Pages Menu
Categories Menu

Posted on Jul 24, 2019 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 072. Bangkitlah Anak Indonesia

Buletin Teman Surga 072. Bangkitlah Anak Indonesia

buletin teman surga 072. bangkitlah anak indonesiaNamanya juga anak-anak. Saat adik kita tiba-tiba pecahin gelas, dengan santainya ngebanting hape, ngerusak remote tv, sembunyiin kunci motor, atau bikin nangis anak tetangga karna rebutan mainan pasti jawaban dari Ibu kita sesaat setelah menghela nafas panjang adalah “namanya juga anak-anak”.

Anak-anak seolah “kebal hukum”, ngga boleh dimarahin, kalaupun ditegur pasti dengan bahasa yang lembut. Kamu yang jadi kakak jangan iri, dulu waktu kamu kecil juga gitu. Memang yang namanya anak kecil seandainya pun melakukan hal yang bikin jengkel, ngga bisa gitu aja dimarahin apalagi sampai dipukulin. Karna mereka masih belum ngerti mana yang boleh dan mana yang ngga, atau mana yang bahaya untuk dilakukan mana yang ngga. Ya iyalah, mereka itu masih belum bisa berpikir apalagi tertaklif (terbebani hukum syara).

Di dalam hadits riwayat Abu Dawud, Rasulullaah saw bersabda yang artinya “Pena diangkat dari tiga golongan yaitu orang yang tidur hingga terbangun, orang yang masih kecil hingga ia baligh, dan dari orang yang gila hingga kembali berakal”. Maksudnya diangkat pena adalah apa yang mereka lakukan tidak dicatat dan tidak dimintai pertanggung jawaban oleh Allah.

Nah, adik kecil kita termasuk di antaranya ya, meski mereka tetap harus didampingi dan diajarkan hal-hal baik dan positif sedari dini. How about you? Yakin deh, di antara kamu pasti ngga ada yang mau dianggap anak kecil. Merasa sudah remaja bahkan ingin dianggap dewasa. Walau kadang ngga sedikit juga yang masih bertindak seperti anak-anak. Misalnya, marah atau nangis kalau apa yang diinginkan ngga dikasih ortu.

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Apa Kabar Anak Indonesia Hari Ini?

Pengennya sih langsung jawab Alhamdulillah, Luar Biasa, Allohu Akbar!!. Tapi, sepertinya jawaban ini masih sebatas doa dan harap. Bukan bermaksud pesimis, tapi fakta yang terjadi masih bikin kita miris.

So, yuk guys kita kritis jangan sampai Ibu Pertiwi menangis karna lihat anak bangsa bertingkah hedonis liberalis. Dari mulai jadi fans fanatik artis atau boy/girlband korea yang kalau ditelisik ngga ada faedahnya sedikitpun mengidolakan mereka sampai terjerumus ke pergaulan bebas yang merusak.

Ya, semua ada awalnya semua ada sebabnya. You are what you see, you are what read. Kalau yang dilihat dan ditontonnya drama korea, konser boy or girlband korea walhasil disadari atau tanpa disadari anak remaja mulai meniru perilaku idolanya. Cara berdandan dan berpakaiannya sampai tingkah laku.

Sempat viral di media sosial bocah (anak) SD yang berani pacaran dan sayang-sayangan bahkan memanggil dengan sebuatan ayah bunda, yang remaja sama juga apalagi baru-baru ini atau masih ditayangkan film remaja yang konon bermuatan sex education di mana ceritanya sepasang anak remaja yang pacaran trus having sex sampai akhirnya “dua garis” deh alias hamil.

Ceritanya sang pacar berani bertanggung jawab dengan menikahi kekasihnya yang hamil. Dan si calon ibu pun hamil di usia sekolahnya. Katanya pesan yang ingin disampaikan oleh pembuat film ini adalah agar remaja-remaja tidak melakukan sex pra nikah yang akan merugikan karna kehilangan masa muda akibat pernikahan dan hamil dini.

Tapi, apa iya akhirnya pesan yang sampai ke para remaja yang menonton mereka jadi menjauhi aktifitas pacaran dan free sex? Kalau pun iya, apa menanamkan pemahaman bahwa sesuatu itu berbahaya, merugikan terlebih itu adalah perbuatan maksiat (dosa) apa harus dengan cara memberi tontonan seperti itu yang ada film itu malah menuntun para remaja untuk meniru hal serupa.

Ibaratnya ketika hendak menyampaikan bahwa menyentuh kawat bertegangan listrik ini berbahaya, apa harus dengan langsung menyentuhnya? Apalagi di usia remaja yang terkadang lebih mengedepankan atau mendahulukan tindakan daripada mikir dulu ditambah rasa kepenasarannya yang di atas rata-rata justru malah bikin remaja ikut-ikutan ngelakuin apa yang dilihat.

Catat friends, ngga bosen-bosen deh Teman Surga buat ngingetin. Kamu yang manis, lucu, dan imut. You are so special, kamu itu the best. Tapi, musuh-musuh Islam ngga suka kalau remaja muslim khususnya jadi spesial dan terbaik makanya mereka merusak dengan cara yang slow but sure. Mereka sebarkan racun pemikiran hedonis liberalis melalui food, fun, fashion, film. See… film menjadi salah satu cara mereka membius remaja agar terpengaruh dan menjadi follower gaya hidup bebas dan ngga mau diatur. Nanti cabangnya kalau udah gitu, si remaja bakal jadi anak pembangkang yang ngga nurut sama ortu lebih dengerin apa kata teman dan apa kata idolanya padahal uang jajan aja masih ngerengek minta ke ortu. Astaghfirulloh. Trus, gimana dengan aktifitas belajar di sekolah?

Udah bisa ketebak, remaja yang sudah terbius cara berpikir hedonis biasanya males belajar, pun belajar lebih seneng pake jurus sistem kebut semalam atau kalau udah mepet banget aksi contek mencontek jadi andalan. Ini fakta, meski ngga banyak ada juga lho remaja yang berprestasi di sekolah, santun ke orang tua pokoknya baik budi deh kalau di mata ortu. Tapi ternyata diluaran si anak baik dan pintar ini ngga malu untuk berdua-duaan sama pacarnya. Dan pada saat digerebek dan dilaporkan ke ortunya bisa dipastikan orang tuanya ngga percaya karna menurutnya anaknya baik, pintar dan berprestasi di sekolah. So, that’s why pintar di sekolah saja ngga cukup, baik di hadapan ortu pun bisa jadi hanya kamuflase.

Jangan salahkan bunda mengandung. Semua orang tua pasti mengharapkan agar anaknya yang selama 9 bulan dikandungan ibu lahir dan dibesarkan dengan kasih sayang menjadi anak sholih/sholihah dan membanggakan. Namun, saat anaknya semakin tumbuh besar dan mulai bergaul dengan teman-temannya di sinilah seolah peran orang tua luput dalam membersamai anaknya yang beranjak dari anak-anak menjadi remaja ini. Seandainya pun, dirumah sudah dibekali iman dan ilmu agama (Islam) oleh orang tua ternyata masih ada celah jika orang tua tidak menempatkan anak di lingkungan yang mendukungnya menjadi anak sholih/sholihah.

Karena pengaruh lingkungan (teman) sangat besar di masanya yang senang kumpul dan main bersama teman sebayanya, tak hanya teman bermain ternyata pemberian gadget yang tanpa disertai dengan pemahaman ilmu (Islam) dan penggunaan media sosial yang sangat mudah diakses oleh semua orang termasuk anak-anak pun menjadi media yang cepat dalam memberi pengaruh kepada mereka. Lihat saja, ada anak laki-laki kecil yang bicara saja belum jelas tapi begitu gemulai memperagakan gerakan tari girlband korea BlackPink.

Sayangnya, orang dewasa atau orang tua yang melihatnya malah tertawa geli karna menganggap itu sebagai sesuatu yang lucu. Yaa Allah, padahal si adik kecil itu sudah terpengaruh dari apa yang ditonton. Dan sangat mungkin sekali jika ini dibiarkan terus akan merusak kepribadian si anak lelaki ini kelak saat ia besar nanti. Na’udzubillah.

Fakta lain yang juga mencengangkan dan membuat miris. Terungkapnya data bahwa lima persen pelajar di SMAN dan SMKN unggulan di Jakarta punya ide untuk bunuh diri. Tentu ada atau bahkan banyak faktor yang melatarbelakangi kenapa pelajar yang “berpendidikan” ini malah punya keinginan untuk bunuh diri. Namun, yang pasti terdapat split personality pada diri pelajar tersebut yang diakibatkan salah mengambil pandangan hidup. Simplenya begini, remaja yang menjadi korban sekaligus pelaku dari gaya hidup yang dipropagandakan oleh Barat telah menjadikan mereka terseret dengan cara berpikir sekuler (memisahkan aturan agama dari kehidupan). Hal ini menjadikan remaja lemah dan tak mampu melawan derasnya arus liberalisasi, termasuk rapuh dalam menghadapi persoalan kehidupan yang tidak bisa dipungkiri pasti adanya.

Contoh sederhananya, munculnya perasaan sedih yang mendalam saat tidak diterima di sekolah favorit yang diinginkan, bahkan menganggap apa yang sudah dikorbankan selama ini untuk belajar dan bisa lulus ujian menjadi sia-sia. Padahal, terlepas dari sistem pendidikan saat ini bisa jadi sekolah yang sebenarnya bukan menjadi tujuan dan impian kamu justru menjadi wasilah kamu untuk bisa lebih kenal dengan agamamu (Islam), intinya ada hikmah dan kebaikan di dalamnya. Seperti yang Allah SWT firmankan dalam QS. Al Baqarah: 216 “…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. Catet, baik menurut kita belum tentu menurut Allah begitupun sebaliknya.

Please, Save Generation Right Now!!

Emang sedarurat itu? Emangnya separah itu? Fakta dan data sudah terpampang nyata friends. Kalau ngga sekarang juga diselamatkan, maka nasib bangsa di masa mendatang akan hancur. Karna kelak yang akan memimpin bangsa ini adalah generasi (muda) saat ini.

So, buat kamu anak bangsa kembalilah pada fitrahmu berada dalam agama yang lurus yaitu Islam.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Ar Rum: 30.)

So, let’s delete semua pemikiran yang bukan berasal dari Islam seperti Sekulerisme, Liberalisme, Hedonisme dll. Karna bukan hanya unfaedah tapi juga merusak dan merugikan di dunia dan di akhirat.

Next, masih anak-anak atau sudah dewasa bukan dilihat dari sudah punya KTP atau belum. Islam sudah sangat jelas memberi batas bahwa dewasa adalah yang sudah baligh (buat yang perempuan sudah menstruasi dan yang laki-laki sudah ihtilam atau mimpi basah) selain itu juga bisa membedakan mana yang benar dan yang salah.

So, di usia berapapun kamu baligh berarti kamu sudah tertaklif (terbebani) hukum syara yang dimana setiap perbuatan kamu harus bin wajib terikat dengan aturan Islam. The last, berani bikin “arus baru” untuk bisa melawan arus liberalisasi meski ngga mudah tapi bukan berarti mustahil. Selama nafas dakwah Islam terus dihembuskan dari satu ayat yang kamu sampaikan ke temanmu dan seterusnya begitu sampai Islam menjadi arus yang membawa umat (Islam) kembali berada di jalan yang lurus. []

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *