Pages Menu
Categories Menu

Posted on Aug 9, 2019 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 074. Pengorbananmu Jatidirimu

Buletin Teman Surga 074. Pengorbananmu Jatidirimu

buletin teman surga 074. Pengorbananmu jatidirimu“Tiada Cinta Tanpa Pengorbanan”… ciee… melow banget ya kalo ngomongin soal cinta pengorbanan. Rasanya seperti kisah di film aja. Punya rasa cinta harus siap berkorban. Bukan hanya cinta pada lawan jenis, kecintaan pada segala hal sejatinya bakal menuntut kita untuk banyak berkorban. Kalo gak mau berkorban, rasa cintanya dianggap receh. Crink!

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Pengorbananmu Untuk Apa?

Hari gini, berani berkorban sebagai ekspresi cinta bukan hal yang asing bagi remaja milenial. Kecintaannya pada hal-hal berikut, menuntut mereka untuk selalu berkorban. Tanpa tapi. Tanpa nanti.

Pertama, game online. Hobi yang satu ini, seolah sudah mendarah daging dalam diri generasi milenial. Kemudahan akses internet dan terjangkaunya harga gadget, bikin remaja nggak ketinggalan main game online. Di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja bisa mabar (main bareng) everyday. Awalnya sih cuman ngisi waktu luang. Lama kelamaan jadi kecanduan. Bawaannya gelisah kalo satu hari aja gak main game main ML atau PUBG.

Kalo udah kecanduan, tahu sendiri akibatnya. Akan banyak waktu luang dikorbankan. Banyak kewajiban terlalaikan. Bagi anak-anak, periode emas mereka banyak direnggut game online. Bagi remaja, waktu produktifitas mereka habis buat main game. Bukan cuman waktu, harta juga dikorbankan untuk beli kuota. Termasuk pikiran yang banyak tersita dengan kompetisi game biar naik level dan jadi juara.

Kedua, idola. Bagi remaja, punya idola itu bagian dari eksistensi. Biar update. Kekinian. Dan nggak jadi korban bully. Karena remaja perlu model yang bisa mereka tiru. Dan keberadaan idola, seolah menjadi jawabannya.

Kalo udah punya idola, nggak cukup sekedar ditulis dalam biodata. Minimal posternya nempel di dinding kamar. Cukup? Pastinya belum. Sebagai tanda fans, mereka bela-belain hadiri konser musisi idolanya meski harga tiketnya selangit. Nggak ketinggalan update berita keseharian sang idola. Nabung biar dandanannya, busananya, hingga aksesorisnya seperti yang dipakai sang idola. Fans berat bakal dituntut pengorbanan waktu, harga, dan pikirannya. Padahal, belum tentu sang idolanya mikirin doi.

Ketiga, persahabatan. Di balik ikatan solidaritas persahabatan, pastinya menuntut pengorbanan. Dari mulai main bareng, jalan bareng, atau makan bareng. Kalo udah lengket banget, lahir peer pressure alias tekanan teman sebaya meski nggak kerasa. Sungkan untuk berbeda, selalu berusaha sama. Walhasil, waktu, harta, pikiran dan tenaga harus selalu ada sahabat-sahabat kita.

Keempat, cinta. Kalo untuk yang satu ini, remaja nggak usah ditanya. Dalam urusan cinta, remaja yang letoy bisa berubah jadi hell boy. Mendadak jadi perkasa dan rela ngorbanin apa aja. Meski duit pas-pasan, banyak belanja aksesoris demi pencitraan. Waktu hidupnya banyak dipake untuk mikirin si dia. Berharap di balik setiap pengorbanannya, berbalas cinta sejati dari sang buah hati. Meski kenayataan sering berbicara sebaliknya.

Emang sih, kita bebas menentukan pengorbanan kita untuk apa dan siapa. Tapi bagi seorang muslim, kebebasan itu bukan berarti semau kita. Ada rambu-rambunya agar setiap pengorbanan yang kita lakukan berbuah pahala. Bukan malah menjerumuskan kita pada kubangan dosa.

Mungkin ada di antara temen kita yang banyak menghabiskan waktu untuk main game atau penyaluran hobi. Kalo kita itung-itung, kebaikan apa sih yang diperoleh dari setiap waktu berharga yang kita korbankan. Okelah kalo sesekali main game sebagai ajang relaksasi, melepas penat bin jenuh nggak masalah. Tapi kalo udah keseringan bakan sampai kecanduan, lebih besar mudharatnya daripada manfaatnya.

Padahal Rasul ngingetin kita tentang keutamaan seorang muslim. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,  “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Pengorbanan kita sejatinya berbuah pahala dan kebaikan bagi orang lain. Kalo kita banyak berkorban dalam berpacaran atau ikut tawuran, alamat berbuah dosa dan keburukan bagi orang lain. Lantaran kemaksiatan yang kita lakukan. Untuk itu, kita mesti punya standar untuk menilai apakah pengorbanan untuk empat hal di atas, sekedar luapan emosi atau ekspresi cinta sejati. Biar nggak kebablasan!

Belajar dari Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Para Shahabat

Driser, kamu pasti punya orang yang amat kamu sayangi yang amat bersejarah dalam hidup kamu. Sampai-sampai kamu rela mati untuk melindunginya. Sekarang, gimana perasaan kamu jika harus kehilangannya di depan mata kamu? Sedih pastinya. Bahkan mungkin nggak cuman sedih. Lebih dari itu, mental kamu bisa down bin rapuh.

Kalo kejadian yang menimpa Nabi Ibrahim as ini bukan lagi andai-andaian. Beliau harus ikhlas ’mengorbankan’ putra tercintanya, Nabi Ismail as. Padahal Nabi Ismail itu anak semata wayang yang sangat dinantikan kelahirannya dari istri keduanya, Siti hajar. Meski begitu, Nabi Ibrahim tetep pada pendiriannya. Apalagi Nabi Ismail yang saat itu menginjak usia remaja, menerima keputusan ayahnya dengan besar hati. Nabi Ibrahim pun siap menghunuskan pisaunya di leher putra tersayangnya….. tahan napas kalian!

…. saat mata pisau baru menempel di leher Ismail, turunlah wahyu Allah untuk mencegahnya. Rupanya, perintah Allah untuk menyembelih Ismail itu sekedar ujian keimanan kepada keduanya. Sejauh mana kepatuhan dan ketaatan mereka dalam melaksanakan perintah Allah swt. Dan mereka berhasil melaluinya dengan gemilang. Sehingga pada akhirnya Allah mengganti objek penyembelihan itu dengan seekor domba (QS Ash-Shâffat [37]: 107). Phew…hampir saja!

Ekspresi cinta sejati, ditunjukkan oleh Rasul dan para shahabat yang mengorbankan hidupnya untuk Islam. Ini bukan sekedar luapan emosi, lantaran semangat pengorbanannya tetep menyala selama hayat dikandung badan.

Kamu kenal Khalid bin Walid yang berjuluk ’Singa Allah’? Dialah panglima perang yang selalu siap pasang badannya di medan jihad. Dia bilang,

”Aku lebih menyukai malam yang sangat dingin dan bersalju, di tengah-tengah pasukan yang akan menyerang musuh pada pagi hari, daripada menikmati indahnya malam pengantin bersama wanita yang aku cintai atau aku dikabari dengan kelahiran anak laki-laki.” (HR. Al-Mubarak dan Abu Nu’aim).

Ada juga Umair bin Abi Waqash yang ngeyel pengen ikut perang badar dengan diam-diam menyelinap ke barisan pasukan kaum Mulsimin. Padahal usianya baru 16 tahun. Kalo ketahuan Rasul pasti nggak boleh tuh. Tapi ternyata, setelah Rasul tahu keinginan dan semangatnya yang menggebu-gebu, beliau mengizinkannya. Umair pun dengan gembira segera merangsek ke medan perang hingga terbunuh sebagai syahid. (HR. Al-Hakim dan Ibn Sa’ad).

Atau Abu Bakar ash-Shiddiq yang menginfakkan seluruh hartanya untuk keperluan jihad fi sabilillah. Dan Utsman bin Affan yang mendanai 10.000 pasukan perang Tabuk dari koceknya sendiri dengan membelikan masing-masing kendaraan, perbekalan, dan senjata lengkap. Nggak ketinggalan Mushab bin Umair yang rela meninggalkan kehidupan mewah dan popularitasnya demi menyebarkan dakwah Islam di yastrib (Madinah).

TemansSurga walau harta kita pas-pasan, nggak piawai memainkan pedang, atau wawasan Islam yang masih cetek, kita bisa kok berkorban untuk Islam seperti Rasul dan para shahabat. Yang penting kita getol menyampaikan kebenaran Islam di mana saja, kapan saja, kepada siapa saja, sesuai dengan kemampuan yang kita punya. Semuanya terasa mudah kalo kita bisa meraih inspiring love alias cinta yang menggugah. Cinta yang menggugah kita untuk rela berkorban tanpa pamrih. Itulah cinta kepada Allah, rasul-Nya, Islam, dan kaum Muslimin.

Transaksi Anti Rugi

Kalo diukur secara materi, mungkin ada yang ngerasa pengorbanan kita untuk Islam nggak ada untungnya. Mungkin tekor lantaran nggak terasa timbal baliknya. Ibaratnya kalo kita beli pulsa, kita dapat kuota bisa untuk internetan. Kalo kita curahkan tenaga dan pikiran untuk kerja kantoran, kita dapat gaji setiap bulan.

Tapi kalo kita bersedekah, gak dapat apa-apa selain ucapan terima kasih. Begitu juga kalo getol berdakwah, gak ada yang gaji atau ngasih tunjangan. Padahal kalo bicara untung rugi, nggak ada yang bisa ngalahin keuntungan yang kita peroleh jika ’bertransaksi’ dengan Allah. Seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu Telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang Telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah [9]: 111)

Tuh kan, gimana nggak untung kalo pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, harta, dan jiwa raga kita dibayar mahal oleh Allah swt dengan surga-Nya di akhirat nanti. Bahkan di dunia pun kita diuntungkan karena punya alasan kuat untuk lebih pede dan optimis jalanin hidup meski dihadang berbagai masalah. Dan mental kita lebih tegar dan kuat jika harus kehilangan benda kesayangan, orang tercinta, atau hobi yang digeluti ketika menjadikan ridho Allah sebagai tujuan hidup. Lantaran Allah swt siap menolong kita setiap saat. Seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. Muhammad [47]: 7)

Kalo kita mengharapkan surga sebagai tempat kembali setelah kita mati, kita mesti rela berkorban untuk Islam. Tapi jangan mentang-mentang lagi bulan haji, berkorban cuman diartikan motong kambing, kerbau, atau sapi. Bukan cuman itu.

Termasuk berkorban untuk Islam kalo kita meluangkan waktu dalam mengkaji Islam, mau mikirin urusan kaum Muslimin di seluruh dunia, menyumbangkan tenaga dalam menyebarkan dakwah Islam, membelanjakan harta di jalan Allah, serta memasang badan kita demi membela Islam dan kaum Muslimin. Kalo ngerasa belum siap, segera persiapkan diri kita dengan ikut ngaji. Nggak pake tarsok. Jangan sampe ketika maut menjemput, kita belum ‘bertransaksi jual beli’ dengan Allah swt. Rugi banget dah. Pengorbananmu, jatidirimu![]

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *