Pages Menu
Categories Menu

Posted on Sep 18, 2019 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 080. Muslim Brotherhood

Buletin Teman Surga 080. Muslim Brotherhood

buletin teman surga 080. moslem brotherhood

Gaes, dalam bergaul setuju atau nggak setuju ada faktanya teman-teman kita kadangkala ngeliat sebelah mata teman-temannya yang menurutnya nggak ‘selevel’. Akibat lanjutannya, kadang berangkat dari pandangan kayak gitu, lalu muncullah bullying, mulai dari verbal bahkan sampe fisik. Semoga, man-teman pembaca bulletin keceh teman surga ini, nggak ada yang kayak gitu. Nah, biar nggak kayak gitu, trus juga bisa ngingetin teman-teman kita yang sering ngelakuin hal kayak gitu, yuk simak sampe tuntas bulletin ini. Oiya, jangan lupa, kasihkan bulletin ini ke teman-teman kamu, sebagai bentuk dakwahmu. Siap?!

No Body Perfect

Betapapun kita menginginkan orang lain sesempurna kita, itu suatu hil yang mustahal, eh.. kebalik, suatu hal yang mustahil. Karena kenyatannya kita sendiri aja, nggak sempurna. Apa kita sudah terlanjur jadi sosok yang sempurna, lalu bisa mengolok-olok seenak-enaknya orang lain? Enggak bro, kita ini juga nggak sempurna. Kita ada yang tidurnya ngorok alias mendengkur misalnya, yang bisa jadi itu menurut orang lain, memandang diri kita nggak sempurna. Jadi, sebenarnya yang bikin kita mudah merendahkan orang lain, karena kita merasa diri kita lebih tinggi, lebih baik, lebih berharga. Itulah cikal bakal, tumbuhnya rasa sombong dari situ. Naudzubillah min dzalik.

Coba deh, sebelum kita mudah meremehkan orang lain, inget lagi, kita ini siapa yang menciptakan? Kita diciptakan dari sumber yang sama, yakni al-Khaliq Allah Subhanullahu Wa Ta’ala, Allah yang Maha Suci dan Maha Tinggi. Sehingga nggak layak banget kita sombong, hanya Allah yang berhak ‘sombong’, kalo kita sombong, itu namanya TER-LA-LU. Sebab harta kita, bahkan tubuh dan nyawa kita ini, hanya pinjaman dari Allah, kalo suatu saat, Allah memintanya lagi, kita nggak bisa ngapa-ngapain.

Bro en Sis, ini renungan bersama buat kita, nggak layak kita sombong, dan nggak boleh memandang remeh orang lain. Kelebihan yang kita miliki itu hanya titipan, nggak lantas bikin kita tinggi hati lalu merendahkan orang lain yang mungkin punya kekurangan. Kalo pun, memang ada faktanya ada orang yang tidak sempurna fisik atau perilakunya, pasti Allah telah memberinya potensi yang berbeda dengan kita. Justru orang yang kita anggap remeh, bisa jadi adalah orang yang termulia di hadapan Allah, karena ketaatannya. Bahkan Allah juga sudah menyatakan, bahwa yang paling mulia diantara kita bukan karena harta, jabatan apalagi fisik, melainkan ketakwaan.

“…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al-Hujurat: 13).

 

Beda Pendapat, Bolehkah Merendahkan?

Dikutip dari Buku ‘Kisah-Kisah Unik’ karya Dr. Aidh Al-Qarni, Saat itu para shahabat berkumpul dalam satu majelis, sementara Rasulullah SAW tidak bersama mereka. Khalid bin Walid, Abdurrahman bin Auf, Bilal, dan Abu Dzar duduk di dalam majelis. Abu Dzar adalah orang yang memiliki ketajaman dan temperamen tinggi.

Orang-orang berbicara mengenai satu topik pembicaraan. Lalu Abu Dzar berbicara dan menyampaikan sebuah usulan, “Aku mengusulkan agar pasukan diperlakukan demikian dan demikian.”. Tiba-tiba Bilal menimpali, “Tidak, itu adalah usulan yang salah.”

Lantas Abu Dzar berkata, “Beraninya kamu menyalahkanku, wahai anak wanita berkulit hitam?” “Lâ Ilâha illallâh! Bercerminlah engkau. Lihatlah siapa dirimu sebenarnya?” Lanjut Abu Dzar. Seketika itu Bilal berdiri dengan terkejut dan marah sejadi-jadinya sambil berkata, “Demi Allah, aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah SAW,” lalu Bilal pun pergi kepada Rasulullah SAW.

Ketika Bilal sampai kepada Rasulullah SAW, dia berkata, “Wahai, Rasulullah. Maukah engkau mendengar apa yang telah dikatakan oleh Abu Dzar kepadaku?” Rasulullah saw. menjawab, “Apakah yang telah dikatakannya?” Bilal berkata, “Dia telah berkata begini dan begitu.”

Seketika itu rona muka Rasulullah SAW berubah. Lalu Abu Dzar bergegas datang dengan tergopoh-gopoh. Dia berkata, “Wahai, Rasulullah. Assalâmu ‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.” Ketika itu Rasulullah sangat marah, hingga dikatakan, “Kami tidak tahu apakah Nabi menjawab salamnya atau tidak.” Nabi bersabda, “Wahai, Abu Dzar. Engkau telah menghinakannya dengan merendahkan ibunya. Di dalam dirimu terdapat sifat jahiliyah.” (HR. Bukhari).

Kalimat tersebut terdengar bagaikan petir di telinga Abu Dzar. Lantas dia menangis, dan menghampiri Rasulullah, lalu berkata, “Wahai, Rasulullah. Beristigfarlah untukku. Mintakanlah ampunan dari Allah untukku.” Kemudian dia keluar dari masjid sambil menangis. Abu Dzar pergi dan meletakkan kepalanya di atas tanah yang dilalui Bilal. Lalu Bilal menghampirinya.

Abu Dzar menghempaskan pipinya ke atas tanah, dan berkata, “Demi Allah, wahai Bilal.  Aku tidak akan mengangkat pipiku, kecuali engkau menginjaknya dengan kakimu. Engkaulah orang yang mulia dan akulah yang hina.”   Lantas Bilal menangis dan mendekat, lalu menciumi pipi itu. Pipi itu tidak pantas diinjak dengan kaki, namun hanya pantas untuk dikecup. Pipi itu lebih mulia di sisi Allah daripada diinjak dengan kaki.

Kemudian keduanya berdiri dan berpelukan sambil menangis. Allah akan meninggikan kedudukanmu, wahai Abu Dzar, sampai batas ini. Sungguh, itulah didikan Islam, dan kehidupan di bawah naungan Al-Qur’an.

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman. Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Mahagagah lagi Mahabijaksana.” (QS Al-Anfal: 63).

Man-teman semuanya, coba renungkanlah kata-kata Abu Dzar “Demi Allah, aku tidak akan mengangkat pipiku hingga engkau menginjaknya dengan kakimu.” Itulah perilaku para sahabat Nabi SAW, ketika melakukan sebuah kesalahan karena merendahkan orang lain, yang mungkin berbeda pendapat. Satu sisi kita belajar dari Abu Dzar, di sisi yang lain, kita belajar juga dari sosok seorang Bilal bin Rabbah yang pemaaf.

Maka dari fragmen perikehidupan para sahabat diatas, kita mendapati pelajaran bahwa kita yang saat ini masih suka mencela-cela saudara kita, apalagi yang seiman dan seislam hanya gegara berbeda pendapat, lalu mengatainya di sosmed, itu bukanlah perilaku muslim yang mulia. Berbeda pendapat, berbeda mazhab, berbeda pandangan fikih, nggak lantas membuat kita suka mencela dan merendahkan, apalagi sampe menyebut dengan merendahkan fisik, keturunan, ataupun kedudukan sosial. Sungguh itu nggak layak dilakukan oleh sesama saudara muslim.

Kalo pun memang berbeda pendapat, beda pandangan soal fikih misalnya, maka sikap yang diambil bisa dua. Pertama, kita menghormati pendapat fikih yang berseberangan dengan pendapat yang kita ambil dan kita kerjakan. Kedua, kita bisa berdiskusi, adu argumentasi dalam diskusi yang sehat dengan mengetangahkan dalil masing-masing. Jika akhirnya dari diskusi tersebut ternyata ada landasan kuat dalil maupun penggalian dalil, maka kembali ke pilihan pertama, menghormati.

Sehingga tidak lantas, menghina dan menghujatnya di sosial media, yang berakibat itu bisa ditiru oleh netizen yang lain. Apalagi, kalo yang ngelakuin itu sudah seorang tokoh yang diagung-agungkan, maka sudah pasti, bakal jadi viral sekaligus panutan ditiru para netizen-nya yang belum tentu paham akan apa inti dari ilmu yang diperdebatkan tersebut.

 

Sesama Muslim Itu BrotherHood

Yuk, bijaklah dalam berperilaku, santunlah dalam bersosial media, gunakanlah adab ketika berbeda pendapat. Selama itu saudara kita semuslim dan seaqidah, nggak layak kita meremehkan. Perbedaan pendapat, itu sudah lampau terjadi di masa-masa sahabat, tabi’in, tabi’t tabi’in, tapi tidak lantas membuat mereka mencela apalagi berpecah-belah. Cukuplah pelajaran dari Abu Dzar dan Bilal tadi menjadi pengingat bagi kita agar, kita saling menghormati, saling menyayangi.

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min BERPERANG maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan berbuat ANIAYA terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah BERSAUDARA, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (QS. Al-Hujuraat: 9-10)

Ketika sesama kaum muslimin berselisih, seharusnya perselisihan tersebut dikembalikan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. “Kemudian jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (As-Sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya” (Qs. An-Nisaa’: 59).

Nah, pertanyannya gimana kalo dengan yang bukan muslim? Pada prinsipnya ketika dengan yang bukan muslim, kita pun nggak boleh merendahkan yang memang terkait fisik, harta dan sejenisnya. Kembali ke sikap dasar, bahwa itu hal yang nggak layak kita lakukan kalo itu berkaitan dengan kemanusiaaan, tapi kalo sudah soal agama atau ibadah, ya maka prinsipnya lakum dinukum wa liyadin ‘untukmu agamamu, untukku agamaku’, itulah toleransi yang sebenarnya. Jangan sampe kalo urusan agama, kita bersikap yang keliru, keras dengan yang sesama saudara muslim, tapi malah justru lembek kepada orang yang bukan muslim.

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, . . .” (QS. Al-Fath: 29)

Maka, demi menjaga muslim brotherhood harusnya sikap kita yang kita ambil dengan saudara muslim adalah berkasih sayang, bukan sebaliknya. “ Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imron: 159)

Maksud dari bersikap keras di sini adalah bertutur kata kasar (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 3/233, Muassasah Qurthubah). Al Hasan Al Bashri mengatakan dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3/232, “Berlaku lemah lembut inilah akhlaq Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang di mana beliau diutus dengan membawa akhlaq yang mulia ini.”

So, mulai saat ini yuk dijaga sikap dan perkataan kita terhadap sesama muslim agar ukhuwah brotherhood itu juga tetap terjaga. Jika ada selisih pendapat, kita tidak boleh merendahkan atau menjelekkan saudara kita sesama muslim. Apalagi, kita cuman dititipin harta, ketampanan atau kecantikan oleh Allah, lalu kita merendahkan saudara kita yang lain, itu nggak boleh. Catet! []

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *