Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Nov 27, 2019 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 089. Guruku Pahlawanku

Buletin Teman Surga 089. Guruku Pahlawanku

buletin teman surga 089. guruku pahlawankuTerpujilah wahai engkau ibu bapak guru

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku

Sebagai prasasti terima kasihku

Tuk pengabdianmu

Lirik lagu wajib nasional ciptaan Pak Sartono di atas kerap diperdengarkan dalam momen pendidikan. Termasuk saat peringatan hari guru nasional setiap tanggal 25 november. Kalo udah dengerin lagu Hymne Guru ini, tak terasa merembes mili. Haru.

Peran guru pada kehidupan kita selalu terukir  dalam sanubari. Tak terlupakan jasa mereka yang telah mengajarkan kita kemampuan calistung alias membaca, menulis, dan berhitung saat kita mengenyam pendidikan di sekolah dasar. Begitu juga dengan guru-guru kita di tingkat SMP atau SMA yang sering dibikin jengkel, marah, bahkan menangis oleh perilaku nakal kita. Namun mereka tetap bersabar dan terus ngajarin kita. Maafin kita ya Pak, Bu..

iklan buletin teman surga

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Sebutan pahlawan bukan cuman untuk mereka yang ikut berperang melawan penjajah. Tapi juga mereka yang dengan sabar dan tabah dalam pengabdiannya berusaha sekuat tenaga mencerdaskan kita-kita. Merekalah guru-guru kita, pemberi ilmu dengan biaya ikhlas tanpa kenal waktu.

Tanpa guru, hidup kita bisa mati kutu dan tak berarti karena minim ilmu. Meski era teknologi memungkinkan kita dapat banyak informasi tanpa harus bertanya pada guru, sosok guru bagi kita tetap tak tergantikan.

Guru yang turut membentuk pondasi keilmuan dan karakter kita. Jika tidak ada guru, kita tidak bisa menjadi apa-apa di masa depan. Selama 12 tahun guru-guru membimbing kita agar memiliki mental pembelajar yang pantang menyerah. Mereka dengan sabar ngajarin kita apa yang belum dimengerti. Mereka sering jadi tempat bertanya, tak hanya dalam urusan pelajaran tapi juga masalah keseharian. Karena mereka sudah banyak makan asam garam kehidupan dibanding kita yang baru seumur jagung.

Guru ngajarin kita untuk taat pada aturan. Belajar disiplin. Sebuah pembiasaan yang akan menjaga kita dari perilaku tak terpuji di hari depan nanti. Untuk itu, setiap guru punya cara-cara yang berbeda. Ada beberapa yang punya cara keras, ada yang punya cara lembut. Namun, apapun caranya percayalah kalau mereka hanya mau mendidik kita untuk jadi pribadi yang lebih disiplin dan lebih baik.

Kalo kita nggak ngerjain tugas, terlambat masuk, atau bolos terus ditegur oleh guru, itu tanda mereka sayang dan peduli sama kita. Ngeri kalo kita berbuat salah terus guru cuek aja lantaran kita sering nggak terima kalo ditegur. Bisa berabe masa depan kita. Kita nggak belajar dari kesalahan dan akan tumbuh menjadi pribadi yang arogan. Sok jagoan.

Padahal, di dunia kerja kelak kita akan berhadapan dengan banyak aturan. Begitu juga saat kita membangun rumah tangga. Semuanya ada aturan yang mesti kita taati agar hidup kita punya arti.

Guru adalah bagian dari hidup kita. Mereka adalah orang tua kedua kita. Banyak unforgetable moment bersama mereka yang tersimpan dalam memory otak kita. Mereka bukan pribadi egois yang cuman ngajar karena tuntutan profesi. Mereka gelisah kalo muridnya bermasalah. Baik dalam urusan akademis atau  keluarga. Mereka khawatir kalo muridnya sakit, atau tak masuk sekolah tanpa kabar. Karena mereka menyayangi muridnya sama seperti mereka menyayangi anak-anaknya sendiri. Entah apakah kita sekhawatir itu kalo guru kita sakit, atau malah teriak kegirangan karena ada jam kosong.

Guru-guru tak berlepas tangan dengan masa depan kita. Mereka menaruh harapan besar kesuksesan dapat kita raih di masa depan. Untuk itu mereka ngajarin dan ngedoain kita tanpa lelah. Bukan materi atau banjir pujian yang mereka perjuangkan. Mereka akan sangat bahagia jika melihat anak-anak muridnya sukses. Sebab, dengan begitu mereka tahu kalau didikan mereka berguna dan bisa membuat kamu mengharumkan nama orangtua dan sekolah. Bahkan dengan kesuksesan kamu ini, guru tidak meminta pamrih, loh. Merekalah pahlawan tanpa tanda jasa namun berlimpah doa.

iklan buletin teman surga

Penghargaan Islam terhadap Guru

Dalam Islam, guru memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan mulia di sisi Allah SWT. Lantaran guru dengan keilmuannya yang bisa mengajar anak didik agar cerdas secara akademik dan terbangun kepribadian islamnya. Nggak heran kalo pemerintahan Islam, sangat menghargai profesi guru. Tak sekedar dikalungkan gelar pahlawan tanpa tanda jasa, tapi jamina kesejahteraan hidupnya. Tanpa membedakan apakah guru PNS atau honorer. Sama mulianya.

Sejarah telah mencatat bahwa guru dalam naungan Pemerintahan Islam mendapatkan penghargaan yang tinggi dari negara termaksud pemberian gaji yang melampaui kebutuhannya. Di riwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad-Dimasyqi, dar al- Wadl-iah bin Atha, bahwasanya ada tiga orang guru di Madinah  yang mengajar anak-anak dan Khalifah Umar bin Khattab memberi gaji lima belas dinar (1 dinar = 4,25 gram emas; 15 dinar = 63,75 gram emas; bila saat ini 1 gram emas Rp. 500 ribu, berarti gaji guru pada saat itu setiap bulannya sebesar 31.875.000).

Asyik banget ya, dalam naungan Pemerintahan Islam yang dipimpin oleh seorang Khalifah para guru akan terjamin kesejahteraannya sehingga dapat memberi perhatian penuh dalam mendidik anak-anak muridnya tanpa harus dipusingkan lagi untuk membagi waktu dan tenaga demi  mencari tambahan pendapatan. Tidak hanya itu, negara/pemerintahan Islam juga menyediakan semua sarana dan prasarana secara cuma-cuma dalam menunjang profesionalitas guru menjalankan tugas mulianya.

Sehingga selain mendapatkan gaji yang besar, mereka juga mendapatkan kemudahan untuk mengakses sarana dan prasarana untuk meningkatkan kualitas mengajarnya. Hal ini tentu akan membuat guru bisa fokus untuk menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pencetak SDM berkualitas yang dibutuhkan negara untuk membangun peradaban yang agung dan mulia.

iklan buletin teman surga

Baktiku Untuk Guru-guruku

Sebagai seorang murid, bentuk bakti kita pada guru bisa dilakukan dengan bercermin pada adab para ulama dalam menutut ilmu. Sehingga mereka tumbuh menjadi tokoh-tokoh Islam yang dikenal karena ketinggian ilmunya. Apa aja sih yang dilakukan para ulama saat belajar pada guru-gurunya?

Pertama, fokus dengerin penjelasan guru.

Ibnul Jamaah mengatakan, “Seorang penuntut ilmu harus duduk rapi, tenang, tawadhu’, mata tertuju kepada guru, tidak membetangkan kaki, tidak bersandar, tidak pula bersandar dengan tangannya, tidak tertawa dengan keras, tidak duduk di tempat yang lebih tinggi juga tidak membelakangi gurunya”.

Kedua, berbicara sopan kepada guru.

Para Sahabat Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, muridnya Rasulullah, tidak pernah kita dapati mereka beradab buruk kepada gurunya tersebut, mereka tidak pernah memotong ucapannya atau mengeraskan suara di hadapannya. Bahkan Umar bin khattab yang terkenal keras wataknya tak pernah meninggikan suaranya di depan Rasulullah.

Ketiga, manfaatkan waktunya bertanya untuk memperbanyak ilmu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS. An Nahl: 43).

Bertanyalah kepada para ulama, begitulah pesan Allah di ayat ini, dengan bertanya maka akan terobati kebodohan, hilang kerancuan, serta mendapat keilmuan. Tidak diragukan bahwa bertanya juga mempunyai adab di dalam Islam. Para ulama telah menjelaskan tentang adab bertanya ini. Mereka mengajarkan bahwa pertanyaan harus disampaikan dengan tenang, penuh kelembutan, jelas, singkat dan padat, juga tidak menanyakan pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya.

Keempat, sabar dalam membersamai sang guru.

Kalo kamu kena teguran karena tak mengerjakan tugas? Dapat hukuman lantaran bercanda kelewatan? Atau kena sentil karena gangguin teman? Woles aja. Meski sakit hati, bikin malu, dan ngerasa nggak nyaman, tetap bersabar dan jangan pernah berpaling dari kebaikan guru. Apalagi sampai bertindak kasar dan melawan. Nggak banget.

Al Imam As Syafi Rahimahullah mengingatkan, “Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru. Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya”

Begitulah cara orang-orang terdahulu mendapatkan keberkahan ilmu dengan memuliakan gurunya. Mencintai ilmu berarti mencintai orang yang menjadi sumber ilmu. Menghormati ilmu berarti harus menghormati pula orang yang memberi ilmu. Itulah guru. Tanpa pengajaran guru, ilmu tak akan pernah bisa didapatkan oleh si murid.

Seorang ulama, DR. Umar As-Sufyani Hafidzohullah mengatakan, “Jika seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya maka akan menimbulkan dampak yang buruk pula, hilangnya berkah dari ilmu yang didapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya, atau tidak dapat menyebarkan ilmunya. Itu semua contoh dari dampak buruk.”

Kelima, jadilah investasi kebaikan bagi guru di akhirat nanti.

Mungkin kita nggak bisa memberi hadiah berupa materi, atau mrngajak para guru untuk menunaikan umroh bersama, tapi kita bisa melakukan yang lebih baik dari itu. Seriusan?

Yup, jadilah pribadi mulia yang akan menjadi investasi kebaikan bagi guru-guru kita di akhirat dengan memanfaatkan ilmu yang kita timba dari mereka. Imam Syafi’ie menasihati kita para pemburu ilmu, “Ilmu adalah yang bermanfaat dan bukan hanya dihafalkan” (Siyar A’lamin Nubala, 10: 89).

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang semakin membuat seseorang semakin mengenal Rabbnya, tidak menjadikannya sombong di hadapan yang lain dan tidak digunakan untuk membodoh-bodohi orang lain.

Untuk itu, mari ikut ambil bagian dalam barisan pengemban dakwah Islam. Semoga jalan kemuliaan itu tak hanya mengantarkan kita pada pintu surga, tapi juga mengalirkan pahala yang tak putus untuk guru-guru kita.

#TemanSurga, berbahagialah selagi masih ada guru yang sabar mengajari kita. Jangan pernah melupakan kebaikan para guru yang dengan telaten membimbing kita. Mereka yang telah mengantarkan kita pada titik ini dan kelak pada puncak keberhasilan di dunia dan akhirat. Seperti kata group band Radja, ‘Aku ada karena kau pun ada….’.

Mari kita panjatkan doa semoga Allah swt senantiasa melimpahkan keberkahan pada guru-guru kita di dunia dan akhirat. Peluk erat dan salam takzim untukmu pahlawanku. Selamat hari guru..[]

iklan buletin teman surga

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *