Pages Menu
Categories Menu

Posted on Aug 15, 2019 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 075. Ayo Bangkit Sobat!!

Buletin Teman Surga 075. Ayo Bangkit Sobat!!

buletin teman surga 075. ayo bangkit sobatMati gaya. Pemadaman listrik yang terjadi beberapa hari lalu khususnya di Pulau Jawa dengan durasi yang lama ternyata bikin remaja milenial yang kesehariannya ngga bisa jauh dari gadget ini seolah mati kutu, ngga berkutik bingung mau ngapain. Ibaratnya, secanggih apapun gadget atau teknologi kalau listrik sebagai sumber energi utamanya sudah mati, yaa.. ngga akan bisa berguna. Bahkan, dengan kejadian mati listrik massal kemarin ini, menimbulkan kerugian di sektor usaha dan layanan publik hingga triliunan rupiah lho guys meski ngga sampai sehari padamnya.

Kebayang ya friends, listrik padam seolah “dunia” terhenti sesaat dengan hiruk pikuk aktivitas dan kesibukan manusia. Bisa terlihat betapa manusia begitu bergantung dengan “listrik”. Jangankan mati listrik sejam dua jam, lihat lampu indikator batre hp yang low aja udah panik apalagi ini hampir setengah hari bahkan ada yang seharian mati listrik. Ups, by the way kita ngga akan membahas tentang padamnya listrik ya guys.

Walaupun sebagai generasi muda harapan bangsa, tetap harus kritis dengan setiap peristiwa yang terjadi. Jangan cuma bisanya ngedumel kesel karna ngga bisa ngeksis dan ngakses sosmed. Eits, kritis bukan berarti komen-komen yang cenderung nyinyir lho yaa.. kritis di sini adalah sikap yang menggunakan akal kita untuk berpikir dari mulai cari tahu apa yang terjadi secara detail, lalu apa yang menjadi penyebabnya sampai tataran solusi. Wiiihh… berat deh. hmm.. Ngga berat kok, ya minimal teman-teman tahu dan ngga cuek dengan apa yang terjadi di sekitar, sambil terus bersemangat mengkaji Islam. Listrik yang mati kok Islam yang dikaji?

Naah.. inilah kerennya Islam, jangankan listrik, semua hal sekecil apapun Islam punya aturannya guys. So, Islam bukan sekedar ngurusin agama and ibadah doang lho ya. Islam telah berhasil membangun peradaban mulia dengan generasi hebatnya selama kurang lebih 13 abad. Tentu ngga berlebihan, kalau aku dan kamu bisa bertekad untuk menjadi generasi hebat yang bisa membawa negeri ini menjadi yang terdepan.

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Yakin Sudah Merdeka?

Sudahlah, kamu itu masih “bau kencur” ngga usah ribet ngurusin dan mikirin negeri ini. Toh, saat ini kita sudah merdeka, kamu bisa melakukan apa aja tanpa harus merasakan ketertekanan dan penderitaan karna dijajah oleh penjajah. Ups,, kalau ada statement begini jangan langsung baper ya friends hanya karna kamu memilih menjadi remaja milenial yang cenderung melawan arus dari remaja kebanyakan.

Ya, mau ditutup mata pakai apa aja juga tetep aja kelihatan kalau remaja sekarang ini banyak yang lebih memilih berhaluan hidup hedon dan permisif. Yang di pikirannya gimana caranya happy, just it. Bebas merdeka melakukan apa aja tanpa perlu diatur-atur. Yakin merdeka guys?

Mungkin para kompeni sudah pergi dari negeri ini dan sudah tidak lagi menjajah secara fisik. Tapi, apatah perginya penjajah dari negeri ini jika ternyata mereka masih dengan leluasa menjajah generasi muda harapan bangsa ini melalui “racun” pemikiran liberal yang disuntikkan ke pikiran para remaja. Berjuta cara akan dilakukan demi menjadikan generasi hebat ini “berkiblat” pada gaya hidup barat. Cara yang mudah dan cepat melalui Film dan Song. Setelah dua garis biru yang kontroversi dengan adegan sepasang pelajar yang berpacaran hingga having sex dan akhirnya hamil, konon film ini bertujuan untuk memberikan sex edukasi. Zonk, yang ada bukannya remaja menjauhi malah merasa “dituntun” untuk melakukan hal serupa. Karna apa? Ya itulah tabiat remaja, penasaran dan pengen coba-coba. Kalau sudah begini, fix mereka berhasil bikin remaja semakin terjerumus pada gaya hidup liberal, bergaul bebas tanpa batas.

Next baru-baru ini sedang viral, film yang katanya akan tayang bulan oktober namun proses syuting sudah dimulai dan berjalan. Film yang berlatar belakang kehidupan seorang santri. Film ini didirect oleh seorang sutradara Hollywood asli Blitar. Lalu mau dibawa kemana arah film ini? Pasti selalu ada “pesan” yang ingin disampaikan kepada yang menonton, dan lagi-lagi kalangan remaja. Yess, clear.. yang memproduksi film ini ingin menampilkan Islam Nusantara yaitu Islam yang moderat dan toleran, bukan Islam yang radikal atau teroris. Hmm… menarik untuk dicermati.

Film memang media yang sering digunakan untuk menginfluence siapa saja yang menontonnya, dengan alur cerita yang dibuat dan begitu apik penonton dibawa masuk kedalam cerita dan pada akhirnya mereka pun terpengaruh dengan “pesan” terselubung dari film tersebut. Katanya film itu akan tayang bertepatan dengan hari santri. Menurut KBBI, santri adalah orang yang mendalami agama Islam. Saat mendalami Islam para santri biasanya “mondok” atau bermukim di pesantren untuk beberapa waktu yang tidak sebentar. Sosok santri yang tawadhu dengan keilmuannya, menjunjung tinggi adab menjadi seorang pembelajar dan senantiasa lekat dengan taqarrub ilallaah. Namun, seolah film ini ingin merubah image santri menjadi santri “modern” dengan terbuka dengan nilai-nilai di luar Islam seperti paham moderat dan toleran. Wait!! Jangan cepat-cepat ingin dibilang gaul dan modern friends.

Simplenya gini, Islam yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw sebagai rahmat bagi seluruh alam sudah SEMPURNA. Menambah embel-embel di belakang kata Islam justru seolah membuat Islam menjadi tidak sempurna terlebih jika disandingkan dengan paham yang berasal dari luar Islam. Memoderatkan Islam sama saja menjadikan Islam bisa menerima dan kompromi dengan nilai-nilai di luar Islam meski sebenarnya itu bertentangan dengan Islam itu sendiri. Seolah ketika ada muslim yang memegang teguh prinsip agama Islam dianggap ngga moderat, fanatik bahkan ekstrim. Bukankah Allah SWT sudah menegaskan bahwa agama ini (Islam) sudah sempurna ”…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…”. TQS. Al Maidah: 3

Pernah lihat perayaan hari besar agama tertentu trus yang ngerayainnya semua agama termasuk muslim? Atau pernah lihat pegawai suatu kantor atau mall yang pakai topi atau kostum sinterklas meski sebenarnya dia muslim? Nah.. ini yang dibilang jadi Islam itu harus toleran. Yang intinya toleran itu sikap menghargai perbedaan baik itu berupa pandangan, kepercayaan atau keyakinan. Cuma.. sikap menghargainya too much deh, Islam sebagai agama paripurna telah memberikan porsi yang pas seperti apa menghargai umat dan perayaan hari besar agama lain. Hargai dan hormati dengan cara biarkan mereka dengan agama, keyakinan dan perayaan agama tanpa perlu kita ikut-ikutan. Karna untuk area aqidah Islam jelas ya.. pertama, Islam saja melarang adanya paksaan dalam agama.

Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surat Al Baqarah: 256 “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)..”. Meski dakwah kepada Islam itu wajib tapi kita tidak boleh memaksa orang di luar Islam untuk masuk kedalam Islam. Kedua, Islam mengatur bagaimana menghargai dan menghormati perayaan agama lain dengan prinsip “lakum diinukum waliyadiin, untukmu agamamu dan untukku-lah agamaku” jadi nafsi nafsi aja ya.. alias masing-masing.

Song. Selain film, lagu atau nyanyian juga ternyata bisa membuat para remaja ikut larut dengan bait demi bait lirik yang dinyanyikan. Asal enak didengar terlebih sang penyanyi punya tampang menarik,  lagu apa pun yang mereka bawakan so fasih dihapal meski ngga sedikit yang berisikan tentang sesuatu yang bertentangan dengan aqidah atau mengajarkan bergaul bebas. Belum lagi, saat penyanyi atau girl/boyband korea favoritnya “manggung” atau konser, jerit histeris menjadi bukti bahwa mereka begitu mengidolakannya. Malah pernah ada, penonton yang diajak naik ke atas panggung rela pasrah bahkan senang bukan kepalang untuk dipeluk cium oleh sang idola. Bertaruh harga diri pun sepertinya siap mereka lakukan untuk sang idola. Na’udzubillah.

So, jika fenomena banyaknya generasi muda yang terpapar gaya hidup barat, baik itu cara berpikir dan berperilaku, itu artinya generasi kita masih “TERJAJAH”.

Merdeka Nan Hakiki

Bebasnya fisik dari penjajahan namun masih tersanderanya pikiran yang ikut manut dengan life style barat, sebenarnya membuat generasi ini adanya seperti tidak adanya. Jumlah generasi muda negeri ini sangat banyak bahkan bisa dikatakan mayoritas, tentu itu artinya potensi mereka pun luar biasa. Namun, karena generasi muda kita telah terbius dengan cara berpikir instan, bebas, always having fun membuat potensi generasi untuk membangun negeri menjadi terhibernasi. Seandainya pun potensi mereka digunakan, lebih diarahkan pada hal-hal yang tidak hakiki. Jangankan untuk membangkitkan dan memajukan bangsa, bersikap peduli dengan kondisi negeri saja tidak.

Come on guys, berhentilah sejenak lalu mulai berpikir mau sampai kapan menjadi pembebek kebudayaan barat. Kalian adalah generasi pemimpin, mulailah memimpin diri untuk menghempaskan cara berpikir dan bersikap ala barat. Lalu, mulai bangkit dan isi masa mudamu dengan ilmu dan takwa. Imam syafi’i pernah mengatakan bahwa “eksistensi seorang pemuda –demi Allah- adalah dengan ilmu dan ketakwaan. Jika keduanya tidak ada padanya, maka tidak ada jati diri padanya”. Dengan ilmu, kalian bisa menggunakan potensi yang telah Allah berikan untuk berkarya membangun peradaban mulia (Islam) kelak. Betapa banyak Islam telah berhasil melahirkan generasi cemerlang yaitu para ilmuwan yang karyanya masih “menerangi” hingga kini. Dengan takwa, kalian bisa menjadi generasi qur’ani yang senantiasa tunduk taat kepada Allah Azza wa Jalla. Karna hakikatnya merdeka adalah saat aku, kamu dan kita semua bisa menjalankan seluruh perintah Allah SWT.[]

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *