Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Jan 16, 2020 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 096. Pemuda Penakluk Kota Roma

Buletin Teman Surga 096. Pemuda Penakluk Kota Roma

buletin teman surga 096. pemuda penakluk kota roma“Kalaulah dunia ini sebuah negara, maka Konstantinopel inilah yang paling layak menjadi ibu kota negaranya!”

Kata-kata itulah yang diucapkan oleh Napoleon Bonaparte, seorang kaisar sekaligus jenderal kebanggaan Prancis pada abad ke-19 yang terkagum-kagum dengan kota yang letaknya di jalur strategis pertemuan antara benua Asia dan benua Eropa itu. Siapa sangka, ibukota negara dunia itu berhasil ditaklukkan oleh umat islam!

iklan buletin teman surga

Takluknya Konstantinopel, Jayanya Islam

Berabad-abad lamanya, kota Konstantinopel yang indah dan makmur ini telah menjadi simbol kejayaan di mata dunia internasional. Ia dibangun pada tahun 330 M oleh Kaisar Theodosius. Lokasinya yang strategis membuat ia menjadi salah satu kota terpenting di dunia. Sejak didirikan oleh Kekaisaran Byzantium atau Romawi Timur, ia telah menjadi ibu kota pemerintahaan negeri Byzantium itu.

Konstantinopel dikelilingi oleh tiga lautan dari tiga sisi sekaligus, yaitu Selat Bosphorus, Laut Marmara, dan Selat Tanduk Emas yang terpasang rantai amat besar. Dikelilingi benteng besar dan berlapis-lapis, perairan dalam dan rantai yang kokoh. Mustahil pihak asing bisa masuk dengan mudah.

Namun sejarah mencatat peristiwa besar pernah terjadi sekitar 567 tahun lalu. Tepatnya pada tanggal 29 Mei 1453. Kota dengan benteng Theodosius legendaris yang memiliki tinggi 30 meter dan ketebalan 30 meter tak tertembus itu akhirnya runtuh di tangan Sultan Muhammad Al-Fatih atau yang juga dikenal dengan nama Sultan Mehmet II.

Sultan ke-7 Turki Utsmani itu berhasil memimpin penaklukan Konstantinopel ketika usianya baru 21 tahun. Ia dianggap telah membuktikan hadis yang diucapkan Nabi Muhammad SAW pada 8 abad sebelumnya.

“Sesungguhnya Konstantinopel itu pasti akan dibuka (dibebaskan). Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya,” (HR Bukhari)

Emang nggak semudah upload vide receh di tiktok untuk menaklukan Konstantinopel. Bayangin aja, upayanya telah dilakukan sedikitnya sebanyak 8 kali oleh umat Islam. Lima kali pada kekhalifahan Umayyah, satu kali pada kekhalifahan Abbasiyah, dan dua kali pada masa Utsmaniyah. Tiga generasi Bro!

Pada akhirnya pasukan Muhammad Al-Fatih-lah yang mampu membuktikan hadis nabi di atas. Upaya pengepungan kota Konstantinopel berlangsung sejak 6 April 1453 sampai 29 Mei 1453. Setelah berhasil membebaskan Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih kemudian mengganti nama kota tersebut menjadi Islam Bul yang berarti kota Islam.

Di kota Islam Bul itu Muhammad Al-Fatih kemudian membangun sekolah, pasar, perumahan, dan rumah sakit. Ia melindungi segenap penduduk, termasuk yang beragama Nasrani maupun Yahudi, dan menerapkan budaya toleransi. Ia menggratiskan pendidikan untuk setiap warga dan bahkan menyediakan rumah untuk para pendatang yang mencari nafkah di kota itu.

iklan buletin teman surga

Sang Penakluk Konstantinopel

Muhammad al-Fatih dilahirkan pada 27 Rajab 835 H/30 Maret 1432 M di Kota Erdine, ibu kota Daulah Utsmaniyah saat itu. Ia adalah putra dari Sultan Murad II yang merupakan Sultan keenam Daulah Utsmaniyah.

Sultan Murad II memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan anaknya. Ia menempa buah hatinya agar kelak menjadi seorang pemimpin yang baik dan tangguh. Perhatian tersebut terlihat dari Muhammad kecil yang telah menyelesaikan hafalan Alquran 30 juz, mempelajari hadis-hadis, memahami ilmu fikih, belajar matematika, ilmu falak, dan strategi perang. Selain itu, Muhammad juga mempelajari berbagai bahasa, seperti: bahasa Arab, Persia, Latin, dan Yunani. Tidak heran, pada usia 21 tahun Muhammad sangat lancar berbahasa Arab, Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani, luar biasa!

Sultan Muhammad II diangkat menjadi Khalifah Utsmaniyah pada tanggal 5 Muharam 855 H bersamaan dengan 7 Febuari 1451 M. Program besar yang langsung ia canangkan ketika menjabat sebagai khalifah adalah menaklukkan Konstantinopel!

Sultan Muhammad II menyiapkan lebih dari 4 juta prajurit yang akan mengepung Konstantinopel dari darat. Pada saat mengepung benteng Bizantium banyak pasukan Utsmani yang gugur karena kuatnya pertahanan benteng tersebut. Pengepungan yang berlangsung tidak kurang dari 50 hari itu, benar-benar menguji kesabaran pasukan Utsmani, menguras tenaga, pikiran, dan perbekalan mereka.

Di laut, Bizantium telah memagari laut mereka dengan rantai yang membentang di semenanjung Tanduk Emas. Tidak mungkin bisa menyentuh benteng Bizantium kecuali dengan melintasi rantai tersebut.

Akhirnya Sultan Muhammad menemukan ide yang ia anggap merupakan satu-satunya cara agar bisa melewati rantai tersebut. Ia menggandeng 70 kapalnya melintasi perbukitan Galata ke muara setelah meminyaki batang-batang kayu. Hal itu dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, tidak sampai satu malam!

Di pagi hari, Bizantium kaget bukan kepalang, mereka sama sekali tidak mengira Sultan Muhammad dan pasukannya menyeberangkan kapal-kapal mereka lewat jalur darat. Peperangan dahsyat pun tak terelakkan.

Akhirnya kerajaan besar yang berumur 11 abad itu jatuh ke tangan kaum muslimin. Peperangan besar itu mengakibatkan 265.000 pasukan umat Islam syahid. Pada tanggal 20 Jumadil Awal 857 H bersamaan dengan 29 Mei 1453 M, Sultan al-Ghazi Muhammad berhasil memasuki Kota Konstantinopel. Sejak saat itulah ia dikenal dengan nama Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel.

Setelah itu rentetan penaklukkan strategis dilakukan oleh Sultan Muhammad al-Fatih; la membawa pasukannya menaklukkan Balkan, Yunani, Rumania, Albania, Asia Kecil, dll. Bahkan la telah mempersiapkan pasukan dan mengatur strategi untuk menaklukkan kerajaan Romawi di Italia, akan tetapi kematian telah menghalanginya untuk mewujudkan hal itu.

iklan buletin teman surga

Jadilah Pemuda Penakluk Kota Roma!

Sosok Al-Fatih begitu fenomenal. Semenjak usia 12 tahun ia sudah diangkat menjadi sultan. Dengan keberhasilannya membebaskan kota Konstantinopel, Ia telah membuktikan hadis Nabi Muhammad SAW pada 8 abad sebelumnya.

Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash berkata, Saat kami dengan menulis di sekeliling Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya tentang kota manakah dari kedua kota yang akan dibebaskan terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma? Maka, Rasulullah SAW menjawab, Kota Heraclius akan dibebaskan terlebih dahulu.” Maksudnya adalah Konstantinopel. (HR Ahmad)

Dan ternyata, selain Konstantinopel masih ada satu kota lagi yang dijanjikan Rasul akan dibebaskan oleh umat Islam. Kota Roma. Dalam kitab Mu’jam al-Buldaan, karya Yakut al-Hamawi dijelaskan bahwa maksud Rumiyah dalam hadis di atas adalah ibu kota Italia hari ini, yaitu Roma. (Mu’jam al-Buldan, 3/100).

Setelah pembebasan Konstantinopel tujuh abad yang lalu, hingga sekarang umat Islam belum berhasil membebaskan kota Roma. Tugas umat Islam bukan menunggu. Tapi terus mempersiapkan diri agar bisa bergabung dengan mereka bila Allah menakdirkannya mengalami zaman tersebut. Dan salah satu persiapannya adalah dengan meneladani karakter yang melekat pada AL-Fatih sebagai upaya memantaskan diri dalam pembebasan kota Roma diantaranya,

Pertama, Berjiwa Pembelajar. Bercermin dari kehidupan Al-Fatih, seorang pejuang Islam tak pernah berhenti belajar. Ash-Shalabi menulis dalam bukunya bahwa sejak kecil Muhammad Al-Fatih telah belajar Al-Qur’ān, hadis, fikih, dan ilmu modern lainnya seperti ilmu berhitung, ilmu falak, sejarah, serta pendidikan kemiliteran, secara teori maupun praktis.

Dengan ilmu yang kita pelajari, tentu akan lebih banyak kontribusi yang bisa disumbangkan untuk kebangkitan Islam dan kaum Muslimin. Imam Syafi’ie mengingatkan,

‘Barangsiapa yang tidak memanfaatkan masa mudanya untuk menuntut ilmu, maka bertakbirlah empat kali untuknya sebagai tanda kematiannya.”

Kedua, Taat Setiap Saat. Ketaatan menjadi kunci kemenangan para penakluk dalam melawan musuh-musuh Islam. Sebagaimana disampaikan oleh seorang panglima Romawi yang curhat kepada rajanya setelah dikalahkan oleh pasukan Khalid bin Walid.

“Tuanku, tentara kita berperang dengan suatu kaum yang berpuasa pada siang hari dan beramal ibadah pada waktu malam. Mereka berpegang teguh pada janji, saling berkasih sayang sesama mereka bagaikan saudara. Mereka senantiasa mengerjakan kebaikan dan tidak melakukan kemungkaran.” Dia berkata dengan jujur. “Sedangkan tentara kita suka minum arak, melakukan zina, selalu ingkar janji, suka berbuat jahat, dan melakukan kezaliman. Karena itulah kita kalah.” (Diriwayatkan Ahmad bin Marwan al-Malik).

Ketiga, Getol Beribadah. Kedekatan kita pada Allah swt dalam beribadah akan membuka jalan kemenangan kita dalam berjuang. Karena Allah swt bersama kita. seperti ditegaskan olehNya.

“Bila seorang mendekat kepada-Ku sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta, bila ia mendekat kapada-Ku sehasta, maka akun mendekat kepadanya sedepa, dan apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan maka Aku datang dengan berlari” (HR. Bukhari)

Seperti itulah yang dilakukan oleh Muhammad al-Fatih. Sejak akil baligh tak pernah absen dalam menjalankan shalat sunnah rawatib dan menunaikan shalat tahajud di kesunyian malam. Cakep!

Keempat, Pantang Menyerah. Bukan perkara mudah untuk mewujudkan janji kemenangan Rasul dalam menaklukkan Konstantinopel. Dan bukan al-Fatih namanya kalo gampang mundur dari pertempuran. Al-Munyawi mengisahkan dalam bukunya, ketika Konstantin menolak untuk menyerahkan kota Konstantinopel, Al-Fatih bersiteguh, “Baiklah! Tidak lama lagi aku akan mempunyai singgasana di Konstantinopel atau aku akan mempunyai kuburan di sana!”

Tekad kuatnya dalam menaklukkan Kontantinopel, melahirkan kecemerlangan dalam berpikir sehingga tercetus ide brilian memindahkan kapal-kapal perang dari pangkalannya di Baskatasy ke Tanduk Emas dengan cara menariknya melalui jalan darat yang ada di antara dua pelabuhan.

Kelima, Aktif Berdakwah. Seorang penakluk bukan tipikal indivudalis yang cuman mikirin hidupnya sendiri. Dia selalu memikirkan kondisi kaum muslimin dan kebaikan apa yang bisa dilakukannya untuk kebangkitan Islam. Karena itu, aktifitas dakwah sudah menjadi bagian dari kesehariannya.

Dari mulai ngingetin teman untuk nggak pacaran, ngajakin sohib ikut pengjian, bagikan buletin Teman Surga, terjun dalam aksi damai solidaritas muslim Uyghur hingga bersuara di sosial media. Apapun kontribusi kita dalam berdakwah, tak ada yang percuma. Semuanya bernilai pahala yang berlipat ganda di hadapan Allah swt.

Itulah beberapa karakter yang bisa kita teladani untuk memantaskan diri jadi bagian dari pemuda penakluk kota Roma. Bukan untuk gagah-gagahan, tapi semata untuk mewujudkan kabar gembira dari Rasulullah saw. Tak sekedar mengagumi kisah heroik Muhammad al-Fatih dalam menaklukkan Konstantinopel, namun ikut berkontribusi sebagai pelaku sejarah kelak dalam membebaskan kota Roma. Siap? Kuy![]

iklan buletin teman surga

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *