Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Jan 9, 2020 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 095. Berani Bersih Itu Baik

Buletin Teman Surga 095. Berani Bersih Itu Baik

buletin teman surga 095. berani bersih itu baikSsstt… man-teman kita mau nanya sesuatu yang rahasia bangets nih ke kamu. Jangan sampe teman di sebelah kamu tahu ya. Pertanyaannya, pernah nggak sih pas waktu siang yang terik, dan berkeringat, trus temanmu dekatin kamu, koq tiba-tiba ada bau yang meggelitik hidung? Bau yang nggak biasa, bau yang bikin kamu, duh kurang nyaman gitu. Pernah nggak sih gitu? Kamunya mau bilang ke temanmu, takut tersinggung, eh nggak dibilang tapi ada baunya.

Nah, pas tetiba temanmu itu menjauh, koq baunya masih ada sih?! Masa sih, bau ninggalin jejak ?! Ternyata, telisik punya telisik, yang bau burket alias bubur ketek adalah diri kita sendiri, wkwkwk… itu namanya, kuman di seberang lautan nampak, eh burket sendiri segede gajah, tak nampak, hehe

Gaes, ilustrasi di atas sebagai gambaran aja kalo kejadian yang sepele kayak gitu, sering kita jumpai di pergaulan kita. Bukan hanya masalah burket, tapi ini masalah menjaga kesehatan dan kebersihan tubuh kita sendiri. Salah-salah kalo kita nggak pandai menjaga kebersihan badan kita, bisa memperburuk stabilitas perkawanan kita. Lho iya beneran, kalo misal aja kasusnya kayak ilustrasi di atas, kan kita bisa diledekin, sampe mugkin dijauhin sama teman-teman kita.

Itu baru bau badan, gimana juga kalo kita orang yang nggak rajin menjaga kesehatan mulut dan gigi, yang akibatnya bikin kuman bersarang di mulut, salah satu dampaknya, bau mulut atau karbon monoksida yang keluar dari mulut atau nafas kita jadi bau. Jadi, sekali lagi yang kelihatannya sepele bin remeh, tapi kalo nggak diperhatikan benar-benar bisa bikin runyam pergaulan kita.

iklan buletin teman surga

Bersih Itu Peduli

Sepertinya ortu kita adalah orang yang paling cerwet deh kalo soal kebersihan diri atau tubuh kita. Mulai dari urusan mandi, sewaktu kita masih kecil, kalo pas pagi hari, baik pas waktu sekolah maupun liburan, ibu kita selalu meminta kita cepetan mandi. Coba diinget-inget, kira-kira berapa kali dalam setiap pagi, ibu kita selalu perintahkan kita mandi, tapi dasar kita ya waktu itu, baru perintah yang ke 100, kayaknya kita baru berangkat ke kamar mandi. Hayo, ngaku siapa yang kayak gitu? Hehe..

Tapi emang beneran, bebersih diri itu penting, kayaknya nggak ada yang mengelak kalo itu penting banget. Sebabnya, bebersih diri itu kaitannya dengan tadi, salah satunya bau badan, tapi juga bebersih diri (mandi) bagi kita yang muslim kaitannya dengan kesucian. Bukan sok suci, tapi kesucian dari hadats, dari najis dan sejenisnya. Sebab kalo kita nggak bersuci (mandi), berarti kita kan masih punya hadats, baik hadats besar maupun kecil. Nah, kalo kita mau ibadah sholat misalnya, dalam kondisi kayak gitu, tentu saja, ibadah sholat kita jadi nggak sah.

Itu baru bersih diri, nah kaitannya dengan bersih lingkungan sekitar kita juga hal yang sangat penting. Lingkungan sekitar tempat kita tinggal, mulai dari rumah, selokan, sampe ke sungai dekat rumah kita, juga penting kita jaga kebersihan dan kesehatannya. Selain memang pencemaran lingkungan di sungai datanya cukup mengejutkan. Menurut data Badan Pusat Statistik tentang perubahan status pencemaran sungai di Tahun 2015. Sebanyak 343 titik sungai mempunyai kualitas buruk dari 471 titik sungai yang dipantau oleh KLHK.

Sedangkan untuk pencemaran di lautan, data LIPI pada tahun 2018 menyebutkan diperkirakan 100 ribu hingga 400 ribu ton plastik pertahun milik masyarakat Indonesia masuk ke laut Indonesia.

Jadi, kalo kita pikir dengan cuek pada kebersihan diri maupun kebersihan lingkungan itu nggak masalah atau nggak ngaruh, maka itu mah salah besar. Dengan nggak pedulinya kita pada bersih diri, bisa berakibat teman kita menjauhi kita karena bau badan. Dengan nggak pedulinya kita pada kebersihan lingkungan, bisa bikin bau nggak sedap karena tumpukan sampah, bahkan kalo dampak yang gede bisa pencemaran kali sampe ke masalah banjir. Semua itu berawal dari kesadaran dan kepedulian kita.

iklan buletin teman surga

Kesucian Bagian Dari Iman

Islam ini agama yang sempurna dan paripurna, sampe urusan yang sepele saja diurusin, salah satunya urusan thaharah (bersuci). Di dalam buku-buku fikih, pembahasan thaharah ini diletakkan di bab pertama. Salah satu alasan cukup mendasarnya, karena bersuci ini kaitannya dengan ibadah mahdoh (rutinitas) seperti sholat. Sementara Allah ciptakan manusia di dunia ini salah satu misinya adalah beribadah kepada Allah (QS. Ad Dzariyat 56). Nah, kalo disuruh ibadah, trus salah satu syarat sahnya ibadah adalah harus bersuci, maka wajar kalo bab bersuci menjadi penting untuk dibahas.

Rasullullah SAW sendiri menyampaikan, “Kesucian adalah bagian dari iman” (Muslim, No. 223). Dan hadist lain menyebutkan : “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan suka Keindahan.” (Muslim. No. 91). Kalo selama ini kita sering mendengar atau bahkan berucap bahwa “kebersihan sebagian dari iman”, maka mulai saat ini ucapan itu kalo disandarkan sebagai sebuah hadits, para ulama hadits sepakat, bahwa itu bukan hadits, alias hadits palsu. Hadits yang benar, seperti disebutkan di atas.

Atau di hadits lain yang cukup panjang disebutkan:

Dari Abi Malik Al-Asy’ari, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, Kesucian itu sebagian dari iman, Alhamdulillah memberatkan timbangan, Subhanallah walhamdulillah memenuhi ruang antara langit dan bumi, shalat itu cahaya, sedekah itu bukti nyata, sabar itu pelita, Al-Qur’an itu hujjah (yang membela atau menghujat). Setiap manusia bekerja sampai ada yang menjual dirinya, hingga ia jadi merdeka atau jadi celaka.” (HR. Muslim)

Hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi, serta termasuk bagian dari hadis yang dimasukkan Imam Nawawi di dalam kitab Arba’innya yang fenomenal itu.

Kata thuhur di dalam hadis tersebut mempunyai arti suci. Dan kesucian di dalam agama Islam itu mencakup kesucian maknawi seperti suci dari kekufuran, kemaksiatan, serta kehinaan. Bisa juga mencakup kesucian secara hissi (indrawi), yakni kebersihan. Kesucian juga merupakan syarat sahnya shalat, baik suci dari hadas yang dapat dihilangkan dengan cara berwudu dan mandi, maupun suci dari najis yang harus dibersihkan sehingga sucilah pakaian, badan, dan tempat yang akan digunakan untuk shalat.

Oleh karenanya, bab thaharah atau kesucian ini menjadi pelajaran pertama yang harus dipelajari dalam fiqih Islam. Karena emang kesucian adalah pengantar kita menuju shalat. Sedangkan kunci surga adalah shalat, dan kuncinya shalat adalah bersuci. Itulah kenapa, sampe-sampe bersuci disejajarkan dengan iman, karena emang dengan bersuci kaitannya dengan keyakinan kita akan ibadah epada Allah, sementara nggak ada ibadah kecuali memang harus dengan iman. Kalo ibadah (sholat), nggak ada iman, kita akan capek, karena cuman ngelakuin gerakan badan, dan ucapan, tapi kosong makna, dan nggak dinilai sebagai ibadah oleh Allah yang memerintahkan kita untuk ibadah.

Makanya sampe para ulama membuat sebuah kaidah “Ma laa yatimmul Wlwajib illa bihii fa huwa wajib” (perkara yang menjadi penyempurna dari perkara wajib, hukumnya juga wajib) maksudnya, segala perkara yang menjadikan suatu amal kewajiban nggak dapat dikerjakan sama sekali atau bisa dikerjakan namun nggak sempurna kecuali dengan juga mengerjakan perkara tersebut, maka perkara tersebut yang asalnya tidak wajib, dihukumi wajib pula. Nah, salah satunya adalah masalah bersuci, baik wudhu maupun mandi menjadi wajib keberadaannya, sebelum melakukan ibadah sholat.

Sehingga, mulai dari sekarang bebersih diri, menjaga kesucian diri harus menjadi prioritas kita. Kalo masih bau burket, jarang sikat gigi, apalagi jarang mandi, harus jadi warning buat kita, itu artinya kita jarang memperhatikan kebersihan diri. Di dalam sholat saja, selain wajib bersih, juga disunnahkan untuk wangi.

Dari Muhammad bin Ali ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah, ‘Apakah Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam memakai parfum? Ia menjawab, “Ya, dengan minyak wangi misik dan ‘anbar.” (HR. Nasa’i).

Dari Anas, ia berkata, “adalah Rasulullah SAW berkulit putih bercahaya (putih kemerahan), seolah-olah mutiara yang berkilauan. Apabila berjalan, beliau berjalan tegap. Dan aku belum pernah menyentuh sutra tebal atau sutra tipis yang selembut tapak tangan Rasulullah SAW, dan aku belum pernah mencium bau minyak wangi misk, maupun ambar yang lebih harum dari pada bau harumnya Rasulullah Saw.” (HR. Muslim)

So, tampil kucel, bau burket, bau mulut, bukanlah lifestyle yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Ini berlaku bagi cowok maupun cewek lho ya. Jangan mentang-mentang cewek, lalu tampil apa adanya, bau apa adanya, hehee… jangan sampe bau dan tampilan dari dapur masih nempel pas waktu ketemu sama teman-temannya

iklan buletin teman surga

Kalo Masih Aja Nggak Peduli?

Kalo akibat kita nggak peduli kebersihan diri, mungkin efeknya cuman dijauhi teman, atau kalo kuman masih setia nempel di tubuh kita, efeknya bisa gatal atau penyakit kulit. Tapi kalo ketidakpedulian kita berlanjut pada ketidakpedulian terhadap kebersihan lingkungan, maka akibatnya bisa lebih gede. Allah SWT dalam QS. Ar-Rum ayat 41 yang artinya:

“Telah tampak kerusakan di darat dan laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Ath Thobari menjelaskan di dalam kitabnya “Jami’ Al Bayan Fii Ta’wil Al Qur’an”, Allah SWT mengingatkan manusia bahwa, sudah nampak kemaksiatan di daratan bumi dan lautnya dan itu semua akibat dari perbuatan manusia padahal Allah sudah melarangnya. Peringatan Allah sudah sangat nampak saat ini kerusakan lingkungan baik di darat maupun di laut. Seperti pencemaran lingkungan, kebakarn hutan, rusaknya terumbu karang, serta lainnya.

Banjir, seperti yang akhir-akhir ini menerjang sebagian Jawa Barat dan Jakarta, bukan tidak mungkin adalah salah satu akibat dari ketidakpedulian kita, dan yang jelas itu akibat ulah tangan manusia yang rakus akan dunia dengan menguasai hutan, menggunduli pohonnya. Sehingga hutan yang harusnya menjadi tempat menahan dan tersimpannya air hujan, langsung mengalir aja ke sungai. Air sungai, selokan yang tersumbat bikin air tak tertampung akhirnya menenggalamkan warga sekitar.

Sekali lagi, berawal dari ketidakpedulian kita, ternyata ketidakpedulian yang kita anggap sepele, yang kita pikir dampaknya buat kita aja, eh ternyata eh ternyata akibatnya berdampak pada orang lain. Kalo kita pikir dampaknya, hanya sekedar nyakitin teman, tapi pada faktanya, dampaknya sampe pada banjir yang menelan banyak korban meninggal dunia.

Yuk, kita hentikan ketidakpeduliaan kita, hentikan sikap cuk kita. Saatnya peduli dengan menjadikan Islam sebagai tata aturan bagi kehidupan kita, mulai dari yang urusan kecil, seperti thaharah, sampe urusan yang lebih besar dari itu, mengurusi seluruh urusan umat manusia. Karena kita yakin, Islam mampu menyelesaikan semua problematika hidup kita. Sebab Islam itu syamil dan kamil. Allahu Akbar![]

iklan buletin teman surga

0 Comments

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *