Pages Menu
Categories Menu

Posted on Sep 26, 2019 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 081. Ajari Aku Islam

Buletin Teman Surga 081. Ajari Aku Islam

buletin teman surga 081. ajari aku islamIslam KTP. Sering dong dengar istilah ini? Maksudnya beragama Islam tapi cuma sekedar identitas doang alias ngga menjalankan ajaran dan tuntunan agamanya. Islam sih tapi ngga sholat, Islam sih tapi pacaran, Islam sih tapi korupsi dan masih banyak lagi. Banyak apa banyak yang kaya gini?? Sayangnya banyak. Seolah berIslam karna “kebetulan”, kebetulan aja punya orang tua agamanya Islam atau bisa dibilang Islam keturunan. Syukur tentunya ketika kita terlahir sebagai seorang muslim, agama fitrah yang Allah ridhoi. “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam…”. (TQS. Ali Imran: 19).

Namun, ada hal menggelitik dimana ada yang berpendapat begini “enakan jadi mualaf ya, karna kalo mualaf itu selain dosa-dosanya diampuni mualaf itu lebih getol (rajin) ibadahnya trus agamanya lebih kuat”.

Hmm… mungkin bisa ya bisa juga ngga, bisa iya karna mualaf tadi yang notabene ngga terlahir dalam keadaan muslim, akhirnya dia mencari tahu tentang Islam, ada ketertarikan dengan keindahan dan kesempurnaan Islam then mutusin berhijrah jadi muslim deh (mualaf). Nah, karna belajar dan harus mendalami agama inilah akhirnya sang mualaf konon akan lebih taat dalam berIslam. Bisa juga ngga, karna bisa jadi si mualaf berIslam bukan karna mendapati Islam sebagai agama yang benar, intinya bukan karna dorongan iman. Misal, hanya karna pasangannya beragama Islam jadi untuk meresmikan atau men-sahkan pernikahannya akhirnya berIslam deh. Sesudah itu, ngga ada tuh dorongan untuk mendalami atau mengkaji agama (Islam) jadi ya sama aja, berIslam cuma identitas aja.

Jadi intinya, mau lahir sudah Islam (karna ortu Islam) atau pun karna hidayah dan akhirnya jadi mualaf tetep aja kita harus mendalami agama kita. so, ngga cukup tuh bilang iman sama Allah tapi ngga ta’at sama aturan Allah. Remember guys, Allah itu bukan hanya Tuhan Pencipta tapi juga Tuhan Yang Mengatur segala yang ada di langit dan di bumi. Nah, hakikatnya makhluk sebagai hamba ya taqwa, ta’at tanpa nanti ta’at tanpa tapi.

Antara Iman, Ilmu dan Amal

“Waro aitannaasa yadkhuluuna fii diinillahi afwaaja(n). Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong”. (QS. An Nasr: 2).

Belakangan ini kita melihat semakin banyaknya orang khususnya figur publik yang memutuskan bersyahadat dan menjadi seorang mualaf. Tak berhenti sampai situ diantara mereka pun aktif memperdalam ilmu agama dengan rajin menghadiri kajian Islam. Sebut saja artis Deddy Corbuzier, Roger Danuarta, Giovani L. Tobing, Marcella Simon dan juga yang baru-baru ini bersyahadat adalah kakak kandung dari seorang pengemban dakwah Ustadz Felix Siauw. Seorang yang sama sekali tidak pernah ada di pikiran Ustadz Felix bahwa kakaknya akan bersyahadat dan menjadi seorang mualaf. Karna pertentangannya selama ini terhadap diri dan dakwah Ustadz Felix dibanding ayahnya yang justru selalu mensupport Ustadz Felix bahkan dalam dakwah beliau. Tentu yang sering didoakan untuk menerima hidayah adalah ayahnya karna kebaikan dan dukungannnya, namun itulah kita tidak pernah bisa menentukan hati siapa yang terketuk oleh hidayah Allah.

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (TQS. Al Qashash: 56).

Jadi sebenarnya sama saja, beriman sedari lahir atau beriman setelah tersentuh hidayah. Keduanya harus menyertakan keimanannya dengan ilmu agar imannya menjadi solid, kokoh dan kuat. Karna iman itu diyakini hati, diucapkan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan. Nah, yakin doang ngga cukup karna ada konsekuensi dari keimanan yaitu siap mengamalkan segala perintah Allah SWT, Tuhan Esa yang ia yakini. Jangan sampe punya iman yang kaleng-kaleng, bilang iman tapi giliran disuruh taat ogah (ngga mau). Maka ngga heran kalau Allah banyak menyandingkan kata iman dan amal. Alladziina aamanuu wa ‘amiluushshaalihaat, orang-orang yang beriman dan beramal sholih. See, ilmu menjadi sangat penting agar iman kita benar dan lurus serta dengan ilmu pula kita jadi paham apa saja yang Allah perintahkan untuk kita laksanakan. Iman itu seperti cinta yang harus dibuktikan dan sangat bisa jadi perlunya pengorbanan untuk menguji iman dan cintanya kepada Allah SWT. “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”. (TQS. Al Ankabut: 2). Ujian ini tentu untuk mengetahui kadar iman dan cinta kita kepada Allah. Mungkin teman-teman kita yang mualaf diuji melalui keluarganya yang bisa jadi belum bisa menerima keputusan pindahnya agama mereka menjadi muslim. Buat muslim/muslimah yang hijrah menjadi yang lebih baik mungkin diuji dengan omongan orang dibilang inilah itulah, atau karna ketaatannya untuk tetap terikat dengan aturan Allah ada yang akhirnya dipecat dari kerjaannya. Allah SWT sudah kasih tipsnya kok saat kita diberi ujian keimanan.

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan”. (TQS. Ali Imran: 186). Bold deh tuh, sabar dan takwa.

Belajar Islam yuk!!

Ok, ternyata peran ilmu lagi-lagi sangat penting bahkan untuk urusan iman agar beragamanya kita atau berIslamnya kita benar-benar sesuai dengan tuntunan dari Allah. That’s why, jangan sampai kita salah pilih dalam mencari ilmu dan yang kelak akan mengajarkan kita tentang Islam. Jangan sampai pula semisal kita mau belajar tentang bagaimana membuat donat yang lezat tapi nanyanya malah ke tukang pengrajin sapu.

Gini friends, pertama ngga masalah siapa pun yang kita dengar dan ikuti kajiannya selama apa yang disampaikan benar sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunah, intinya semua harus berdalil dan dalilnya benar.

So, jangan segan untuk menanyakan dalil dari materi kajian yang disampaikan, jangan pakai dalilnya “katanya ustadz ini katanya ustadz itu”. Inget ya temans, berislam itu ngga boleh sekedar taqlid buta alias ikut-ikutan aja tanpa kita tahu terlebih dulu dalil jelasnya misal Al Qu’an surat apa hadits riwayat siapa.

Kedua, Kita belajar Islam itu untuk semakin membuat kita lebih dekat dengan Allah dan RasulNya, lebih cinta atas keindahan dan kesempurnaan Islam, lebih bangga menjadi seorang muslim. Kalau sekarang ini, Islam kita seolah sedang diframing radikal-lah, intoleran-lah atau apalah. Sehingga seolah Islam perlu di”edit” menjadi Islam nusantara, Islam moderat atau apalah yang konon agar Islam tertampil lebih “damai” dan “ramah”.

Malah sampai dibikinin film segala untuk menampilkan citra Islam yang ngga radikal, bagaimana seorang santri yang seharusnya begitu menjaga prinsip-prinsip Islam malah ditampilkan santri yang berdua-duaan dengan lawan jenis. Lalu, bagaimana mereka menampilkan seolah Islam toleran dengan masuk ke tempat ibadah agama lain dan ikut mengapresiasi peribadatan mereka. Padahal, clear toleransi dalam Islam itu lakum diinukum waliyadiin, untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku. Biar saja mereka beribadah sesuai dengan keyakinannnya.

Come on, jangan nodai imanmu dengan maksud hati membela Islam yang ada malah merusak kesempurnaan Islam. Inget lagi ya friends, tetap jernih berpikir dan jangan terburu-buru untuk meng-iya-kan label-label itu dan akhirnya kita terjebak takut dengan agama (Islam) kita sendiri atau Islamophobia. Seorang yang senantiasa berpikir dan menggunakan akalnya pasti deh ngga akan gitu aja nerima atau membenarkan apa yang massif disuarakan, dia pasti mencari tahu apakah benar Islam itu seperti yang dituduhkan. Diingetin lagi nih, standar kita Al Qur’an dan Sunnah, bukan banyaknya orang yang bilang ini dan itu.

Ketiga, keep calm and prove it. Sulit untuk menutup mata dan telinga atas kondisi sekarang ini dimana Islam sebagai agama sempurna dijauhkan khususnya dari generasi mudanya tapi anehnya budaya barat yang merusak malah dibiarkan melenggang masuk menjadi gaya hidup yang dianut. Oleh karnanya, berIslam sekarang ini memang ngga mudah. Mau ta’at dipersulit, yang maksiat malah dipermudah. Benarlah apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw,

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api” (HR. Tirmidzi).

Tapi, Rasul juga nyemangatin lewati sabdanya, “Islam datang dalam keadaan yang asing, dan akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntunglah orang-orang yang asing”. (HR. Muslim).

So, sebagai generasi muda muslim tetaplah semangat mengkaji Islam karna dengan begitu kamu akan tahu mana yang benar dan tidak, mana yang fact mana yang fake, dan terlebih lagi dengan mengkaji Islam kamu akan semakin fall in love with Islam. Then, cukup buktikan Islam yang sesungguhnya dengan menjadi remaja muslim/muslimah yang berkepribadian Islam. The last, proud to be muslim salah satunya ngajakin teman-teman atau siapa pun untuk kenal lebih dekat dengan Islam. karna Islam itu semakin didekati maka akan semakin memesona.[]

iklan buletin teman surga

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *