Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Dec 4, 2019 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 090. Aku Anak Sholih…!!

Buletin Teman Surga 090. Aku Anak Sholih…!!

buletin teman surga 090. aku anak shalihDunia anak, dunianya bermain.  Masa anak-anak memang saat di mana kita cuma ngerasain yang happy-happy aja, main bareng temen, dan belum ada beban hidup yang berarti kecuali merengek karna ingin sesuatu.

Setiap dari kita pasti punya cerita seru sewaktu anak-anak yang masih diingat sampai sekarang. Bicara soal anak, kalau dalam undang-undang seseorang yang di bawah 18 tahun masih terkategori anak. Ups, berarti kamu yang masih berseragam putih biru dan putih abu masih tergolong anak ya… Eits, tapi bukan berarti kamu auto jadi anak-anak lagi, ngga mau sekolah trus pengennya maen melulu.

Inget guys, dalam Islam ketika kamu telah baligh di situ kamu sudah dituntut untuk dewasa dalam berpikir dan berperilaku sesuai dengan tuntunan Islam. Meski kita pahami usia berapapun kita tetaplah anak bagi orang tua, yang dari kitalah orang tua tak mengharapkan apapun kecuali anaknya menjadi anak yang sholih/sholihah.

 “Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh”. (TQS. Ash Shaffaat: 100).

Perjuangan dan pengorbanan orang tua dari mulai kita masih di kandungan sampai besar tentu sulit bahkan tidak bisa kita membalasnya. Namun, menjadi anak yang menyejukkan hati orang tua (qurrota’ayun) tentu menjadi hal yang diharapkan oleh semua orang tua. Menurut Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata qurrota’ayun adalah keturunan yang mengerjakan keta’atan sehingga dengan keta’atannya itu membahagiakan orang tuanya di dunia dan akhirat.

iklan buletin teman surga

Hai Kids, How Are You??

Focus. Let’s the picture. Gimana potret anak negeri ini dan dunia?  Dalam hal penjaminan perlindungan anak sepertinya masih menemukan rintangan besar. Di mana, anak-anak justru kian rentan menjadi korban kekerasan.

Tengok saja hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) yang dirilis Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) pada 2018 lalu. Survei menunjukkan, 2 dari 3 anak dan remaja di Indonesia pernah mengalami kekerasan sepanjang hidupnya.

Apa yang dialami anak itu meliputi kekerasan seksual, kekerasan emosional, dan kekerasan fisik. Sebagian kekerasan bahkan dilakukan oleh lingkungan terdekat, termasuk keluarga. Tak cuma menjadi korban, survei juga menemukan anak sebagai pelaku kekerasan. Sebanyak 3 dari 4 anak melaporkan pernah melakukan kekerasan emosional dan fisik terhadap teman sebaya. Untuk kesejahteraan, ternyata mengejutkan bahwa fakta anak Indonesia ternyata masih mengkhawatirkan.

Mengenai kemiskinan anak dan deprivasi hak-hak dasar anak di Indonesia yang dirilis oleh BPS (Badan Pusat Statistik) menyatakan bahwa masih banyak anak yang hidup di garis kemiskinan. Lebih dari separuh anak Indonesia atau sekitar 57% masih hidup miskin. Hal ini tentu, berbanding lurus dengan jaminan pendidikan bagi anak Indonesia.

Pendidikan yang seharusnya adalah hak bagi anak Indonesia namun tak semua anak bisa mendapatkannya. Sebanyak lima juta anak di Indonesia (sebagian besar berasal dari daerah terpencil), tidak memperoleh kesempatan bersekolah ataupun memperoleh pendidikan.  Angka anak putus sekolah pun masih mengkhawatirkan. Dari data yang dimiliki Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), jumlah anak usia 7-12 tahun di Indonesia yang tidak bersekolah berada di angka 1.228.792 anak. Untuk karegori usia 13-15 tahun di 34 provinsi, jumlahnya 936.674 anak. Sementara usia 16-18 tahun ada 2.420.866 anak  yang tidak bersekolah.

Anak Indonesia dalam jebakan dekadensi moral. Generasi Z yang terlahir dengan kecanggihan teknologi membuat mereka ketagihan berlama-lama dengan gawai (gadget)nya dengan tanpa batasan yang jelas apalagi pemahaman yang benar bagaimana memanfaatkan teknologi ini. Yang diketahuinya bahwa menggenggam smartphone adalah “kewajiban” bagi kids jaman now.

Padahal, ancaman sedang mengintai mereka tanpa disadari. Berselancar di dunia maya dengan melewati batas ruang dan waktu, seolah dunia ada dalam genggaman. Mungkin jika ada orang yang jahat datang ke rumah, orang tua kita pasti serta merta menolak bahkan mengusirnya. Namun, apa daya kebanyakan orang tua masih lalai dengan membiarkan anaknya bebas menggunakan gadget padahal ancaman dan bahaya dengan sangat mudah masuk dan mempengaruhi anak-anak.

Lihat saja, anak sekolah dasar begitu sangat luwes melakukan aktifitas pacaran tanpa malu. Tentu apa yang mereka lakukan hasil copy paste dari yang mereka lihat. Dari mulai gandengan tangan, peluk, saling mengungkapkan cinta bahkan dengan polosnya mereka menggunakan sebutan “ayah, bunda”. Sampai sini, apa masih ada yang menganggap ini hal lucu yang dilakukan anak-anak? Oh big no, ini adalah sinyal gawat darurat yang harus menjadi perhatian dan penanganan serius dari berbagai kalangan di negeri ini.

Meski sangat disayangkan dan disesalkan jika kita mendengar statement dari seorang tokoh nasional yang mengatakan bahwa mendidik anak sekolah dasar bagaimana menjaga diri dengan tidak bersentuhan dengan lawan jenis (yang bukan mahrom) seolah lebih dianggap bibit radikal yang harus mendapat perhatian serius dibanding dengan anak-anak yang terpapar virus liberalisme.

Sedikit mengintip potret anak di belahan dunia lain agar kita pun meluaskan pandangan terhadap kondisi anak di belahan dunia lain. Anak-anak yang khususnya berada di daerah konflik bahkan peperangan tentu sangat memilukan hati, jangankan untuk bersekolah dan hidup sejahtera, makan layak sekedar untuk bermain saja sungguh sangat sulit mereka lakukan.

Di usianya yang sangat mungil mereka harus kuat menahan perihnya lapar dan untuk menyambung hidup terpaksa memakan rumput karna tidak adanya makanan yang layak. Bukan indahnya kembang api yang mereka lihat tapi langit negeri mereka merah menyala dari dentuman bom yang dilemparkan oleh kafir penjajah.

Mungkin teman-teman pernah mendengar bait senandung lagu nan memilukan hati berjudul Athuna al Thufuli yang berarti Beri Kami Masa Kecil. Dari lagu ini betapa begitu mendalam rasa kesedihan dan penderitaan dari anak-anak di Suriah, Palestina, dan anak anak lainnya di sekitar Timur Tengah. Kutipan terjemahan liriknya “Aku adalah seorang anak yang ingin menyampaikan sesuatu. Tolong dengarkan aku. Aku adalah seorang anak yang ingin bermain. Kenapa tidak kau biarkan aku”. Jangankan untuk riang bermain, mereka harus menerima sulit dan perihnya bertahan hidup dalam kondisi diperangi.

iklan buletin teman surga

Back To Fitrah : Be Sholih

Dari Abu Hurairah radhiyallohu‘anhu berkata, Nabi SAW bersabda,

“Tidaklah ada dari bayi yang lahir melainkan terlahir di atas fitrah. Lalu kedua orang tuanya lah yang meyahudikannya, menashranikannya, atau memajusikannya. Sebagaimana seekor binatang yang melahirkan binatang dengan anggota tubuh yang sempurna. Adakah kalian mendapatinya cacat?” Lalu Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu membaca, “(Tetaplah pada) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia di atas fitrah itu.” (HR. Bukhori). 

Ya, setiap yang terlahir ke dunia pada hakikatnya dalam keadaan fitrah. Maka menjadikan anak tetap berada pada kefitrahannya adalah sebuah keharusan. Agar kelak sang anak berjalan di bumi Allah ini dengan lurus dan selamat. Mengenalkan tentang Tuhannya (Allah) sedari dini tentu akan menempa diri anak-anak sebagai muslim yang membanggakan, yaitu anak yang sholih/sholihah. Mungkin teman-teman sewaktu PAUD atau Taman Kanak-Kanak pernah menyanyikan yel-yel tepuk anak sholih “Aku prok.prok..prok .. Anak Sholeh prok.. 3x Rajin Sholat prok..3x Rajin ngaji Prok..3x cinta islam prok..3x sampai mati. Lailaahaillallah, muhammadur rosululloh Islam.. Islam yss”.

Lirik yang sederhana namun sebenarnya penuh makna, ciri waladan sholih (anak sholih) adalah yang tertanam dalam hati dan benaknya iman kepada Allah dan RasulNya, seperti yang ditanamkan Luqman kepada anaknya agar tidak menyekutukan Allah

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.” (QS. Lukman: 13).

Selain itu taat dan tunduk kepada segala perintah Allah SWT dengan rajin sholatnya, rajin ngaji dan mengkaji isi al qur’an, berbakti kepada kedua orang tua

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Lukman: 14).

Dan senantiasa mencintai Islam sebagai way of life dan bangga menjadi seorang muslim/muslimah. Menjadi generasi Z yang sholih/sholihah saat ini memang tidaklah mudah meski bukan berarti sulit dan tidak bisa, selama keimanan dan ketaqwaan terus kokohkan sebagai benteng dari serangan pemikiran dan budaya barat yang akan melemahkan jiwa dan raga generasi muslim sebagai umat terbaik. Maka, membersamai hidup dengan ilmu Islam adalah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan oleh kita semua sebagai generasi pemimpin masa depan.

So, cintailah ilmu sibukkan diri dengan hal-hal yang positif dan berrmanfaat. Jangan mudah terpengaruh dan rapuh dengan label-label yang tak mendasar dan tak bertanggung jawab yang ditujukan bagi mereka yang bergiat dalam kesholihan. Stay focus to be sholih!![]

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *