Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Nov 12, 2019 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 088. Father’s Day

Buletin Teman Surga 088. Father’s Day

buletin teman surga 088. fathers dayKayaknya, nggak semua pada ngeh ya, kalo ada ‘hari ayah’. Masyarakat sih kenalnya ‘hari ibu’, tapi kalo ‘hari ayah’ banyak yang belum tahu. Yups, itu wajar sih, karena memang ‘hari ayah’ ini, wa bil khusus di Indonesia sendiri baru diperingati tahun 2006, saat masa pemerintah presiden SBY. Kalo di dunia internasional sendiri, yang namanya “father’s day” banyak versinya dari masing-masing negara, dan berbeda-beda pula tanggal peringatannya.

Di negerinya penggemar tempe ini, hari ayah diperingati tanggal 12 November. Sementara di negara tetangga Australia, udah dimulai lebih dulu tanggal 1 September. Di negara para Avenger di Amrik, hari ayah diperingati setiap tanggal 20 Juni. Menurut situs Wikipedia, paling banyak negara yang memperingati hari ayah-nya pada tanggal 17 Juni. Tapi jangan pusing ya, dengan berbedanya tanggal dari masing-masing negara memperingati hari ayah, karena emang untuk peringatan hari ibu alias mother’s day pun masing-masing negara juga berbeda penyebutannya.

Tapi bukan masalah itu sih sebenarnya yang kita mau bahas di buletin yang dinanti-nanti setiap terbitannya ini. Kita juga nggak sedang membahas tentang hukum memperingati hari “father’s day” yang memang merupakan lahir dari budaya dan inisiatif masing-masing negara. Lebih tepatnya, bahasan kita kali ini, mau menjadikan moment tersebut untuk mengingat-ingat peran, jasa dan gimana seharusnya kita sebagai anak, menghormati sosok seorang ayah. Kuy-lah, simak sampe tuntas buletin kece ini…

iklan buletin teman surga

Father, Part of Parent

Kalo selama ini kita disibukkan atau diributkan dengan ‘hari ibu’, maka kayaknya nggak adil kalo ayah juga nggak dikasih porsi untuk diperhatikan. Bukan apa-apa, ayah kan juga bagian dari orang tua, sehingga ketika kita menghormati ibu, memang seharusnya kita juga kudu menghormati ayah.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Ahqaaf ayat ke 15 Allah SWT berfirman : “Kami perintahkan pada manusia supaya berbuat baik pada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, serta melahirkannya dengan susah payah (juga). Mengandungnya hingga menyapihnya yaitu tiga puluh bulan, sehingga jika dia sudah dewasa serta umurnya hingga empat puluh tahun ia berdo’a : “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang sudah Engkau berikan kepadaku serta pada ibu bapakku serta agar aku bisa berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) pada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat pada Engkau serta sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri,” (Qs. Al-Ahqaaf : 15).

Dalam rentetan sejarah yang diceritakan di dalam al-qur’an, peran ayah juga nggak sedikit disebut. Seperti misalnya, secara khusus diceritakan bagaimana keluarga Lukmanul al-Hakim mendidik anak-anaknya. Allah Ta’ala menceritakan kisah Luqman Al Hakim dalam surat Luqman ayat 13 sampai 19, ketika ia memberikan nasehat yang berharga kepada anaknya:

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”” (QS. Luqman: 13).

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Luqman: 14).

Itulah salah satu kisah yang diceritakan dalam al-Qur’an, seorang ayah yang bukan nabi atau rasul, tapi diceritakan bagaimana posisinya sebagai ayah mendidik anak-anaknya. Nah, dari sini emang kita nggak bisa anggap sepele peran ayah (disamping ibu) menyiapkan masa depan anak-anaknya. Maka kalo hormat, patuh, taat pada ibu, begitulah seharusnya juga kita perlakukan ayah kita.

Ayah dan ibu itu satu kesatuan, lihatlah di QS Lukman ayat 14 tadi, meskipun di kalimat sebelumnya disebutkan peran ibu yang telah mengandung, tapi di akhir ayat ditutup dengan penyebutan ibu-bapakmu. Dan emang pada kenyatannya, ayah dan ibu itu kan saling support dan saling melengkapi dalam mengasuh dan mendidik kita sebagai anaknya. Jadi, kalo ibu kita, perannya memang lebih banyak ke soal pengasuhan, tapi kalo ayah karena tugas atau kewajibannya mencari nafkah, maka interaksinya dengan kita tidak seintens ibu.

Bukan berarti ayah, nggak berperan. Justru, kalo kita tahu, ibu kita, cara ngasuhnya sampe cara ngomongnya ke kita, itu juga hasil obrolan ayah dan ibu kita. Itu artinya, ayah sebenarnya mau ngomong ke kita langsung, tapi ayah lebih suka, kalo ibu yang menyampaikannya ke kita. Kalo nggak percaya, coba deh boleh nanya ke ibunya yang di rumah, bener atau nggak sih kayak gitu.

So gaes, mulai sekarang nggak usah ya, dibeda-bedain antara ayah dan ibu, peran keduanya, atau masing-masing dalam hidup kita sangat besar. Emang sih, Rasulullah sendiri juga berpesan agar menghormati ibu, bahkan sampe disebut 3 kali, baru kemudian disebut ayah. Tapi bukan berarti, ayah nggak penting. Tentu aja penting dong, karena nggak akan ada kita, kalo nggak ada peran ayah.

iklan buletin teman surga

Father, a Son’s First Hero

Kalo boleh diibaratkan ayah, bagi seorang anak, beliau itu kayak sesosok pahlawan yang punya dua pedang. Pedang pertama adalah perang perak, dimana pedang itu menggambarkan posisi ayah sebagai pemimpin tertinggi di rumahnya. Ayah memiliki peran penting, gimana keluarga atau anak-anaknya itu mau dibentuk. Dalam Al Quran, Allah juga telah menggariskan tugas setiap lelaki beriman. 

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka yang selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At Tahrim: 6).

Rasulullah saw juga bersabda: “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Seorang lelaki adalah pemimpin bagi anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya atas mereka.” (HR Muslim).

Trus, pedang kedua, adalah pedang emas, dimana ini menggambarkan seorang ayah sebagai seorang yang merupakan “sumber” yang dapat mengalirkan kasih yang dibutuhkan seluruh keluarganya.

Dalam hal ini Rasulullah SAW, mengingatkan kita pada sebuah hadits: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku” (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Nah, tinggal kita nih sekarang, memposisikan kita sebagai orang yang dididik oleh seorang ayah yang memiliki ‘dua pedang’ tersebut. Sangat bersyukurlah kalo kita dikaruniai seorang ayah mampu mendidik, mengasuh kita dengan penuh kesempurnaan sebagaimana digariskan oleh Islam. Namun, kalo ada diantara man-teman pembaca yang belum dikarunia ayah yang demikian, tentu kita tetap harus taat kepada beliau, sang ayah, selama tidak mengajak kepada kemaksiatan. Sebagaimana Allah sampaikan dalam firman-Nya:

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik,” (QS. Luqman: 15).

Hal ini dikuatkan oleh hadits: “Tidak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perkara yang ma’ruf (baik)” (HR. Al Bukhari, Muslim).

Bagi man-teman yang secara qadarallah sudah ditinggal oleh ayahnya, maka nggak ada yang paling membahagian bagi beliau di tempat peristirahatnya, kecuali kita mempersembahkan diri kita sebagai anak sholeh. Itulah persembahan dan balasan terbaik buat ayah kita, ketika beliau masih hidup maupun ketika sudah meninggal.

“Apabila manusia mati maka amalnya terputus kecuali karena tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakan orang tuanya.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud).

Begitulah sosok ayah memang identik dengan dua pedang tadi, beliau pelindung keluarga, he’s hero. Karena itu sosok ayah, di satu sisi itu lebih protektif, dibanding ibu. Tapi disisi lain, ayah juga biasanya lebih baik dan lebih bisa percaya bahwa buah hati mereka mampu melakukan dan bisa belajar mandiri. Dan sifat kayak gitu, biasanya akan lebih disukai oleh anak perempuannya. Makanya bagi seorang anak perempuan, ayah itu adalah cinta pertamanya. Tapi jangan salah, sifat protektif dan mandiri itu juga biasanya ngalir ke darah anak laki-lakinya. Nah, kamu pembaca buletin ini, khususnya yang cowok merasa kayak gitu nggak? Hehe…

iklan buletin teman surga

Everyday Is Father’s Day

Sekali lagi, nggak perlu dibanding-bandingkan dengan ibu, sebaliknya ayah kudu disandingkan dengan ibu. Pun sebenarnya nggak perlu hari khusus atau cuman di hari ayah saja kita menghormati atau menghargai ayah. Setiap hari adalah hari ayah, tidak perlu hari khusus untuk bisa menghormati ayah kita. Sama seperti ketika kita menghormati ibu, kita pun juga menghormati ayah di setiap hari-hari kita, sebagaimana pesan Lukmanul al-Hakim yang sudah disinggung di atas tadi.

Salah satu bentuk menghormati ayah di setiap hari kita, kasih suguhan akhlak yang baik kepada ayah. Sebagai anak, hampir mustahil bisa membayar atau membalas jasa orang tua kita. Maka, menjadi anak yang berbakti dan menghormati orang tua bisa menjadi salah satu cara untuk kita berusaha membalas jasa mereka.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kaish sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (QS. Al Isra’ 23-24)

Ketika sekarang kita masih sekolah, harusnya kita bisa mengindera dan merasakan betapa kasih sayang ayah itu nggak kecil. Keseriusan ayah dalam mencari nafkah biar kita tetap bisa sekolah, nggak bisa kita bayar atau kita ganti dengan imbalan uang ketika nanti kita sudah besar. Percaya deh, sekali lagi boleh koq nanya ke ibu atau ayah kita, persembahan atau balasan apa yang mereka inginkan dari anak-anaknya. Balasan kita berbuat baik kepada beliau, trus kemudian nggak memperlakukan atau berkata kasar kepada beliau berdua, itu sudah cukup bisa jadi obat pelipur lara, bagi orang tua yang shalih-shalihah.

Dalam QS Al Isra diatas, kita juga diminta merendahkan diri kepada kedua orang tua kita, itu membuktikan bahwa emang setinggi apapun kelak jabatan, pangkat, atau pekerjaan kita, tetap nggak boleh sombong di hadapan orang tua. Justru, menghormati orang tua bisa berarti apapun yang kita lakukan adalah dalam restu orang tua. Sebaiknya di setiap kegiatan yang akan kita lakukan, kita meminta restu orang tua kita.

Seperti yang disebutkan dalam hadis, ‘Ridha Allah terletak pada ridha orang tua, dan murka Allah terletak pada kemurkaan orang tua’ (HR. Baihaqi).

So, jangan bikin orang tua kita murka sama kita, dengan mempersembahkan diri kita menjadi anak yang shalih-shalihah di setiap hari-hari kita mulai hari ini dan hari-hari kedepan. Siap? []

iklan buletin teman surga

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *