Pages Menu
Categories Menu

Posted on Oct 2, 2019 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 082. Pelajar Hebat, Taat Syariat

Buletin Teman Surga 082. Pelajar Hebat, Taat Syariat

buletin teman surga 082. pelajar hebat taat syariat“Kakak yang orasi, kami yang eksekusi!”

Slogan anak STM di atas yang ikut turun ke jalan bersama mahasiswa dalam aksi damai minggu lalu sempat viral di dunia maya. Slogan yang lugas, ringan, dan tanpa beban itu seolah mencerminkan kepiawaian pelajar STM untuk urusan teknis. Mereka tak pandai berorasi, tapi siap mengeksekusi sesuai intruksi. Ngeri!

Keberanian pelajar STM dengan menampilkan beberapa aksi heroiknya mendapat sambutan luar biasa dari netizen. Julukan the Avenger pun sampai ke pundak mereka. Pantang menyerah, berani adu nyali, kompak, dan sederet sifat pendekar lainnya makin melambungkan nama Serdadu Tanpa Markas (STM) ini. Inikah salah satu cerminan pelajar hebat milenial? 
iklan buletin teman surga
Pelajar Hebat, Prinsipnya Taat

Kita gak akan bahas aksi heroik teman-teman STM yang mengundang decak kagum netizen. Kita sekedar ngasih gambaran, seperti apa remaja hebat yang menjadi dambaan umat. Mereka adalah remaja yang punya kelebihan dibanding yang lain dan konsisten berpegang teguh pada beberapa prinsip berikut.

Pertama, mental berkontribusi. Pelajar hebat punya prinsip yang mendorongnya unjuk gigi bukan semata karna piala atau penghargaan tingkat dunia. Tapi untuk berbagi manfaat pada masyarakat. Bersikap kritis bukan untuk menuai sanjung puji. Tapi tanggung jawab sebagai anak negeri. Sikap mental ini penting dimiliki oleh setiap pelajar. Biar mereka belajar nggak sekedar mengejar nilai akademis. Tapi juga terpacu untuk mengasah keterampilan sehingga menghasilkan karya yang berguna untuk membantu manusia dan berani bersuara ketika kezhaliman merakalela.

Kedua, keep learn. Pelajar hebat nggak pernah merasa cukup dengan ilmu yang udah diperolehnya. Belajar terus dan terus belajar. Bukan tanpa istirahat ya. Cuman lebih banyak mengisi waktu luangnya dengan hal-hal yang bermanfaat. Belajar juga bukan berarti hanya duduk di kelas, dengerin guru ngoceh. Tapi juga belajar secara mandiri dengan membaca buku di perpustakaan atau di rumah. Dia juga tak sungkan untuk mendatangi orang-orang pintar yang jadi rujukannya. Biar bisa diskusi dan menyerap berbagai ilmu yang dibagi. Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi.

Dari Abul Qasim At Tafakur, aku mendengar Abu Ali al Hasan bin ‘Ali bin Bundar Al Zanjani bercerita bahwa Khalifah Harun Ar Rasyid mengutus seseorang kepada Imam Malik bin Anas agar beliau berkenan datang ke istana supaya dua anak Harun Ar Rasyid yaitu Amin dan Makmun bisa belajar agama langsung kepada Imam Malik. Imam Malik menolak permintaan Khalifah Harun Ar Rasyid dan mengatakan, ‘Ilmu agama itu didatangi bukan mendatangi.’

Untuk kedua kalinya Khalifah Harun Ar Rasyid mengutus utusan yang membawa pesan sang khalifah, ‘Kukirimkan kedua anakku agar bisa belajar agama bersama muridmuridmu.’  Respon balik Imam Malik, ‘Silahkan dengan syarat keduanya tidak boleh melangkahi pundak supaya bisa duduk di depan dan keduanya duduk dimana ada tempat yang longgar saat pengajian.’ Akhirnya kedua putra khalifah tersebut hadir dengan memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Imam Malik. (Mukhtashar Tarikh Dimasyq, hal. 3769, Syamilah).

Ketiga, sabar jalanin proses. Pepatah bilang, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Kaya gitu deh yang namanya belajar. Untuk dapetin hasil maksimal, kita dituntut untuk berani berkorban waktu, pikiran, tenaga, harta, atau kepentingan pribadi. Nggak semua pelajar sanggup jalanin proses itu dengan sabar. Makanya hanya mereka yang konsisten dan serius bakal sampe di garis finish dengan segudang prestasi yang membanggakan.

Imam Syafi’i rahimahullah mengingatkan, “Tidak mungkin menuntut ilmu orang yang pembosan, merasa puas jiwanyakemudian ia menjadi beruntung, akan tetapi ia harus menuntut ilmu dengan menahan diri, merasakan kesempitan hidup dan berkhidmat untuk ilmu, maka ia akan beruntung.”

Keempat, berdakwah. Kewajiban berdakwah nggak pandang usia atau status pendidikan. Selama dia muslim dan udah baligh, wajib saling mengingatkan satu sama lain. Tak terkecuali pelajar. Meski statusnya masih anak didik dengan usia yang rata-rata masih muda belia, tugasnya bukan cuman belajar. Tapi juga mengenal islam lebih dalam sebagai bagian dari menuntut ilmu plus menyampaikan ke orang lain sesuai kemampuannya.

Aktivitas dakwah akan menjaga pelajar agar keep in touch dengan aturan Islam. Nggak lupa diri dan meminimalisir sikap egois bin individualis. Sehingga ilmunya, bisa diamalkan untuk mendukung kebangkitan Islam dan kaum Muslimin. 

Kikis Mental Pecundang

Sebagai pelajar hebat, tentu harus punya mental pemenang dan steril dari sikap pecundang. Sikap pengecut hanya akan melemahkan semangat kita untuk mengukir prestasi dan bersikap kritis. Sikap pengecut alias mental korban cuman bikin hidup kita diam di tempat. Gak bisa move on. Gagal UAN bukannya evaluasi, malah bunuh diri. Ditolak cinta bukannya bersyukur karena jauh dari maksiat, malah pelihara dendam kesumat. Minta smartphone ke ortu belum dipenuhi bukannya usaha biar bisa beli sendiri, malah nilep uang bayaran sekolah yang bikin ortu sakit hati. #TepokJidat!

Saatnya kita kikis mental pecundang. Biar kita pantas menjadi pelajar hebat. Berikut mental korban yang harus kita tendang.

Pertama, Futur. Saat perjuangan ketemu hambatan yang tak kunjung teratasi, seorang pecundang memilih mundur dari pertarungan. Nggak ada semangat untuk cari jalan agar hambatan segera teratasi. Sebaliknya, pelajar hebat akan mengevaluasi diri dan perilakunya. Hambatan dilihat sebagai tantangan yang harus ditaklukkan biar naik level. Persis kaya maen game. Segera belajar dan cari tahu, gimana caranya agar hambatan tak jadi batu sandungan. Tapi justru tetap menjaga fokus kita di jalan perjuangan. Yup, hambatan adalah sahabat yang mengingatkan kita akan pentingnya jalani proses perubahan. Nyes!

Kedua, Kalah sebelum bertanding. Belon juga turun ke medan perang, udah ngeper duluan dengan kehebatan musuh atau terjalnya jalan ujian. Itu juga kata orang, bukan sendirinya yang ngeliat. Bayangannya udah gagal aja. Pelajar hebat punya keyakinan yang kuat dirinya bisa lewati ujian. Dia bakal berusaha persiapkan banyak untuk berikan yang terbaik. Bisikan setan nggak didengar. Bayangannya dia sudah memegang tropi juara. Yup, dia udah menang melawan nafsu setan sebelum bertanding. Keren!

Ketiga, Tak bisa menerima kegagalan. Udah berusaha sekuat tenaga, ternyata hasilnya tak sesuai harapan. Langsung nangis. Ngambek. Mengurung di dalam kamar. Gak papa kalo sedih sebentar lalu bangun dan move on. Tapi jangan dimanjain. Itu godaan setan yang memasung produktifitas. Pelajar hebat nyadar kalo proses gak ada yang mulus kaya jalan raya yang baru diaspal. Kegagalan udah menjadi bagian dari proses yang dijalaninya. Karena dia siap menjadi pemenang dan berani menerima kegagalan. Terus berusaha karena pasti suatu saat kemenangan akan ada ditangan. Hamasah!

Keempat, Selalu ingin dikasihani. Fokus dengan kekurangan yang ada pada diri sendiri. Selalunya membesar-besarkan hambatan yang ditemui. Lalu merasa dirinya gak bisa melewati. Dan bilang sama orang agar dimaklumi. Pelajar hebat tangannya ada di atas untuk memberi bantuan bukan malah selalu menengadahkan tangan dan pasang mimik wajah kasihan. Dia gak cerita kekurangan dirinya, tapi fokus menularkan semangatnya. Biar yang lain juga bisa menjadi pemenang seperti dirinya. Yes!

Kelima, Nyari pembenaran. Udah jelas dirinya yang bangun kesiangan lantaran begadang semalaman, jadi telat shalat shubuh dan masuk sekolah. Tapi bilang ke guru ibunya telat bangunin, jalanan macet, bla..bla..bla. Dia gak berani ngaku kalo emang dirinya yang bermasalah, malah mencari kambing hitam untuk disalahkan. Pelajar hebat akan langsung evaluasi diri saat melakukan kesalahan. Segera perbaiki, tambah ilmu dan berusaha lebih baik lagi. Gak ada ceritanya nyari pembenaran. Biar energinya nggak tersedot buat nyari kesalahan orang lain. Tapi fokus keluar dari masalah dan membuka jalan kemenanangan. Mantabs! 

Pelajar Hebat, Taat Syariat

Orang hebat kata Rasulullah saw bukan yang pandai bergulat atau jago berkelahi. Bukan yang kegirangan tanpa rasa takut ketika ditembak water canon saat aksi. Bukan juga yang berani maju saat ditembakkan gas air mata terus diambil dan dilempar balik ke penembaknya. Bukan seperti itu.

Dalam Islam, orang hebat itu yang taat syariat. Mereka yang takut hanya kepada Allah swt sehingga berusaha sekuat tenaga untuk selalu istiqomah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Walaupun lingkungan sekitarnya jauh dari nilai-nilai Islam.

Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260).

Syaikh Al-Mubarakfuri menukil perkataan Al-Qari mengenai hadits di atas, “Tidak mungkin menggenggam bara api kecuali dengan kesabaran yang sangat dan menanggung kesusahan yang sangat. Ini bisa terjadi pada zaman yang tidak bisa terbayangkan lagi bagaimana bisa menjaga agama kecuali dengan kesabararan yang besar.”

Karena itu, kita bisa mengenali karakter pelajar hebat di era digital saat ini dari perilakunya. Dalam bergaul, senantiasa menjaga jarak dengan lawan jenis yang bukan muhrim. Anti jalan bareng alias berkhalwat atau campur baur dengan lawan jenis (ikhtilat) tanpa ada keperluan yang dibolehkan syara. Nggak ada budaya pacaran dalam kamus hidupnya.

Dalam belajar, selalu menjalani prosesnya dengan sabar dan ikhtiar. Nggak pakai jalan pintas untuk dapatkan hasil yang memuaskan. Nyontek saat ulangan, selalu dihindarinya. Dan belajar Islam menjadi bagian dari kesehariannya.

Dalam menghadapi masalah, aturan Islam selalu jadi pegangannya. Masalah apapun yang dihadapinya, dia akan cari tahu jawabannya dalam Islam. Nggak berpaling pada gaya hidup sekuler atau ide sesat liberal yang bisa menyengsarakan hidupnya.

Dalam berbusana, menutup aurat selalu jadi keutamaannya. Nggak peduli dengan tren fashion, yang penting nyaman dipakai dan sesuai aturan Islam. Yang dikejar ridho Allah, bukan sanjung puji manusia atau banjir like di sosial media.

Dalam menyampaikan pendapat, meski harus turun ke jalan bukan semata ikut-ikutan. Tapi didasari oleh keimanan. Sebagai bagian dari aktifitas dakwah menyampaikan kebenaran dan mencegah kemungkaran. Sehingga kalo ditanya tujuannya, jawabannya nggak belepotan.

Nah, untuk jadi pelajar hebat yang taat syariat, kuncinya cuman satu. Rutin ikut pengajian untuk mengenal Islam lebih dalam. Seperti para ulama yang terpelihara rasa takutnya pada Allah swt sehingga istiqomah dalam menjalankan syariah dan aktif berdakwah. So, tunggu apalagi. #YukNgaji! []

iklan buletin teman surga

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *