Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Oct 18, 2019 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 084. Art of Dakwah

Buletin Teman Surga 084. Art of Dakwah

buletin teman surga 084. art of dakwahDakwah? Apa yang ada di benaknya man-teman, ketika mendengar kata “dakwah”? Heem…. Mungkinkah ini salah satu gambaran yang bisa mewakilli? Dakwah itu identik dengan,  Ustadz? Masjid? Kyai? Atau dakwah itu tugasnya orang yang sudah tua? Berat? Bikin Boring? Atau apa?

iklan buletin teman surga

Dakwah dan Anak Muda

Tapi, kayaknya ilustrasi kata dakwah yang terwakili dengan kata-kata di atas, sudah tidak berlaku lagi. Coz, dakwah bagi anak-anak muda saat ini, buat man-teman milenial, sepertinya dakwah sudah kayak bagian yang nyatu. Di era sosmed makin berjaya, mulai dari facebook, Instagram sampe youtube, udah jadi sarana dakwah bagi anak-anak muda jaman now. Tentu saja, nggak menutup kemungkinan, man-teman remaja yang juga masih belum ngeh tentang dakwah, belum bergerak dalam dakwah, atau yang malah perilakunya bertentangan dengan dakwah, juga masih ada mereka yang kayak gitu.

Seenggaknya, bisa diasumsikan sebagian besar man-teman remaja, pasti pengguna sosmed. Dalam laporan “Digital Around The World 2019”, terungkap bahwa dari total 268,2 juta penduduk di Indonesia, 150 juta di antaranya telah menggunakan media sosial. Terjadi peningkatan 20 juta pengguna media sosial di Indonesia dibanding tahun sebelumnya. Generasi milenial yang terdiri dari generasi Y dan Z mendominasi sebagai penggunaan media sosial, dengan rentang usia 18-34 tahun.

Nah, dengan ngeliat profil pengguna sosmed yang meningkat, dan angka terbesar penggunanya adalah man-teman remaja, lalu apa kita bisa katakan, bahwa dakwah sudah jadi bagian dari dunia remaja saat ini? Tentu saja, kita nggak bisa dan nggak berani bilang gitu. Tapi pengunaan sosmed sebagai sarana atau wadah berdakwah yang sasarannya anak-anak-anak muda, memang sudah dimulai, bahkan menunjukkan trend-nya.

Bahkan Ustadz Abdul Shomad, Ustadz Hannan Attaki, Ustadz Khalid Basalamah, bisa disebut mewakili para da’i yang populer atau dipopulerkan via sosmed. Kenapa akhirnya para da’i juga menggunakan sosmed sebagai sarana dakwah? Di antara alasanya adalah karena sosmed, lebih mudah, lebih cepat, lebih menarik, lebih luas, dan lebih efektif menjangkau audience. Bayangin kalo dakwah masih identik dengan sarana masjid saja, duduk di majelis, atau dengan hanya menulis buku saja, tentu jangkauan audience jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan dibantu sarana sosmed.

Dakwah Sesuaikan Zaman or Zaman Sesuaikan Dakwah?

Layaknya media internet, tentu akan memiliki dua sisi mata pisau, alias punya dua wajah. Satu sisi memudahkan dakwah, di sisi yang lain bisa juga mematahkan dakwah. Koq bisa gitu? Bisa aja sih. Makanya nggak sedikit juga ada yang masih ragu-ragu pake sosmed untuk dakwah, karena doi punya pandangan sosmed macam FB, Instagram, de el el itu produk Barat, alias kalo kita dakwah pake sosmed itu kebarat-baratan, sementara Barat itu kafir. Duhhh, piye iki?!

Untuk menjawab kegundahan macam itu kita kudu bahas apa yang namanya thariqah, uslub, dan wasilah dakwah. Duh, makanan apalagi itu? Yey, itu bukan makanan itu istilah dalam Islam untuk menyebut metode (thariqah), cara (uslub), alat/perantara (wasilah).

Definisinya secara sederhana, thariqah (metode) adalah, perbuatan yang telah ditentukan oleh hukum syara’, yang dikerjakan untuk merealisasikan perintah dan larangan Allah. Thariqah (metode) dakwah ini udah dijelaskan Rasul dalam sunnah fi’liyah beliau, maka thariqah ini kudu diambil sebagaimana yang beliau contohkan, baik yang berkaitan dengan bentuknya (mumâtsalah), momentumnya (min ajlihi) maupun hukumnya (‘alâ wajhih).

Sementara kalo uslub (cara) adalah cabang dari metode (thariqah). Uslub beda dengan thariqah, ia nggak ada pijakan dalil khusus, tetapi mengikuti hukum thariqah. Contohnya kalo dalam konteks dakwah, ketika Allah SWT memerintahkan dakwah, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran : 104)

Nah, Rasulullah melalui sunnah fi’liyah-nya ngasih contoh metode atau thariqah untuk mewujudukan perintah dakwah tersebut. Rasulullah mulai menjalankan dakwahnya di kota Makkah melalui dua tahap (marhalah) berturut-turut.  Tahap pertama adalah tahap Pembinaan dan Pengkaderan (tatsqif wa takwin), yakni pembinaan kepribadian kader berupa penanaman pemikiran Islam dan kekuatan ruhiyah. Tahap Kedua adalah Tahap Penyebaran Dakwah dan  Perjuangan.

Sementara kalo soal uslub yang beliau contohkan untuk wujudkan thariqah dakwah tersebut adalah dengan salah satunya mengirim surat kepada raja atau pemimpin kafir saat itu, atau beliau juga pake uslub dengan mendatangi kabilah-kabilah yang tiap tahun berhaji ke Mekah. Semuanya berhubungan dengan uslub tertentu dan hukumnya boleh diadopsi. Namun, ketika uslub tertentu mutlak harus diadopsi, maka ia menjadi wajib hukumnya karena kaidah syariat menyatakan “Suatu kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan sesuatu maka sesuatu itu menjadi wajib”. Sehingga bisa jadi, uslub (tekhnik) yang dipake seseorang bisa aja beda dengan orang lain dan bisa berubah satu kondisi ke kondisi yang lain. Makanya, uslub boleh jadi berhasil pada satu situasi tapi bisa gagal total pada situasi yang lain.

Adapun wasilah adalah tools alias sarana dan prasarana yang digunakan untuk melakukan aktivitas. Dalam dunia dakwah, maka dakwah via sosmed dengan FB, Instagram, dll masuk dalam kategori wasilah alias alat. Dalam hal ini, berlaku kaidah ushul fikih “Hukum asal benda-benda adalah boleh selama tidak ada dalil yang mengharamkannya”.

So, kalo dari sisi hukum, yang namanya thariqah itu wajib alias merujuk gimana Rasulullah SAW ngasih teladan, sementara untuk melaksanakan thariqah, asal tidak bertentangan dengan hukum yang tegas, sehingga thariqah tersebut benar-benar bisa dilaksanakan dengan efektif dan dengan hasil yang cemerlang, inilah yang disebut dengan uslub dan wasilah. Maka hukum uslub dan wasilah, akan sangat tergantung dari asal dari uslub dan wasilah itu sendiri. Kalo uslubnya, sudah pernah dicontohkan, atau uslub itu dalam rangka benar-benar bisa mewujudkan thariqah yang wajib hukumnya tadi, maka uslub itu menjadi ikut wajib hukumnya. Tapi kalo selama uslub dan wasilah itu tidak ada dalil khususnya, kembali ke hukum asalnya, mubah.

Karena itu, uslub dan wasilah tersebut bisa berubah-ubah, dan banyak, sementara thariqah-nya fix dan cuman satu. Sehingga kalo thariqah belum berhasil juga mewujudkan tujuan yang hendak diimplementasikan, pada dasarnya yang harus dikaji dan diubah bukanlah thariqah-nya, melainkan uslub dan wasilah-nya, hingga berhasil mewujudkan tujuan yang dihendakinya.

Dakwah Yes, Ngaji Ayo!

Gaes, kalo kita menilik sejenak, arti dakwah adalah “menyeru” kepada kebaikan, artinya kalo seruan itu disambut oleh banyak orang, tentu itu hasil yang sangat diinginkan, dan memang di situlah tujuan dakwah. Namun, akan jadi masalah yang mungkin kurang disadari oleh kebanyakan orang, kalo dengan adanya internet wa bil khusus sosmed, ternyata perilaku, ajaran, menjadi mudah ditiru oleh para penikmat sosmed tersebut.

Ya kalo ajarannya baik alias sesuai dengan Islam, ya nggak masalah. Tapi kita kan nggak bisa ngasih jaminan 100% kalo semua yang disampaikan di sosmed itu berdampak baik untuk pengguna sosmed. Di zaman now, sesuatu mudah banget untuk jadi trending, cukup dengan ngelakuin hal-hal aneh, kayak makan sabun, nari joget yang nggak jelas, dan sejenisnya, bisa jadi trending. Nah, makanya satu sisi sosmed bisa menularkan hal-hal seperti itu, di sisi yang lain, bisa disebut bagi para da’i itulah tantangan untuk bisa menghadirkan dakwah yang lebih massif, lebih mengena ke masyarakat, agar konten dakwah itu lebih trending dan lebih dinikmati daripada konten sosmed yang nggak jelas perilakunya tadi.

Alhamdulillah sih, kalo akhirnya para ustadz, para kyai ikut ambil peran, alias menggunakan sosmed untuk sarana memudahkan dakwah. Di beberapa tempat dan beberapa nara sumber juga sudah mengkombinasikan antara dakwah offline dengan dakwah online. Kombinasi dakwah offline dan online ini penting banget lho gaes. Jadi adanya kopdar, atau kajian offline yang disiarkan via sosmed, setidaknya bisa membuat man-teman remaja nggak males datang ke majelis ilmu. Artinya, jangan cuman belajar agama via online, tapi juga kudu offline.

Kenapa kita juga kudu ngaji dan atau dakwah offline? Pertama, Nabi SAW bersabda, ”Apabila kalian berjalan melewati taman-taman Surga, perbanyaklah berzikir.” Para sahabat bertanya, ”Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud taman-taman surga itu?” Nabi menjawab, ”Yaitu halaqah-halaqah zikir (majelis ilmu).” (HR at-Tirmidzi, Ahmad, dari Shahabat Anas bin Malik ra.)

Jadi, sesuai dengan namanya “majelis”, dari bahasa Arab مجلس, yang berarti tempat duduk. Majelis (مجلس) adalah bentuk isim makan (kata tempat) dari kata kerja jalasa (جلس) yang artinya tempat duduktempat sidang, dan dewan (Munawwir, 1997: 202). Artinya, bahwa memang majelis ini lebih dekat kepada bentuk kajian offline. Dan nggak bisa tergantikan dengan online. Jadi kalo secara hakiki, dakwah dan ngaji offline tetaplah penting bahkan kudu ada ngaji offlinenya. Kalo bentuk riilnya sih, duduknya seorang nara sumber sebagai pimpinan, lalu dikelilingi para jama’ahnya.

Kedua, kenapa kita juga tetap harus ngaji or dakwah offline? Karena Islam itu basic sumber ajarannya adalah al-Qur’an, sementara untuk menyebarkan ajaranya adalah dengan dakwah bil lisan, bil al Qalam. Meskipun ada al-qur’an digital, tetap saja al-qur’an sebagai sebuah “buku”, otentik alias keaslianya harus diajarkan via offline.  Turun-temurannya ilmu, dan juga riwayat keilmuan, mau nggak mau, terjadinya secara offline. Jangan sampe ada orang disebut kyai tanpa pesantren, disebut santri tanpa kitab, disebut ustadz tanpa masjid, hanya gegara popular di sosmed, tapi ngga pernah kita jumpai kajian offlinenya.

Adapun saran online, sekali lagi itu cuman untuk mempermudah aja, karena memang hakekat teknologi, salah satu fungsinya mempermudah kehidupan. Tapi bukan berarti, kalo sudah online, kita nggak perlu atau malah bikin kita males ngaji offline, itu juga salah. Makanya, pengajaran al-qur’an macam di TPA, ngaji iqro tetaplah kudu dilakuin offline.

Ketiga, yang cukup penting juga kenapa tetap harus adanya dakwah dan kajian offline, untuk menjaga valid-nya ilmu yang diajarkan oleh para da’i itu via sosmed. Sebab kalo cuman bercuap-cuap via sosmed mungkin semua orang bisa berlatih untuk bicara di depan kamera, untuk keperluan youtube. Orang bisa belajar gimana ngolah suara, jadi visual maupun audio visual, sehingga jadi konten dakwah sosmed yang menarik.

Tapi, sadar nggak sih, hal kayak gitu bisa jadi blunder. Tahu nggak blunder? Bukan blender lho ya, hehe…. Maksudnya, dengan adanya sosmed, siapa aja bisa bikin konten dakwah, tapi persoalannya kontennya itu sendiri sudah tervalidasi atau belum? Bersumber pada dasar yang bener atau kagak? Khawatirnya lho ya, maaf bukan suudzon, tapi ini bisa saja terjadi. Hanya dengan modal teknologi yang dia kuasai, tapi karena miskin tsaqofah, lalu bikin konten dakwah. Ya memang sih, Islam nggak nuntut kita sempurna dulu, baru berdakwah, tapi sekali lagi, hal itu juga bukan berarti kita asal-asalan bikin konten. Maka validitas sumber ilmu (sanad ilmu) secara offline, masih tetap diperlukan.

Jangan sampe sebutan, ustadz google, da’i youtube, selebgram da’i, itu menjadi nyata. Artinya, modal tsaqofahnya jangan hanya dari gogling di internet, atau sekedar nyomot ceramah di youtube, tapi pada kenyataannya (offline), kita juga memang harus benar-benar mengusai tsafoqah Islam itu. Maka di sinilah urgensitasnya, ngaji dan dakwah offline. Alias ngaji dan dakwah itu kudu ada gurunya.

Keempat, kelanjutan dari point tiga di atas, kalo validitas alias sanad keilmuanya diragukan secara offline, maka kekhawatiran berikutnya adalah apa yang disebut “da’i dua muka”. Ya, di dunia maya seseorang bisa berkata-kata atau beperilaku baik, tapi jaminannya di dunia nyata, dia juga harus selaras dengan dia di dunia maya. Jangan sampe dia baiknya, atau pinternya cuman di dunia maya, tapi di dunia nyata malah sebaliknya.Makanya, Islam kan menuntut seorang muslim itu kudu konsekuen antara lisan dan perbuatan, antara ilmu dan amal.

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 2-3)

“Akan didatangkan seorang pada hari kiamat lalu dicampakkan ke dalam neraka. Di dalam neraka orang tersebut berputar-putar sebagaimana keledai berputar mengelilingi mesin penumbuk gandum. Banyak penduduk neraka yang mengelilingi orang tersebut lalu berkata, ‘Wahai Fulan, bukankah engkau dahulu sering memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran?’ Orang tersebut menjawab, ‘Sungguh dulu aku sering memerintahkan kebaikan namun aku tidak melaksanakannya. Sebaliknya aku juga melarang kemungkaran tapi aku menerjangnya.’” (HR Bukhari dan Muslim)

“Saat malam Isra’ Mi’raj aku melintasi sekelompok orang yang bibirnya digunting dengan gunting dari api neraka.” “siapakah mereka”, tanyaku kepada Jibril. Jibril mengatakan, “mereka adalah orang-orang yang dulunya menjadi penceramah ketika di dunia. Mereka sering memerintahkan orang lain melakukan kebaikan tapi mereka lupakan diri mereka sendiri padahal mereka membaca firman-firman Allah, tidakkah mereka berpikir?” (HR. Ahmad, Abu Nu’aim dan Abu Ya’la)

Jadi, satunya kata dan perbuatan, satunya ilmu dan amal itu penting, dan itu cuman bisa dibuktikan secara offline, ngaji maupun dakwahnya. Jadi, yuk semangat ngaji offline!. []

iklan buletin teman surga

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *