Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Oct 29, 2019 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 086. Wahai Pemuda, Entah Apa Yang Merasukimu!

Buletin Teman Surga 086. Wahai Pemuda, Entah Apa Yang Merasukimu!

buletin teman surga 086. wahai pemudaKamu pasti nggak asing lagi dengan tiga kalimat yang sering dibacakan dengan lantang dalam peringatan Hari Soempah Pemoeda setiap tanggal 28 Oktober. Kalo kita baca tuh teks Soempah Pemoeda dengan tanpa ekspresi, pastinya garing banget dong. Tapi coba kamu baca sambil merem terus bayangin gimana kuatnya keinginan para pemoeda jaman doeloe untuk mengambil perannya sebagai martir revolusi. Yap, sebagai ujung tombak perjuangan menuju gerbang kemerdekaan. Wuiih..heroik banget kan.

Lantas, apa kabar pemuda dan pemudi masa kini yang lagi asyik kecanduan game online atau terhanyut ngikutin cerita cinta drama Korea? Masih adakah semangat untuk menyambung tongkat estafet perjuangan? Lets cekidot!

iklan buletin teman surga

Yang Muda Yang Terlena

Zaman sudah berubah. Keadaan pemuda 91 tahun lalu pastinya beda dengan remaja milenial. Ketika dulu sebelum negeri kita merdeka para pemoeda dan pemoedi dari seluruh nusantara berkumpul untuk menyatukan tekad perjuangan meraih kemerdekaan, kini para pemuda juga berkumpul dengan gadget masing-masing untuk main bareng. Bukan melawan para penjajah, tapi terjun dalam arena permainan Mobile Legends, PUBG Mobile, Garena Free Fire, Arena of Valor atau Clash of Clans. Inilah fenomena kecanduan game online yang sudah banyak makan korban remaja.

Kecanduan game telah diakui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai gangguan kesehatan mental. Tahu sendiri kalo orang sudah terganggu kesehatan mentalnya, bisa lupa diri dan kelakuannya tak terkendali. Karena kecanduan game online, seorang remaja 16 tahun dari malang berinisial AS rela acak-acak rumah tetangga & embat ponsel. “Saya mencuri ponsel dan uang Rp 50 ribu. Uangnya saya buat jajan dan bermain game online. Karena saya kecanduan bermain game. Kemudian saya traktir teman-teman,” terangnya. (Tribunnews.com, 09/08/2019)

Sementara di Bogor, Rumah sakit jiwa RSMM (Rumah Sakit Marzuki Mahdi) Kota Bogor menangani puluhan pasien anak dan remaja yang mengalami gangguan jiwa. Beberapa di antaranya merupakan pasien gangguan kejiwaan akibat kecanduan gadget.

“Kalau selama 2019 itu kita tangani 10-15 pasien (akibat kecanduan gadget). Ada 3 orang yang sempat jalani rawat inap, tapi sekarang sudah pulang. Sampai sekarang, kita layani antara 2 sampai 3 orang (pasien akibat kecanduan gadget) yang rawat jalan setiap hari,” kata dr Ira Safitri T, Dokter spesialis kejiwaan anak dan remaja yang ditemui di RSMM, Jalan Semeru, Bogor Barat Kota Bogor, Kamis (17/10/2019). (Detiknews, 17/10/2019)

Dalam urusan cinta dan pergaulan, potret buram remaja milenial bikin miris. Penelitian yang dilakukan oleh Reckitt Benckiser Indonesia lewat alat kontrasepsi Durex terhadap 500 remaja di lima kota besar di Indonesia menemukan, 33 persen remaja pernah melakukan hubungan seks pra nikah. Dari hasil tersebut, 58 persennya melakukannya di usia 18 sampai 20 tahun. (Liputan6.com, 19/07/2019)

Parahnya lagi, sejumlah remaja Indonesia menjadi “mucikari” untuk teman sebayanya. Salah satunya, polisi mengamankan seorang remaja berinisial EGR (17) yang terlibat kasus prostitusi ‘online” anak di bawah umur pada Kamis (7/3/2019). (Tribunnews.com, 10/03/2019)

Akibat perilaku seks bebas yang kian beringas, angka kehamilan remaja yang tak dikehendaki terus meningkat setiap tahunnya. Tercatat dari BKKBN, 48 dari 1000 remaja di Indonesia mengalami kehamilan. Hal senada juga pernah disampaikan oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.“Selama 2013, anak-anak usia 10 – 11 tahun yang hamil di luar nikah mencapai 600.000 kasus. Sedangkan remaja usia 15 – 19 tahun yang hamil di luar nikah mencapai 2,2 juta,” ucap Khofifah pada kesempatan pengajian umum puncak hari lahir Muslimat NU ke-68, tahun 2014.

Kondisi di atas berbanding lurus dengan kenaikan angka aborsi yang dilakukan remaja. Sebanyak 58% remaja yang mengalami kehamilan tidak diinginkan (KTD), melakukan upaya untuk menggugurkan kandungannya. Ngeri!

Masih banyak potret buram remaja milenial yang kerap menghiasi headline media massa. Dari budaya konsumtif dalam fenomena remaja hypebeast hingga aksi bullying di sekolah dan kekerasan remaja pada aksi tawuran atau kriminalitas genk motor. Ada apa dengan remaja saat ini? 

‘Kerasukan’ Setan Berjamaah

Hidup dalam lingkungan sekular sekarang, banyak remaja yang ‘kerasukan’ setan. Eits, bukan kerasukan dalam arti tersusupi makhluk ghaib yang tiba-tiba masuk dalam tubuh terus ngomong gak jelas sampai minta-macam-macam ya. Bukan seperti itu.

Tapi kerasukan godaan setan sehingga dekat dengan perilaku maksiat. Tahu sendiri kan, dari awal ketika Iblis alias nenek moyangnya jin diusir oleh Allah swt dari surga karena kesombongannya, bikin komitmen bakal menjerumuskan manusia dalam jurang kemaksiatan. Mungkin biar mereka punya temen di neraka.

Allah swt berfirman, “Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukumku tersesat, maka saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’râf/7:16-17)

Iblis menggoda manusia agar mau bermaksiat pada Allah swt. Godaannya halus dikemas pakai bahasa dan tren kekinian. Hingga banyak remaja yang gak sadar dan merasa nyaman dengan perilaku maksiatnya. Lantaran iblis membisikan kata-kata yang bikin remaja menganggap perilaku maksiatnya seperti budaya pacaran, nenggak miras, ngisep chimenk, aksi tawuran, shophaholic, hingga kecanduan game online dan sosial media sebagai suatu yang wajar, simbol pergaulan modern, gaya hidup kekinian, serta seabreg label menyesatkan lainnya.

“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Al-Hijr: 39)

Ciri perilaku remaja yang ‘kerasukan’ setan di antaranya menggap remeh perbuatan dosa. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di sebuah gunung dan khawatir gunung tersebut akan menimpanya. Sedangkan seorang yang fajir (yang gemar maksiat), ia akan melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat begitu saja di hadapan batang hidungnya,” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6308).

Kalo yang kerasukan cuman seorang, bisa jadi oknum remaja yang wajib masuk panti rehabilitasi. Tapi kalo ternyata yang kerasukannya berjamaah, bisa jadi inilah produk kehidupan sekular yang menjauhkan remaja dari aturan agama. Seperti yang diinginkan oleh musuh-musuh Islam.

William Ewart Gladstone (1809-1898), mantan PM Inggris mengatakan: “Percuma kita memerangi umat Islam, dan tidak akan mampu menguasasinya selama di dalam dada pemuda-pemuda Islam bertengger Al-Qur’an. Tugas kita sekarang adalah mencabut Al-Qur’an dari hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka. Minuman keras dan musik lebih menghancurkan umat Muhammad daripada seribu meriam. Oleh karena itu tanamkanlah ke dalam hati mereka rasa cinta terhadap materi dan seks.” 

Penangkal ‘Kerasukan’ Godaan Setan

Ngeliat kondisi remaja yang kian memprihatinkan, tentu kita nggak bisa tinggal diam. Jangan sampai makin banyak remaja yang terlena, terasuki godaan setan, dan terpapar gaya hidup sekular. Lantas, apa yang bisa kita lakukan sebagai remaja?

Pertama, kuatkan akidah dan keimanan kita. Caranya adalah dengan menyadari sepenuh hati kalo hidup kita nggak cuman di dunia. Ada kehidupan akhirat setelah kita wafat. Di sana, kita akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap amal sholeh dan amal salah selama hayat dikandung badan. Untuk itu, kita harus membiasakan diri mengaitkan perilaku di dunia dengan kehidupan akhirat kelak. Ini yang akan menjaga diri kita agar tetap taat dan jauh dari maksiat. Karena setiap detik yang kita lalui, itu ada itung-itungannya di hari perhitungan nanti.

“Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.” (QS. Al-Qiyamah: 13 – 15)

Kedua, jangan kendorin ibadahnya. Setelah yang wajibnya tertunaikan, geber terus ibadah sunahnya setiap hari mulai dari shalat tahajud, shalat sunah fajar, shalat dhuha, atau shalat rawatib. Lengkapi juga dengan puasa sunah senin kamis atau ayamul bidh (puasa tengah bulan). Jangan lupa, basahi lisan kita dengan bacaan quran setiap harinya. Kalo udah begini, insya Allah godaan setan nggak akan mempan.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya setan adalah kuman (virus) bagi hati anak Adam. Jika hati anak Adam sedang dzikir atau ingat kepada Allah, kuman itu menjadi mati (kabur). Sebaliknya, jika hatinya sedang lupa (kepada Allah), kuman itu (pun) beraksi menggodanya.” (HR. Ibnu Abi Dun-ya)

Ketiga, rutin ikut pengajian. Tak sekedar baca quran, tapi mengenal Islam lebih dalam. Yap, dengan belajar Islam, kita jadi tambah wawasan Islam, tahu kondisi umat Islam, dan makin mengenal kemuliaan aturan hidup Islam. Dengan begitu, kita tak mudah terpedaya oleh godaan setan.

Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata mengenai mempelajari dan mengajarkan ilmu. “Pelajariah ilmu karena sesungguhnya memperlajari ilmu itu adalah takut kepada Allah swt, menuntutnya adalah ibadah, mem?elajarinya adalah tasbih, mendalaminya adalah jihad, mengajarkannya adalah sedekah, mengorbankan untuk ahlinya adalah taqarrub kepada Allah swt. Dia adalah teman dalam kesendirian, sahabat dalam khalwat, petunjuk saat bahagia dan sengsara, keseimbangan di kala hati kosong, kawan ketika tidak ada teman selainnya, serta cahaya jalan ke surga…”

Teman surga, kita pastinya nggak pengen masa muda kita habis nggak jelas gitu lantaran terhanyut budaya sekuler yang bikin kita kerasukan. Kita juga nggak rela dong nasib umat Islam dan kita kian menderita akibat penjajahan. Makanya wajar kalo kita-kita yang masih muda, kuat, dan cakep ini mesti ambil peran sebagai agent of change. Untuk kebaikan Islam dan kaum Muslimin. Jangan tunggu esok. Jangan liat orang lain. Mulai hari ini, ikut ngaji. Pake aturan hidup Islam dan jadilah seorang martir revolusi. Kalo bukan kita, siapa lagi?[]

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *