Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Jan 31, 2020 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 098. Mau Eksis? Contohlah Uwais!

Buletin Teman Surga 098. Mau Eksis? Contohlah Uwais!

buletin teman surga 098. Mau eksis contohlah uwaisPopularitas, impian yang banya dikejar kawula muda. Bayangan hidup mewah, glamour, berlimpah harta seperti banyak dipertontonkan artis idola seolah begitu mudah diraih melalui ajang pencarian bakat. Kebelet pengen ngerasain terkenal di dunia maya, jadi bahan pembicaraan di sosial media, dan kerap jadi headline media massa.

Sayangnya, banyak remaja yang lupa diri ketika popularitas jadi ambisi. Kebahagiaan hidup diukur dari berlimpahnya materi. Berlomba-lomba mengejar kesenangan dunia terhanyut dalam kehidupan hedonis yang bikin depresi. ujung-ujungnya tak pernah menemukan kebahagiaan sejati.

Sebagai seorang muslim, bukan popularitas yang bikin kita bahagia. Apalagi di hadapan manusia. Nggak banget. Tapi ridho Allah sang pemilik bumi yang mesti kita kejar setiap harinya. Tak peduli dengan penilaian manusia dalam menjalankan syariat, yang penting kita taat. Seperti dicontohkan olah salah seorang shahabat. Dia terasing di antara penduduk bumi. Tapi di hadapan Allah swt dan Rasul-nya, masya Allah…. begitu mulia. Sampai-sampai dapat pujian dari baginda Nabi saw. Siapa dia?

iklan buletin teman surga

Pemuda Miskin Harta yang Mulia

Nama lengkapnya Uwais bin Amir bin Jus’in al Qarni al Muradi al Yamani. Karna asalnya dari kabilah/suku Qarn di Yaman sebelah selatan Arab Saudi, maka Uwais lebih dikenal dengan nama Uwais Al Qarni.

Keseharian Uwais dihabiskan untuk mencari nafkah dengan berdagang dan menggembala kambing milik orang lain. Di rumahnya yang sangat sederhana, Uwais tinggal berdua bersama Ibunya yang sudah tua renta, lumpuh, dan buta. Sementara dirinya,  Allah uji dengan penyakit sopak yang membuat kulit di tubuhnya belang putih

Uwais senantiasa merawat sepenuh hati dan selalu berusaha memenuhi semua permintaan ibunya. Termasuk satu permintaan Sang Ibu yang sulit untuk dipenuhi oleh Uwais yaitu keinginannya untuk berhaji ke Tanah Suci. Uwais termenung dan berpikir agar bisa mewujudkan permintaan Ibundanya tersayang.

Uwais sangat tahu bahwa perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan. Uwais terus berpikir mencari jalan keluar hingga menemukan ide brilian.

Uwais membeli seeokar anak lembu lalu membuatkan kandangnya di puncak bukit. Setiap pagi beliau bolak balik menggendong anak lembu itu turun bukit untuk memberinya makan lalu menggendong naik bukit untuk masuk kandang. Apa yang dilakukan Uwais tentu membuat orang yang melihatnya keheranan bahkan ada menganggapnya gila.

Hingga semakin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais untuk menggendong lembu. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa berat lagi.

Sudah delapan bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah mencapai berat 100 kg sehingga cukup kokoh untuk membawa bekal perjalanan. Begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar dan semakin kuat sehingga sanggup untuk menggendong Ibunya saat berhaji dengan berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah sejauh 590 KM. Amazing!

Dengan penuh kasih sayang dan bakti kepada Ibunya, Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi permintaan Ibunya. Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata kesampaian berada di Baitullah. Di hadapan Ka’bah, Uwais dan Ibunya berdoa.

“Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais.

“Bagaimana dengan dosamu?” tanya sang Ibu keheranan.

Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga.”

iklan buletin teman surga

Uwais, Most Wanted!

Selain dikenal sebagai pemuda yang taat kepada ibunya, Uwais juga dikenal sebagai pemuda yang taat beribadah. Dia sangat ingin bertemu dengan Nabi Muhammad saw seperti para tetangganya yang baru datang dari Madinah. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia dapat bertemu Nabi Muhammad saw dan memandang wajah beliau dari dekat? Ia rindu mendengar suara Nabi saw, kerinduan karena iman.

Tapi bukankah ia mempunyai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah.

Akhirnya, suatu hari ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan mohon ijin agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah. Ibu Uwais Al-Qarni terharu mendengar permohonan anaknya. Ia berkata, “pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.”

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al-Qarni sampai juga di kota madinah dan menemukan rumah Nabi. Namun sayang, Nabi tidak berada di rumahnya , beliau berada di medan pertempuran. Betapa kecewanya Uwais. Akhirnya, Uwais kembali pulang kembali ke Yaman dengan perasaan amat haru.

Peperangan telah usai dan Nabi saw pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi saw menanyakan kepada Siti Aisyah ra tentang orang yang mencarinya. Siti Aisyah ra membenarkan dan mengatakan bahwa Uwais telah pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.

Nabi Muhammad saw berkata kepada para sahabatnya. “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah talapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi saw memandang kepada Ali ra dan Umar ra seraya berkata, “suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi saw kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi saw itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra.

Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni. Hingga suatu ketika, Uwais Al-Qarni turut bersama rombongan kafilah dari Yaman yang baru tiba di kota Madinah. Khalifah Umar ra dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais Al-Qarni yang tengah menjaga unta-unta kafilah di perbatasan kota.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Uwais menjawab salam sambil mendekati kedua sahabat Nabi saw ini dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi saw. Memang benar!

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qarni telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon agar Uwais membacakan do’a dan istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “saya lah yang harus meminta do’a pada kalian.”

Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata, “Kami datang ke sini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.” Seperti yang dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Waktu berlalu, Uwais Al Qarni wafat dan berita wafatnya telah menggemparkan Kota Yaman. Karena saat hari kematiannya, begitu banyak orang yang datang untuk mengurus jenazahnya padahal tak banyak yang mengenalnya. Suatu riwayat mengatakan bahwa mereka ialah para malaikat yang Allah utus untuk memuliakan Uwais Al-Qarni di hari kematiannya.

iklan buletin teman surga

Terasing di Bumi, Populer di Langit

Teman surga, wajar aja kalo hidup kita pengen eksis. Dikenal banyak orang. Berharap bisa menjadi wasilah untuk menyebarkan kebaikan Islam. Apalagi di era teknologi internet saat ini, begitu mudahnya orang terkenal. Yang penting eksis di dunia maya.

Tapi kita mesti siap kecewa. Jika eksis kita hanya berharap pada penilaian manusia. Kontent dakwah dan kebaikan Islam tak selalu mendapat tempat di dunia maya. Terlebih lagi kalo udah menyentuh isu sensitif seputar LGBT, kebijakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat, atau perilaku kebanyakan remaja yang terhanyut dalam kehidupa hedonis. Lebih banyak yang nyinyirin dibanding yang mikirin.

Tapi, Teman Surga tak perlu risau bin galau. Tetaplah istiqomah dalam berdakwah. Konsisten berbagi kebaikan di dunia maya meski banyak yang tak menyukainya. Yakinlah, sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan akan menjadi jejak kebaikan bagi kita di akhirat kelak.

Dan agar bisa eksis, cukuplah kita bercermin pada Uwais. Terasing di antara penduduk bumi, namun begitu populer di antara penduduk langit. Apa yang bisa kita teladani dari seorang Uwais?

Pertama, berbakti pada orang tua tanpa tapi tanpa nanti. Karena tiada balasan bagi seorang yang berbuat baik kepada kedua orang tuanya selain SurgaNya.

Rasulullaah saw bersabda “Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silakan sia-siakan orang tua kalian” (HR. Tirmidzi).

Pantang bagi kita menyepelekan permintaan orang tua. Sesulit apapun, Allah swt pasti tunjukkan jalan. Bahagiakan kedua orang tua dengan menjadikan kita anak yang sholeh dan sholehah. Istiqomah di jalan dakwah, akan berbuah kebaikan dan kemuliaan bagi kita dan orang tua tercinta.

Kedua, cinta nabi cinta syariah. Tak cukup kita tunjukkan kecintaan pada Nabi saw dengan hanya bersholawat. Sempurnakan kecintaan kita pada Nabi saw dengan selalu terikat pada syariat. Tolak dengan tegas segala bentuk pemikiran dan budaya barat yang sesat. Seperti perayaan tahun baru atau valentine days yang sarat dengan maksiat.

Allah swt berfirman: “Apa saja yang diberikan oleh Rasul kepada kalian, maka ambillah. Dan apa saja yang dilarangnya, maka tinggalkanlah.” (QS. al-Hasyr: 7)

Imam Ibn Katsir rahimahullah, dalam kitab tafsir beliau menjelaskan makna ayat ini adalah: “Jika Rasul memerintahkan sesuatu, maka lakukanlah, dan jika Rasul melarang kalian dari sesuatu, maka jauhilah. Sesungguhnya Rasul hanya memerintahkan kepada yang baik, dan melarang dari sesuatu yang buruk.” So, mau eksis? Contohlah Uwais![]

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *