Pages Menu
Categories Menu

Posted on Oct 10, 2019 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 083. Pelajar Ataupun Santri, Tetap Smart With Islam

Buletin Teman Surga 083. Pelajar Ataupun Santri, Tetap Smart With Islam

buletin teman surga 083. pelajar atau santri“Nak… seandainya nanti Ibu sudah meninggal, ngga ada yang lebih Ibu harapkan selain dari do’a kamu nak. Pesen Ibu jangan pernah tinggalkan sholat, ingat slalu do’akan orang tuamu”.

Seketika hati ini tersentak sebagai anak yang mungkin terkadang or sering lalai mendo’akan orang tua. Keinginan “sederhana” setiap orang tua terhadap anaknya yang sudah dirawat dan disayanginya sedari kecil bahkan sedari dalam kandungan. Yakiiiiinnn pake banget, orang tua mana yang ngga bahagia punya anak yang sholih, bakti, santun dan sayang sama orang tua apalagi kalau ditambah anaknya itu berprestasi.

Namun, beda halnya ketika anaknya hebat luarbiasa, berprestasi tapi suka bentak orang tua, nasehat orang tua dianggep angin lalu.  Jangankan buat doa’in mereka, sholat aja bolong-bolong. Kalau kaya gini sih, bukannya bahagia yang ada hati ortu nelangsa. Hyks. Semoga itu bukan kita.

iklan buletin teman surga
Agama (Islam) Itu Basic

Tidak sedikit orang tua yang ngeri (takut) atau khawatir dengan kondisi saat ini di mana “dunia” ini seolah semakin tidak bersahabat karna diurus oleh orang-orang yang tidak mau taat kepada Rabb-Nya, dengan tidak menerapkan aturanNya. Begitu mudahnya kemaksiatan menggurita, dari mulai kaum penyuka sejenis yang semakin eksis, seperti baru-baru ini salah satu personil boyband westlife yang merasa bahagia karna memiliki anak meski pasangannya laki-laki juga.

Then, freesex di kalangan remaja merajalela, bahkan inses (hubungan seksual yang dilakukan oleh pasangan yang memiliki ikatan keluarga yang dekat/sedarah) sudah semakin bertambah.  Semua berawal dari apa yang mereka lihat, sering nonton video porno inilah yang mengawali. Kalau pun ngga nonton video porno, apa yang berserakan baik di televisi terlebih di sosial media telah menuntun siapa saja yang melihatnya terpengaruh, berawal dari ikutan baper lama-lama pengen ikutan cinta-cintaan.

Entah gimana awal ceritanya, sampai ada kasus kakak beradik berpacaran bahkan sampai menikah dan punya anak. Dan ada yang makin bikin darah rasanya mendidih, di Sukabumi seorang Ibu yang mengajak kedua anaknya untuk berhubungan badan. Innalillaahi. Kalau ditanya kok bisa? Sebenarnya, akal sehat bakal ngga terima dengan semua kemaksiatan ini. Tapi, yaa.. karna akalnya sudah teradiasi liberal, seolah ngerasa kalau ngga pacaran akan menyebabkan kematian. Makanya jomblo menurut mereka seperti “aib”.

Seandainya mau dipretelin satu-satu, edisi ini ngga akan cukup untuk sebutin apa aja kemaksiatan yang bikin mulut ngga tau mau ngomong apa lagi, nge-batin prihatin, sakit tapi ngga berdarah, ngelus dada nyesek. Buat para ortu yang melek kondisi semua ini dan kekhawatiran orang tua bergejolak jangan sampai anaknya terjerumus menjadi korban sekaligus pelaku kemaksiatan, pasti akan berpikir trus aku kudu piye (harus bagaimana)? What should I do?

Kebanyakan orang tua, akhirnya menjadi lebih selektif dari mulai memilihkan sekolah, memastikan dengan siapa anak-anaknya berteman dan bergaul. Dan yang terpenting para ortu akan membekali anak-anaknya dengan ilmu agama, mengokohkan benteng iman dan taqwa keluarganya.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.  (TQS. At tahrim: 6)

Intinya basic agama harus kuat, ada yang panggil guru ngaji ke rumah, ada juga yang masukin anaknya ke sekolah Islam Terpadu, atau ada juga yang memilih untuk menyekolahkan anaknya di Pesantren. “Mondok” untuk beberapa waktu menjadi santri dan menempa diri menjadi pribadi yang mumpuni dengan ilmu agama (Islam). Sebisa mungkin dijauhkan dari paparan kemaksiatan yang disebabkan racun liberalisme.

Sebenarnya inilah bukti betapa pendidikan di negeri kita ini masih mendikotomikan antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan (sains). Seolah, yang belajar ilmu agama di sekolah Islam Terpadu atau Pesantren minim ilmu sains-nya. Begitupun sebaliknya, orang-orang yang “jenius” di sains tapi “cetek” (dangkal) ilmu agamanya karna bersekolah di sekolah umum. Padahal, pendidikan dan sekolah di dalam Islam berrtujuan untuk menjadikan para pelajarnya menguasai tsaqofah Islam dan menguasai ilmu sains dan teknologi and tentunya yang berkarakter mulia, akhlakul karimah. Keren kan?

Menjadi Pelajar dan Santri Sholih Smart with Islam

Santri dan pesantren masih dianggap ngga populer dan kurang keren. Bahkan ada juga orang tua yang menjadikan pesantren sebagai “senjata” buat “nakut-nakutin” anaknya kalau nakal. Jadilah banyak anak-anak yang menganggap pesantren menjadi tempat yang seolah “menakutkan” dan mengekang kebebasan, ngga boleh ini ngga boleh itu harus begini harus begitu.

Di kala pelajar-pelajar lain bebas bawa hape ke sekolah, di pesantren para santri diberi aturan untuk tidak menggunakan telepon seluler. Jangankan berselancar di dunia maya, bertemu dan melepas rindu dengan keluarga saja tidak bisa setiap saat. Hal ini dilakukan tentu untuk menempa pribadi pelajar (santri) menjadi bermental tangguh, mandiri dan disiplin. Apalagi kalau kelak lulus menjadi seorang Hafidz Qur’an bakal berantakan hapalannya kalau bentar-bentar lihat hape, apalagi yang dilihat yang bikin hapalan cepet lepas, karna menjaga hapalan lebih sulit dibanding menambah hapalan.

Semua tergantung niat awal, seandainya pun orang tua yang mengarahkan kita untuk ke pesantren tapi kalau kitanya juga happy dan ngga terpaksa “karna ortu” , pasti kita bakalan enjoy ngejalanin proses belajarnya di mana sehari-hari ketemu sama kitab-kitab kuning yang mengharuskan santri belajar dan mengusai ilmu nahwu sharaf dan balaghah. Belajar tentang aqidah akhlak, fiqih, hadits, tarikh dan masih banyak lagi. Al Qur’an harus selalu dibawa untuk dihapal kecuali ke tempat yang kotor atau najis. Meski sepertinya “melelahkan” tapi orang yang lillaah pasti bisa menjaga semangat dan keistiqomahannya. Apa yang dikatakan oleh Imam Syafi’i ini bisa dijadikan pemantik api semangat di kala lelah belajar mulai mendekat. “Bila engkau tak tahan lelahnya belajar maka kau harus tahan perihnya kebodohan”.

Berbeda jika semua karna terpaksa, belajar ngga enjoy, hapal Qur’an susah pokoknya semua aturan pesantren seperti dipenjara. Walhasil, ngga sedikit yang akhirnya baik saat liburan pulang ke rumah merasa bebas dari mulai pegang dan main hape sesuka hati, males-malesan ngga mau ngerjain apa yang biasa dilakuin di pesantren, jalan-jalan ke mal, nonton ke bioskop dan masih banyak lagi yang ngga bisa dilakukan selama di pesantren. Hadeuuhh..

Kalau gini sih, bisa jadi santri setengah-setengah alias setengah sholih setengah salah. Maksudnya, pas lagi di pesantren melakukan amal shoiih eh pas di luar atau keluar pesantren melakukan amal salah. See, seperti yang ditampilkan di film the santri jauuuuhh banget sama profil santri yang sesungguhnya.  Di mana ada adegan khalwat (berdua-duaan) dengan lawan jenis, padahal Rasul bersabda

“Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya syaitan menjadi yang ketiga di antara mereka berdua”. (HR. Ahmad).

So, please.. remaja SMART with Islam think smart and do right yaa.. jangan ikut-ikutan apa yang ngga ada tuntunannya dalam Al Qur’an dan Sunnah.

“Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Bukhari).

Yang dilarang Allah dan RasulNya ngga usah pake dipikir-pikir langsung tinggalin, apa yang diperintahkan Allah dan RasulNya segera kerjain.

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu”. (HR. Muhammad: 33)

For you all teman surga, di mana pun kamu bersekolah dan menimba ilmu, apakah itu di sekolah umum, sekolah Islam Terpadu atau di Pondok Pesantren. Mau labelmu pelajar ataupun santri. Yang pasti dan tetap adalah kamu itu seorang muslim/muslimah sejati yang wajib taat terhadap syariat Allah dan RasulNya. Mempelajari dan mengkaji ilmu-ilmu Islam bukan menjadi kewajiban santri di Pesantren saja tapi kita semua tak terkecuali. Meski kamu bersekolah di sekolah umum, di mana pelajaran agama Islam sangat minim yaitu hanya dua jam pelajaran dalam seminggu. Kamu masih bisa kok ikut kajian-kajian Islam baik itu yang diisi oleh kakak pembina Rohis di sekolah atau semangat mendatangi majelis-majelis ilmu di luar sekolah.

Ingat ya, pelajar ataupun santri sama-sama pembelajar jadi tugasnya ya belajar bukan pacaran, tawuran, kebut-kebutan di jalan. Karna belajar itu bukan pencitraan, belajar cuma di sekolah yang penting dapet nilai bagus. Setelah itu apa yang dipelajari menguap, terlebih yang mempelajari ilmu agama (Islam) jangan cuma buat penuh-penuhin memori otak, tahu dalil ini dan dalil itu tapi giliran praktekin banyak dalih (alasan) bahkan melanggar syariat.

Rasulullah saw, mengingatkan dalam sabdanya, “Al-Qur’an adalah hujjah pembelamu atau yang menjatuhkanmu” (HR. Muslim).

Which is, bisa menjadi pembela saat al-Qur’an diamalkan namun sebaliknya akan menjatuhkanmu jika tidak diamalkan.

The last, jadikan ilmu yang kalian dapatkan bisa bemanfaat bagi umat baik ilmu agama ataupun ilmu pengetahuan. So, bukan seberapa banyak ilmu dan hapalan kamu tapi sebaik apa amal yang kamu lakukan.

“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (TQS. Al Mulk: 1-2)

iklan buletin teman surga

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *