Pages Menu
TwitterRssFacebook
Categories Menu

Posted on Feb 21, 2020 in Buletin Teman Surga, Headline | 0 comments

Buletin Teman Surga 101. Laju Generasi Tembakau? STOP!

Buletin Teman Surga 101. Laju Generasi Tembakau? STOP!

buletin teman surga 101. laju generasi tembakauKebiasaan Prabu, 16 tahun, tiap selesai kelas adalah ngumpul bareng temen-temennya dan ngobrol ngalor ngidul. Dan di sela-sela obrolannya selalu ada asap mengepul, berasal dari lintingan tembakau yang mereka hisap.

Prabu pertama kali mencoba merokok saat duduk di kelas delapan Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau sekitar usia 13 tahun. Ia mencoba karena penasaran, kebetulan pula ketika itu ada teman menawari. Pas banget deh.

Prabu sempat mencoba untuk berhenti merokok, tapi hanya bertahan sehari. Mayoritas temannya di sekolah merokok. Itu membuat dia semakin sulit melepas ketergantungan terhadap rokok. Kini Prabu menjadi perokok aktif yang menghabiskan rata-rata sekitar setengah bungkus setiap hari. Harganya pun masih terjangkau dibanding uang jajannya. “Menurut saya enggak terlalu mahal, masih murah,” kata Prabu di kawasan Jakarta Timur kepada reporter Tirto, Selasa (22/1/2019).

Selain Prabu, di luar sana masih banyak pelajar yang aktif merokok baik di area sekolah, lingkungan rumah, apalagi tempat nongkrongnya. Tobacco Atlas merilis data bahwa Indonesia merupakan negara dengan perokok anak terbanyak di dunia. Dan terjadi peningkatan dari tahun ke tahun.

Data Riskesdas 2018 menunjukkan 7,8 juta atau 9,1 persen anak Indonesia merokok. Bila tidak ada upaya menghentikan perokok anak, angka tersebut diperkirakan akan melejit menjadi 15,95 persen pada 2030 (data Bappenas 2018).

iklan buletin teman surga

Perokok Remaja Makin Bertambah

Dulu waktu penulis duduk di bangku sekolah menengah tahun 90-an, merokok bagi pelajar SMP apalagi SD itu suatu yang tabu. Kalo ketahuan, bisa kena damprat orang tua atau guru di sekolah. Mereka yang nekat, sembunyi-sembunyi di pojokan kantin saat jam istirahat agar bisa ngobar alias ngerokok bareng-bareng. Ya, satu batang dikeroyok biar cepet habis dan irit. Jangan bayangin rasa dan baunya kaya gimana itu rokok filter berpindah dari satu mulut ke mulut yang lain tanpa melalui proses karantina. Yang penting, asyiknya rame-rame!

Kini, merokok di kalangan pelajar seolah menjadi suatu yang wajar tanpa rasa malu dan takut. Malah dijadikan simbol gaul keren dan kekinian. Tak heran jika rentang usianya sudah bukan lagi dominasi seragam putih biru, tapi sudah masuk pergaulan putih merah.

Data Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak menunjukkan, jumlah perokok anak di bawah umur 10 tahun di Indonesia mencapai 239.000 orang. Sebanyak 19,8 persen pertama kali mencoba rokok sebelum usia 10 tahun dan hampir 88,6 persen pertama kali mencobanya di bawah usia 13 tahun!

Tentu bukan tanpa penyebab munculnya fenomena perokok muda yang terus tumbuh dan kecanduan tembakau. Setidaknya ada tiga hal yang sangat berpengaruh terhadap perilaku remaja, khususnya pelajar yang doyan ngudud.

1. Harga Rokok Murah

Murahnya harga rokok turut menjadi penyebab tingginya angka perokok remaja. Media Officer Yayasan Lentera Anak, Iyet Endro mengatakan berdasarkan survey pada Oktober 2017 yang dilakukan Lentera Anak pada 10 kota di Indonesia, harga rokok dijual mulai Rp 600 sampai dengan Rp 1.000 per batang.

Sementara uang saku anak-anak SD rata-rata adalah Rp 10 ribu, untuk anak-anak SMP adalah sebanyak Rp 13 ribu dan untuk anak-anak SMA rata-rata adalah Rp 29 ribu. Sehingga sangat timpang lantaran harga rokok itu dijual per batang hanya Rp 1.000 saja dan mudah diakses pelajar di warung-warung pinggir jalan hingga pedagang asongan.

2. Kurangnya Pengaturan Kawasan Tanpa Rokok (KTR)

KTR merupakan ruangan atau area yang dilarang untuk kegiatan merokok, memproduksi, menjual, mengiklankan, atau mempromosikan produk tembakau. Kawasan tersebut meliputi tempat pelayanan kesehatan, tempat proses belajar dan mengajar, tempat anak bermain, tempat beribadah, tempat kerja, angkutan umum, dan tempat publik.

Sayangnya, tak semua wilayah di Indonesia yang peduli dengan pengaturan KTR ini. Di area  perkotaan saja yang notabene lebih maju dari sisi pembangunan dan intelektualitasnya, asap rokok masih banyak mengisi ruang udara KTR di tempat umum.

Padahal, ketegasan pemerintah daerah dalam menjaga KTR agar steril dari segala yang berbau rokok bisa berdampak besar dalam menahan laju pertumbuhan generasi tembakau di masa depan.

3. Maraknya Iklan Rokok

Pancingan untuk jadi perokok bagi remaja juga datang dari industri rokok. Tiap hari remaja dicekokin oleh iklan rokok yang menggoda dengan label keren, macho, en bikin confident.

Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) melakukan penelitian berjudul ‘Hubungan antara Status Merokok pada Pelajar dengan Iklan, Promosi dan Sponsor Rokok di Pulau Jawa’. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan banyak remaja menjadi perokok pemula akibat menjadi korban iklan rokok. (Republika, 17 Sept, 2017)

4. Tekanan teman sebaya (peer pressure)

Tren merokok bagi remaja kian menjadi tuntutan pergaulan. Terutama dikalangan anak cowok, ada tekanan teman sebaya. Kalo ada temennya yang anti rokok, dibilang banci. Walhasil, ada rasa gengsi dan malu kalo mulut nggak ikut ngebul pas lagi kumpul bareng. Tetep pede meski diselingi batuk-batuk dikit. Maklum pemula!

5. Meniru Perilaku Orangtua

Makin lengketnya remaja dengan rokok banyak dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Lantaran mereka hidup diantara para perokok aktif. Di rumah, bokap sering keliatan asyik ngepulin asap rokok sehabis makan atau selagi santai. Di sekolah, mulai dari tukang dagang sampe guru pun nggak ketinggalan merokok. Akhirnya, aturan larangan merokok dari guru atau ortu dianggap angin lalu. Ya iyalah, wong yang bikin aturannya sendiri ngerokok. Ups!

Apapun alasannya, kalo udah kecantol ngerokok, susah berhentinya. Awalnya tuntutan pergaulan, terus jadi kecanduan. Lantaran dalam rokok ada kandungan nikotin yang bersifat adiktif alias bikin ketagihan. Bawaannya mulut asem kalo sehari nggak ngerokok. Apalagi rokok dijual bebas dan murah. Kalo pun lagi cekak, banyak temen yang nawarin gratisan. Kalo udah gini, gimana bisa berhenti laju pertumbuhan generasi tembakau?

iklan buletin teman surga

Rokok dan Kesehatan Kita

Label peringatan akan bahaya rokok jelas-jelas tercantum di bungkus rokok meski dengan tulisan kecil. Tapi kayanya, udah nggak mempan tuh ngingetin para smokers. Soalnya, bahaya rokok kan nggak seampuh racun tikus yang sekali tenggak langsung bikin kejang-kejang. Rokok perlu waktu lama untuk nunjukkin bahayanya yang mematikan. Jadinya banyak perokok yang cuek bebek dengan bahaya rokok.

Padahal kalo dibiarin, akibatnya bisa seperti yang dialami seorang pria pecandu rokok di Makassar yang menderita kanker pita suara yang ganas. Dia gak bisa makan dan minum secara normal lewat mulutnya, tapi harus dengan bantuan selang yang ditembuskan lewat badannya langsung ke kerongkongannya. Sakit banget rasanya. Ia berkata, “ia menyesal merokok. Memang rokok tidak langsung buat kita mati, tapi membuat kita menderita..” (serambinews.com, 25 Agustus 2018)

Apa yang dialami Pria bernama Ardiyanto di atas bukan terjadi seketika lho. Tapi sebuah proses panjang yang diawali saat pertama kali doi nikmatin asap rokok yang ternyata mengandung 7.000 bahan kimia berbahaya dalam setiap batangnya. Lebih lanjut Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan RI dr Eni Gustina, MPH mengatakan, asap tembakau punya 69 jenis bahan karsinogenik. Zat berbahaya ini dapat menyebabkan kematian akibat kanker.

Selain kanker pita suara dan kanker paru-paru, kebiasaan ngerokok juga ngasih efek buruk pada kesehatan gigi dan mulut. Lidah jadi susah ngerasain rasa pahit, asin, dan manis, karena rusaknya ujung sensoris dari alat perasa (tastebuds) akibat tumpukan hasil pembakaran rokok yang berwarna hitam kecoklatan. Jumlah karang gigi yang bisa bikin gusi berdarah pada perokok cenderung lebih banyak daripada yang bukan perokok. Gigi dapat berubah warna karena tembakau. Dan perubahan mukosa (selaput lendir) akibat merokok menyebabkan kanker mulut.

Bahkan kebiasaan ngerokok mengancam kesehatan organ seksual. Untuk cowok, bisa mengalami disfungsi ereksi alias impotensi. Sementara wanita yang saat remaja diketahui menjadi penghisap rokok dikemudian hari akan mengalami resiko terkena kanker payudara lebih besar bila dibandingkan dengan yang tidak pernah merokok.

Saking banyaknya dampak buruk rokok bagi kesehatan kita, nggak heran kalo setiap tahunnya angka kematian yang diakibatkan berbagai penyakit yang disebabkan rokok, seperti kanker paru-paru dan penyakit jantung terus meningkat.

Globocan 2018 menyatakan, dari total kematian akibat kanker di Indonesia, Kanker paru menempati urutan pertama penyebab kematian yaitu sebesar 12,6%. Berdasarkan data Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan 87% kasus kanker paru berhubungan dengan merokok. Waduh!

Kalo udah tahu kaya gini, masa iya sih kita masih anggap omong kosong bahaya rokok terhadap kesehatan kita. Jangan tertipu ama produk rokok rendah tar dan nikotin yang menyesatkan atau adanya tembakau alternatif. Bahaya rokok nggak jadi berkurang meski sudah ada pengganti rokok seperti vape alias rokok elektrik. Sama beracunnya. Kalo terus-menerus dihisap itu asap rokoknya, bisa-bisa kita jadi awet muda alias nggak akan pernah tua lantaran keburu tutup usia selagi belia. Waduh!

iklan buletin teman surga

Sayangi Masa Depanmu!

Temans, bukan kewenangan kita untuk ngelarang kamu-kamu ngerokok. Kita cuman bisa ngasih himbauan untuk ngejauhin rokok. Karena apapun sikap yang diambil, kamu sendiri yang bakal ngerasain konsekuensinya. Bukan kita atau orang lain. Kamu yang bakal ngerasain segala macam gangguan kesehatan akibat rokok. Kamu juga yang bakal nikmatin sehatnya hidup tanpa rokok.

Dalam Islam, kita dianjurkan untuk menjauhi perilaku yang ngasih keburukan pada diri sendiri seperti ngerokok. Allah swt berfirman, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan“. (QS. Al Baqarah: 195)

Kita mesti nyadar kalo identitas sebatang rokok, bukan hanya mitos simbol kejantanan seperti yang digembor-gemborkan iklan. Tapi juga simbol penyakit kanker, impotensi, serta gangguan kesehatan lainnya. Dan pastinya, hidup tanpa rokok, nggak bikin kamu terhina kok. Malah jadi lebih keren dan sehat. Makanya, sangat beralasan bagi kita untuk nggak temenan ama rokok, vape, atau tembakau alternatif lainnya.

Bagi yang udah terbiasa ngudud, segera hentikan kebiasaan ngerokok. Sayangi hidupmu. Sayangi orang-orang terdekatmu. Sayangi masa depanmu. Meski awalnya nggak mudah, asal serius dan konsisten Allah swt pasti ngasih jalan keluar. Kamu pasti bisa!

Bagi yang belum pernah merokok, pertahankan. Jangan tergoda oleh tawaran teman sebaya. Atau bombardir iklan yang merajalela. Kebahagian hidup bagi seorang muslim, bukan dibalik vaping atau smoking. Tapi ridho Allah swt yang selalu menyertai perbuatan kita.

Selagi masih dikasih kesempatan, ayo kita sama-sama ikut ambil bagian dalam aktifitas menebar kebaikan. Hiasi keseharian kita dengan menuntut ilmu dan ikut pengajian. Jangan biarkan tembakau merenggut masa depan kita. Generasi Tembakau? Stop! []

iklan buletin teman surga

 

 

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *