Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Aug 23, 2019 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 076. Mabar Yuk!

Buletin Teman Surga 076. Mabar Yuk!

buletin teman surga 076. mabar yukMabar yuk?! Kalimat ajakan yang kayaknya sudah nggak asing di telinga remaja saat ini. Bisa dibilang ini kosakata baru dalam dunia gaul remaja, seiring makin ramenya game online yang mainnya ngajak rame-rame. Apalagi kamu yang sering aktif di dumay, media sosial, game online khususnya game yang bergenre moba, mmo, fps dan lain sebagainya yang penting bermain dengan kerjasama satu tim, seperti mobile legend (ml), aov, dota2, pubg, warsong, toram, free fire dan lain sebagainya pasti sering mendengar kata mabar ini. Contohnya seperti ini : mabar ff kuy, ayo mabar pubg, mabar ml cuy dan lain sebagainya.

Kalo di dunia nyata kita bisa menyebutnya dengan kopdar (kopi darat), kalau di online kita menyebutnya mabar, hanya saja ada perbedaan mabar dan kopdar ini, mabar lebih sering digunakan untuk mengajak teman atau sahabat untuk bermain game, jika kopdar bisa berarti luas, seperti ngobrol, bercerita, reuni dan lain sebagainya. Nah, ajakan mabar ini, mau nggak mau telah menyita waktu, bahkan ekstrimnya ngerampok waktu kita, hingga akhirnya kita lupa aktivitas-aktivitas yang lain, yang jauh lebih penting, bahkan jauh lebih wajib daripada sekedar main game online. Trus, gimana dong seharusnya kita mengatur, membagi, alias memenej waktu kita biar nggak banyak yang tersia hanya gara-gara main game? Makanya, yuk simak sampe kelar ya buletin Teman Surga edisi kali ini.

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Kecanduan Mabar = Penyakit Jiwa?

Istilah ‘kecanduan’, identik dengan yang nggak baik, apalagi kalo kecanduan main game bareng, wah udah pasti bahaya banget. Jadi, kalo teman-teman ngeliat orang kumpul-kumpul atau mojok, trus masing-masing sambil pegang gadget, meskipun sambil ngobrol, tapi obrolannya kayak orang ngajak berkelahi. Hajar bro, tembak cuy, tendang bray, dan teriakan-teriakan sejenis, maka bisa dipastikan mereka sedang main mobil legend, dota atau pubg. Bayangin, kalo aktivitas mabar kayak gitu ada di setiap sudut rumah, setiap hari, setiap waktu, gimana kalo akhirnya nggak bikin teman-teman kita itu makin keranjingan dan akhirnya kecanduan mabar, sampe lupa diri dan lupa waktu.

Namanya juga game, makin sering kita mainnya, makin bikin penasaran, makin kita tertantang untuk ngalahin, terdorong untuk bisa ngelewatin level yang lebih tinggi. Ditambah lagi, kalo mainnya bareng teman-temannya, pasti nggak pengin kalah dengan teman gaulnya. Ada perasaan malu dan minder kalo kalah saat main game bareng. Di situlah pemicu yang bikin dia makin menggilai game tersebut. Parahnya kalo sudah jadi candu, menurut beberapa sumber itu bisa identik dengan penyakit jiwa. Loh koq bisa? Iya bisa dong, makanya kita kudu waspada, jangan-jangan kita main game udah pada tahap kecanduan.

Apa sih cirinya orang disebut ‘kecanduan’ game, yang selevel dengan penyakit jiwa? Menurut Psikiater Rumah Sakit Hasan Sadikin, dr Teddy Hidayat, cirinya adalah ketika orang tersebut memainkannya secara berlebihan. Si pecandu tidak bisa menghentikan dirinya bermain. Kapanpun dia mau, akan melakukannya. Ketika bermain game itu jadi hal terpenting dalam skala prioritasnya. Dibandingkan dengan kepentingan keluarga, atau bermain bersama teman, ia akan memilih untuk bermain game. Dari sinilah masalah biasanya muncul. PR tidak dikerjakan, kewajiban diabaikan, dan terganggunya fungsi diri. Fungsinya di sekolah terganggu, di pekerjaan terganggu. Fungsi sebagai anggota keluarga pun terganggu. Ini berlaku untuk jenis permainan sendiri maupun bersamaan.

Selama ini, pasien dengan kecanduan game yang datang kepadanya, kerap mengeluhkan beberapa ciri gangguan mental. Mulai dari sifat emosional, uring-uringan kalau dilarang bermain game, sampai gangguan jiwa. Gangguan jiwa yang diderita, kecemasan, paranoid, nggak bisa tidur, diliputi rasa takut yang hebat. Ada satu dampak lain akibat bermain game yang paling buruk terhadap perkembangan kepribadian anak. Ia mengatakan, yakni mental terganggu, tumbuh jadi anak egois, jam sosialisasi yang kurang, hingga tidak bisa berempati terhadap sesama. Tentu ini menjadi momok, karena satu generasi ke depan, ujarnya, dapat memiliki kemampuan sosialnya rendah.

Waduh, parah banget ternyata ya dampak main game?! Itu belum seberapa, Komisi Perlindungan Anak Daerah Kota Bekasi menyebut, telah terjadi pergeseran pola kekerasan yang melibatkan anak-anak. Dari semula berupa kekerasan seksual yang mendominasi, kini mengarah kepada kekerasan fisik. Ketua KPAD Kota Bekasi Aris Setiawan mengatakan, hingga akhir Maret 2019, lembaganya menerima 23 pengaduan terkait kekerasan anak. Saat diverifikasi, jumlahnya mengecil menjadi 16 kasus. Dominannya kasus yang berupa tawuran. Berdasarkan penanganan yang telah dilakukannya terhadap kasus-kasus tawuran tersebut, mayoritas dipicu karena permainan gim online yang saat ini sedang populer. Permainan tersebut memancing pemainnya mempraktikkan apa yang ada dalam gim tersebut dalam kehidupan nyata dan diwujudkan dengan cara tawuran. (sumber: pikiranrakyat.com) Ckckck…

Bahkan WHO sendiri menempatkan kecanduan main game, disebut sebagai sebuah penyakit. Pada pertemuan ke-72 Majelis Kesehatan Dunia (WHA) pada Sabtu (25 Mei 2019) kemarin, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah meresmikan kecanduan bermain game sebagai penyakit ‘modern’. Menurut WHO, seperti yang dilansir dari Venture Beat, penyakit yang dinamai gaming disorder ini didefinisikan sebagai pola perilaku bermain game yang ditandai dengan gangguan pengendalian diri untuk bermain game, meningkatnya prioritas terhadap bermain game melebihi minat dan kegiatan lain dalam keseharian, dan berlanjutnya bermain game meskipun ada konsekuensi negatifnya. Tuh kan?! Jadi, masih mau keranjingan main game?!

Mabar = Mati Bareng?

Waktu kita di dunia ini sebenarnya cuman ada 3, yakni ‘kemarin’, ‘kini’, dan ‘esok’. Nah, kalo waktu ‘kemarin’ sudah kita lewatkan begitu saja, artinya nggak kita manfaatkan dengan baik, maka seharusnya ‘kini’ saatnya kita menyadari hal tersebut, agar ‘esok’ kita tidak menyesal. Sebab ‘kemarin’ memang telah berlalu, dan ‘kini’ sedang kita jalani, sementara ‘esok’, kita tidak pernah tahu apakah Allah masih kasih kesempatan untuk mentaubati perbuatan kita kemarin, lalu memperbaikinya hari ini dan besok. Bisa jadi kemarin-kemarin kita mabuk mabar, main bareng game online, eh nggak tahunya besok kita juga mabar, tapi mati bareng. Naudzubillah min dzalik.

Ihh, ngeri kan kalo tetiba kita mati bareng pas mabar game online? Padahal kita belum sempat ngisi aktivitas hidup kita dengan yang baik-baik, yang Allah perintahkan. Karena memang ajal alias maut itu nggak pake permisi, kalo dia mau pamit. Malaikat Izrail, kalo mau datang nggak pake ngasih tahu dulu, miscall dulu kek, whats app dulu apa gitu. Nggak, nggak pernah gitu, datang aja tiba-tiba sesuai dengan apa yang Allah tugaskan ke Dia, untuk mencabut nyawa seseorang. Pas mau dicabut nyawa kita, pas itu juga kita lagi maksiat, duhh… betapa ngeri ngebayanginnya.

Lho, apa mabar alias main bareng itu maksiat? Ya, tergantung main barengnya, main apa, dan mainnya pas waktu apa. Kalo mainnnya main bareng, mainin perasaan anak orang, wkwkwk… apaan sih. Nggak maksudnya, kalo mainnya main bareng game yang ada konten maksiatnya, parno lah, judi-lah, dan sejenisnya udah pasti itu maksiat bin dosa. Belum lagi, kalo waktu mainnya sampe ngelupain waktu sholat wajib, atau malah nggak pernah bisa sholat, maksudnya nggak hafal doa-doa dalam sholat, eh malah asik main game, daripada ngambil waktu buat ngapalin doa-doa sholat. Nah, kalo sampe ngelupain sholat atau kewajiban-kewajiban yang lain, kayak belajar, ngebantu orang tua, berdakwah, maka udah pasti main bareng kayak gitu mengandung maksiat.

Perhatikan firman Allah berikut ini:

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran:185)

Yes, dunia itu bisa memperdayakan, dan sayang banget kalo akhirnya kita diperdaya hanya dengan menghabiskan waktu kita main game aja. Mungkin aja kamu seneng main game bareng teman-teman kamu, tapi sadarilah sebenarnya itu melenakan. Waktu itu nggak pernah bisa balik lagi kalo udah lewat, makanya kita seringkali menyesal kalo waktu itu sudah lewat. Sebelum semuanya terlambat, sebelum datang penyesalan yang lebih dalam, yuk kita sudahi mabar yang tiada gunanya. Kalo pun masih mau main game, pastikan itu hanya selingan di waktu luang, ketika aktivitas-aktivitas yang lebih penting, yang lebih wajib sudah dikerjakan dengan tuntas.

Jangan menjadikan mabar sebagai salah satu agenda di jadwal kita sehari-hari, karena pantasnya mabar hanya dijadikan sekadarnya aja. Kita lebih pantas untuk menyiapkan diri menghadapi masa depan, entah itu masa depan dunia dengan cita-cita kita, terlebih masa depan akhirat dengan amal-amal shalih kita. Sekali lagi, dunia ini hanya kesenangan yang bisa melenakan, ibaratnya seorang musafir, kita di dunia ini hanya singgah, maka sekali singgah, manfaatkan waktu dengan baik, memperbanyak bekal untuk tujuan akhir kita. Kita ini penduduk asli surga, dan kita akan kembali ke tempat asal kita, jangan terlena dalam perjalanan sebagai musafir di dunia.

Mabar Ngaji Islam

Mabar alias main game online bareng, kalo keseringan kita lakuin bisa kecanduan, dan bisa jadi habits atau kebiasaan kita mengisi waktu. Padahal banyak aktivitas yang masih kita bisa lakuin di saat kita masih remaja seperti sekarang ini. Hadist dari Rasulullah SAW berikut ini bisa jadi renungan:

“Segeralah beramal sebelum datang tujuh perkara; apakah kalian akan menanti sampai datang kemiskinan yang melupakan, atau kaya yang membuat sombong, atau sakit yang merusak kehidupan, atau tua yang melemahkan kekuatan, atau kematian yang menyegerakan, atau datangnya dajjal, makhluk gaib yang paling buruk dinanti, atau datangnya hari kiamat, hari yang sangat dahsyat dan mengerikan” (HR. Tirmizi)

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Al Hakim)

Maka, kalo soal prioritas amal yang kita harus lakuin mumpung Allah masih ngasih kesempatan di masa muda sekarang ini adalah: (1) Kerjakan yang Wajib, Tinggalkan yang Haram; (2) Rutinkan yang Sunnah, Hindari yang Makruh; (3) Kurangi yang Mubah. Nah, main game baik itu yang bareng-bareng maupun sendiri-sendiri masuk kategori yang mubah, sementara sudahkah kita ngelakuin yang wajib-wajib dan yang sunah? Pasti banyak yang belum.

Jangan-jangan kita malah belum banyak yang tahu, mana perbuatan yang masuk kategori hukumnya wajib, sunnah, haram, makruh maupun mubah? Padahal kaidahnya adalah al-ilmu qablal ‘amal, ilmu itu sebelum amal. Yes, mulai sekarang jangan ditunda-tunda lagi untuk datang ke kajian, ngikuti kajian, jangan anti sama kajian, karena dengan ngaji Islam kita jadi tahu perbuatan kita sia-sia atau enggak. Jadi, mabar kita selama ini main game bareng, kita ubah dengan mabar alias yuk maos (ngaji) bareng di kajian, di majelis ilmu, di halaqah. Di tempat seperti itulah kita akan bisa mawas diri, kita bisa tahu jati diri kita, yang selanjutnya diri ini jadi tahu apa yang musti dilakuin selama di dunia ini sebagai musafir, sebagai hamba Allah yang sedang menempuh perjalanan menuju peristirahatan kita yang abadi yakni akhirat. Yuk, jangan ragu dan jangan takut, datangi tempat-tempat kajian ilmu. Yuk ngaji![]

KLIK di SINI untuk mendapatkan buletin versi PDF-nya.

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *