ternyata dia masih bermaksiat kepada Allah seperti puasa tapi pacaran meski katanya pacarannya lebih “sopan” dengan ngajak buka puasa dan tarawih bareng.

Atau ada lagi nih, puasa sih puasa tapi itu lisan udah kaya perosotan anak TK kalau udah ngomongin atau ghibah-in orang. Atau puasa sih puasa tapi masih umbar aurat. Nah, yang kaya gini nih yang pahala puasanya bisa menguap hilang.

Rasulullah saw bersabda “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga (haus) saja” (HR. Ibnu Majah).

Ini sih rugi pake banget guys. Kalau orang yang puasanya model begini perlu di-reset dengan mulai meluruskan niat berpuasa benar-benar hanya karna Allah dan tanamkan dalam benak bahwa perintah berpuasa hakikatnya adalah menahan diri bukan hanya dari makan dan minum tapi menahan diri dari memperturuti hawa nafsu atau melakukan kemaksiatan kepada Allah. Dan yang berikutnya, biar ngga awam harus rajin ikut kajian cari ilmu supaya paham apa saja yang akan membatalkan pahala puasa dan bagaimana agar puasa kita sampai kepada derajat taqwa.

Tingkatan kedua, puasanya orang khusus yaitu selain menahan makan dan minum serta godaan syahwat juga menahan pandangan, pendengaran, ucapan, gerakan tangan dan kaki dari segala macam bentuk dosa. Puasa yang kaya gini disebut sebagai puasanya para shalihin (orang-orang shalih).

Menurut Imam Al Ghazali, seseorang tidak akan mencapai kesempurnaan dalam tingkatan puasa kedua ini kecuali harus melewati enam hal sebagai prasayaratnya, yaitu menahan pandangan dari segala hal yang dicela dan dimakruhkan. Nah tuh.. mata dijaga. Terhadap hal yang makruh aja harus ditahan apalagi yang haram.

Menjaga lidah dari perkataan yang sia-sia, berdusta, mengumpat, berkata keji, dan mengharuskan berdiam diri. Hhmm.. hati-hati lidah tak bertulang lho.. jangan sampai berucap yang unfaedah semisal ghibah atau gosipin orang, bohong bilangnya puasa padahal ngga. Gunakan lisan kita untuk berzikir kepada Allah serta membaca Al-Quran. Apalagi pahala baca Al Qur’an di bulan puasa itu luar biasa.

Nabi Muhammad saw bersabda, “Siapa saja yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan “alif lam mim” satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf” (HR. Tirmidzi).

Menjaga pendengaran dari mendengar kata-kata yang tidak baik. Mencegah anggota tubuh yang lain dari perbuatan dosa. Tidak berlebih-lebihan dalam berbuka, sampai perutnya penuh makanan. Hatinya senantiasa diliputi rasa cemas (khauf) dan harap (roja) karena tidak diketahui apakah puasanya diterima atau tidak oleh Allah.

Dan tingkatan yang ketiga, Puasa khususnya orang yang khusus adalah ‎puasanya hati dari kepentingan jangka pendek dan pikiran-pikiran duniawi serta menahan segala hal yang dapat memalingkan dirinya pada selain Allah SWT.

Puasa khusus yang lebih khusus lagi yaitu, di samping hal di atas adalah puasa hati dari segala keinginan hina dan segala pikiran duniawi, serta mencegah memikirkan apa-apa selain Allah Swt (shaum al-Qalbi ‘an al-Himam ad-Duniyati wa al-Ifkaar al-Dannyuwiyati wakaffahu ‘ammaa siwa Allaah bi al-Kulliyati). Menurut Al-Ghazali, tingkatan puasa yang ketiga ini adalah tingkatan puasanya para nabi , Shiddiqqiin, dan Muqarrabin. Maa sya Allah, inilah tingkatan yang bukan hanya fisik tapi hati pun tunduk taat kepada Allah.

Menjadi kebanyakan bukan berarti keren, seperti puasanya orang awam tentu kita ngga mau dong masuk ke kriteria ini. So, ngga ada salahnya untuk me-restart niat. Tentu bukan niat yang terucap di lisan saja tanpa makna tapi juga harus menghadirkan hati yang senantiasa lurus kepada Allah semata. Jadi, ngga ada tuh niat puasa biar langsing atau biar dibilang anak sholih/sholihah apalagi puasa biar dikasih hadiah sama ortu.

Makanya, biar terjaga niat kita hindari meng-upload hal-hal yang berpeluang bakal menghilangkan pahala puasa kita. Misal, bikin status “Alhamdulillah puasa hari ini lancar” atau foto selfie lagi baca qur’an dan sholat tarawih. Kenapa harus dengan dorongan keimanan?

Pertama, karna Allah menyeru perintah puasa ini kepada orang-orang yang beriman.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (TQS. Al Baqarah: 183).

Kedua, hanya puasa yang berlandaskan iman saja yang akan diganjar ampunan atas dosa yang telah diperbuat. “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni” (HR. Bukhari dan Muslim).

Selain itu, sabda Rasulullah saw mengatakan “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku…” (HR. Bukhari). So, jagalah hati.. jangan sampai ada yang lain selain Allah.

Setelah niat ikhlas liLlaahi Ta’ala, hiasi puasa Ramadhan kita dengan amalan-amalan terbaik, tidak menyia-nyiakan momen Ramadhan mulia yang cuma setahun sekali ini. Yaitu mulailah merancang target dan amalan apa saja yang akan dilakukan. Misal mau khatam qur’an berapa kali, nambah hapalan berapa surat, membiasakan dan mengistiqomahkan sholat dhuha dan tahajud, sholat tarawih di mesjid, rutin menghadiri kajian Islam guna menambah keimanan dan pemahaman tentang agama.

Jangan sampai kita malah lebih banyak merancang pengan makan sahur dan berbuka sama apa aja, ditambah yang lebih padat bikin jadwal buka bersamanya. Haduuh.. ingat ya friends ramadhan itu bulan merasakan lapar bukan kenyang. Untuk apa kita menahan diri dari lapar dan haus kalau magrib tiba saatnya berbuka malah seolah “balas dendam” dengan makan ini dan itu.

Ingaaatt Fokuuss!! Apa fokus kita?? yes, menjadi muttaqiin (orang-orang yang bertaqwa). Puasa dapat menghantarkan kepada derajat taqwa tentu jika dilandasi dengan keimanan. Taqwa adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, karena mengharap pahala dari Allah Ta’ala dan rasa takut terhadap adzab Allah.

Hikmahnya, dari puasalah seseorang akan menahan hawa nafsu yang kemudian akan menghindarkan dari perbuatan maksiat dan keburukan.

Sebagaimana sabda Rasulullah saw “Puasa adalah perisai” (HR. An Nasa’i).

Selanjutnya, puasa melatih kita untuk kuat dan sabar. Sehingga akan lebih mudah bagi kita meninggalkan apa-apa yang Allah ngga suka begitupun dengan puasa yang disertai dengan amalan-amalan sholih lainnya akan membuat kita lebih mudah dan terbiasa melakukan ketaatan dalam melaksanakan syariat Allah (Islam).[]

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *