Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Sep 5, 2019 in Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 078. Hijrah Kuy!

Buletin Teman Surga 078. Hijrah Kuy!

buletin teman surga 078. Hijrah Kuy!

Tren hijrah di kalangan generasi milenial terus bergulir bak bola salju. Berbagai komunitas hijrah bermuncul seperti jamur di musim hujan. Kegiatan bertema hijrah pun nggak ketinggalan meramaikan lini masa sosial media. Adem ngeliat hijabers dan koko-ers membanjiri acara kajian Islam. Lebih bahagia lagi saat banyak aktivis hijrah saling mengingatkan dan menguatkan satu sama lain.

Terlebih lagi di bulan Muharam 1441 H saat ini, fenomena hijrah tak bisa dilepaskan dari momen pergantian tahun hijriah. Peristiwa hijrah Rasulullah saw dan para shahabat dari Mekkah ke Madinah menjadi tonggak berdirinya negara Islam yang membuka pintu dakwah lebih luas ke seluruh dunia. Tak hanya itu, hijrahnya Rasul juga menunjukkan loyalitas para sahabat dan eratnya ukhuwah di antara kaum Anshar dan Muhajirin. Ngiri.

 

Muhasabah Sebelum Berhijrah

Secara bahasa, hijrah artinya berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu keadaan ke keadaan yang lain. Rasulullah saw berhijrah dari Mekkah yang penuh kemaksiatan menuju Madinah yang disiapkan untuk menjadi negeri penuh berkah.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bârî menjelaskan, asal dari hijrah adalah meninggalkan dan menjauhi keburukan untuk mencari, mencintai dan mendapatkan kebaikan. Itu berarti, hijrah juga bisa diartikan dengan perubahan diri dari yang buruk menuju yang baik. Gitu.

Namun sebelum berhijrah, titik balik mereka yang mendapatkan hidayah semua bermula dari muhasabah. Mereka mengevaluasi ketidaknyamanan yang terjadi pada diri, keluarga, pergaulan, ibadah, atau bisnisnya. Seperti inilah yang diingatkan oleh Sayyidina Umar bin Khaththab, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (di akhirat, red).”

Yup, selagi kita masih hidup di dunia  yang fana ini, biasakan menghitung amal sholeh dan amal salah yang kita lakukan. Biar bisa memperbaiki diri dan sebelum tiba di hari perhitungan sebenarnya di akhirat kelak.

Selebriti yang berhijrah, sebelumnya berpikir tentang kehidupannya. Berlimpah harta tapi tidak bahagia. Selalu merasa terancam popularitasnya akan turun. Hubungan keluarga nggak harmonis. Banyak kewajiban yang terlalaikan. Hidupnya tersandera oleh kesenangan dunia. Mereka seolah tersadarkan oleh firman Allah swt.

Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit dan pada hari Kiamat (dibangkitkan) dalam keadaan buta.  (Q.S Thaha 124)

Imam Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini : Barangsiapa yang menyelisihi perintah-Ku dan ketentuan syariat yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku (dengan) berpaling darinya, melupakannya, dan mengambil selain petunjuknya  maka baginya penghidupan yang sempit dan sengsara, yaitu di dunia, dan tidak ada kelapangan dalam hatinya. Bahkan hatinya sempit dan sesak karena penyimpangannya, meskipun (terlihat) secara zhahir (hidupnya) senang. Berpakaian , makan dan bertempat tinggal sesukanya. Akan tetapi hatinya selalu diliputi kegundahan, keguncangan dan keraguan karena jauhnya dari kebenaran dan petunjuk-Nya. (Kitab Tafsir Ibnu Katsir).

Karena itu, muhasabah sebelum berhijrah menjadi suatu keharusan. Biar kita sadar dan bertanggungjawab untuk memperbaiki diri dari kondisi sekarang menuju kondisi yang lebih baik dan penuh berkah. Kita hisab mandiri setiap hari. Buat diri kita nggak nyaman karena telah melalaikan kewajiban atau melakukan kemaksiatan. Dengan begitu, dorongan untuk berhijrah memperbaiki diri lebih cetar membahana. 

Hijrah Paket Komplit

Baginda Nabi saw. pernah bersabda: “Muslim itu adalah orang yang menjadikan Muslim yang lain selamat dari lisan dan tangannya. Orang yang berhijrah itu adalah orang yang meninggalkan apa saja yang telah Allah larang” (HR al-Bukhari, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ahmad, dll).

Dalam prakteknya, meninggalkan yang Allah swt larang bukan perkara mudah. Apalagi yang sebelumnya dekat dengan maksiat. Perlu perjuangan ekstra untuk bertobat. Begitulah yang kebanyakan dihadapi mereka yang berhijrah. Banyak tantangan yang dihadapi dari sahabat, kerabat, keluarga, rekan kerja, hingga teman sebaya. Ada yang mendukung, tak sedikit yang mencibir bin nyinyir.

Walhasil, proses hijrah terkadang masih tarik ulur. Belum berani total meninggalkan yang dilarang dan melaksanakan yang diperintah. Masih pilah pilih aturan syariah. Yang bermanfaat diambil. Yang memberatkan ditunda dulu. Padahal kalo mau tobat, jangan nanggung. Entar dosanya keburu menggunung. Khawatir belum juga bertobat, eh ajal sudah mendekat. End game!

Padahal Allah swt sudah ngingetin, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” (Qs Ali Imran: 133)

Makanya, biar tahan banting saat berhijrah, jangan setengah-setengah. Ambil hijrah paket komplit. Tunjukin kalo hijrah kita seriusan. Bukan karena bawaan teman apalagi hilang ingatan. Apa yang mesti kita lakukan ketika memilih hijrah paket komplit?

Pertama, berubah penampilan. Bukan untuk pencitraan. Tapi bagian dari ketaatan. Untuk yang cewek, pelajari dan pahami tata cara berbusana yang sempurna baik di dalam rumah atau di luar rumah. Berhijab tak sekedar menutup aurat dengan tetap menampilkan lekuk tubuh. Patokannya bukan modis bin fashionable biar masuk kategori OOTD muslimah milenial. Tapi standar Islam yang Allah ridhoi.

Untuk cowok, gak masalah membiasakan diri pakai kemeja koko, manjangin jengot atau berkopiah. Berpenampilanlah seperti muslim yang taat. Biar pada tahu dan mendukung kita dalam berhijrah, bukan untuk menuai pujian manusia atau banjir like di sosial media.

Kedua, benahi pemikiran. Tak sekedar penampilan, cara berpikir kita tentang kehidupan, kebahagiaan, materi, keluarga, pertemanan, dan dunia kerja juga mesti ikut dibenahi. Karena bisa jadi, sebelum hijrah banyak informasi salah dan menyesatkan yang mangkal di memori otak kita. sehingga kita berbuat semaunya, mati-matian mengejar kesenangan dunia dan melupakan aturan-Nya.

Karena itu, mengenal Islam lebih dalam jadi suatu keharusan. Perkuat pondasi hijrah kita dengan aktif ikut pengajian. Ringankan langkah kaki kita menuju majlis ta’lim. Buka mata dan telinga kita untuk menyimak ceramah ustadz via channel youtube atau podcast sambil menemani perjalanan atau aktifitas.

Ketiga, aktif berdakwah. Tak cukup memperbaiki diri, berhijrah juga ikut ambil bagian dalam memperbaiki masyarakat. Eits, gak usah minder karena ngerasa ilmu islamnya masih belum mumpuni. Keterlibatan kita dalam dakwah gak mesti ceramah di atas podium. Bisa di belakang layar dengan dukungan materi, peralatan, jaringan, atau kemampuan di bidang yang kita tekuni.

Atau minimal aktif di sosial media dengan membagikan kontent-kontent dakwah yang menginspirasi. Turun ke jalan menyuarakan kebenaran atau membagikan media dakwah.

Dengan hijrah paket komplit ini, insya Allah akan lebih banyak keberkahan yang kita dapat. Persahabatan yang tulus hingga kehidupan yang nyaman dan bahagia. 

Istiqomah dalam Hijrah

Jalan hijrah itu nggak semulus jalan tol. Ada aja onak duri, kerikil tajam, turunan curam, tanjakan tinggi, belokan tajam atau batu besar yang menghadang di tengah jalan. Dan pilihan kita cuman jalan itu saja yang harus dilewati. Nggak ada jalan pintas atau jalan layang alias fly over. Karena itu dibutuhkan kesabaran ekstra untuk meniti jalan hijrah dan tetap istiqomah.

Rasulullah saw. ngasih kabar gembira bagi kita-kita yang selalu bersabar dan tetep istiqomah. Sabda beliau:

“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang memerlukan kesabaran. Kesabaran pada masa-masa itu bagaikan memegang bara api. Bagi orang yang mengerjakan suatu amalan pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan semisal amalan itu. Ada yang berkata,’Hai Rasululah, apakah itu pahala lima puluh di antara mereka?” Rasululah saw. menjawab,”Bahkan lima puluh orang di antara kalian (para shahabat).” (HR Abu Dawud, dengan sanad hasan)

Kita sering ngerasa khawatir kalo istiqomah bikin kita sengsara. Rizki kita berkurang dan ajal lebih cepat datang. Padahal mah kenyataannya, yang nggak istiqomah juga banyak yang rizkinya seret dan ajalnya deket. Justru yang pasti, Allah swt bakal ngejamin kebaikan bagi yang berani istiqomah. Seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Robb kami ialah Allah” kemudian mereka beristiqomah (meneguhkan pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (QS. Fushshilat [41]: 30).

Sikap istiqomah dalam berhijrah adalah produk dari keimanan yang ada dalam diri kita. Makanya, untuk memelihara sikap istiqomah kita juga perlu memupuk keimanan kita. Caranya?

Pertama, banyak berpikir. Para sahabat, generasi awal kaum Muslimin yang berhasil dididik Rasulullah saw. mengaitkan aktivitas berpikir dengan keimanan. Mereka menjelaskan bahwa, “Cahaya dan sinar iman adalah banyak berpikir” (Kitab ad-Durrul Mantsur, Jilid II, hlm. 409). Semakin kita banyak berpikir tentang kebesaran Allah swt dan mengkaji Islam lebih dalam, lambat laun cahaya keimanan kita akan semakin bersinar. Makanya ikut ngaji.

Kedua, perbanyak ibadah dan jauhi maksiat. Rasul pernah bilang, “iman itu kadang bertambah dan kadang berkurang”. Rasul juga bilang, “iman bertambah dengan taat, dan iman bekurang dengan maksiat”. Makanya kita kudu getol beribadah, baik yang sunah apalagi yang wajib. Dan jangan lupa, jauhi pelaku maksiat juga tempat maksiat. Biar kita nggak kebawa-bawa sesat.

Ketiga, bergaul dengan orang-orang alim. Perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh teman dekatnya. Makanya, sering-sering deh ngumpul dengan teman yang bisa mengajak kita untuk tetap taat dan mengingatkan kita agar jauh dari maksiat. Dengan begitu, tanki semangat kita untuk istiqomah selalu terisi penuh.

Emang nggak mudah menjadikan ridho Allah swt di atas pertimbangan materi, kepentingan keluarga, atau solidaritas teman. Tapi percaya deh, Allah swt pasti akan mengganti setiap pengorbanan kita dalam berhijrah dengan kebaikan dunia akhirat. Bukan cuman untuk kita, tapi juga untuk keluarga, teman, dan orang-orang yang kita sayangi. So, hijrah kuy?! Siapa takut! []

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *